CINDElLLINA

CINDElLLINA
hello Camer (calon mertua)


__ADS_3

"nyonya baik-baik saja?" tanya Dellina dengan rasa cemas yang tampak jelas di wajahnya, ia sangat menyesali perbuatanya, hal ini tidak akan terjadi bila ia bisa menahan emosi terhadap kunti satu itu.


Tangan dellina tampak menyodorkan sebotol air mineral yang langsung di sambut oleh nyonya maya. Wanita paruh baya itu langsung tersenyum lebar, raut wajahnya tak sedikitpun memperlihatkan penyesalan atau kesedihan yang ada hanya ekspresi puas dan tampak sangat bahagia.


"maafkan saya nyonya, saya sudah lancang membuat onar.." ucap dellina penuh rasa sesal, wajahnya menunduk seakan taksanggup menatap atau bahkan hanya sekedar melihat ke arah nyonya maya.


"hahaha..maaf apa..? justru aku sangat berterimakasih padamu..ayo duduk sini" nyonya maya menarik tangan dellina dengan tak sabar, dellina menurut saja.


meskipun dellina sekarang sudah duduk di samping nyonya maya namun ia masih menundukan kepala, dalam hati ia menerka nerka apa sebenarnya maksud nyonya maya.


angin bertiup sepoy sepoy menerbangkan dedaunan kering yang terlepas dari dahanya, aroma alam di sekitar taman memberikan sensasi menenangkan bagi siapa saja yg duduk di taman itu, posisinya tak jauh berada di belakang bangunan mall namun tak ada suara bising terdengar di telinga yang ada hanya kesunyian yang menentramkan jiwa.


tak henti hentinya nyonya maya menyunggingkan senyum puas di wajah sambil beberapa kali meneguk air mineral di tangganya.


"minumlaah..wajahmu masih saja cemas.." seru nyonya maya sambil menyodorkan botol mineral yang isinya tinggal setengah kepada dellina.


"terimakasih nyonya,," ucap dellina namun ia tak segera merahih botol itu.


nyonya maya tak menarik tanganya, ia malah menggoyang goyang botol tersebut beberapa kali.


"minumlaah..wajahmu sangat pucat.."


dellina akhirnya meraih botol itu, ia teguk isi didalamnya hingga habis tak tersisa.


"oh ya..siapa namamu,,? nyonya maya hampir lupa menanyakan nama gadis yang ia ajak bicara karna sibuk dengan rasa puasnya sendiri.


dellina segera menutup botol mineral itu dan menaruhnya di samping kursi.


"Dellina nyonya,,Nama saya dellina anindita.."


"heeemm.,namamu indah..seindah parasmu.," nyonya maya lantas terdiam setelah melontarkam pujian itu, pikiranya melayang pada masa lalu setelah mendengar nama anindita, namun dengan cepat ia menepisnya.


"nyonya lebih cantik.." balas dellina, sambil tersenyum matanya tertuju pada dua mata indah di depanya.


"tidaak..lihat dirimu..biarpun berantakan kau masih terlihat cantik .." nyonya maya melontarkan tawa kecil karna melihat penampilan dellina.


mereka tertawa renyah saat masing masing saling berpandangan, dengan segera mereka merapikan rambut yang terlihat acak acakan serta pakaian yang sudah tak beraturan.


mendengar pujian nyonya maya sontak membuat dellina tersenyum keheranan, ia terkejut tak menyangka, orang yang kemarin dilihatnya tdi siang sangat berkelas dan elegan kini malah terang terangan memujinya bahkan wanita itu tak canggung tertawa di dengan keadaan yang berantakan.


nyonya maya masih asik merapikan rambutnya, tanpa melihat ke arah delina ia melontarkam pujian lagi

__ADS_1


"kau wanita pemberani dellina.."


"aku hanya lepas kendali nyonya" balas delina dengan rendah hati.


"tidaak..kau sangat berani mengutarakan apa yang ada dalam benakmu.."


"maksud nyonya..?" tanya dellina dengan raut wajah keheranan.


"yaa..aku sudah lama ingin melakukany..


tapi aku takut, ahh bukan takut, lebih tepatnya bodoh.."


Dellina hanya diam tak menyahuti perkataan nyonya maya, ia menunggu kata selanjutnya


"kenapa selama ini aku harus menahanya jika ternyata rasanya se ringan ini, bertahun tahun aku menahan beban itu sendirian"


nyonya maya meremas lututnya dengan kuat, matanya mengalirkan bulir bulir bening ke pipi putih yang sudah nampak menua, sesekali ia mengusap air bening itu dan melanjutkan perkataanya.


