Cinta Humaira

Cinta Humaira
Satu


__ADS_3

"Kamu adalah alasan bagiku untuk mencurahkan isi hatiku padaNya"


"Revindo Akbar?" sontak Humaira langsung terkejut mendengar bahwa pria yang memiliki nama Revin itu yang akan menjadi ketua dalam acara pengajian tahunan di kampusnya.


"Iya Ra! Gausah teriak-teriak juga kali, Alhamdulillah aku ga tuli kok," rajuk Maryam sahabat Humaira.


Revindo adalah ketua BEM di kampusnya Humaira, dia merupakan seorang pria yang cukup famous di kampus tersebut.


Kecerdasannya dan kemampuannya berbicara di depan umum membuat pria tersebut banyak disukai kaum hawa tidak terkecuali dengan Humaira, wanita bercadar dan ditutupi dengan pakaian syar'i. Humaira adalah seorang mahasiswi dengan jurusan manajemen informatika salah satu universitas terkenal di Jakarta.


"Terus aku jadi wakilnya gitu?" tanya Humaira dengan perasaan entah harus bahagia atau khawatir.


"Di papan informasinya sih gitu," jawab enteng dari Maryam yang tengah menikmati makanan pesanannya yang telah datang dari tadi.


"Emang ga ada yang lain ya?"


"Astaga Maisya Humaira sahabat aku yang paling apa ya? Pokoknya itu kalian itu udah pas gitu loh Ra, secara Revin itu bertanggung jawab nah kamu itu.... Kamu itu paham masalah masalah pengajian gitu Ra. Kalo di cari yang lain udah ga ada Ra."


Di kampusnya memang rutin mengadakan kajian tahunan, dan yang diberi amanat kali ini telah terpampang di papan informasi. Disitu terpampang yang sebagai panitia pada kajian tahunan kali ini adalah :


Ketum : Revindo Akbar


Waketum : Maisya Humaira


Sekretaris : Siti Maryam


Bendahara : Aprilia Putri


PJ konsumsi : Akmar Ramlan


PJ dekorasi : semua perangkat

__ADS_1


PJ keamanan : semua peserta


 


\*


 


"Pengumuman sekarang dosennya ga bisa masuk dikarenakan beliau sakit jadi beliau izin untuk tidak masuk hari ini," gema yang terdengar di seluruh kelas.


"Kenapa ga dari tadi sih, kita udah nunggu lima belas menit ini," riuh suara mahasiswa yang protes atas insiden dadakan ini.


"Sekarang enaknya mau kemana Ra?" tanya Maryam yang tengah membereskan bukunya diatas meja.


"Hmmm... Perpus aja yuk."


"Ngapain?"


"Yakali Ra," suara ketuspun menggema dari mulut Maryam membuat Humaira merangkul Maryam dan membawanya pergi menuju perpustakaan.


"Humaira," suara laki-laki yang memanggilnya itu membuat jantung Humaira berdetak dengan kencang. Suara langkahnya mulai terdengar semakin mendekat, Humaira hanya menunduk tidak berani menatap pria tersebut.


"Humaira kan?" pria tersebut kembali bersuara.


"Bukan, aku Maryam. Ini Humaira," balas Maryam yang memang sedari tadi berjalan dengan Humaira.


"Oh maaf. Kamu lagi sibuk ga?"


"Hah? kebetulan lagi kosong tadi dosennya ga bisa masuk," balas Humaira yang menegakkan kepalanya karena terkejut dan beberapa detik kemudian ia menundukkan kepalanya lagi.


"Sekarang mau kemana?"

__ADS_1


"Rencananya sih mau ke perpus."


"Kebetulan temen-temen panitia juga udah ada diperpus buat rapat pertama. Sekalian kamu juga ya Maryam, kita mau perkenalan sekaligus bahas yang lain," tutur pria tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Revin.


"Aaaa kebetulan sekali kalo gitu, yaudah ayo langsung kesana aja," balas Maryam dan langsung menarik tangan Humaira yang dari tadi yang menunduk diikuti dengan langkah Revin di depannya.


Setelah memperkenalkan diri antar panitia, merekapun mulai membahas tentang acara pengajian tahunan tahun ini.


"Baiklah, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh mari kita langsung mulai saja acara rapat kita pada kesempatan kali ini. Sebelum kita mulai acara kita, marilah kita mengucapkan basmalah supaya acara kita lancar sampai akhir," ketua yang memimpin acarapun mulai membuka acara.


"bismillahirrahmanirrahim."


Acarapun berlangsung selama lebih kurang satu jam. Humaira dan anggota yang lainpun membubarkan diri dari rapat kajian tahunan tahun ini.


"Sekarang kamu mau kemana Ra?" tanya Maryam yang tengah berdiri menunggu Humaira selesai memasang sepatunya.


"Kayaknya aku mau langsung pulang aja deh udah lewat jam soalnya," jawab Humaira dan langsung berdiri mensejajari Maryam.


"Heleh baru juga lewat dari 1 jam," ledek Maryam.


"Iya tau cuman satu jam, tapi kayaknya udah sia-sia banget Maryam," cicit Humaira dengan memasang ekspresi sedih walaupun hanya akan terlihat matanya yang mengecil.


Humaira memang tidak pernah mengikuti organisasi apapun di kampusnya. Karena dia yang terbiasa dengan lingkungan yang berbau pesantren membuatnya kurang nyaman dengan lingkungannya yang sekarang, karena semuanya bercampur antara laki-laki dan perempuan. Ini adalah tantangan baginya untuk tetap mempertebal keimanannya, belum lagi dengan tatapan-tatapan aneh dari mahasiswa lainnya dengan penampilannya yang berbeda. Di kampusnya bukan dia saja yang memakai cadar, jadi dia tidak terlalu risih untuk tatapan aneh dari mahasiswa lainnya.


Bismillah ❤


ini adalah tulisanku yang pertama, jadi kalo ada yang salah atau yang ga sesuai kasih tau ya❤


supaya aku bisa memperbaikinya.


Support aku ya supaya lebih semangat lagi untuk menulis heheh.

__ADS_1


Tunggu episode selanjutnya ya:)


__ADS_2