
Ranjang berukuran size king berada di tengah ruangan, furniture mewah lainnya tertata rapi serta nuasa putih abu abu menambah kesan mewah isi kamar, jendela kaca besar di sisi timur hingga si empu dapat melihat pemandangan luar lewatnya dan sapaan sengatan mentari di kala pagi hari mengingat ruangan ini berada di lantai dua
Tubuh bak atlet menggeliat lalu berbolak balik pada ranjang king size itu dengan sedikit usaha ia membuka kelopak mata nan enggan untuk menyapa mentari pagi, spontan sepuluh jemarinya menyentuh kepala yang terasa berat
" Semalam apa yang terjadi? kenapa kepalaku berat begini? " bathinnya menyadari berbagai perubahan yang tak biasa pada tubuhnya
Perlahan ia mendudukkan diri, dengan rasa sempoyong mencoba membawa diri beranjak hendak menuju kamar mandi, namun seketika bola matanya terarah pada seseorang duduk pada lantai dengan posisi kedua kaki di tekuk dan kepala tertutup khimar sengaja di tompangkan pada tekukan itu, hingga tak menyisakan bagian tubuh terlihat
Seketika akal sehat kembali bergerilya mengingat apa yang sudah terjadi, dengan cepat ia membuka laci nakas lalu mengambil satu kertas cek
" Maaf aku lupa memberinya, kamu bisa menulis berapa nominal yang kamu inginkan " menghampiri seraya mengulur cek kosong
" Ambil dan silahkan pergi " Menjatuhkan cek tersebut karena tak ada respon
Sengaja cek itu ia jatuhkan tepat pada kaki
" Munafik " bathinnya menghina
Meski tak dapat respon ia berlalu menuju kamar mandi, guyuran shower membasahi pucuk kepala hingga seluruh tubuhnya
" Brengsekkkk " kesalnya
" Dasar wanita murahan " umpatnya meruntuki kebodohannya
__ADS_1
*********
" Kenapa kamu belum pergi?, atau kamu bingung menulis berapa nominalnya? " dengan handuk mini bertengger di kepala
Mendengar suara bariton yang menohok perlahan Nayna mengangkat kepala, meyakinkan sosok keberadaan lelaki itu, tetnyata kini berdiri tepat di depanya dengan posisi membelakangi
" Saya tidak butuh uang anda tuan " suara serak tak berdaya
" Lalu? " menoleh tampa memperhatikan
" Saya minta pertanggung jawaban anda "
" Apa? pertanggung jawaban? bukankah uang sebagai pertanggung jawabannya? " suara lantang menghina
Tangisan dengan suara rintihan pelan kembali mengaung mengisi ruangan, menyesali apa yang sudah terjadi
Sesaat bola mata tajam mengalih pada sumber suara menyedihkan, ia perhatikan wajah sembab dan kantong mata membengkak serta khimar tak berbentuk tersandar
" Apa semalam ia menangis " bathin menghiba
" Akhhh, paling juga muslihatnya " bathinnya kembali
" Tolong tuan nikahi saya " pinta Nayna kembali
__ADS_1
Mendengar permohonan dari perempuan itu, wajahnya tampak gusar, ia tidak menyangka perbuatan yang menurut sahabatnya lumrah malah harus jadi begini
" Maaf saya tidak bisa menikahi mu " elaknya
" Kenapa? karna------"
" Ya, karena saya sudah membayarnya mahal " jawabnya sigap
" Tapi saya bukan perempuan bayaran, saya di jebak, demi Allah saya bukan seperti itu "
Tangis Nayna menjadi jadi karena tudingan rendah akan harga dirinya
Entah mengapa hatinya bergetar saat mendengar penuturan yang baru terlontar dari mulut perempuan itu, memang ia akui bahwa kesuciannya ia rampas paksa tadi malam karena efek dari obat dan minuman, Entah apa yang ada dalam benaknya seketika ia mengambil benda pipih di atas nakas lalu bak menghubungi seseorang
" Siaal " kesalnya membuang asal benda pipih itu pada ranjang
Dengan kekesalan ia kembali menghampiri wanita berkhimar itu
" Baik, saya akan menikahi mu " Ucapnya tak yakin
Mendengar ucapan itu seketika Nayna mengangkat kepalanya lalu melirik pada sang pemilik suara meski hanya memperlihatkan sebelah bagian tubuh saja karena posisi berdiri menyamping
" Tapi---, pernikahan bersyarat, kalau kamu setuju besok semua akan di urus oleh asisten saya " sambungnya lagi
__ADS_1
Nayna mengangguk setuju, ia tak peduli bentuk syarat apapun tu, yang terpenting ia sudah di nikahi terlebih dahulu karena kesucian yang ia jaga sudah di rampas oleh lelaki brengsek ini