
Eria melakukan semedi sesuai yang diinginkan Nenek Chio, karna ketekunannya Eria berhasil melewati semua ujian dan rintangan selama bersemedi.
Tujuh hari Eria menyelesaikan semedi yang di awasi langsung Nenek Chio, dengan selesainya semedi Eria berarti, Eria telah siap menjadi seorang gadis Satria.
Pagi pagi Nenek Chio telah memanggil Eria,
"Eria kau telah berhasil melewati semua ujian, dan rintangan yang Nenek berikan, kini kau akan mencoba tes terakhir, yaitu bertarung dengan seniormu, dengan cara menghadapi mereka di setiap rintangan, yang telah di siapkan..!" kata nenek Chio.
Baik Nek..! Eria siap...!" jawab Eria begitu bersemangat.
"Eria pakailah, pakaian ini, ini adalah baju Nenek saat muda dulu..! melihat bakatmu Nenek jadi teringat masa muda Nenek...!" kata nenek Chio, sambil memberikan satu stelan baju satria miliknya,
pada Eria.
"Terimakasih banyak Nek, atas semua yang Nenek berikan, dan Nenek ajarkan pada Eria..!"
ucap Eria sambil menunduk di depan Nenek Chio, sambil menerima pakaian, yang diberikan Nenek Chio padanya.
"Kau cantik sekali Eria..!" kata nenek Chio, ia terbayang pada sang cucu yang telah tewas, akibat pertempuran dengan Pasukan Ratu Medusa dan Raja Ular.
__ADS_1
Air mata Nenek tua itu menetes tanpa ada tangisan, Semua itu di lihat Eria, Eria mendekati Nenek Chio, dan memeluknya.
"Nek, Nenek mengingat cucu Nenek ya? Anggaplah Eria sebagai cucu Nenek!" ucap Eria, dengan kekuatannya, ia bisa mendengar suara hati Nenek Chio, di peluknya tubuh tua itu dengan erat, ia teringat pada Ibundanya yang ia tinggalkan di abad dua puluh satu.
"Terimakasih Eria, kau memang seorang kesatria pilihan yang berjiwa besar cucuku," kata Nenek Chio, sambil memeluk Erat tubuh Eria.
Eria, kini telah berhasil melewati semua ujian dan rintangan yang di berikan Nenek Chio, kini ia telah siap menjadi Seorang Ksatria Saka.
Aji Saloka, yang slalu mendampingi Eria diam diam menaruh hati pada gadis cantik dari masa depan itu.
Kini Eria adalah kesatria terkuat yang berhasil Master Chio didik, kelebihan Eria yang terpendam kini telah di kuasai Eria.
Karna misinya di Kerajaan Daka, belum selesai, kini ia telah siap keluar dari persembunyiannya, dan berperang dengan pasukan Ratu Menduda dan Raja Ular.
Perjalanan Eria kini siap di mulai, ia di dampingi Aji Saloka, dan beberapa orang murid Master Chio, atau di kenal dengan panggilan Nenek Chio, di urus pergi ke daerah perkampungan di wilayah Kerajaan Daka, untuk melihat keadaan Rakyat yang hidup secara bersembunyi dari pasukan Ratu Medusa, dan Raja Ular.
Pagi-pagi sekali Raja Daka dan para pembesar Kerajaan Daka beserta nenek Chio telah memanggil Aji Saloka dan Eria bersama beberapa orang Satria Daka lainnya.
Aji Saloka, Kau sebagai pimpinan satria Daka, tentu tau dengan keadaan kita saat ini. Ramalan dari nenek Chio dan peramal lain di negri ini telah menjadi nyata.
__ADS_1
Kekalahan kita dalam menghadapi pasukan Iblis dan pasukan ratu Medusa membuat kita kocar kacir. Namun berita baik dari ramalan itu adalah kedatangan seorang manusia pilihan dari masa depan.
Sekarang ramalan itu akan jadi nyata. Kemenangan akan kembali memihak kepada kita dengan bantuan Eria, yang telah berada di tengah-tengah kita beberapa bulan ini.
Aku ingin Kau yang menjadi pendamping Kesatria Merah, atau yang kita kenal dengan nama Eria. Eria tidak mengenal selak beluk negeri Daka. Apakah Kau bersedia Aji?" titah Raja Daka.
"Semua titah dan perintah Tuanku, akan hamba laksanakan dengan senang hati," jawab Aji Saloka dengan menyusunkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya.
"Apa Kau menerima Aji sebagai pendampingmu dalam misi ini anakku?" tanya Raja Daka sambil memandang kearah Eria.
"Tentu saja hamba menerima Tuanku," jawab Eria sambil memberi hormat pada Raja Daka.
"Kalian berdua adalah satria terhebat yang kami miliki saat ini. Kami ingin kalian berdua bertugas melihat dan mencari tau di mana pusat keberadaan musuh, tugas ini cukup berat untuk dua orang. Namun kalian berdua adalah satu-satunya yang bisa kami andalkan saat ini," kata Raja Daka lagi.
"Apa pun itu kami siap. Demi kebangkitan Daka. Nyawa akan hamba dipertaruhkan," jawab Aji Saloka.
"Pergilah satriaku, restu dan doa kami bersama kalian!" titah Raja Daka. Aji Saloka dan Eria memberi hormat dan beranjak meninggalkan tempat itu.
__ADS_1