Cinta Fitri

Cinta Fitri
2. Preman pasar


__ADS_3

Dengan langkah gontai Fitri masuk kedalaman rumahnya, dicarinya sang ibu tapi tidak ada dimana mana, dia pun berfikir mungkin ibunya masih ada dipasar tanpa membuang waktu lagi dia bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian santai dan segera menyusul ibunya


Dipasar tampak dagangan ibunya masih banyak tersisa jarang sekali pembeli datang untuk membeli dagangannya meski hari sudah siang tapi hanya ada sedikit orang yang berlalu lalang, Fitri mendekati ibunya.


" bu sudah siang gini mending dibereskan sekarang dan kita pulang nanti sisa dagangan nya kita bagikan saja ke tetangga " usul Fitri karena tidak mungkin menyimpan sisa dagangan yang sudah matang karena sudah pasti akan basi esok harinya.


" ya sudah bantu ibu beresin ini biar cepat selesai dan kita bisa pulang " ujar ibu mengiyakan


Saat mereka sibuk membereskan barang dagangan, datang tiga laki-laki bertubuh besar dan bertato, wajah mereka sangat menyeramkan salah satunya memiliki bekas luka di pipinya.


" berikan uang setoran hari ini " kata pria yang memiliki bekas luka dengan suara beratnya


" ma...af ka... mi tidak punya uang "jawab bu Maria gugup ketakutan, saking takutnya dia menggengam tangan fitri sangat erat


Fitri merasakan hal yang sama dengan ibunya, dia sangat ketakutan hingga tidak berani menatap preman - preman yang sudah membuat keributan itu


" prank.... bruak.... bruuk...." preman itu menghancurkan barang dagangan bu Maria


" pokoknya gue gak mau tau harus ada uang buat setoran keamanan hari ini kalo sampe gak ada maka gue akan hancurkan kalian berdua" ancam preman itu lagi


" tapi om kita memang gak punya uang, lihatlah dagangan kita saja masih banyak belum berkurang " Fitri mencoba memohon kepada preman itu


" gak ada alasan pokoknya harus ada sekarang atau.... " preman itu sengaja mengantung kata-kata nya tapi tidak lama dia Mengangkat tangannya ingin menampar Fitri yang ada di depannya. Fitri hanya bisa menutup matanya ketakutan pasrah dengan apa yang akan menimpanya.


Belum sempat tangan preman itu menampar Fitri ada tangan yang menangkis tangan preman tadi.


"kalo brani jangan pukul perempuan " tantang Brian.


Ya orang yang membelah Fitri adalah Brian cowok yang sangat dingin dan tak tersentuh di SMA 13 meski banyak cewek yang tergila-gila dan rela mengantri untuk jadi pacar nya tapi Brian tidak perduli sama sekali


Para preman menatap geram kearah Brian mata yang merah menunjukkan kalau emosi mereka mulai tersulut, ditatap seperti itu tidak membuat Brian takut dia juga memberikan tatapan yang tak kalah menakutkan


" lo gak usah ikut campur urusan orang " bentak preman yang berambut gondrong.


Berada di jarak yang sangat dekat dengan para preman itu membuat Brian bisa mencium bau alkohol dari mulut mereka.

__ADS_1


" gue gak mau ikut campur urusan kalian, tapi kalian semua sudah sangat mengganggu ketenangan disini " ujar Brian datar dia tidak pernah menyukai jika ada orang yang semena menarik kepada orang lain.


Tanpa ada aba - aba preman berambut gondrong melayangkan tinjunya kearah Brian tapi cowok itu masih bisa menangkis nya dan masih sempat mendaratkan satu pukulan di wajah preman tadi.


Tak terima temannya di pukul dua preman yang lain menyerang Brian secara bersamaan meski masih bisa mengelak tapi tidak mudah menghindari serangan yang tak henti henti hingga satu pukulan berhasil mengenai wajahnya dan disaat preman yang memiliki bekas luka di wajah mengeluarkan pisau di balik bajunya Fitri menjerit


" awas!! " pekik Fitri ketakutan memperingatkan Brian dalam bahaya


Pisau hampir menusuk perut sixpeck Brian, tiba -tiba aura di sekitar nya berubah menjadi mencenkam tatapan membunuh yang sangat kuat membuat siapa saja yang melihatnya ketakutan tak terkecuali para preman itu yang nyalinya kini menciut dan dalam waktu sekejap para preman itu dapat Brian lumpuhkan dengan mudah.


