
Sontak barang-barang terjatuh berserakan, tanpa membangunkan Lina yang pingsan tanpa sehelai benang pun.
Lina masih dalam pingsan nya, bangaimana tidak pingsan Lina sedari tadi pagi belum sarapan di tambah lagi perintah Bu Siska membersihkan runagan CEO yang sangat besar.
Alex pun kebingungan, Lina tidak kunjung sadar.
"arrrkkk..... !!!! bodoh .... bodoh... bodoh....!!! " sesal Alex menggebrak sofa yang ia duduki di samping Lina yang masih terkapar tak sadarkan diri..
"apa yang harus aku lakukan ini, malang sekali gadis ini ku ambil mahkotanya dengan paksaan, trus kenapa ini cewek tidak kunjung bangun. apa dia mati". pikir Alex sambil berdiri. di kiranya Lina sudah tak bernyawa.
" tidak ... tidak ... tidak dia masih hidup" sambil memegang denyut nadi nya..
" lihat apa yang aku perbuat, sekujur tubuhnya aku beri tanda kissmark.." sesal Alex.
Alex pun langsung mengenakan baju ke tubuh Lina dengan kemeja putih yang ia kenakan tanpa menggunakan dalaman. Lina di gendong Alex bak brusli style tapi yang di gendongnya tak sadarkan diri.
Alex menuruni gedung dengan menggunakan lift sambil mengendong Lina di dekapannya. sampai di bawah Alex langsung menuju mobilnya berada. kantor layaknya kuburan sepi tanpa ada orang satu pun, jadi Alex tak pikir-pikir lagi untuk membopong tubuh munggil Lina keluar ruangan CEO.
Sesampainya di mobil Alex langsung membaringkan tubuh Lina dijok depan, mobil Alex melaju membelah jalanan yang sepi tanpa pengendara lainya, bagaimana tidak waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 malam. Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. binggung yang ada di dalam pikiran Alex. mau di apakan Lina yang tak sadarkan diri, dia binggung apa yang harus ia lakukan. Tanpa pikir panjang Alex menuju ke apartemen yang dulu ia tinggali bersama dengan Zura tunangannya.
"shiiiiiittt.... kecil tapi berat sekali tubuhnya" gumam Alex dalam hati dengan berat badan Lina. Alex pun langsung letakkan tubuh Lina kasur busa berukuran big size tersebut.
Tanpa aba-aba Alex menelfon dokter khusus keluarga nya,
"tuut... tuttt. tuutt. ,halllo, ada apa bro menelfon ku malam-malam". suara di seberang telepon sana.
"loe cepat kesini, " jawab Alex .
" loe sakit Lex..?" tanya dokter sahabat Alex
" jangan banyak tanya Vin loe kesini aja, apa mau gelar doktor loe gue jabut.?!!" Alex dengan nada ketus.
" ok ... ok... ok gue kesana sekarang, loe di apartemen apa di rumah nyoya besar.?" tanya dokter Davin.
__ADS_1
"apartemen, cepet.." seru Alex.
Tak butuh pikir panjang dr. Davin langsung melajukan mobilnya membela jalanan yang tampak lenggang, akhirnya sampailah dr. Davin di depan pintu apartemen Alex.
Ting tong.... Ting tong.... Ting tong.... bel berbunyi
cekreek... pintu terbuka tapak dokter Davin berdiri di depan pintu.
"cepat masuk" seret Alex ke tangan dr. Davin.
"pelan-pelan bro" jawab dr. Davin.
dilihat nya ada wanita cantik bertubuh mulus dengan noda merah keunguan dilehernya.. sejenak dr, Davin terkesima dengan kecantikan yang di miliki Lina.
"Lex, loe gila ya ini cewek habis loe apain.. kayak habis di senggat tawon lehernya. rakus amat loe sejak di tunggal Zura." ledek dr. Davin
"hey.. btw dapat yang mulus mulus dari mana loe bro" bercanda dr. Davin kepada Alex sambil menepuk pundaknya.
" jangan bayak cing cong cepat priksa, nanti gue ceritain, gue takut dia mati" perintah Alex.
"tampaknya dia dehidrasi akut bro.. mungkin dari pagi dia tidak makan sama sekali, dan terlihat kelelahan. aku kasih infus biar dia cepat pulih, dan aku juga kasih resep obat dan vitamin buat dia." seru dr Davin memvonis Lina
" lakukan yang terbaik" Seru Alex.
"mungkin loe terlalu rakus melahap nya jadi dia tidak kuat. akhirnya pingsan Lex." ledek dr. Davin
"gila loe, cepat urus dia". Alex sambil njitak kepala dr Davin. memang Alex dan Dr. Davin sahabat dari SMA. jadi tidak kaget kalau kedua nya terlihat akrab.
Nampak dr. Davin memberi penanganan kepada Lina. Lina pun tak kunjung sadarkan diri. Dr. Davin langsung pamit pulang. karena dia buru buru masih ada 1 pasien gawat darurat yang butuh pertolongan nya.. Ya memang tugas seorang dokter menyelamatkan nyawa seseorang. Dr Davin Perpamitan ke Alex.
"Aku pamit pulang dulu bro tapi loe masih utang penjelasan sama gue, gue buru-buru ada pasien kritis di Rumah sakit."
__ADS_1
seru Dr. Davin beranjak pergi..
" ya.. sana loe cabut " jawab Alex.
dr. Davin langsung beranjak meninggalkan apartemen, meninggalkan Alex bersama Lina sendirian.
Alex nampak binggung apa yang harus ia lakukan,
"emmmm... ada dimana aku ini,.."Lina tampak kebingungan, sambil memegangi kepalanya yang tampak masih pusing. dilihat nya seisi kamar tidak ada orang sama sekali.
Lina teringat akan kejadian malam itu, pada waktu Alex merenggut paksa mahkota kesucian Lina.
"hiks.. hiks.... hiksss.... aku kotor, aku tidak suci lagi ibu bapak maafkan Lina, Lina tidak bisa menjaga mahkota Lina." tangisan Lina pecah seketika ia tersadar.
"Ckreeeekk......." . nampak Alex membuka pintu kamar Lina,
"kamu sudah sadar..." Alex masuk sambil duduk di samping Lina.
" maaaff.... maafkan aku menodai mu, aku terbawah pengaruh alkohol. maafkan aku.. aku terlalu bodoh.." sesal Alex kepada Lina.
"apa yang harus aku lakukan heemm. ..hemm.. hemm." tangis Lina sambil memeluk kakinya...
" aku akan bertanggungjawab" Alex
" aku sudah memikirkan semuanya, aku yang merebut kesucian mu. jika kamu hamil itu anakku" tambah Alex
"apa harus aku menikah dengan mu, orang yang memaksaku dan merebut kesucian ku dengan kasar." Lina sambil meneteskan air mata.
" ya... aku tak suka penolakan." Alex berkata lali bangkit dari tempat duduknya.
" istirahat lah, agar kau cepat pulih. aku akan menjagamu, dan jangan coba-coba untuk kabur dari ku.. karena apartemen ini aku rancang dengan sistem keamanan ganda.
" jadi istirahat dengan nyaman disini, kalau butuh apa-apa panggil saja bik asih. dia pelayan ku di sini..." Alex dengan nada dingin
__ADS_1
Alex berlalu meninggalkan Lina di dalam kamar sendirian, dengan tangisan sesal dan keterpurukan. Lina meratapi nasibnya. cobaan yang ia rasakan terlalu berat baginya.