CINTA PERTAMA 2 CEO MUDA

CINTA PERTAMA 2 CEO MUDA
Pemuja Rahasia (PoV Andre)


__ADS_3

Alarm jam dikamarku berbunyi nyaring. Kuraih jam itu dengan tangan kananku dan mematikannya. Aku sudah sangat ahli melakukannya bahkan dengan mata yang masih tertutup. Ya.. aku melakukannya setiap pagi. Ku regangkan tubuhku kemudian menggeliat menikmati sisa rasa kantuk dimata pagi ini karena aku harus segera bangun


Ku buka jendela kamarku. Pagi yang indah. Berawan dan cerah. Entah kenapa perasaanku begitu bahagia pagi ini. Apa yang akan terjadi hari ini? Firasat apa ini?


Tok.. tok.. tok..


Ku balikkan tubuhku ke arah pintu dan membukanya.


"Kenapa bik?" tanyaku pada Bik Irah, asisten rumah tangga dirumah kami yang sudah bekerja sekitar 15 tahun pada kami. Bik Irah ini sudah seperti ibu kedua bagiku. Beliau yang selalu membantu ibuku dirumah.


"Den, dipanggil ibu sama bapak dibawah." kata Bik Irah.


"Sepagi ini ada apa sih bik?" tanyaku sambil mengusap wajahku.


"Gak tahu den. Mungkin ada yang mau di omongin gan." jawab Bik Irah


"Ya udah. Aku mandi dulu ya bik." kata ku


"Nje den." jawab bik Irah kemudian berlalu menuruni tangga.


Selesai mandi dan berpakaian sekolah aku turun ke bawah. Disana sudah ada papa, mama dan adik perempuanku, Risa. Aku dan adik perempuanku berbeda umur 2 tahun. Kami bersekolah di sekolah yang sama.


"Selamat pagi sayang." sapa mamaku lembut ketika melihatku turun dari tangga.


"Morning jagoan. Wahh.. ganteng kamu memang nurun dari papa banget ya." kata papaku sambil tersenyum bangga disusul tawa riang mamaku.


"Kalau Risa cantik seperti mama dong. Iya kan pa?" tanya Risa tak mau kalah.


"Siapa bilang kamu cantik?" selorohku pada adik sematawayangku itu sambil mengusap rambutnya berkali-kali. Kemudian aku duduk disampingnya.


"Ihh.. Mas andre apaan sih. Bearantakan lagi kan rambut Risa. Paa.. jawab dong.. Risa cantik kan?" Rengek Risa memandang papa sambil merapikan rambutnya lagi.


"Iya sayang. Kamu cantik. Mirip dengan mama" jawab papa sambil tersenyum.


"Kamu cantik sayang. Lebih cantik dari mama." jawab mama lagi.


"Hueekkk.. dengerkan mas?? Risa itu cantik." kata Risa sambil mengejek ke arahku.


"Iya aja deh. Dari pada ngambek ntar." kataku membalas sambil tertawa.


"Tadi kata bik Irah, papa dan mama mau ngomongin sesuatu sama Andre?" tanyaku sambil mengambil roti tawar dan mengoleskan selai nanas diatasnya.


"2 Hari lagi kan kamu ulang tahun ndre. Tapi mama dan papa mempercepat gift birthdaynya jadi hari ini. Soalnya kan besok papa dan mama mau ke Singapore menghadiri pernikahan anak kolega perusahaan papa." kata mama.


"Iya ndre. Papa dan mama sudah menyiapkan hadiahnya di depan. Semoga kamu suka ya?" kata papa


Papaku, Pak Aji Sastranegara seorang CEO di Perusahaan Media Elektronik dan Media Cetak. Perusahaannya merupakan perusahaan media terbesar di Indonesia. Mamaku, Ibu Sheila Paramitha seorang ibu rumah tangga selalu siap sedia mendampingi papaku kemanapun. Jika tidak ada agenda menemani papa, mama fokus pada kami berdua. Yaa.. mereka berdua adalah pasangan idola kami.


"Huaahh.. Cool Pa.. Maa.." teriak Risa melihat sebuah mobil sport berwarna hitam.


"Risa juga mau paaaa.." rengek Risa


"Nanti ya sayang. Papa belikan ini karena mas Andre kan sebentar lagi masuk ke perguruan tinggi. Biar lebih aman dan nyaman di jalan daripada pakai motor. Papa dan mama khawatir. Sekarang Risa diantar jemput Pak Kardi dulu ya" jelas papa


"Gimana? suka?" tanya mama padaku


"Suka ma. Terima kasih ya Pa." kataku sambil tersenyum.