# Flashback


Brian yang sedang mengendarai mobilnya menuju rumah tiba-tiba hpnya berbunyi melihat notifikasi pada hp adalah nama sang ibu dia langsung menjawab panggilan itu


"halo assalamualaikum, ada apa ma" sapa Brian kepada mamanya di seberang telfon


📞" waalaikum salam, kamu lagi dimana sayang? Kamu sibuk gak? mama ngangu kamu gak? " tanya mama Indah basa basi tidak ada habis nya


" kalo mo nanya satu satu ma! Biar Brian gak bingung jawabnya"


"hush " Brian membuang nafas kasar sebelum menjawab pertanyaan mamanya


" Brian lagi nyetir mo pulang mama ada perlu apa? "balas Brian malas dia tahu jika mama Indah menghubungi nya pasti ada yang diinginkan


📞" mama mo minta tolong karna kakek kamu datang dia minta dibelikan nasi pecel dipasar senen yang dekat tangga sebelah utara" pinta sang mama


"kenapa harus beli sih ma? Kenapa gak minta dibuatin Art dirumah atau coba mama yang masakan pasti kakek suka " tolak Brian sehalus mungkin


📞" mama sudah tawarkan masakan mama tapi kakek mu gak mau katanya dia ingin dibelikan nasi pecel yang ada di pasar " terang mama Indah


" kalo gitu kenapa gak mama aja yang beliin? " Brian masih berusaha menolak


"tapi kakek mu gak mau ditinggal di rumah makanya mama mintak tolong sama kamu"


Akhirnya Brian tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan mamanya dia mengarahkan mobil nya kearah pasar

__ADS_1


Sampai dipasar Brian bertanya kepada orang yang ada di pasar tempat yang dimaksud oleh mamanya butuh sedikit waktu untuk bisa menemukan penjual nasi pecel yang dimaksud mamanya.


Mendekati tempat tujuan dia melihat ada keributan tiga preman berwajah seram tengah memalak pedagang di pasar, Brian yang ingin cepat mendapatkan pesanan sang mama mau tak mau harus ikut campur


Setelah para preman berhasil di lumpuhkan melihat wajah Brian yang memar dan ada sedikit darah disudut bibir nya Fitri pergi entah kemana


" terimakasih nak kamu sudah menolong ibu" ucap bu Maria tulus


" tidak apa apa bu, saya hanya ingin membeli nasi pecel ibu lima bungkus " ucapnya sopan


" akan ibu buatkan silakan tunggu sebentar " jawab bu maria


Dengan cekatan wanita paruh baya itu membungkus nasi yang tidak ikut hancur saat preman tadi mengobak abik daganganya


Fitri datang membawa bungkusan kresek kecil


" maaf kak boleh gue obati luka lo ? " ijin Fitri


"gak usah " jawab Brian spontan datar


" tapi gue maksa kalo gak tar jadi bengkak " paksa Fitri


Fitri menyuruh Brian duduk dibangku kemudian mulai mengobati luka dibibir Brian berada dalam jarak yang sangat dekat membuat Fitri bisa merasakan hembusan nafas Brian, Fitri mengagumi ketampanan pria yang ada dihadapannya jantung nya berdetak sangat cepat tangannya sedikit bergetar karena gugup dia berusaha lebih cepat mengobati Brian karena tidak bisa lebih lama lagi ada didekat pria itu.


"sudah selesai " akhirnya Fitri bisa menyelesaikan bersamaan dengan nasi yang sudah siap


" berapa bu?" tanya Brian


"gak usah nak, anggap saja rasa terimakasih kami " tutur bu Maria


Brian hanya bisa mengangguk dan berlalu begitu saja meninggalkan tempat itu.


Sesampainya di rumah Brian memberikan bungkusan nasi kepada Art dirumah setelah itu dia pergi kekamarnya


Didalam kamar yang didominasi warna hitam putih Brian mengambil pigura foto yang ada di dekat meja belajarnya ditatapnya benda itu dengan hati yang sedih

__ADS_1


" bagaimana jika kamu tau perasaan gue yang sebenarnya apakah kamu masih mau berada di dekat ku? " kata Brian putus asa dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi orang dalam foto itu jika mengetahui kebenaran


__ADS_2