
"Bumi dan langit saja terkadang menolak lupa akan sebuah luapanku kepada Sang pemilik hati"
.
.
.
.
.
.
.
"Ini kembaliannya mas," sahut seorang kasir dan memberikan kembalian serta kertas bon kepada Revin.
"Oh ya, makasi," Revin mengambil kembaliannya dan keluar dari minimarket tersebut.
"Ayo cepet dek ikut dengan abang," suara itu terdengar dari arah jam dua belas membuat Revin menoleh dan melihat aksi seorang pria yang sedang mabuk berusaha untuk menarik cadar wanita yang tengah berada di depan pria mabuk tersebut.
Sontak Revin berlari menuju tempat kejadian tersebut dan mendapati wanita itu berusaha untuk menahan cadarnya agar tidak lepas sehingga membuat wanita itu menangis ketakutan.
"Eh bang lu mabuk ya?" Revin berusaha melepaskan tangan pria tersebut.
"Lu jangan ikut campur ya, ga tau apa gua mau seneng-seneng sama dia," pria itupun menunjuk wanita tersebut dengan setengah sadar.
"Kurang ajar lu bang," sontak Revin langsung memukul pria itu yang telah tersungkur ke tanah. Melihat kejadian itu, orang yang berada disekitar itupun membawa pria mabuk itu jauh dari Revin dan wanita di samping Revin yang tak lain adalah Humaira.
"Hiks," Humaira menangis dengan posisi yang telah menjongkok karena takut. Revin yang melihat Humaira, bingung harus menenangkan wanita itu dengan cara apa, bukan karena apa-apa tapi memang Revin dan Humaira bukan mahrom.
"Lo ga apa-apa kan?" Revin memberanikan diri untuk bertanya dengan nada yang sedikit ragu.
Humaira hanya menggelengkan kepalanya dengan posisi yang masih sama. Entah kenapa Humaira merasa tubuhnya lemah dan lunglai tidak sanggup untuk berdiri. Karena itu, dia memilih untuk jongkok dan meletakkan kepalanya pada tangannya yang dilipatkan pada lututnya.
Revin hanya mengangguk paham sambil menunggu Humaira lebih tenang sehingga bisa untuk diajak bicara. Di sisi lain Revin ingin menenangkannya tapi Revin tidak yakin, oleh karena itu Revin memilih untuk menunggu wanita itu tenang. Tak lama kemudian, Humaira berdiri sembari menghapus sisa air matanya yang masih melekat pada matanya. Spontan Revinpun ikut berdiri dan segera menuju ke arah Humaira.
"Gue antar pulang," sontak Humaira kaget mendengar penuturan dingin dari Revin.
"Ga usah aku bisa sendiri kok," Humaira hanya menatap lurus dan kembali menunduk hendak melangkahkan kakinya.
"Lo tadi itu udah hampir di lecehin, kalo kejadian tadi ke ulang lagi gimana?" Humaira berhenti dari langkahnya dan berpikir sejenak. "Kalo lo ga mau yaudah gue pamit dulu," Revin juga tidak ingin memaksa wanita yang bukan siapa-siapanya.
"Eh tunggu," Humaira ragu untuk mencegah Revin, hingga akhirnya dia mengikuti Revin yang berada didepannya.
Revin hanya tersenyum mendengar wanita itu akhirnya mau untuk diantar. Bukan apa-apa tapi Revin agak khawatir jika nanti kejadian tadi benar-benar terulang kembali. Humaira hanya mengekor kemana Revin pergi tanpa ada mengeluarkan sepatah kata apapun, dia tidak menyangka bisa bertemu Revin dan sudah ditolong oleh pria yang dua tahun terakhir ini dia kagumi, Humaira hanya menatap pasrah punggung Revin. Seketika Revinpun berhenti tepat di depan mobil yang didalamnya ada sesosok wanita.
"Apa itu calonnya Revin? Atau jangan-jangan istrinya Revin?" Humaira membatin dan memikirkan yang entah darimana pemikiran itu seketika datang menghinggapi pikirannya. Dan bertanya-tanya siapa seorang wanita yang berada disana.
"Itu adik gue, jadi lo ga usah khawatir kita ga bakalan ikhtilat kok," seketika pertanyaan Humaira terjawab semua oleh pria itu dan entah kenapa Humaira merasa lega.
Revin membukakan pintu mobilnya pada bagian penumpang. Dan menunggu Humaira masuk, Revin menatap Humaira beberapa detik kemudian mengalihkannya kearah lain, Revin langsung menutup pintunya ketika Humaira telah masuk ke dalam mobilnya dan dia segera menuju kemudinya.
"Siapa kak?" pertanyaan itu membuat Humaira menatap ke depan dan langsungĀ menunduk kembali sembari meremas ujung jilbabnya.
