
Didalam kamar yang didominasi warna biru tua Rizal menatap langit langit kamarnya meski malam semakin larut dia tidak bisa memejamkan matanya beberapa kali dia menghembuskan nafasnya kasar masih tergiang di kepalanya kata kata Fitri yang mengatakan bahwa dia hanya dianggap sebagai sahabatnya, hal itu membuatnya tetap terjaga dia berpikir keras bagaimana bisa gadis yang sangat dia sukai itu malah menyukai sahabatnya sendiri dari yang dia tau Brian tidak pernah bersikap lembut pada Fitri, berbeda dengan dirinya yang sering memperhatikan Fitri secara tidak langsung dia bertanya tanya apa ada yang luput dari penglihatannya. Rizal akhirnya menyusun rencana untuk mendekati Fitri agar terlihat natural
Ditempat lain Brian mendengus kesal niatnya menghina Fitri supaya gadis itu menjauh dari Rizal telah gagal karena nyatanya Rizal semakin dekat dan lebih perhatian kepada gadis itu, sikap Rizal yang terang tegangan membelah Fitri juga menambah emosi Brian semakin tinggi dia tidak suka jika keduanya semakin dekat
...----------------...
Rima terbangun ketika dirinya ingin buang air kecil tapi Fitri tidak ada disampingnya dengan perlahan dia jalan keluar kamar takut membangunkan orang lain, ternyata Fitri tengah membantu ibunya menyiapkan dagangan untuk dijual dipasar. Rima pergi kekamar mandi untuk menuntaskan hajat yang dia tahan, selesai dari kamar mandi dia tidak kembali ke kamar Rima memilih membantu Fitri.
" lo istirahat aja, nanti lo kecapean " Fitri mendorong tubuh Rima pelan
" gue pengen bantu lo Fit, itung itung tambah pengalaman " jawab Rima
" tapi ini masih jam empat subuh nanti lo ngantuk gimana ?" timpal Fitri
" gak kok gue kuat kalo di suruh begadang, lagian bentar lagi juga sudah pagi " sahut Rima meski terlihat sesekali menguap, Fitri hanya mendengus tidak bisa mengusir sahabat nya itu
Rima membantu memotong sayuran Fitri mengoreng ikan sedang bu Maria menanak nasi pagi yang sibuk untuk mereka meski begitu mereka tampak senang menjalani hari ini, seusai menata dagangan di gerobak untuk dijual dipasar Rima melirik jam yang menunjukkan pukul enam pagi karena tidak mau terlambat dia cepat mandi dan bersiap untuk kesekolah ketika dia sudah siap dengan seragam putih abu nya Rima menghampiri Fitri, Fitri tampak heran menatap Rima
"mau kemana neng?" godaan Fitri dengan senyuman yang ditahan
" mau ke sekolah lah masak mau ke mall, lo sendiri gak sekolah kok belum siap siap?" tanya Rima heran
" emang mau ngapain kesekolah?" godaan Fitri lagi sambil menahan tawa
" ya sekolah nyari ilmu masak mau tawuran" jawab Rima yang mulai kesal dengan pertanyaan Fitri yang berputar putar
"oh... Gue baru tau kalo lo hari minggu masih masuk sekolah, emang sekolahnya di buka gitu Rim?" jawaban Fitri kini berhasil membuat Rima membulatkan mata sempurna
"ini hari minggu?" tanya Rima linglung
Fitri hanya mengangukkan kepala membuat Rima jadi salting dia segera berlalu kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya kembali. Fitri masuk kedalaman kamarnya untuk mengambil baju ganti, saat menunggu Fitri selesai mandi Rima sudah tertidur kembali karena masih mengantuk Fitri yang sudah rapi membangunkan Rima
" Rim bangun jangan tidur lagi, ayo sarapan" ajak Fitri
" lima menit lagi " Jawab Rima asal
" ayo sebelum ibu marah loh, nanti lo kena ceramah ibu sampai besok pagi baru selesai ceramah nya mau?" ancam Fitri
Rima dengan malas bangun dan menurut saja saat lengannya di tuntun Fitri keruangan tengah disitu sudah tersedia nasi pecel dan lauknya mereka sarapan berdua karena pak Nurdin sudah berangkat kesawah sejak tadi pagi, meskipun sederhana Rima sangat menikmati makanan dirumah Fitri. Selesai sarapan Fitri membereskan peralatan makan dia mencuci piring yang kotor
" assalamualaikum " terdengar suara salam dari luar bersama dengan pintu yang diketok
"waalaikum salam " jawab Fitri dan Rima bersamaan, Fitri yang ingin keluar dicegah oleh Rima
"lo terusin saja biar gue yang lihat di luar ada siapa " Fitri menganguk
Rima keluarga mau melihat siapa yang datang bertamu pagi-pagi begini, seorang laki-laki sudah duduk di bangku yang ada di ruang tamu, Rima memperhatikan laki-laki itu dengan seksama ada koper dan tas ransel besar disampingnya sepertinya laki-laki itu sedang kabur dari rumah seperti dirinya
