
Hari ini dokter Fadli datang ke rumah sakit bersama bundanya dan langsung menuju ke ruang rawat kakak iparnya. Bunda Zahra memang sengaja hari ini libur karena ingin menemani putrinya apalagi dokter Fadli memberitahu kalau kondisi Deris kian hari kian menurun. Karena itu bunda Zahra memutuskan untuk mengambil cuti untuk menemani putrinya. Bunda Zahra yakin putrinya belum mengetahui kondisi sebenarnya suaminya. Kalau putrinya sudah mengetahui keadaan suaminya pasti dia sudah di rawat juga di rumah sakit.
Bunda Zahra sangat tahu kondisi putrinya Chantika banyak mengalami kehilangan orang-orang yang dia sayangi dengan cara yang sama yaitu sakit yang berat.
" Assalamualaikum." Dokter Fadli membuka pintu kamar istirahat kakaknya dan di ikuti oleh bunda Zahra di belakangnya.
" Walaikum salam, Loh sama bunda juga " Chantika kaget karena bundanya datang di jam kerja bersama sang adik yang memang setiap pagi dia pasti akan menyempatkan untuk menemui kakaknya. Sedangkan bundanya yang dia tahu sangat sibuk sebagai dokter bedah senior bersama dengan papanya tidak menyangka kalau bundanya ada di sini.
" Iya nak bunda sengaja ngambil cuti untuk menemani kamu mumpung pasien bunda sedang tidak banyak. Ayo sarapan dulu bunda sudah buatkan sarapan buat kamu." seru bunda Zahra sambil menyiapkan sarapan yang dia bawa di atas meja makan yang terdapat di ruangan itu.
" Wah bunda masih ingat aja kesukaan Chan." ucap Chantika yang melihat menu sarapan yang bundanya bawa adalah kesukaan dia.
" Iya sengaja bunda masak buat kamu karena sudah lama juga bunda nggak masakin kamu."
__ADS_1
Dokter Fadli, bunda Zahra dan Chantika pun sarapan bareng sambil mengobrol sampai datang seorang perawat yang memanggil dokter Fadli karena kondisi kakak iparnya kritis.
" permisi dok, kondisi pasien yang berada di ICU VVIP kondisi kritis." ujar perawat dengan nafas yang tidak teratur.
Mendengar kondisi kakak iparnya kritis dokter Fadli pun langsung beranjak dari duduknya dan langsung berlari ke kamar rawat kakak iparnya. Sedangkan Chantika sendiri langsung lemas mendengar suaminya kritis beruntung ada bundanya yang bisa langsung menenangkan Chantika.
" Bang Deris bunda." ucap Chantika yang berada di dalam pelukan bundanya.
" Sekarang kamu tenang dulu ya kita sekarang menunggu di depan kamar rawat Deris." ajak bunda Zahra.
Mereka berdua pun pergi menuju ke ruang tempat Deris selama ini di rawat.
Bunda Zahra pun tak lupa meminta suaminya untuk datang, beruntung pasien dokter Fachri tidak begitu banyak jadi dia bisa langsung pergi.
__ADS_1
Sudah tiga puluh menit Chantika bersama bundanya menunggu di depan ruang rawat Deris tapi belum ada dokter yang keluar dari dalam sana.
" Bunda kok lama banget ya Fadli nggak keluar-keluar bang Deris nggak apa-apa kan." ujar Chantika cemas.
" Sabar sayang lebih baik kita berdoa saja." ucap bunda Zahra yang sebenarnya sama cemasnya dengan sang putri.
Tak lama papa Fachri datang bersama Fadlan datang dan langsung menghampiri anak dan istrinya.
" Bagaimana keadaan Deris Bun?." tanya papa Fachri setelah memberi salam.
" Belum tahu pah?. Fadli belum keluar."
" Ya sudah kamu yang sabar ya sayang! Terus saja berdoa semoga Deris tidak apa-apa dan kembali sehat lagi." ucap papa Fachri.
__ADS_1
" Iya pah, terima kasih.'
Tak lama pintu ruangan rawat Deris terbuka dan keluarlah dokter Fadli dengan seorang dokter lainnya. Chantika yang melihat itu langsung menghampiri adiknya.