Change To Beauty

Change To Beauty
Change XXI


__ADS_3

...***...


TUK!


Glenda menaruh satu piring berisi makanan terakhir ke atas meja. Malvin terdiam memperhatikan semua makanan yang ada dihadapannya. "Silahkan menikmati," ujar Glenda. Malvin mendongak menatap wanita gemuk yang baru berucap itu. "Kau memasak sebanyak ini hanya untuk makan malam kita berdua?" Tanyanya.


"Karena aku tidak tahu apa yang kau sukai, jadi aku masak saja semua menu yang ada. Lagipula tadi siang Dallen tidak menjelaskan secara spesifik makan malam apa yang harus aku masak untuk makan malam ini." Jelas Glenda.


"Lain kali kau harus bertanya lebih dulu padaku mengenai menu makan malam yang harus kau masak!"


"Baik akan aku ingat itu."


"Kau boleh duduk," tutur Malvin. Glenda menarik satu kursi yang berhadapan dengan Malvin, ia lantas membalik piring dan hendak mengisinya dengan hidangan yang dibuatnya. "Oh, dan satu hal lagi! Panggil aku tuan. Karena mulai hari ini kau bekerja untukku." Malvin menekankan.


"Baik tuan." Sahut Glenda. Detik berikutnya mereka berdua mulai sibuk menikmati makan malam mereka, tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir masing-masing. Hanya suara denting sendok dan garpu yang terdengar menghiasi kebersamaan mereka hingga sesi makan malam mereka benar-benar usai.


__ADS_1


Malvin meraih gelas dan meneguknya perlahan hingga isinya benar-benar habis, ia lalu beralih meraih tisu yang ada untuk mengelap bibirnya yang basah. Glenda dihadapannya masih terdiam memperhatikan Malvin yang terduduk di depannya, ia menunggu respon selanjutnya dari pria itu.


"Makananmu lumayan enak." Puji Malvin. Glenda merekahkan senyumannya saat mendengar ucapan Malvin. "Terima kasih," jawabnya.


"Malam ini aku akan tidur lebih awal karena akan ada meeting penting besok pagi. Kau boleh bereskan semua ini setelah itu terserah kau mau lakukan apa saja. Kau boleh menonton televisi atau tidur juga tidak apa-apa asalkan jangan menggangguku." Malvin beranjak dari tempat duduknya.


"Baik tuan."


"Baiklah, kalau begitu aku permisi. Jangan tidur terlalu larut karena pekerjaanmu besok dimulai pagi-pagi sekali."


"Iya."


Glenda mengepalkan tangan, mencengkram erat remote control dalam genggamannya. "Berani sekali dia tersenyum dan bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa, sedangkan aku dan ibuku harus menderita akibat ulahnya…" Glenda merapatkan gigi, emosinya seketika meningkat saat melihat pria yang telah menghancurkan hidupnya itu tersenyum begitu lebar dan bersikap seolah tidak memiliki salah apa-apa. "Aku tidak akan tinggal diam. Suatu saat nanti, aku akan membalas semua perbuatan kalian! Untuk saat ini, akan kubiarkan kalian berada di atas angin. Tapi setelah saatnya tiba, akan aku buat kalian hancur, sehancur-hancurnya!"


...*...


Tenang. Tidak ada suara lain yang terdengar menginterupsi malam itu, hanya detak jam dinding yang suaranya amat pelan. Malam semakin larut, bahkan jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam tepat. Malvin terlelap dalam tidurnya dalam balutan selimut tebal hangat yang menutupi tubuh. Tidurnya mendadak terganggu saat rasa haus menghampiri tenggorokannya, Malvin membuka kedua matanya, beranjak perlahan turun dari ranjang tidurnya untuk mengambil air minum di ruang makan. Tiba di luar kamar, ia melangkah menghampiri lift lalu turun menuju lantai dua.

__ADS_1


Tiba di ruang makan ia segera meraih gelas dan mengisinya dengan air putih. Atensinya tiba-tiba tersita ketika ia merasakan getaran dari lantai yang diinjaknya, Malvin menatap gelas berisi air dalam genggamannya. Airnya bergerak terombang-ambing dari sisi yang satu ke sisi yang lain. "Gempa?" Malvin bergumam pelan, ia terdiam sejenak berusaha merasakan getarannya sekali lagi. Perlahan samar-samar, ia dapat mendengar suara deru napas yang tak beraturan berasal dari kamar Glenda yang letaknya tidak terlalu jauh dari ruang dapur.


Malvin menaruh gelasnya ke atas meja, ia melangkah perlahan menuju kamar Glenda dan terdiam di depan pintu masuk. Tepat di depan pintu masuk, getarannya terasa semakin jelas. "Getarannya berasal dari dalam sini, apa yang sedang dia lakukan?" Malvin bergumam pelan. Pintu kamar Glenda terbuka sedikit, menampakkan celah yang membuatnya bisa melihat ke dalam kamarnya. Glenda tidak berada di ranjang tidurnya, entah dimana wanita itu berada. Tapi yang pasti semakin lama, getarannya semakin terasa. Malvin yang penasaran lalu mendorong pelan pintu itu hingga menampakkan seluruh isi ruangan, di dalam sana ia dapat melihat dengan jelas Glenda yang tengah melompat-lompat berulang kali, hal itu yang membuat lantai bergetar.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Ujar Malvin yang dalam seketika membuat Glenda terkejut, ia refleks berhenti kemudian menoleh pada Malvin yang berdiri di ambang pintu. "T-tuan…" gumamnya pelan. "Kenapa kau belum tidur malam-malam begini?" Dari nada bicara Malvin, Glenda dapat menyimpulkan pria itu tampak kesal saat ini.


"A-ah, itu… aku sedang berolahraga agar aku bisa kurus." Gumam Glenda sembari menundukkan kepalanya. "Apa?!" Malvin tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Seharian besok aku akan sangat sibuk jadi tidak akan memiliki waktu untuk berolahraga, maka dari itu aku memutuskan untuk berolahraga malam ini. Ditambah lagi… aku sedang memiliki banyak pikiran, kalau aku diam saja. Aku tidak akan bisa tidur." Jawabnya.


"Astaga…" Malvin menggelengkan kepalanya pelan. "Sudah aku bilang jangan tidur terlalu malam, apakah kau tidak mengerti? Dan aku juga tadi bilang jangan melakukan sesuatu yang membuatku terganggu. Ini salah satu yang aku sebut mengganggu!"


"M-maaf…"


"Sekarang kau tidur dan beristirahat! Kau baru saja keluar dari rumah sakit, jangan lakukan hal-hal yang menyusahkan ku! Mengerti?!"


"Baiklah, sekali lagi aku minta maaf…"


"Jangan lakukan lagi! Kalau kau ingin berolahraga lebih baik lakukan pagi hari di luar rumah! Itu akan lebih baik untukmu!" Tukasnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2