" cukup manis" batin Rima melihat orang didepannya memiliki paras yang tampan kulit sawo matang hidung mancung rambut agak gondrong memakai kaos warna merah dan ditutupi jaket
" maaf cari siapa ya?" tanya Rima saat kesadarannya telah kembali
" lo sendiri siapa?" tanya balik laki-laki tersebut heran karena tidak pernah melihat gadis yang ada di depannya itu
" siapa Rim?" sahut Fitri sedikit berteriak dari dalam ketika Rima tidak segera kembali ke dalam
" gak tau, gak kenal gue tanya orang nya gak jawab" giliran Rima yang berteriak
__ADS_1
Fitri menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan bergegas melihat siapa orang yang datang kerumah pagi hari begini, betapa terkejutnya dia saat tahu siapa yang datang pagi hari ini dia menggosok kedua matanya karena tidak percaya dengan apa yang dilihat
" bang Alfi" teriak Fitri dia langsung menabrak tubuh yang sudah lama dia rindukan, untuk waktu yang cukup lama mereka saling melepas rindu
" abang gimana kabarnya? Kenapa gak pernah kasih kabar? Abang betah gak disana? Dari kapan abang pulang? Abang dirumah mau berapa hari?" semua pertanyaan di ucapkan Fitri tanpa jeda membuat Alfi bingung mau jawab yang mana dulu
" satu satu Fit, kalo pertanyaan lo gak putus putus kayak kereta api gimana abang mau jawabnya?" potong Alfi yang mencubit pipi Fitri dengan gemas, sedangkan Fitri cuma bisa mendengus kesal
"kabar abang baik, abang bukannya gak mau kasih kabar cuma abang bingung gimana cara kasih kabarnya sedangkan dirumah ini gak ada yang punya ponsel, walaupun abang gak betah disana abang harus tahan supaya bisa ngasih pemasukan buat ibu, abang pulang dari tiga hari kemaren cuma karena harus bolak balik transit jadi tadi malam baru nyampe Indonesia trus abang mau dirumah aja udah gak mau pergi lagi capek" terang Alfi panjang lebar
Mendengar penjelasan Alfi barusan membuat Fitri mengembangkan senyuman sedari tadi, sedangkan Rima cuma menyimak masih tidak mengerti ada hubungan apa antara Fitri dan laki-laki yang dipanggil bang Alfi itu dalam bayangannya mungkin laki-laki itu adalah saudara Fitri
" jadi abang rencananya mau apa setelah ini?"tanya Fitri penasaran
"mungkin mulai besok abang mau mulai cari kerja" ujar Alfi
"oh ya abang punya hadiah buat lo" sambung Alfi seraya mengeluarkan sebuah kotak yang berisi hadiah untuk Fitri dan langsung disambut oleh Fitri dengan gembira
" apa isinya bang? Tanya Fitri sambil mengoyang goyang kotak tersebut
"jangan di goyang-goyang nanti rusak, mendingan lo buka saja nanti lo tau isinya apa" ujar Alfi tanpa membuang waktu lagi Fitri langsung membuka kotak yang dia bawa, Fitri tidak percaya melihat isi kotak itu adalah sebuah ponsel, dia tampak sangat senang barang yang menurut orang lain biasa saja tapi tampak mewah untuknya.
" ini buat Fitri bang? Makasih bang" ujar Fitri dengan memeluk Alfi
" maafkan abang yang cuma bisa ngasih ponsel bekas tapi masih bagus kok masih bisa di pake" ujar Alfi jujur
"gak pa-pa bang ini saja Fitri sudah senang banget jadi Fitri bisa komunikasi sama temen temen Fitri" jawab Fitri bahagia
Rima yang melihat interaksi kedua orang yang ada di depannya pun ikut senang
" ehem" dehem Rima mengingatkan Fitri bahwa dirinya masih disitu
" bang kenalin ini temen gue namanya Rima, Rim ini sepupu gue bang Alfi" ujar Fitri mengenalkan keduanya
Alfi mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan yang disambut baik oleh Rima
" Alfi abang nya Fitri " tutur Alfi lembut
" Rima sahabatnya Fitri" balas Rima sopan
"sudah kan kenalan nya, Rim tolong temenin bang Alfi sebentar ya, gue mo nyusul ibu ke pasar dulu" tutur Fitri yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari sahabat atau sepupu nya,
Ditinggalkan Fitri begitu saja membuat Rima salah tingkah di dekat Alfi, begitu pun sebaliknya Alfi tampak gugup berdua saja dengan Rima
" maaf kak Alfi dari mana kok bawah tas dan koperasi segala?" tanya Rima basa basi mengusir kecanggungan yang tercipta entah mengapa dia merasa canggung berada dalam satu ruangan dengan pria yang ada di depannya itu.
