
Max Wijaya
dia adalah paman Candy adik bungsu tuan Bram.
Max lama di Amerika karena melanjut studi disana dan sekaligus mengurus perusahaan cabang disana.
Max yang baru saja masuk bingung melihat Candy, Kakaknya Bram, dan Kakak Iparnya yang terlihat sedang membahas sesuatu membuat Max menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hai" Bram yang baru menyadari kedatangan adiknya langsung berjalan kearah Max dan langsung memeluknya.
"Kenapa tidak menelpon kalau kamu mau pulang kan Kakak bisa menjemput kamu" Viona berjalan mendekati Max.
"Iya kan kami bisa menjemput kamu dibandara" Max tersenyum mendengar ucapan Kakak Iparnya.
"Oh ya Candy kamu gak mau meluk paman? " Max menatap keponakannya yang dulu masih kecil sekarang sudah tubuh menjadi gadis yang sangat cantik.
Candy yang mendengar ucapan Pamannya langsung bangkit dari tempat duduknya dan langsung berlari dan memeluk Max.
"Aku rindu Paman" Candy memeluk Max dengan sangat erat untuk melepas rindunya
Max membalas pelukan Candy.
"Paman juga rindu Candy" Max dan Candy sangat dekat bahkan saat sekolah dulu Max selalu menjaga dan melindungi keponakan kesayangannya.
Setiap hari Max menjemput Candy dan Jeskia bahkan Max meminta guru-guru dan juga satpam untuk menjaga keponakannya, umur Max, Candy dan Jesika hanya selisih 7 tahun Kakek dan Nenek Candy meninggal saat Max masih duduk dibangku kuliah.
Setelah melepas rindu dengan Kakak-Kakak dan keponakannya Max langsung berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat.
__ADS_1
Didalam kamar Max mengeluarkan barang-barangnya satu persatu dan memasukkannya kedalam lemari sejak di Amerika Max tidak pernah meminta pelayan untuk membersihkan pakaianya karena Max sudah terbiasa sendiri.
Saat mengeluarkan barangnya Max melihat bingkai foto di dalam kopernya.
Max menatap foto itu dengan sangat dalam, didalam foto itu terlihat wajah wanita cantik yang pernah mengisi hatinya.
Dia adalah Aqila Putri gadis yang selalu menjadi penyemangat dalam hidup Max, Aqila wanita yang membuat Max membuka hatinya dan membiarkan Aqila masuk dalam kehidupannya yang kelam dan Aqila dengan tawa dan candanya perlahan membuat warna dihati Max.
Bahkan bagi Max Aqila adalah wanita yang sangat penting baginya sampai suatu hari dimana Max harus menerima kenyataan pahit dimana gadis yang sangat dicintainya harus menerima nasib buruk Aqila yang tidak ingin Max mengetahui penyakitnya pun tidak bisa menyembunyikannya.
Aqila difonis penyakit kangker otak dimana saat itu sudah memasuki stadium 3.
Max yang mengetahui hal itu tidak percaya gadis yang terlihat ceria dan selalu tersenyum tidak pernah terlihat sedih dan kesakitan itu akan meninggalkannya.
Max menemani Aqila dari awal masuk rumah sakit sampai akhirnya Aqila benar-benar meninggalkannya.
Pesan terakhir Aqila adalah...
Sunggu sangat menyakitkan itu yang dirasakan Max saat itu.
"Jangan nangis nanti aku gak bisa ninggalin kamu, aku ingin mati dengan melihat kamu tersenyum hiks.. hehe" Aqila memaksa tersenyum agar Max berhenti menangis.
"Jangan katakan hal itu, kamu harus sembuh, apa kamu rela aku menikah dengan wanita lain hah? Aku mohon bertahanlah demi aku hiks... demi cinta kita apa kamu lupa hah? apa kamu lupa kita berjanji untuk menikah dan memiliki anak-anak yang cantik dan tampan seperti aku dan kamu, aku mohon jangan tinggalkan aku hiks... hiks... tidak ada satu pun wanita yang bisa seperti kamu aku mohon hiks... hiks... aku mohon" Max menangis sejadi-jadi dipelukan Aqil membuat Aqila langsung menangkup wajah Max dan menghapus air mata Max.
"Max tatap aku, aku berjanji akan bersama kamu tapi tidak sekarang mungkin aku akam berasama kamu tapi tidak ditubuh ini, mungkin kamu akan menemukan aku ditubuh wanita lain aku janji aku akan kembali pada kamu" Max hanya menggelengkan kepalanya menandakan bahwa ia tidak akan bisa menemuka wanita seperti Aqila.
Sampai akhirnya Max harus merelakan gadis yang dicintainya pergi untuk selama-lamanya.
Max yang mengingat kenangan itu tidak bisa menahan air matanya mengingat gadis cantik itu, sunggu Max yang sangat malang.
Dilain tempat terlihat laki-laki tampan yang sedang memperhatikan foto seorang gadis cantik diponselnya.
__ADS_1
Siapa lagi kalau bukan Johan, Johan sangat merindukan tawa gadis yang sempat membuat hari-harinya penuh berwarna sebelum kecelakaan menimpa gadis cantik itu.
Johan ingat saat pertama kali ia masuk keruangan Candy untuk menjadi pembimbing mereka.
Johan ingat bagaimana Candy menatapnya dengan tatapan takjubnya saat melihat laki-laki tampan itu.
flasback On
Candy tidak henti-hentinya menatap Johan baginya Johan adalah laki-laki tampan yang pernah ia temui bahkan baginya Johan lebih tampan dari laki-laki kaya yang mengejar-ngejarnya.
Candy terus menatap Johan membuat Johan sedikit salah tingkah.
"Untuk hari ini kita cukup sampai disini oh ya nanti saya kirim ke grub untuk soalnya dan satu lagi tidak boleh kerja sama saya bisa menilai mana yang jujur dan tidak jujur, selamat siang" Johan langsung menutup kelas tapi Candy tetap melihat Johan sampai laki-laki tampan itu menghilang dari hadapannya.
flasback Off
Johan sudah tidak bisa menahan dirinya untuk bersikap dingin pada Candy tapi mau bagaimana lagi itu satu-satunya cara agar Candy bisa mengingatnya dengan sendiri karena Candy dan Johan saling kenal saat Johan menjadi pembimbingnya diawal semester lalu dan kecelakaan itu saat Candy menyelsaikan S1 nya dan ingin melanjut S2 nya agar bisa langsung cepat berkerja di rumah sakit.
Saat Johan masih melamun dan menatap foto Candy tersadar saat Budi memanggilnya.
"Ada apa? " Johan langsung mematikan ponselnya dan melihat kearah Budi.
"Saya mau nanya skripsi yang bapak minta kemaren sudah saya kirim ke email bapak dan juga ini tugas yang waktu itu bapak minta" Budi menyerahkan skripsinya dan Johan menyambutnya.
"Baiklah oh ya katakan sama teman-teman kamu untuk mengumpulkan semua skripsi secepatnya" Budi mengiyakan perkataan Johan dan langsung pamit keluar.
bersambung.
__ADS_1