
"Ho ho ho...! Ternyata ada dua kesatria Daka yang bersembunyi di hutan ini, ayo kita habisi mereka...!" perintah salah satu siluman yang mengenakan jubah besi berbentuk baju perang itu, sepertinya, dia adalah pemimpin rombongan itu.
Set....!
Set.....!
"Aaaa....!
Dua prajurit siluman itu jatuh tertembus panah yang di lepaskan Aji Saloka dan Eria, Aji Saloka kembali menyiapkan anak panah ke busurnya, kali ini tidak satu melainkan tiga anak panah sekaligus.
Set..! Set....! Set.....!
"Aaaaaa....!
Tiga siluman jatuh ke tanah, mereka tidak sempat menghindari, karna anak panah Aji Saloka begitu cepat, dan lansung menembus baju perisai mereka.
"Serang.......!" perintah siluman yang berbaju besi itu, seluruh anak buahnya, lansung menghunus senjata yang berupa kapak dan berlari ke arah Aji Saloka dan Eria.
"Hiaaa.....!"
"Heaaa.....!" Aji Saloka dan Eria lansung melompat menyongsong para siluman yang menyerang ke arah mereka, dengan sekali gerakan Aji Saloka dan Eria telah menjatuhkan dua siluman dengan tendangan mereka.
Sring....!
Eria lansung menghunus Pedang pemberian Nenek Chio, dan menyabetkannya dengan cepat kearah prajurit siluman yang menyerang ke arahnya.
Srass....!
"Oorrkh....!
Siluman yang terkena sabetan pedang di tangan Eria, lansung jatuh meregang nyawa, melihat temannya jatuh yang lain malah kalap, menyerang Eria dengan membabi buta, Eria meliuk liuk menghindari kapak para siluman yang menyerang ke arahnya, setiap ayunan dan tebasan pedangnya, satu siluman itu jatuh meregang nyawa.
__ADS_1
Begitu pun dengan Aji Saloka, ia telah mempunyai pengalaman bertempur melawan para siluman itu, ia berjumpalitan menghindari kapak siluman yang mengarah padanya, dengan cepat sekali, ia menahan setiap siluman yang menyerangnya.
Busur panah ditangan Aji Saloka mengarah cepat kearah prajurit siluman yang menyerangnya. Ayunan busur panah Aji Saloka jarang tidak mengenai sasarannya.
Tidak butuh waktu lama, Eria dan Aji Saloka telah membunuh lebih dari separuh prajurit siluman yang menyerang mereka, kini tinggal beberapa siluman lagi yang mengelilingi mereka, Aji Saloka meraba anak panah di balik punggungnya, ia baru sadar ia telah menghabiskan seluruh anak panah yang ia miliki.
Sring...!
Aji Saloka pun menghunus pedang yang tersimpan di balik punggungnya itu, ia pun bersiap dengan memainkan pedang di sekitar tubuhnya, tiba tiba para siluman itu melompat secara bersamaan ke arah Aji Saloka dan Eria.
"Hiyaaa....!"
Eria tanpa sadar mengosongkan tangannya ke depan, sebuah cahaya merah berbentuk api menghantam para prajurit siluman yang mengeroyok mereka, para prajurit siluman itu bermentalan ke tanah, dengan tubuh hangus bagai terbakar api.
"Sihir Api Penghancur...!"
Teriak pimpinan siluman yang memakai baju besi itu, ia tampak terkejut, dan tidak menduga kalau musuhnya menguasai sihir yang di takuti Raja Ular dan Ratu Medusa.
Trang....!
Pedang di tangan Aji Saloka mengenai baju besi siluman itu, begitu ia tersadar ia lansung mengayunkan kapak besarnya ke arah Aji Saloka.
"Hup...!"
Aji Saloka melompat ke samping menghindari serangan kapak besar siluman berbaju besi itu.
Eria yang lagi bingung mencoba mengerahkan tenaga dalamnya, dan memfokuskan pikirannya, ia kembali mengosongkan tangan ke arah siluman yang sedang bertarung dengan Aji Saloka itu.
Cahaya merah itu kembali menderu ke arah siluman berbaju besi itu.
Blaaarr...!
__ADS_1
Siluman berbaju besi itu terpental beberapa meter, dan lansung meregang nyawa.
Aji Saloka tertegun memandangi Eria, yang sibuk memperhatikan kedua tangannya, ia sendiri tidak begitu percaya, ia bisa mengeluarkan sihir sehebat itu, sampai membunuh musuh yang begitu besar dengan sekali hempasan tangannya saja.
"Selamat Eria, Kau telah menguasai kekuatan sihir yang terpendam di dalam tubuh mu, Sihir Api Penghancur, adalah sihir yang ditakuti Raja Ular dan Ratu Medusa..!" tutur Aji Saloka, memberikan penjelasan pada Eria.
"Aji! Aku takut...!" ucap Eria, lansung memeluk Aji Saloka sambil menangis.
"Tenang lah, tidak ada yang akan mampu menyakiti mu, Kau adalah kesatria pilihan yang di takdirkan untuk menolong rakyat Daka dari rongrongan pasukan Ratu Medusa dan Raja Ular..," ucap Aji Saloka, berusaha menenangkan gadis yang ia sukai itu.
"Sebaiknya kita cepat tinggalkan tempat ini, tempat ini tidak indah lagi," ujar Aji Saloka, sang kesatria Daka itu, ia menuntun Eria meninggalkan tempat itu tanpa melepaskan pelukannya.
.
Bersambung...
__ADS_1