"gue abis merantau jadi TKI di Vietnam" jawab Alfi setenang mungkin
"ohw sudah berapa lama kak Alfi memantau di Vietnam?" tanya Rima lagi
"kurang lebih tiga tahun, maaf Rima gue tinggal ke dalam dulu ya" pamit Alfi yang ingin ke kamar mandi
***
Butuh waktu sepuluh menit Fitri sampai dipasar terlihat dari jauh lapak dagangan ibunya masih ada dua pembeli yang mengantri, Fitri bergegas menghampiri ibunya
"bu, ibu pulang duluan ya, ada bang Alfi dirumah, bang Alfi sudah pulang bu" tutur Fitri heboh
__ADS_1
"benar Fit Alfi sudah pulang? Kamu gak bohong kan sama ibu?" tanya ibu Maria antusias
"iya bu Fitri gak bohong, makanya ibu cepat pulang temui bang Alfi" ujar Fitri meyakinkan
"terus kalo ibu pulang ini dagangan ibu gimana?" kata bu Maria
"biar Fitri yang ngantiin ibu jualan ibu pulang saja tapi tadi Fitri belum sempat kasih tau bapak, tolong ibu samperin bapak dulu sebelum pulang dan juga Rima ibu suruh kesini saja biar nemenin Fitri jualan" terang Fitri panjang lebar
" ya kamu layani dulu ibu-ibu ini nanti ibu suruh Rima kesini buat nemenin kamu" ujar bu Maria, dia bergegas menyusul suaminya disawah sebelum pulang kerumah
Tidak lama bu Maria sudah sampai di rumah dengan pak Nurdi
" Assalamualaikum " salam bu Maria sebelum masuk rumah
" Waalaikum salam " jawab Rima dan Alfi kompak dari dalam rumah
" Alfi gimana kabar mungkin nak? Kenapa baru pulang? Ibu kangen sama kamu" ujar bu Maria dia segera memeluk keponakan satu satunya itu,
Sejak dari kecil Alfi yang ditinggalkan kedua orang tuanya karena kecelakaan ikut tinggal bersama bu Maria karena waktu itu bu Maria belum punya anak maka bu Maria merawat Alfi seperti anak kandung sendiri.
" Alhamdulillah Alfi sehat bu, sebenarnya Alfi sudah dari tahun kemarin mau pulang tapi urusan ijinnya dipersusah jadi baru bisa pulang sekarang" jelas Alfi
"Rim kamu temani Fitri dulu di pasar ibu masih kangen sama putra ibu ini jadi ibu mau di rumah saja" ujar bu Maria tanpa melepaskan pelukan nya
" baik bu, Rima permisi dulu mau nyusul Fitri" ujar Rima kemudian berlalu pergi
Rima yang sudah tau dimana Fitri berjualan karena pernah diajak Fitri kepada langsung menghampiri Fitri yang sedang melamun
" bengong mulu, awas kesambet lo" tegur Rima saat sudah sampai di samping Fitri
" siapa yang bengong? Gak lah gue tadi lagi nungguin lo dong mau minta nomor hp lo" elak Fitri
" cie... Yang punya hp baru " goda Rima dia mengeluarkan hpnya dan mengotak atik sebelum dia serahkan ke Fitri
"nih lo catat sendiri " ujar Rima dengan menyodorkan hpnya
Fitri menerima hp Rima kemudian menyalin dan menyimpan nomor hp sahabatnya itu lalu coba misscall
"nih makasih " ujar Fitri mengembalikan hp Rima
" boleh gue kasih nomor lo ke Rizal?" tanya Rima iseng
" silakan, gue malah seneng kalo lo mau kasih no temen-temen yang lain biar gue mudah buat hubungi kalo ada perlu" kata Fitri
"ok sekalian gue suruh Rizal masukin nomor lo ke grup sekolah " ujar Rima langsung kirim sms ke Rizal
Waktu terasa semakin lambat meski suasana pasar sangat ramai tapi kedua sahabat itu kini sibuk dengan pikiran masing masing
Drttt dering suara hp Rima membuyarkan lamunan mereka terlihat di notifikasi hp nama sang mama Rima segera menjawab panggilan mamanya sedang Fitri melayani pembeli yang datang
"ya halo ma" sapa Rima
📞 " halo sayang kamu dimana? Kenapa dari kemarin gak pulang ke rumah?" tanya mama Nurul terdengar khawatir di ujung telpon sana
📞" ya ma Rima mintak maaf kalau Rima gak kasih kabar ke mama, Rima meginap dirumah temen ma, mama gak usah khawatir Rima baik-baik saja " jawab Rima menenangkan mamanya
📞" jangan bikin mama cemas, lebih baik kamu pulang sekarang " pinta mama Nurul
__ADS_1
📞" baik ma, nanti sore Rima pulang kalo gitu Rima tutup dulu telpon nya assalamualaikum"
📞" waalaikum salam, hati-hati sayang" setelah ucapan salam itu sambungan telpon di matikan