Cinta Humaira

Cinta Humaira
Dua


__ADS_3

"Jika ditakdirkan aku dan kamu menjadi kita maka mudah bagiNya untuk mempersatukan kita"


 


\*


 


"Assalamualaikum," Humaira membuka kenop pintu rumahnya dan langsung menuju uminya yang tengah berkutat dengan aktivitasnya yaitu memasak untuk makan malam nanti.


"Waalaikumussalam, kok tumben kakak pulang telat," sahut Ratna yang tengah sibuk membolak-balikan masakannya di nampan.


"Iya mi, tadi abis rapat," dengus Humaira yang terlihat kehabisan energi.


"Rapat? Kakak ikut organisasi?"


"Enggak mi. Kakak ditunjuk jadi panitia kajian tahunan dikampus mi. Kakak ga bisa nolak mi," raut kecewa Humaira membuat Ratna tersenyum.


"Kenapa harus nolak si kak? Kan itu jalan dakwah buat kamu. Bagus dong kalo kamu juga ikut andil dalam hal kebaikan, kamu dapet barokahnya juga," petuah Ratna yang telah menyelesaikan memasak makanan untuk makan malam.


"Hahhhh, iya mi kakak tau. Tapi gimana ya mental kakak belum siap harus dihadapkan dengan akhwat sama ikhwannya nyampur mi," rengek Humaira membuat Ratna tertawa geli.


"Cepat atau lambat kamu juga bakalan terbiasa kak. Anggap aja itu sebagai latihan bagi kamu, yaudah sana cepet mandi gih kakak udah bau ih," timbal Ratna sambil menutup hidungnya yang membuat Humaira menciumi badannya.


"Mana? Ga ada baunya umiiiiiii." Humaira langsung berlari menuju kamarnya untuk segera mandi dan bersiap-siap untuk sholat magrib.

__ADS_1


Keluarga Humaira adalah keluarga yang sangat harmonis hampir tidak ada masalah atau pertengkaran, cara Ratna mendidik anak dengan penuh kelembutan dan kasih sayang membuat anak-anaknya berhasil tumbuh dengan anak yang berbakti kepada orang tua dan menjadi seorang yang menjadikan Al Qur'an dan hadits sebagai tolak ukur hidupnya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Humaira menyelesaikan shalat magrib dan lanjut berzikir kemudian dia membaca Al Qur'an surat Al kahfi karena hari ini adalah malam Jum'at, yang dimana jika kita membaca surat Al Kahfi kita akan disinari cahaya antar dia dan ka'bah (HR. Ad Darimi 2:546)


" Barangsiapa yang membaca Al-kahfi pada hari Jum'at,dia akan disinari cahaya antara dua Jum'at. (HR. Al Baihaqi dalam Al Kubro 3 :249)


"Assalamualaikum kak," Rahima mengetuk pintu kamar Humaira.


"Waalaikumussalam, iya bentar," Humaira segera melepas mukena yang dikenakannya dan langsung memakai hijabnya.


"Buru kak! umi sama abi udah nungguin di bawah," omel Rahima yang merupakan adik satu-satunya Humaira yang tengah menempuh jenjang pendidikan menengah atas.


"Iya ih," Humaira membuka pintu kamarnya dan langsung menuju ke bawah disusul dengan Rahima adiknya.


"Gimana kuliahnya kak?"


"Tapi ada yang menarik loh bi," sahut Ratna memotong pembicaraan antara anak dan ayah itu.


"Oh ya? Apa mi? Kaka di khitbah mi?" celetuk Rahima yang mendapatkan cap lima jari dari Humaira.


"Kamu ngomong apaan sih dek. Kakak cabe nih," Humaira mencubit Rahima.


"Aduh! Sakit tau kak," celetuk Rahima membuat abi dan uminya tertawa melihat tingkah kakak beradik itu.


"Ya kamu ngomong ngaur banget," cicit Humaira.

__ADS_1


"Yaaa terus apa dong? Apa coba yang menarik bagi kak Humaira kalo bukan di khitbah? Secara kan kakak ga ada sisi uniknya," timbal Rahima tidak terima.


"Kamu ini ngomong apa sih dek. Kakakmu itu udah mulai diikut sertakan dalam acara loh dikampusnya, itu merupakan kemajuan bagi kakakmu," sanggah Ratna sambil mengedikkan mata kepada Humaira.


"Oh ya? Berarti anak abi udah mulai berbaur dong?" balas Adi dengan irama meledek anak sulungnya itu.


"Ihhhh umi sama abi apa-apaan sih. Kan kakak udah berbaur bi, emang kakak segitunya apa? Seolah-olah kakak itu introvert banget deh," manyun Humaira membuat Ratna dan Adi tertawa.


Tidak bisa dipungkiri bahwa Humaira merupakan sesosok wanita yang tidak mudah berbaur dengan orang lain, karena ketraumaannya terhadap insiden penculikan, dia diculik disaat membantu orang yang pura-pura buta untuk menyebrang jalan dan akhirnya dia di culik.


Untungnya dia berhasil ditolong oleh orang-orang yang ada disekitaran itu, seandainya Humaira tidak berteriak entah apa yang akan menimpa dirinya waktu itu.


"Hahhh," Humaira menghempaskan dirinya pada tempat ternyamannya dirumah yaitu kasur. Pikirannya tiba-tiba melayang memikirkan kejadian tadi siang.


"Astagfirullah!" sontak Humaira tersadar ketika sudah mulai hanyut dalam lamunan tersebut.


"Ya Allah kuatkanlah iman hamba ya Allah, jangan buat hamba terlalu berharap kepada manusia sehingga menduakan cintamu ya Allah," sesal Humaira.


Humaira segera menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan bersiap-siap untuk sholat isya. Dengan harapan dia bisa tidur cepat karena setelah beberapa hari ini dia tidur larut karena tugas-tugas yang harus diselesaikan.


 


\*


 

__ADS_1


Segitu dulu ya episode kali ini❤


kalo ada kritikan dan saran silahkan dikomen heheh. Aku juga baru pertama kali nulis, ini juga tulisan pertama aku semoga bisa berlanjut ke episode selanjutnya❤ support aku terus ya:)


__ADS_2