"Hoo temen kakak, tadi hampir di apa-apain tuh sama orang mabuk," Revin menjelaskan kepada adiknya yang dibalas anggukan dari nya, dia bernama Zahra. Sesaat Revin mengedarkan pandangannya pada spion mobilnya dan mendapati Humaira yang tengah menunduk, tanpa disadari Revin tersenyum melihat tingkah Humaira yang menurutnya cukup menarik.
"Kearah mana?" sesaat Revin kembali membuka pembicaraan dengan bertanya kemana dia harus mengantar Humaira.
"Haa, hmmm belok kiri," sontak Humaira langsung menjawab pertanyaan dengan nada ragu-ragu.
"Emang lo mau kemana?" pertanyaan itu mendapat pukulan dari adiknya, Revin pun mengedikkan bahunya pada Zahra.
__ADS_1
"Yang sopan dikit napa si kak," adiknya melihat Revin seolah-olah ingin memakannya hidup-hidup.
"Iya iya," balas Revin singkat dengan malasnya.
"Itu arah jalan kerumah aku," tanpa ditanya dua kali oleh Revin, Humaira langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh pria itu.
\*\*\*
"Makasi ya, Zahra mau mampir dulu?" Humaira menawarkan untuk mampir terlebih dahulu. Di perjalanan kerumahnya tadi membuat Humaira dan Zahra menjadi dekat, sedangkan Revin seolah-olah telah menjadi supir pribadi dua wanita itu.
"Gausah kak, lain kali aja ya," Zahra melontarkan senyumnya pada Humaira.
"Yaudah hati-hati dijalan ya," Humaira membalas senyuman Zahra dan melihat kearah Revin yang hanya menatap lurus ke jalan.
"Oh ya kak, Zahra boleh mintak kontak kakak ga?" sontak Revin melihat tingkah adiknya dengan tatapan yang tidak mengerti.
"Boleh kok," Jawaban Humaira membuat Zahra tersenyum riang.
"Ini kak, kakak yang catet di hp aku ya," Zahra memberikan handphone nya kepada Humaira dan langsung diterima oleh Humaira untuk mengisi kontaknya.
"Ini," Humaira memberikan kembali handphonenya Zahra.
"Makasi ya kak, oh ya kami pamit pulang dulu ya, assalamualaikum kak," Zahra melambaikan tangannya ke arah Humaira.
"Waalaikumussalam, hati-hati ya," Humaira membalas lambaian dari Zahra, seketika itu pula Revin melajukan mobilnya dijalanan.
Zahra adalah adik tiri Revin yang sekarang sudah menginjak sekolah menengah pertama, Zahra memiliki paras yang cantik hidungnya mancung dan ditutupi hijab syar'i membuat kecantikannya bertambah. Walaupun Zahra adik tiri Revin, dia sangat menyayangi dan melindungi Zahra. Karena Zahra lah alasan Revin untuk berhijrah hingga saat ini.
"Kak," Zahra membuka suara dan mendapat perhatian dari Revin.
"Hmmm,"
"Kakak udah kenal lama sama kak Humaira?" Revinpun mengernyitkan dahinya karena pertanyaan adiknya yang membuat dia sedikit tidak nyaman. Entah kenapa semenjak dia bertemu Humaira jantungnya tidak pernah berdetak dengan normal, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya itu. Hanya saja dia selalu berdoa kepada Allah agar selalu dijauhkan dari segala fitnah terutama fitnahnya wanita.
"Menurut kakak...kak Humaira itu baik ga?"
"Baik," seketika Revin tersenyum membayangkan Humaira yang menangis karena takut dan dia telah berhasil menjadi hero bagi Humaira.
"Cieeee kakak naksir ya sama ka Humaira?" melihat tingkah kakaknya itu Zahra yakin bahwa kakaknya benar-benar menyukai Humaira.
"Kata siapa?"
"Dari sikap kakak aja udah jelas gitu, yaudah kak kalo suka di ta'arufin aja dulu, daripada ditikung," perkataan Zahra membuat Revin berpikir sejenak dan bertanya pada dirinya sendiri. Apakah aku benar-benar menyukai wanita itu? Ya Allah jika benar mantapkanlah hati ku ini Ya Rab.
\*\*\*
"Hahhh," Revin menghempaskan tubuhnya pada kasur, seketika Revin kembali teringat pada perkataan adiknya itu.
"Apa bener gue jatuh cinta lagi? Apa bener gue suka sama Humaira?" Revin bertanya pada dirinya sendiri.
"Allahu Akbar Allahu Akbar," suara azan menggema di kompleks tempat tinggal Revin.
"Mending gue sholat dulu deh, mintak petunjuk dulu," Revin segera bangun menuju kamar dan bersiap-siap untuk pergi ke masjid menunaikan ibadah sholat magrib berjamaah.
