CINTA PERTAMA 2 CEO MUDA

CINTA PERTAMA 2 CEO MUDA
Kelinci Abu


__ADS_3

Nia Prameswari namanya. Kulitnya putih, rambut hitam sebahu, tinggi badan 160 cm, cerdas dan memiliki wajah lumayan manis. Anak kedua dari 3 bersaudara. Kakaknya perempuan berwajah lebih oriental,  lebih cantik dan bertubuh lebih pendek. Adiknya laki-laki berkulit lebih gelap tapi bertubuh paling tinggi.


Keluarga Nia merupakan keluarga berpendidikan. Ayah dan ibunya seorang sarjana tahun 80an. Ayahnya pegawai di Kementrian dan ibunya seorang guru. 


Sebenarnya kehidupan Nia dan keluarganya berkecukupan. Namun, karena ayah Nia seorang pemabuk berat membuat keuangan keluarga Nia menjadi sering tidak stabil. 


Nia tidak pandai bergaul. Dia lebih menyukai membaca buku atau hanya sekedar melihat-lihat teman-temannya bermain. Dia tidak percaya diri untuk bergabung dengan teman-temannya. Bahkan ketika ada teman laki-laki yang menyukainya, Nia malah menjauhi laki-laki itu. Nia bukan membenci laki-laki, dia hanya tidak percaya ada laki-laki yang baik di dunia ini. Kenapa?


Alasannya tidak lain adalah karena figur ayah yang selama ini dilihatnya sebagai seorang laki-laki terdekat dalam hidupnya merupakan laki-laki yang berhati dingin, keras dan ringan tangan. Setiap hari yang dilihat dan dilalui nia, ibunya dan saudara-saudaranya bak Perang Dunia. Sungguh, kedamaian ibarat mitos di dalam keluarga nia. 


"Bu, beneran ibu mau pulang kampung? " tanya nia melihat ibunya sibuk memasukan bajunya satu per satu ke dalam koper.


"Ibu harus pulang. Mbahmu udah sakit parah di kampung. Pakdemu udah nelpon dari kemarin suruh ibu pulang liat mbah. Sekalian nanti ibu mau pinjam uang sama pakdemu. " Jawab ibu.


Nia terdiam sejenak. Baru kali ini mereka di tinggal ibunya bepergian. Rasanya sedih dan canggung kalau ibu tidak ada dirumah. Ibu nia sangat sabar dan rajin. Tidak pernah mengeluh walaupun hidupnya penuh dengan kesedihan dan kelelahan. Karena itu ibu nia bisa menghadapi ayah nia yang begitu keras dan egois setiap hari.


"Kalau bapak rewel sama masakan kami gimana bu? Trus kalau bapak minta dibelikan minuman dan rokok gimana bu? Bu.. Nia takut bu sama bapak kalau ibu gak ada" Rengek nia di samping ibunya.


"Nanti kalian pintar-pintar ya bagi-bagi tugas di rumah. Jangan bertengkar. Ibu udah titip pesan sama bude diah kalau kalian bon belanjaan disana ya. Untuk minuman bapak nanti ibu kasih uang ya. Tiap sore kalo bapak minta, kasih aja biar bapak yang beli sendiri. Kamu kalo berangkat sekolah numpang sama Pak Jamil ya. Ibu udah pesan kemarin sama pak Jamil selama ibu dikampung, kamu numpang sama dia. Kakak dan adekmu biar boncengan pakai motor ibu" Kata ibu ngasih wejangan.


Nia anak kedua tapi perhatian dan kesigapan nya melebihi kakaknya. Entah memang karena kakaknya tidak paham atau memang kakaknya sengaja pura-pura tidak peka agar bisa lebih aman. Nia tidak pernah mempermasalahkan itu. Menurut dia kakak dan adiknya tidak sejahat itu padanya.


Esok harinya nia mengantar ibunya ke loket mobil travel dengan motor bebek milik ibunya. Koper besar di depan dan ibunya di boncengan belakang tidak membuat nia kesulitan mengendarai motor. Dia sudah biasa dengan hal-hal seperti itu. Tak jarang orang mengatakan dia tomboy, padahal sama sekali tidak. Hanya keadaan yang memaksanya begitu.

__ADS_1


Baru saja Nia memarkirkan motornya di depan rumah, kakak nia terburu-buru menghampiri nia.


"Dek, beli batagor depan yuk. Mbak pengen makan batagor" Kata kakak nia.


"Kan ibu tadi masak mbak sebelum berangkat" Jawab nia sambil berlalu masuk ke rumah.


"Tapi mbak lagi pengen makan batagor loh" Rengek kakaknya


"Mbak, kita harus berhemat mbak. Ibu mungkin 2 minggu di kampung. Kalau uang pegangan kita habis, gimana nanti? Belum lagi kalau bapak minta uang mbak." Jawab nia sambil bersiap-siap akan mandi.


Kakak nia cemberut dan masuk ke dalam kamar. Nia yang melihat tingkah kakaknya menghela nafas panjang. Dia bingung siapa sebenarnya anak tertua di rumah ini.


