Change To Beauty

Change To Beauty
Change XXXVII


__ADS_3

***


"Bahkan orang bodoh pun tahu bagaimana cara memilih," gumamnya. Glenda terdiam menunggu kalimat selanjutnya yang akan terlontar dari mulut Austin. "Tentu saja aku akan memilih Anastasya." Austin menoleh ke arah wanita di atas ranjang tidurnya, sementara Glenda berusaha menahan rasa sakit yang hinggap menyeruak dalam dadanya.


"Lihat dia, Anastasya itu sempurna. Dia cantik, tubuhnya juga seksi, dan yang paling penting… dia adalah lawan yang seimbang untuk saling memuaskan." Austin kembali menatap Glenda.


"J-jika itu keputusanmu… maka bersiaplah untuk menerima surat pemecatan kalian berdua!"

__ADS_1


"Silahkan saja kalau kau bisa." Austin mengulum senyum, sama sekali tidak merasa terancam oleh ancaman Glenda barusan. "Dan, kalau tidak ada hal lain yang ingin kau bicarakan, silahkan pergi. Aku ingin melanjutkan percintaan panas kami." Austin menutup pintu kamarnya sedikit kasar. Glenda nyaris tersungkur jatuh saking lemasnya, beruntung ia bisa menahan tubuhnya agar tidak tumbang.


"Tidak akan… aku tidak akan membiarkan kalian bersenang-senang di atas penderitaanku." Glenda berjalan terseok-seok pergi dari sana, ia segera mencari taksi untuk mengantarkannya pulang.


*


"Tidak lagi, karena mulai hari ini kau di usir dari sini!" Pria dengan wajah garang itu menjawab dengan tegas. "Apa yang kau bicarakan! Siapa yang menyuruh kalian?! Sudah jelas-jelas ini adalah rumahku!" Fidela tak mau kalah.

__ADS_1


"Rumah ini bukan lagi milikmu ataupun milik anakmu!" Pria itu memperjelas, Fidela bingung dibuatnya. "Apa maksud dari perkataan mu?!" Fidela meminta penjelasan lebih. Pria itu mengeluarkan sesuatu dari balik kantong jas yang ia kenakan, menunjukkan secarik kertas yang kemudian ia bentangkan tepat dihadapan Fidela. Fidela terbelalak saat melihat sertifikat yang digenggamnya. Ia menarik kertas itu dan membacanya, di sertifikat rumahnya itu tertulis bahwa rumahnya sudah beralih kepemilikan menjadi atas nama Austin Cattegirn. "Tidak mungkin…" Fidela tak percaya dengan apa yang tertulis di sana, calon menantu yang ia percaya selama ini tiba-tiba melakukan hal yang diluar dugaannya.


Fidela bergegas mengeluarkan ponselnya mencari nama Glenda disana untuk memintanya cepat-cepat pulang. Perhatiannya lebih dulu disita oleh anak buah pria itu yang keluar dari dalam rumahnya dengan membawa koper lalu melemparkannya sembarangan bersama dengan pakaiannya. Fidela berjongkok memunguti semua barang-barangnya cepat, ia segera membereskannya dan memasukkannya ke dalam koper. Tidak lama, sebuah taksi melaju dan berhenti digerbang masuk rumahnya. Fidela menoleh dan mendapati Glenda yang baru saja keluar dari dalam sana. "Astaga, mama!" Glenda bergegas menghampiri Fidela yang terduduk ditanah bersemen.


"Glenda, sayang…" Fidela memeluk tubuh besar putrinya itu sembari menangis tersedu. "Ada apa ini?" Glenda tak mengerti dengan yang terjadi. Fidela kemudian menunjukkan sertifikat ditangannya, Glenda terkejut bukan main. Rasanya seperti ada sebuah bom yang meledak dalam waktu yang bersamaan dengan saat dirinya mendapati kenyataan bahwa tunangannya diam-diam bermain api dengan sahabatnya sendiri. "Kalian tidak bisa melakukan ini, kami tidak akan pergi dari sini!" Glenda berusaha melawan. Pria itu mendorongnya kasar.


***

__ADS_1


__ADS_2