"Paaaa," seketika Revin merengek kepada papanya yang tengah sibuk mengotak atik komputernya di ruangan kerja.
"Hmmmm"
"Paa,"
"Ahhh apa sih, kamu itu bukan Zahra Vin, kamu itu laki masa kaya perempuan," papanya mulai jengah melihat tingkah putra satu-satunya itu.
"Hehehe maap pa, oh ya pa Revin mauuu..." Revin ragu untuk melanjutkan pembicaraannya karena takut tidak disetujui oleh papanya.
__ADS_1
"Mau apa Vin?"
"Mau itu pa.."
"Mau apa sih, mau boneka?"
"Ih bukan pa, Revin mintak izin untuk ta'aruf ya pa," Revin menggigit ujung bibirnya entah apa alasannya tapi itu sedikit membuat Revin tenang.
"Terus?" melihat respon dari papanya itu membuat Revin kesal setengah mati.
"Iya Revin minta izin untuk ta'aruf bapak Retno Pratama Akbar,"
"Sama siapa? Emang kamu udah yakin?"
"Insyaallah udah pa," jawab Revin mantap, karena Revin memang benar-benar yakin dengan keputusannya setelah kejadian tadi, ketika dia pergi untuk memantau usaha yang dirintisnya tanpa sengaja melihat Humaira yang terus diikuti oleh seorang pria yang jelas-jelas bukan kakak ataupun kerabat Humaira karena Revin sempat mendengarkan pembicaraan mereka.
"Habis ini kamu mau kemana Ra? Aku antar aja ya?" tawar pria tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah teman sekelas Revin yaitu Ilham.
"Ga usahh kak, aku bisa sendiri kok," Revin melihat Humaira sedikit risih dengan pria yang terus mengikutinya itu. Entah apa yang merasuki Revin, spontan dia langsung menghampiri Humaira.
"Humaira," Humaira dan Ilham serentak melihat ke arah sumber suara.
"Eh ada lo juga disini Ham? Lo ngapain disini?"
"Gue lagi nemenin Humaira," jawab Ilham dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
Revin menatap Humaira seolah meminta jawaban dari wanita tersebut, hanya beberapa detik lalu Humaira mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Engga kok kak, tadi berpapasan ketemu terus dia ngikutin aku terus," jawab Humaira seadanya karena memang benar ilham mengikuti Humaira, membuat Humaira takut disebabkan kejadian tadi siang yang hampir menghancurkan masa depannya
"Hehe, gue cabut dulu," lantas Ilham langsung pergi meninggalkan Revin dan Humaira karena dia tidak ingin berurusan dengan Revin, Revin dulunya terkenal dengan kekejamannya terhadap yang dianggap lawannya, tidak ada kata ampun bagi Revin untuk lawannya.
Entah kenapa Revin merasa ada yang sakit di dalam dadanya bukan dikarenakan sakit tapi melainkan melihat Humaira berduaan dengan Ilham. Itulah yang membuat Revin yakin untuk mengenal lebih dekat dengan sesosok Humaira.
"Makasi," lirih Humaira dengan menundukkan kepalanya.
"Udah malam begini ga aman buat lo," jawab ketus Revin, Revinpun merutuki kata yang dilontarkan tadi.
" Tadi aku bareng Maryam, tapi dia udah dijemput," cicit Humaira merasa bersalah.
"Emang harus malam-malam gini ya?"
"Tadi ada acara pengajian, aku juga ga tau sampai selarut ini," sesal Humaira membuat Revin mulai memperdulikan Humaira.
"Yaudah aku antar pulang," Revin mengingat perkataan adiknya untuk mengubah gaya bahasanya karena menurutnya tidak sopan.
" Gausah bentar lagi nyampe kok,"
"Ga apa-apa aku antar, kamu di depan aku di belakang," tutur Revin membuat Humaira menatapnya dengan heran, seketika Revin lagi-lagi merutuki ucapannya. Entah kenapa akhir-akhir ini Revin seringkali tidak relevan dengan pikirannya.
"Maksudnya aku didepan kamu dibelakang," ralat Revin, merekapun berjalan menyusuri jalanan yang terbilang sepi. Karena sudah memasuki gang perumahan.
"Sampe sini aja," sontak Revin terhenti dan menoleh ke belakang untuk memastikan pembicaraan wanita itu. "Iya sampe sini aja, beberapa langkah lagi nyampe, makasi kak," Humaira menatap Revin beberapa detik kemudian menundukkan pandangannya.
"Ohh yaudah, sama-sama," Revin menatap punggung wanita itu hingga diapun menghilang dari pandangan Revin, dan kembali menuju tempat tujuannya tadi yaitu mengunjungi hotelnya.
Maaf ya baru sempet up hari ini.
Soalnya bingung mikirin konflikya gimanaš
.
Semoga feelnya masuk ya,
__ADS_1