
Setelah pernikahan rahasia syah di lakukan Rayyan tak pernah menemui Nayna, semua urusan Nayna ia serahkan pada Athar selaku asisten pribadinya
Seorang lelaki berparas tampan duduk pada kursi kebesarannya, Rayyan Alfarizi Nugroho nama lengkap dari CEO perusahan besar di bidang property, entah mengapa tiba tiba ingatannya pada Nayna, wanita yang sudah syah menjadi istrinya tiga hari yang lalu,
" Sedang apa dia? " bathinnya
" Apa dia masih mengurung diri? atau -----? "
Berbagai pertanyaan tak jelas ia lontarkan pada diri sendiri, namun tak Rayyan namanya kalau tak mendapat info pasti, seketika ia menghubungi Athar
" Hallo Pak " seberang sana
" Bagaimana keadaanya? "
" Tadi pagi Nyoya sudah keluar kamar pak, bahkan sudah mau ngobrol dengan Bi Ijah " jelasnya dari seberang sana
Tampa menunggu perkataan yang lain Rayyan memutuskan sambungan secara sepihak, entah mengapa senyum mengambang penuh arti terukir pada bibirnya
" Nyonya Rayyan " ucapnya tak yakin dengan senyum penuh arti
****************
__ADS_1
Dalam ruangan tak berukuran luas tertata meja makan dengan empat kursi di kelilingnya, ruangan yang langsung bersatu dengan dapur disinilah bi Ijah sibuk dengan aktifitasnya
Nayna memperhatikan apa yang di lakukan wanita paruh baya itu, wanita yang sudah menemaninya selama tiga hari belakangan ini
" Nyonya " ucapnya saat mengetahui Nayna menghampirinya
Nayna menyunggingkan bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman tampa arti, senyum pahit setelah kejadian malam itu, angan dan harapannya untuk membantu ibu sirna, keberadaan Sania pun tak dapat ia raih. Ya inilah mungkin takdir yang sudah di tentukan Sang Khalik untuknya
" Panggil Nayna saja Bu " mendudukan diri di seberang bu Ijah
" Ya ngak boleh toh, ngak sopan kalau panggil nama saja,nyonya khan istrinya tuan Rayyan " jawabnya dengan penjelasan tampa berhenti dari aktifitasnya
Nayna tak menanggapi penjelasan bu Ijah, meski saat ini berstatus sebagai istri Rayyan tetapi baginya ini adalah kesalahan terbesar dalam hidup
" Emm sudah lumayan lama nya, semenjak tuan membeli rumah ini, emm kalau ngak salah empat tahunanlah " ucapnya bak tak yakin
" Tapi Tuan jarang ke sini, pada hal sayang khan nya rumah sebagus ini ngak di huni meski ngak besar besar amat, tapi namanya juga orang kaya, rumahnya ada di mana mana " jelasnya kembali
Nayna hanya tersenyum merespon celotehan panjang bu Ijah, tapi ia pun akui akan celotehan itu, buktinya setelah menikah ia tak lagi melihat keberadaan Rayyan di rumah ini, semua tentang keperluaannya bi Inah yang atur
***************
__ADS_1
Taman mini di samping rumah mampu menyejukkan mata, saat ini Nayna duduk pada kursi yang terbuat dari besi menikmati keindahan aneka bunga,jujur ia ingin berusaha berdamai dengan hatinya meski semua ini sangat pahit dan sulit
" Nyonya, ada tuan Athar ingin bertemu dengan nyonya " ucap bi Ijah datang tiba tiba
Nayna tersentak dari lamunan, tampa menunggu waktu ia pun melangkah menuju ruangan tamu, sesaat ia pun melihat sosok pria bekulit sawo matang dengan batang hidung sedikit meninggi dan tatapan mata tajam menyambut kedatangannya
" Nyonya " sapanya sembari berdiri dari duduk sebagai menghormati kedatangan Nayna
Mendapat penghormatan tak biasa membuat Nayna jadi tak enak, namun dengan santai ia berusaha menormalkan akal dan fikirannya, meski ia sangat penasaran dengan kedatangan Athar
" Bagaimana keadaanya anda saat ini nyonya " ucapnya membuka pembicaraan
" Mmmmm, saya kesini disuruh tuan untuk memberikan ini " menggeser bag yang entah sejak kapan sudah di atas meja menyampaikan maksud ke datangannya karena tak ada respon baik terlihat
" Kalau begitu saya permisi dulu Nyonya "
Ucap Athar menyudahi pembicaraan, kakinya hendak melangkah namun terhenti karena suara tiba tiba Nayna
" Tolong katakan pada tuan anda,kalau saya ingin bicara dengannya "
" Baik nyonya "
__ADS_1
Tampa banyak kata Athar melangkah pergi meninggalkan sang nyonya