
...***...
"Aneh-aneh saja tingkahnya itu," gerutu Malvin yang kemudian melangkah menuju lift dengan gelas berisi air minum di tangannya. Tiba di lantai tiga, ia melangkah keluar dan segera menghampiri kamarnya untuk kembali beristirahat. Ia menaruh gelas dalam genggamannya ke atas meja nakes yang terletak di tepi ranjangnya. Setelah mematikan lampu utama, ia kembali terbaring dan mulai berusaha untuk tidur.
...*...
__ADS_1
Hari berganti, suara ketukan pintu membuat Malvin terseret keluar dari dalam alam bawah sadarnya. Samar-samar dari balik pintu kamarnya, ia dapat mendengar suara Glenda yang memanggil dan menyerukan namanya beberapa kali; berusaha untuk membangunkannya. Malvin membuka kedua matanya perlahan. Gelap, kamarnya hanya dihiasi cahaya lampu tidur yang remang-remang. Ia bangun secara perlahan dari ranjang tidurnya dan terduduk berusaha mengumpulkan seluruh kesadarannya hingga benar-benar seratus persen sadar. "Tuan, bangun. Ini sudah pagi." Sekali lagi ia mendengar suara Glenda dari balik pintu.
Malvin mulai merasa muak dengan teriakannya, ia kemudian melangkah turun dari ranjang tidurnya untuk membukakan pintu kamarnya. Di sisi lain, Glenda yang sejak tadi berteriak di depan pintu kamar Malvin lantas mulai dibuat penasaran, wanita gemuk itu membungkukkan tubuhnya; mengintip lewat celah kunci yang ada di pintu agar bisa melihat apakah Malvin sudah bangun atau belum. Tapi Glenda sama sekali tidak bisa melihatnya, "astaga, apakah dia masih tidur?" Gumamnya pelan. Pintu terbuka dan Malvin berdiri tepat di hadapan Glenda yang kini menatap tepat ke arah pinggang bawah pria itu.
"Apa yang sedang kau lakukan?!" Tukas Malvin yang dalam seketika membuat Glenda tersentak kaget dan nyaris terjatuh saat menyadari apa yang baru saja dilihatnya. "A-anu… a-aku berusaha untuk…" Glenda gelagapan, ia salah tingkah sendiri jadinya saat ia harus kepergok dalam keadaan ambigu seperti tadi. "Kau sudah siapkan sarapan untukku?" Tanya Malvin. Glenda menggelengkan kepalanya pelan, seperti permintaan dari Malvin sendiri kalau dia sendiri yang ingin memilih menu untuk hidangan yang akan disantapnya, jadi Glenda tidak berani memasak sebelum Malvin bangun dan menanyakan secara langsung padanya apa yang harus ia masak untuk sarapan.
"Kalau begitu tunggu sebentar di sini." Malvin beranjak dari tempatnya, ia melangkah masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil sesuatu di dalam laci nakes miliknya, tak lama ia kembali dengan secarik kertas dan ponsel ditangannya. "Ini adalah daftar makanan yang harus kau masak seharian ini, aku akan menggantinya setiap hari agar kau tidak perlu repot-repot terus menanya padaku mengenai apa yang harus kau masak. Lalu ini adalah ponsel lamaku yang bisa kau gunakan sementara waktu hingga ponselmu selesai diperbaiki." Jelasnya seraya menyodorkan kedua benda di tangannya pada Glenda.
__ADS_1
...*...
Malvin terduduk tenang di ruang kerjanya, ia tengah mengecek ulang bahan-bahan meeting-nya pagi ini untuk memastikan semuanya sempurna. Pintu ruang kerjanya diketuk perlahan, membuat perhatiannya tersita. "Masuk," ujarnya mempersilahkan. Glenda mendorong pelan pintu ruang kerja Malvin untuk memberitahunya kalau sarapan telah ia siapkan di meja makan. Wanita gemuk itu melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya dan mendapati Malvin yang kini terduduk di meja kerjanya dengan berbalutkan kaos putih pendek dengan mantel hangat panjang hingga menutupi bagian pahanya. "Tuan, aku sudah menyiapkan sarapan seperti yang telah diminta. Semuanya sudah tersedia di meja," ujar Glenda. Malvin beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah keluar dari dalam ruang kerjanya. "Baiklah, terima kasih." Jawabnya sembari melangkah melewati Glenda yang berdiri di depan pintu. Tak lama ia berjalan mengikuti Malvin dari arah belakang untuk memastikan semuanya sesuai dengan apa yang telah diminta olehnya.
Tiba di ruang makan, Malvin melihat mejanya telah penuh dengan hidangan yang sama persis dengan yang tertulis di kertas yang dibuatnya. Pria itu terduduk di satu kursi dan mulai meraih piring dan mengisinya dengan makanan yang ada sementara itu Glenda berdiri di tepi meja sembari memperhatikan terus wajah Malvin yang datarnya minta ampun, ia jadi dag-dig-dug karena takut tidak sesuai dengan ekspektasi Malvin. Pria itu menyendok makanan di piring lalu melahapnya dalam suapan pertama, Glenda masih memperhatikan Malvin. Pria itu tengah mengunyah makanannya, semakin lama kunyahannya semakin lama membuat Glenda semakin resah. "Bagaimana rasanya tuan?" Tanya Glenda dengan raut wajah cemas, ini adalah pertama kalinya ia membuat makanan seperti yang diminta Malvin dalam catatannya. Walaupun yang pertama bukan berarti ia tidak tahu cara membuatnya, Glenda pernah melihat Fidela—mamanya membuat makanan yang serupa dengan makanan ini untuk memberikannya pada salah satu temannya saat mereka hendak berkumpul bersama, jadi Glenda tahu sedikit resepnya karena pernah membantunya memasak. Walaupun dia tidak tahu betul bagaimana rasanya karena tidak ingin mencicipi makanan yang bagi Glenda tidak cukup menarik baginya.
"Enak," sahut Malvin dengan raut wajah datarnya, pria itu berucap tanpa menoleh sedikitpun padanya. "Benarkah?" Raut wajah Glenda berubah lega, ia merekahkan senyuman saat mendengar perkataannya. "Kalau kau tidak percaya, coba saja sendiri," tutur Malvin. Glenda mengangguk pelan, ia lalu menarik kursi dihadapannya dan mulai mengisi piring lain yang ada di sana dengan hidangan yang dibuatnya. Glenda menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya. "Ternyata rasanya benar-benar enak, aku belum pernah makan masakan seperti ini sebelumnya." Glenda membatin, ia lalu melahap lagi makannya dan mengunyahnya dengan perlahan. Menikmati setiap racikan bumbu yang ia rasakan meresap pada makanannya. Glenda terdiam sejenak saat secara tiba-tiba ia mengingat saat pertama kali melihat Fidela membuat hidangan seperti ini untuk temannya. "Aku jadi ingat mama…" pikirnya, raut wajahnya berubah murung dalam seketika. Glenda menundukkan kepalanya menatap piring di hadapannya dengan raut wajah murung. "Kira-kira dimana mama berada sekarang?" Inner-nya.
__ADS_1
"Kau kenapa?" Tanya Malvin membuat Glenda seketika tersadar dari lamunannya.
...***...