
Maisya Humaira
"Bahkan kau sekarang sudah hampir tidak memberikanku ruang untuk bersembunyi"
.
.
.
.
.
"Assalamualaikum," Humaira memegang gagang pintu melangkahkan kakinya ke dalam rumah dengan lunglai, entah kenapa dia merasa sangat lelah gara-gara tragedi tadi siang dan baru saja yang dia alami.
"Waalaikumussalam, kamu darimana aja sih kak? Umi sama abi khawatir tau," racau Ratna dengan raut wajah panik yang mendapati putrinya terlihat lesu dan sedikit pucat.
"Tadikan kakak izin pergi kajian mi," jawab Humaira, dia tidak ingin menceritakan kejadian yang dia alami karena tidak ingin membuat kedua orang tuanya semakin khawatir.
"Yaudah sekarang kamu bersih-bersih dulu abis itu makan ya kak," pinta Ratna yang langsung dikerjakan oleh Humaira.
"Hiks," entah kenapa Humaira tidak bisa lepas dari kejadian yang menimpanya tadi, tanpa perintahnya air mata selalu berhasil mendarat di pipinya. Dia merasa traumanya di masa lalu semakin membesar, dia hanya memilih untuk memendam apa yang dia rasakan saat ini.
Humairah semakin larut dalam kesedihannya, membuatnya lelah sehingga tertidur dengan memegang Al Qur'an di tangannya.
"Tolonggg!!! Tolonggg!! Jangan bawa aku om," ronta seorang anak gadis yang tengah dibawa oleh sesosok pria yang bertubuh kekar.
"Diam, ga ada yang mau nolongin kamu di sini!" bentak pria itu.
"Tolonggggggg!!" sontak Humaira terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya.
"Kamu kenapa kak?" uminya yang mendengar Humaira berteriak samgat kencang.
"Umiiiii," Humaira menangis di pelukan Ratna.
"Kenapa sayang?" Ratna memeluk putrinya itu.
"Aku mimpi buruk mi," lirih Humaira.
Ratna mengompres dahi Humaira yang sangat panas, wajah Humaira sangat pucat pasi sehingga dokter menyarankan Humaira untuk istirahat dulu selama satu minggu.
Tidak bisa disesali kejadian kemarin itu membuat Humaira mengingat kembali ke traumanya di masa kecilnya, Humaira memang tidak bisa lepas dari ketraumaannya itu.
Revindo Akbar
Panitia kajian tahunan
Maryam
Assalamualaikum, kakak dan temen" jangan lupa ya nanti kita rapat kelanjutan acara kajian tahunan ya,
Terimakasih.
Revin membuka room chat grup kajian tahunan melihat apa yang dikirimkan oleh Maryam, Revin hanya mengangguk paham tanpa niat untuk membalasnya.
"Lo cari apa sih Vin? Gue nih yang puyeng liat lo mondar mandir mulu," hardik Angga yang tengah menopang dagu melihat tingkah temannya yang membuat jengah.
__ADS_1
"Lo diem dulu," Revin memejamkan matanya dan melakukan gerakan bak peramal profesional, dia memainkan jari-jarinya. "Haaahhh!!" Revin mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Hahaha, lo kenapa si?" Tawa Angga pecah menyaksikan Revin yang sudah mulai frustasi.
" Gue dari tadi ga liat tanda-tanda kehidupan," timpal Revin santai.
"Kehidupan avatar maksud lo?"
"Bukan,"
"Lah terus apa dong?"
"Enaknya kehidupan apa?" Revin menatap Angga.
"Kan gue yang nanya kenapa lo nanya balik, ah elah gajelas lo," Angga memutar malas bola matanya.
"Gue ga tau juga si," Revin melihat disekitar lorong kampusnya tapi tidak melihat sesosok wanita yang ditunggu-tunggu dari tadi.
"Lo cari apa si Vin?"
"Hah? Gue ga cari apa-apa kok,"
"Gue serius Vin, ada yang lo tutupin ya dari gue?"
"Idihhh lo mau gue seriusin Ngga? Tapi sorry ya gue masih pencinta wanita ya," timpal Revin.
"Enak aja lo," Angga menendang kaki Revin.