"membungkus bangkai busuk yang sudah menggunung aku takan sanggup, aku takut media tau tentang perselingkuhan suamiku, tapi sekarang aku tak peduli, biarkan saja perusahaanya bangkrut, dia sudah begitu keras dengan anak anaku..aku tak perduli lagi soal harta" aura wajah nyonya maya berubah, ia tampak lebih tegar sorot matanya membiaskan kebencian yang mendalam kepada seseorang yang ia ceritakan.


"kau kenal dengan ****** itu dellina..?" pertanyaan nyonya maya yg tiba tiba membuat dellina gugup.


"di dia hanya pelanggan tetap di toko kami nyonya, namanya nona sisil"


dellina hanya diam dan menatap sendu, iya mengerti maksud perkataan wanita paruh baya itu, ingin sekali ia mengutarakan sesuatu, tapi ia ragu.


"nyoya..?, seru dellina dengan lirih


"yaa.." nyonya maya menjawab dengan pasti.


"boleh aku berbicara sesuatu? tanya delinna dengan raut wajah ragu.


"yaa..bicara saja..ada apa? nyonya maya memandang wajah dellina dengan lekat, ia melihat ada kesedihan dalam diri gadis itu.


"nyonya sama seperti mamaku,,ucapan dellina terdengar sangat lirih.


"maksudnya..?"nyonya maya terbelalak keheranan


"beliau juga mengalami nasib yang sama seperti nyonya, ayahku menghianati mama ketika aku masih kecil.."


"apa itu penyebab kau menyerang sisil..?"

__ADS_1


"betul nyonya,,saya tak suka dengan wanita seperti sisil..melihat nyonya aku menjadi teringat kembali kejadian menyakitkan yang mama alami, hatiku sangat perih nyonyaa.."


"lalu..dimana mamamu sekarang?" nyonya maya bertanya dan segera mengelus lembut punggung dellina.


wanita muda itu menangis terisak sambil menutup mata dengan kedua tanganya, ia teringat akan kejadian tragis belasan tahun silam, saat mamamya mengalami kecelakaan tunggal tepat di depan matanya.


dengan terisak dellina menjelaskan bahwa mamanya sudah tiada, sedari kecil hingga SMA ia tinggal bersama ayah dan adik lelakinya di sebuah daerah di pulau jawa, namun kini ia tinggal seorang diri karna setelah lulus kuliah ia harus mencari kerja ke kota untuk membantu biaya kuliah adiknya.


Nyonya maya tak tahu harus berkata apa, tangganya terus mengusap lembut pungggung gadis itu, hatinya terenyuh seakan merasakan apa yang gadis itu rasakan.


"sudahlah nak..jangan terlalu meratapi nasib..semua orang memiliki cerita kelam di masalalu..lebih baik kamu fokus bekerja dan menjadikan adikmu sarjana seperti dirimu"


nasehat nyonya maya memuadarkan kesedihan dellina,segera ia hapus air matanya, ia merasa tak enak bila membiarkan nyonya maya menjadi pendengar cerita hidupnya.


"maaf nyonya..saya jadi ikutan curhat.." dellina tersenyum tak enak kepada nyonya maya sambil menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal.


"ha ha ha..santai saja..selama itu bisa membuatmu lega dellina"


drrrrtt ... drrrtttt...


terdengar getar handphone dari tas mewah yang ada di samping nyonya maya. ia segera membuka dan mendapatkan pesan singkat dari asistenya.


(nyonyaa..tuan menunggu anda di rumah..mohon segera pulang..)


nyonya maya segera menutup handpone dan bangun dari tempat duduknya.


"Dellina..saya harus segera pulang..jangan bersedih lagi..kalu ada sesuatu jangan segan untuk menghubungi saya,,terimakasih untuk semuanya"


nyonya maya melontarkan senyum indahnya dan menyodorkan kartu nama kepada dellina, dengan ter buru buru ia segera beranjak dari tempat itu .


"terimakasih nyonya, sampai jumpa" ucap dellina seiring kepergian nyonya maya, matanya terus tertuju pada punggung wanita itu hingga menghilang masuk kedalam bangunan mall di depanya.


sesaat kemudian terasa gerat di saku rok dellina, tanda pesan singkat masuk.


(lagi dimana del? si bos nyari kamu, dia marah-marah tuh)


pesan rani membuat dellina kelabakan, dengan segera ia lari menuju office untuk menghadapi masalahnya yang baru.


salam manis dari Author


jgan lupa like,,

__ADS_1


kalau ada kekurangan jangan lupa komentnya yaa teman temaan..😍😍😍


Tiichaan


__ADS_2