
Sepanjang perjalanan air mata mengalir dengan sendirinya hingga polesan bedak tak lagi menempel pada pipi, hati dan fikiran bergerilya mengenang masa masa indah bersama ibu dan adik adik panti
" Sudahlah Nay, ngak usah di fikirkan lagi kamu sudah mengambil keputusan yang tepat " ucap Sania bak tau isi fikiran Nayna
Nayna menoleh dengan berupaya memberi sedikit senyuman pada gadis cantik nan berpoleskan mek-up dan rambut sengaja di urainya bak gaya zaman anak sekarang yang telah sudi juga menjemputnya , gadis seusia dengannya dan pernah sama sama menikmati hidup di panti bersama, Ya itulah Sania.
" Kalau kamu terus memikirkan panti dan air mata mu terus mengalir karena panti bagaimana kamu bisa maju? " nasehat Sania kembali
" I--iya San, Aku mau maju, aku ingin sukses " jawab Nayna berupaya
Sania memeluk bahu seraya tersenyum pada sosok polos Nayna
Setelaha hampir lima jam perjalanan yang ditempuh akhirnya Nayna dan Sania sampai lah pada tujuan, saat menurunkan kaki dari bus Nayna merasa takjub dengan apa yang ia lihat, terminal yang luas dan di sekeliling ada gedung gedung yang tampak menjulang tinggi serta keramaian manusia dan berbagai mobil bus panjang berderet di terminal ini, jauh berbeda dengan terminal yang ada di tempat asalnya
" Sania " suara seorang laki laki berparas tampan dan postur tubuh bak atlet menghampiri mereka
Sania langsung memeluk tubuh laki laki itu tampa ada merasa malu di hadapan keramain
" Ehhhmmmm "
__ADS_1
Deheman Nayna karena risih akan pemandangan yang tak pantas menurutnya mengakhiri pelukan keduannya, secepat itu pula keduanya mengarah pada Nayna, lelaki itu memperhatikan Nayna dari ujung kaki hingga pucuk kepala yang seluruhnya tertutup oleh khimar dan pakaian besar tampa mode berwarna dongker hanya wajah dan telapak tangan saja yang terlihat, hingga ia melirik Sania bak minta penjelasan
" Oh iya, ini Nayna, dan Nayna ini Bram " upaya Sania mengenalkan keduanya
Lalu dengan segera Bram mengacungkan tangannya
" Bram " ucapnya ramah
Nayna memblas dengan menyatukan sepuluh jarinya tepat di depan dada
" Nayna "
" Aneh " bathinnya
"Bram bukannya kamu kesini mau menjemput kami? " suara Sania untuk mencairkan suasana
" Owhhh iya, mari "
Bram berjalan sejajar dengan Sania sedangkan Nayna mengikuti langkah keduanya dengan menenteng tas pakaian yang sengaja ia bawa
__ADS_1
***************
" Nay, sekarang kamu istirahatlah dulu,kalau mau mandi itu kamar mandinya" tunjuk Sania pada salah satu pintu dalam ruangan itu
"pasti badanmu sangat capek khan? " lanjutnya lagi
" Iya San memang sudah gerah nih dan seluruh tubuhku juga terasa penat nih " sambil mengangkat kedua tangannya ke atas seraya menggoyang goyangkan tubuhnya ke samping kanan dan kiri sebagai pelonggaran otot
Setelah Sania pergi meninggalkannya pada kamar yang lumayan besar bagi Nayna, sedangkan Bram tadi masih menunggu Sania di dalam mobil mengingat perbincangan mereka tadi, Entahlah tak peduli akan mereka saat ini, karena Nayna sudah sangat lelah dalam perjalanan.
Usai dengan ritual mandi dan mengganti pakaian Nayna mendudukan diri pada pinggir tempat tidur nan empuk, lalu membuka tas mini untuk mengambil benda pipih miliknya, niat hati yang tadi masih tertunda yaitu memberi kabar pada bu Aminah
" nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan "
Sudah berkali kali panggilan di lakukan namun jawaban dari balik layar tetap sama, terasa lemas tak berdaya seluruh tubuhnya karena tak mampu menghubungi sang ibu namun seketika ia berfikir positif dan memberi kabar lewat chat
" Assalamualaikum, Alhamdulillah Nayna sudah sampai dengan selamat Bu,doakan Nayna biar bisa dapat rezki yang melipah ya Bu😘"
" Sepertinya no ibu memang tak aktif "lirihnya
__ADS_1