Cinta Humaira

Cinta Humaira
Enam


__ADS_3

"Bisakah aku mundur dan menutup segala rasa yang selalu membayang ini?"


.


.


.


.


.


Maisya Humaira


"Kamu beneran udah kuat Ra?" Maryam membantu memapah Humaira yang kebetulan bertemu dengannya didepan gerbang kampus dalam keadaan wajah yang masih pucat.


"Insyaallah aku kuat ko Ya," Humaira tersenyum kepada Maryam walaupun tak terlihat karena ditutupi oleh cadarnya, tapi Maryam mengetahuinya dengan mata Humaira yang menyipit.


"Oh iya, kak Revin nanyain kamu tuh Ra,"


"Gara-gara aku ga ikut rapat kemarin ya?" Humaira memastikan pertanyaannya yang dibalas dengan anggukan oleh Maryam.


Humaira dan Maryam berjalan di lorong kampus menuju kelasnya, lima belas menit lagi jam pertama akan dimulai. Dari gerbang kampus menuju fakultasnya membutuhkan waktu sekitar lima menit, jadi mereka memutuskan untuk langsung menuju kelas supaya bisa bersiap-siap sebelum jam pertama dimulai.


"Eh Ra tau ga," Humaira yang sedang menikmati makanannya beralih melihat lawan bicaranya yaitu Maryam.


"Ga tau Ya," Humaira membalas pertanyaan Maryam dengan tertawa kecil.


"Ihhh, kan belum aku kasih tau Ra!," rajuk Maryam tidak terima.


"Iya iya dehhh, apa tuh?" Humaira mulai menyimak apa yang akan di beritahukan oleh temannya itu. Humaira mengira, ternyata banyak yang ia lewatkan selama satu minggu dia harus berdiam diri di rumahnya.


"Mantannya kak Revin itu ke kampus kita lo,"


"Uhuk," Humaira yang sedang minum tersedak oleh yang disampaikan temannya itu. Dia ingin mendengar kembali yang baru saja di ucapkan Maryam, apa dia tidak salah dengar?


"Eh eh, kenapa Ra? Makanya minum tuh hati-hati," Maryam menepuk punggung Humaira.


"Ga papa kok, mantan kak Revin?" Humaira mengernyitkan dahinya ragu.


"Iyaa, yang sempet kita bilang cocok itu Ra," tutur Maryam seketika membuat hati Humaira sedikit nyeri, Humaira sekarang memang sedikit sensitif dengan samua hal yang berkaitan dengan pria yang bernama Revin itu.


Humaira hanya mengangguk paham dan memilih untuk melanjutkan memakan makanannya supaya Maryam tidak meneruskan pembahasan yang membuat hati Humaira sakit. Humaira terus beristighfar dan berdoa untuk tidak jatuh terlalu dalam akan perasaan yang ujung-ujungnya akan mengakibatkan kekecewaan, dan dia tidak ingin terjerumus dalam hal yang masih dilarang oleh Allah.


Ketika mereka tengah menikmati makanan yang dipesannya di kantin kampus, tiba-tiba Humaira teralihkan dengan memperhatikan sebuah benda yang melingkar dijari manis Maryam.


"Bentar," Humaira menghentikan aktivitasnya, dia memegang tangan kiri Maryam dan memperhatikan cincin dijari manis Maryam itu.


"Ehem," Maryam mulai merasa kikuk ketika Humaira mulai sadar akan yang ada di jarinya.


"Siapa Ya?" Humaira menanyai Maryam intens.


"Hehehe, aku malu Ra," Maryam menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Ihhhh kamu kok ga cerita-cerita sih," rajuk Humaira sambil melipatkan kedua tangannya.


"Eh ga gitu Ra," Maryam meraih tangan Humaira berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi.

__ADS_1


"Terus apa?"


"Jadi waktu kamu ga masuk itu, aku udah di khitbah Ra," Maryam menggantung pembicaraannya.


"Siapa yang udah mengkhitbahmu Ya?" Humaira menggoyang-goyangkan bahu Maryam mulai penasaran.


"Hmmm samaaaaaa...kak Angga," Maryam menutup mulutnya malu.


"Haaa? Siapa Ya? Aku ga denger," Humaira meminta untuk diulang kembali.


"Ih kamu mah gitu Ra,"


"Kok bisa Ya?" Humaira masih tidak percaya dengan apa yang dia dengarkan dari Maryam.


" Ya mau gimana lagi Ra, kami itu di jodohin. Nah aku awalnya juga ga tau kalo itu kak Angga, terus pas aku shalat istikharah yaudah deh gitu," Maryam tidak ingin menjelaskan lebih dalam lagi.


"Diterima gitu?" Humaira meyakinkan Maryam.


"Hhe iya Ra, udah ah jangan bully aku terus, kan malu," Maryam memegang pipinya yang sudah merasa panas.


Humaira yang menyaksikan tingkah temannya itu ikut bahagia, Maryam sangat beruntung bisa dipertemukan dengan Angga yang merupakan sesosok pemuda yang tidak kalah terkenalnya dengan Revin. Selain itu, Angga juga seorang pria yang taat dalam beragama. Revin dan Angga memang satu paket yang pas untuk menjadi teman.


Setelah mata kuliah yang diikuti Humaira selesai semua, dia memutuskan untuk segera pulang karena memang dirinya belum sembuh total.