Pagi hari sekitar pukul 04.30 Wib, Nia sudah bangun dan bersiap memasak untuk sarapan dan makan siang. Sambil berjalan ke dapur, diambilnya keranjang pakaian kotor ke belakang, memilah baju dan memasukkannya ke dalam mesin cuci. Sambil pakaian digiling di mesin cuci, dan pakaian yg dipilahnya tadi di rendam didalam ember berisi air sabun, lalu nia mulai memasak. Hanya dalam 1 jam Nia bisa menyelesaikan semuanya. Memasak, mencuci pakaian, menjemur dan mencuci piring. Nia sudah sangat terbiasa dengan pekerjaan itu.


Pukul 06.30 wib mereka sudah siap sarapan dan bergegas untuk pergi. Ayah mereka baru saja bangun dan duduk di ruang depan, dikursi kesayangannya.


"Pak, kami berangkat sekolah dulu ya pak. Tadi Nia udah masak. Bapak makan ya. " Kata Nia sambil menyalam tangan bapaknya, disusul kakak dan adiknya.


"Iya.. nanti bapak makan." jawab bapaknya singkat.


Nia berjalan kerumah Pak Jamil, tetangga mereka sekaligus guru di tempat Nia bersekolah. Sesampainya di rumah Pak Jamil, Nia melihat istri Pak Jamil didepan rumahnya sedang buru-buru mengunci rumahnya. Setengah berlari Nia menghampiri ibu itu.


"maaf Ibu, Pak Jamilnya ada bu? " tanya Nia

__ADS_1


"Oalah maaf ya Nia, ibu lupa ngabarin. Semalam bapak jatuh dari motor, jadi sekarang bapak dirawat di Rumah sakit. Gak parah, palingan hari ini pulang ke rumah. Tapi bapak mungkin gak ngajar 1 minggu ini Nia. Duh ibu minta maaf ya lupa ngabarin Nia. Ibu panik kemarin. " jawab Ibu Jamil.


"Gak apa-apa bu. Salam buat bapak ya bu. Semoga bapak cepat sembuh." jawab Nia sambil menyalam ibu jamil.


Nia bergegas pergi. Dia bingung harus bagaimana ke sekolahnya hari ini. Dipersimpangan depan lorong rumahnya, Nia mencari tukang ojek pengkolan yang biasa mangkal disana. Tak biasanya hari itu begitu sepi.


"Aduh, kenapa ga ada yang mangkal ojeknya pagi ini. Biasanya banyak. Pada kemana sih??" gumam Nia panik sambil mondar mandir.


"Ya udahlah. Sambilan aku jalan kedepan aja. Mana tahu ketemu abang ojeknya didepan." gumam Nia lagi.


Nia berjalan cepat-cepat sambil melihat kesana kemari. Dia benar-benar panik takut terlambat kesekolah. Sampai Nia tidak sadar dia berjalan sudah hampir ke tengah jalan. Tiba-tiba sebuah motor besar khas anak muda muncul di tikungan tepat disaat Nia akan menyebrang. Si pembawa motor yang kaget melihat Nia didepannya segera menarik rem. Keduanya sama-sama kaget. Untung Nia tidak sampai tertabrak. Motor itu berhenti benar-benar tepat didepan Nia.


"Woiii.. jalan liat-liat dong. Lu sinting ya." labrak pemuda yang membawa motor itu sambil napas terengah-engah karena panik.


"maaf ya aku tadi gak tahu ada motor yang mau melintas. Aku tadi buru-buru memcari ojek." jawab Nia sambil mengatupkan kedua tangannya meminta maaf.


"Untung gak ketabrak. Kalau ketabrak tadi gue yang abis. Ya udah lah. Beruntung lu, Gue lagi buru-buru" jawab pemuda itu kesal.


"Ehmm.. Maaf ya, boleh gak aku numpang kamu kesekolah. Aku sekolah di SMA Tunas Bangsa. Gak jauh kok dari sini. Dari tadi aku nyariin ojek gak dapat-dapat soalnya. Boleh kan?" Nia memohon lagi sambil mengatupkan kedua tangannya.


Pemuda itu terdiam sesaat.


"Ya udah naiklah. Aku juga sekolah disitu. Kita sama-sama sudah terlambat. Cepat naik! " jawab pemuda itu.

__ADS_1


"Terima Kasih ya.. " jawab Nia kegirangan. Dengan cepat dia naik ke motor itu. Walaupun kurang nyamann bagi Nia naik motor besar seperti itu, namun Nia terpaksa. Dia tidak ada pilihan lain. Dengan bentuk tempat duduk yang begitu sempit dan miring, seberapapun usaha Nia untuk berpegangan tetap saja tubuh Nia harus bersentuhan dengan punggung pemuda itu. Pemuda itu tahu Nia kurang nyaman dengan posisinya. Tapi dia hanya tersenyum geli dibalik helm yang dipakainya.


__ADS_2