"Adoh," Revin mengusap kakinya yang terasa sakit.
"Woi mau kemana lo? Tanggung jawab ga lo!" Angga berlalu tanpa menghiraukan racauan dari Revin.
"Maryam," Revin memanggil Maryam yang telah di ambang pintu untuk keluar.
"Iya kak?" Maryam membalikkan badannya melihat sosok pria yang memanggilnya mulai mendekat padanya.
"Humaira kenapa ga ikut rapat?" Revin mencari alasan agar bisa mengetahui keadaan wanita itu yang sedari tadi dia cari.
"Ohh iya aku lupa kasih tahu kakak, kata uminya tadi Humaira harus istirahat selama seminggu dulu kak,"
"Dia sakit?"
"Iya kak, gara-gara traumanya balik lagi,"
"Trauma?" Revin ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Humaira.
"Iya kak, kemarin dia itu hampir di apa-apain tuh sama orang mabuk," Maryam berusaha untuk menjelaskan kepada Revin.
Revin mulai paham apa yang terjadi pada Humaira, "separah itukah traumanya dia?" Revin bergumam sambil menyenderkan kepalanya di bangku kelas.
"Vin!!!" sontak Revin langsung melihat arah sumber suara yang memanggil namanya itu.
"Wah parah lo Ngga, lama-lama gue punya riwayat penyakit jantung gara-gara lo Ngga," Revin menepuk lengan Angga yang telah berada didekatnya.
"Raisya Vin," Angga berusaha menjelaskan kepada Revin dengan napas yang tersengal setelah berlari mencari Revin.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Dia ada disini Vin,"
"Serius lo? ****** gue," Revin berusaha mencerna perkataan Angga.
"Makanya lo jangan gengantung dia mulu,"
"Enak aja lo, gue udah jelas-jelas da ada hubungan apa-apa sama dia, dia aja yang ngejar-ngejar gue. Secara kan gue ganteng," Revin menaikkan rambutnya dengan tangan kanannya, yang dibalas dengan pukulan dari Angga untuk menyadarkan temannya itu.
"Eh tapi dia mau ngapain sih kesini?" Revin kembali membuka suara.
"Yaaa mana gue tau," Angga menaikkan bahunya.
"Revinnnnn," suara wanita itu menggema memanggil Revin, membuat Angga dan Revin saling berpandang-pandangan.
"Buruan ngumpet!" Angga menyuruh Revin untuk bersembunyi.
Revin segera berlari menuju meja yang berada paking depan. Diapun segera menenggelamkan badannya dibawah meja itu.
"Adohhh," Revin berbisik sambil mengusap kepalanya yang terbentur oleh meja.
"Revin mana Ngga?" seketika wanita itupun sudah berada diambang pintu kelasnya.
"Haaa? Mana gue tau," Angga mengedikkan bahunya.
"Lo ga ngumpetin Revin kan?" Raisya mulai curiga dengan gerak gerik Angga.
"Hidihhh emang gue cowok apaan? Gue masih normal kali, kalo lo bisa jadi gue umpetin," goda Angga yang membuat Raisya jengah.
"Ga sudi gue!!" Raisya mengibaskan rambutnya dan berlalu meninggalkan Angga.
Angga hanya tertawa berhasil mengusir Raisya dari hadapannya, seketika itupun Revin keluar dari persembunyiannya.
"Gila tu cewe," Revin merasa geli dengan kejadian yang baru saja terjadi.
"Eh gue laper nih, kantin yuk," Ajak Angga menaik-naikkan alisnya untuk merayu Revin.
"Nyesel gue ngikutin perintah lo," Revin mulai paham dengan apa yang dimaksud oleh temannya itu, apalagi kalau bukan mintak traktiran.
"Yaudah gue panggilin lagi nih, Rai..." Revin menutup mulut Angga dengan panik.
"Iya iya gue traktir,"
"Nah gitu dong, baru temen gue," Angga merangkul bahu Revin.
\\*
Bantu vote juga ya kak, like juga ya biar aku tambah semangat buat lanjutin part selanjutnya. Ini masih permulaan ya, masih belum masuk ke konfliknya.
.
.
Makasi telah membacanya:)
__ADS_1