"Humaira!" sontak Humaira menghentikan langkahnya membalikkan badannya dan dia mendapati pria yang selalu membuat jantungnya tidak karuan.


"Iya kak," Humaira menunduk tidak berani menatap Revin yang telah berdiri lurus di depannya.


"Ituu..."


"Huuuffft," Revin menghela napas setelah mendapati Raisya yang masih saja mencarinya.


"Lo kemana aja sih Vin?" rengek Raisya.


"Disini aja kok, emang gue bisa ke dunia lain apa?" Revin sangat kesal dengan wanita itu yang selalu datang tanpa melihat situasi.


"Hmmm, maaf ganggu ya kak, aku pamit dulu. Assalamualaikum," Humaira yang merasa sudah tak ada urusan lagi memutuskan untuk pergi meninggalkan Revin dan Raisya.


Cemburu jelas dirasakan oleh Humaira, tapi dia tidak pantas untuk marah karena memang Revin tidak lebih dari sesosok yang hanya dia kagumi.


"Eh tunggu dulu Ra," Revin berusaha mencegah Humaira untuk pergi, tapi dia terlambat karena Humaira telah berlalu.


"Vin," sahut Raisya yang merasa diabaikan oleh Revin.


"Apa sih Sya, kan gue udah bilang kalo gue itu ga ada rasa apa-apa lagi sama lo," Revin mengusap rambutnya frustasi karena rencananya gagal.


"Tapi gue masih sayang sama lo vin," Raisya memegang tangan Revin yang langsung ditepis oleh pria itu.


"Stop Sya, jangan sentuh gue! Ini terakhir kali gue ngomong ke lo Sya," Revin berhenti sejenak untuk mengambil napas panjang. "Jangan ganggu gue lagi Sya, jika lo masih berharap gue masih sama kaya dulu, anggapan lo salah! Karena gue udah bukan Revin yang dulu, jadi stop ngejar gue terus Sya," Revin meninggalkan Raisya yang masih mencerna kata-kata yang diucapkan Revin.


"Revinnn!!!" Raisya berusaha memanggil Revin namun tidak ada balasan dari pemilik nama itu.


\*\*\*


"Mbak mau berhenti dimana nih?" tanya supir angkot yang membawa Humaira. "Mbak?" dia kembali memanggil karena tidak mendapat sahutan dari wanita itu.


"Hah? Astagfirullah, maaf pak saya turun disini aja ya," Humaira segera mengambil ancang-ancang untuk keluar dari angkot dan membayar ongkos angkot yang dia tumpangi.

__ADS_1


Bukannya Humaira pura-pura tidak mendengar, tapi hanya saja bayang-bayang Revin dan Raisya terus menghantuinya. Dia tidak habis pikir dengan apa yang dilihat olehnya tadi, jadi maksud Revin memanggilnya tadi itu apa? Pertanyaan itu yang selalu membayang dibenaknya Humaira.


Drt drt..


Humaira mengambil handphone nya dan mendapati nama Maryam yang tertera di layar hpnya, Humaira tersenyum langsung mengangkat telfon dari sahabatnya itu.


"Assalamualaikum Ra," suara Maryam terdengar dari seberang sana.


"Waalaikumussalam Maryam," Humaira membalas salam dari Maryam.


"Eh Ra, aku tadi lupa ngasih tahu kamu tanggal pernikahan aku sama kak Angga, heheh," kekeh Maryam terdengar membuat Humaira sedikit kesal.


"Haa iya, aku juga ga kepikiran nanya tadi Ya," Humaira ikut tertawa dengan hal yang dianggapnya konyol. "Jadi kapan?" Sahut Humaira.


"Hmmm doain ya Ra, insyaallah dua minggu lagi,"


"Wah gercep ya kalian," canda Humaira membuat Maryam dan dirinya tertawa.


"Kamu ada-ada aja Ra, yaudah ya Ra, segitu aja dulu, aku udah janjian sama uminya kak Angga buat liat baju pengantinnya nih,"


"Ooo gitu, yaudah Ya. Semoga Allah mudahkan ya niat baik kalian hehehe,"


"Iya Ra, aamiin. Aku tutup ya, assalamualaikum Ra,"


"Waalaikumussalam Ya," Humaira mematikan teleponnya.


"Hahhh," Humaira menghempaskan tubuhnya pada kasur yang selalu dianggap sebagai tempat ternyaman. Dia menatap langit-langit kamarnya, "bentar lagi Maryam udah jadi hak milik kak Angga, udah ga jomblo lagi dong," Humaira bergumam sambil memikirkan nasibnya yang ditinggal nikah oleh sahabat dekatnya.


.


.


.


.


.


***Maryam memang diam-diam menghanyutkan ๐Ÿ˜‚


Jadi kapan sebenarnya Revin mau ngajak Humaira ta'aruf?


Apa jangan-jangan ga jadi ya?๐Ÿ˜Œ***


.


Ahhh jangan lupa vote dan komen ya ges๐Ÿ˜


Terus jangan lupa support terus cerita pertama aku ini, hehehe๐Ÿ˜˜


.


Selalu jaga kesehatan dan kebersihan ya apalagi di masa pandemi ini:).


Stay at home ya๐Ÿ’™ Jangan lupa pake maskernya.


Ngomong-ngomong soal kebersihan jangan cuman dimasa pandemi aja lohhh, kan kebersihan itu sebagian dari iman. Hehehe bahagia terus ya:)

__ADS_1


__ADS_2