Cinta Dua Zaman

Cinta Dua Zaman
Tempat Tidak Di Kenal


__ADS_3


Eria bingung di mana ia sekarang, dalam berpikir Eria bangkit dan berjalan menyusuri padang rumput itu.


Sehingga Eria memasuki sebuah hutan di sebuah kaki gunung.


"Di mana ini? Dari tadi aku berjalan tidak melihat adanya kota hanya ada hutan belantara ini," Eria bergumam dalam hati.


Eria terus berjalan menyusuri hutan, walau kedua kakinya sudah terasa pegal dan sakit, ia tetap berjalan, walau langkahnya sudah tertatih-tatih. Eria berjalan sudah cukup jauh tapi belum juga menemukan tanda-tanda kota tempat tinggalnya.


Tiba-tiba terdengar auman di depannya, tampak beberapa ekor srigala bertubuh besar agak kurus keluar dari semak-semak dan menghadang jalannya.


Auuum...!" Aarg.....!


"Mati aku! Srigala. Setauku di hutan dekat kota tidak ada srigala, dan tidak ada gunung sebanyak ini. Sebenarnya aku di mana? Ya tuhan," Eria meratap dalam hati.


Eria diam memperhatikan srigala-srigala itu, perlahan ia melangkah mundur.


Aaaarg......!"


Guukk......!


Srigala yang paling depan lansung melompat menerkam ke arah Eria.


"Hih!"


Eria menjatuhkan diri ke tanah, sehingga srigala itu lewat di atas Eria yang terbaring di tanah.


Eria berusaha bangun setelah berhasil berdiri ia melihat srigala itu telah mengepungnya.


"Mati aku, kali ini," gumam Eria dalam hati, menyerah.


Auk....!


Srigala itu berjalan mendekati Eria dari tiga arah, kali ini Eria pasrah, ketika srigala itu melompat ke arahnya, ia hanya bisa memejamkan matanya.


"Mama... Maafkan Eria, Ma," lirih Eria dalam hati.


Tiba tiba.

__ADS_1


Set!


Eiikk....!


Buk...!


Eria membuka matanya, terlihat srigala yang tadi menerkamnya. Telah terbaring mati tubuh srigala sudah tertembus sebuah panah.


Tampak seorang pemuda berpakaian putih berkerudung, dengan sebuah busur di tangan kirinya, dan jari tangan kanannya memegang pangkal sebuah anak panah berwarna hitam.


Pemuda itu mendekati Eria.


"Kau tidak apa apa?" tanya pemuda itu


"Ti... Tidak saya tidak apa-apa," jawab Eria bergetar, wajahnya tampak ketakutan.


Pemuda itu membidikkan anak panah ke arah srigala yang mundur, melihat ada kawanannya yang mati terpanah.


Aaarg.....!


Srigala-srigala itu lari ke dalam semak-semak yang rimbun di dalam hutan.


Kepalanya tertutup tudung, mirip jilbab tapi longgar menyatu dengan baju agak ketat, sampai ke lutut memiliki belahan menyamping, dua arah di tengah, dari kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri, celana hitam dengan agak pas-pasan di atas, ketat di bagian lutut ke bawah, dengan bagian bawah masuk ke sepatu berikat tali sampai ke betis.


Pemuda itu mengulurkan tangan pada Eria, pemuda itu membantu Eria berdiri.


"Kamu bukan dari sini ya? Pakaianmu aneh?" tanya pemuda tersebut tampak sedikit bingung.


"Iya, saya bukan dari daerah sini," jawab Eria sambil mengeluarkan handphone, berusaha mencari signal.


"Tidak ada signal lagi," gumam Eria seperti berbicara pada diri sendiri sambil mengangkat hpnya ke atas kepala dan menggoyangkan tangannya.


"Apa itu? Benda kaca di tanganmu?" tanya pemuda itu penasaran sambil melihat handphone di tangan Eria.


Eria terdiam memandangi pemuda itu, gadis itu berpikir sejenak lalu bertanya.


"Boleh tau nama kamu siapa..? Saya Eria..!" ucap Eria mengulurkan tangan ala orang modern berkenalan.


"Saya Aji.. Aji Saloka," jawab pemuda tersebut tanpa membalas uluran tangan Eria, pemuda itu masih tampak bingung.

__ADS_1


"Aji..! Ini tahun berapa?" tanya Eria menyelidik.


"Ini tahun seribu lima ratus dua puluh lima," jawab Aji Saloka singkat.


"Apa?"ucap Eria histeris sambil menatap Aji Saloka.


"Dia, tidak berbohong," guman Eria dalam hati.


"Ini di mana?" tanya Eria lagi, Eria menatap bingung,setengah tidak percaya akan jawaban Aji Salma tersebut.


"Daka, Kerajaan Daka," jawab Aji Saloka.


"Mati aku," desah Eria sambil duduk di tanah.


Aji Saloka mendekati Eria dan berjongkok di samping Eria, matanya memperhatikan wajah cantik di depanya. Aku Dampak masih bingung melihat pakaian Eria yang belum pernàh ia lihat sebelumnya.


"Kamu berasal dari tahun berapa?" tanya Aji Saloka masih agak bingung.


"Saya dari tahun dua ribu dua puluh," jawab Eria sambil menatap Aji Saloka.


"Eria kenapa sampai kesini?" tanya Aji Saloka.


"Tadi pagi saya selesai makan bakso dengan teman, tiba tiba ada mobil nyasar ke arah kami dan menabrak saya, Begitu saya sadar. Saya sudah berada di padang rumput sebelah sana," jawab Eria sambil menunjuk.


"Tidak ada apa-apa di sana," terang Aji Saloka sambil memandang kearah padang rumput di luar hutan itu.


"Aji pikir, Eria bohong?" tuntut Eria dengan wajah serius menatap kearah Aji Saloka. Pemuda itu hanya menggeleng perlahan sambil menatap ke arah Eria.


"Tidak, saya tidak mengatakan Eria bohong, tapi saya baru saja dari padang rumput itu, tidak ada apa-apa di sana," jawab Aji Saloka tampak masih agak ragu.


"Ya, sudah di sini berbahaya untukmu, sebaiknya Eria ikut saya," tawar Aji Saloka.


Eria diam sebentar berpikir sejenak. Sebelum akhirnya mengangguk menyetujui tawaran Aji Saloka tersebut.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2