"Ya udah. Bawa aja sekarang ndre. Motor kamu biar nanti dimasukin pak Kardi ke garasi." kata papa

__ADS_1


"Belum sekarang deh pa. Andre masih nyaman pakai motor." jawabku


"Mas Andre itu udah anggap motornya sebagai belahan jiwanya pa. Risa aja gak boleh naik ke motornya. Katanya gak sembarangan orang yang boleh naik ke motornya, gitu pa." jelas Risa


"Nah tu pinterr.." kataku sambil mengacak-acak rambut adikku


"Aaaaa.. Masss.. apaan sih suka banget ngacak-acak rambutku." teriak Risa


"Ya udah kalau gitu. Mobilnya di simpan aja dulu. Terserah kamu mau kapan dipakai. Cuma pesan mama dan papa hati-hati bawa motornya ya ndre. Jangan kebut-kebutan." nasehat papa


"Siap paa. Makasih ya Papa, mama buat hadiahnya." kataku sambil memeluk papa dan mama bergantian.


Motor ini memang punya arti tersendiri bagiku. Aku sendiri yang membelinya memakai uang yang kucari sendiri sebagai model tanpa diketahui orangtuaku. Setelah motor ini berhasil ku beli sendiri, aku pun berhenti menjadi model. Siapapun tak bisa sembarangan menaiki motor ini.


Ku lihat jam ditanganku sudah menunjukkan pukul 06.30 wib. Setelah berpamitan pada orangtuaku, aku pun segera berangkat ke sekolah. Ku gas kan motorku agak lebih cepat karena aku khawatir akan terlambat datang ke sekolah.


Namun di persimpangan jalan tak tauh dari rumahku, tiba-tiba ada seorang gadis memakai seragam sekolah yang sama denganku melintas tanpa melihat kearahku. Segera aku tarik pedal rem di tanganku sampai motorku benar-benar berhenti. Napasku tersengal-sengal karena begitu terkejut dan panik akan menabrak gadis itu. Ku lihat gadis itu terduduk sambil menutup wajahnya karena terkejut dan ketakutan.


"Woiii.. jalan liat-liat dong. Lu sinting ya!!" teriakku pada gadis itu.


"Maaf ya aku tadi gak tahu ada motor yang mau melintas. Aku tadi buru-buru mencari ojek." jawab gadis itu sambil mengatupkan kedua tangannya meminta maaf.


"Untung gak ketabrak. Kalau ketabrak tadi gue yang abis. Ya udah lah. Beruntung lu, Gue lagi buru-buru." jawabku kesal.


"Ehmm... Maaf ya, boleh gak aku numpang kamu ke sekolah? Aku sekolah di SMA Tunas Bangsa. Gak jauh kok dari sini. Dari tadi aku nyariin ojek gak dapat-dapat soalnya. Bolehkan?" tanya dia sambil memohon lagi.


Aku tertegun. Aku gak suka membonceng sembarangan orang dengan motor kesayanganku ini. Tapi kasihan juga dia sampai memelas begitu. Dia pasti sudah dari tadi mencari kendaraan untuk ke sekolah. Toh kami juga satu sekolah.


"Ya udah naiklah. Aku juga sekolah disitu. Kita sama-sama sudah terlambat. Cepat naik." jawabku pada gadis itu.


Dengan cepat gadis itu menaiki motorku. Ini pertama kalinya aku membonceng perempuan. Segera ku gaskan motorku. Ku lihat dari spion motorku gadis itu seperti kurang nyaman dengan posisi duduknya. Motorku memang jenis motor sport. Tempat duduk bagian belakang lebih sempit dan lebih tinggi dari depan. Tiap kali aku mengerem, maka gadis itu maju sampai menempel di punggungku. Setelah itu dia pasti berusaha untuk mundur, namun usaha itu sia-sia. Karena pasti dia akan maju kembali karena aku sering mengerem. Begitu menggelikan sampai-sampai aku tak bisa berhenti tersenyum melihatnya.


Sampai depan sekolah, gerbang sudah akan ditutup. Namun gadis itu segera berteriak pada penjaga sekolah agar diberi kesempatan untuk masuk. Aku hanya bisa melihat gadis itu berlari ke kelasnya. Kelas XII A, kelas yang didalamnya didominasi murid pintar dan murid beasiswa. Ternyata kelas kami bersebelahan.


***


Bel tanda istirahat berbunyi. Ku bereskan buku-buku yang serakan dihadapanku. Buku-buku yang berserakan itu hanya pencitraan saja. Sebenarnya sejak tadi aku tidak bisa konsentrasi belajar. Pikiranku melayang memikirkan gadis yang ku bonceng tadi pagi. Entah kenapa aku jadi penasaran dengan gadis itu.


"Eh.. ke kelas Daniel dulu yuk. Ntar sore jadikan main basket bareng?" tanyaku pada teman-teman satu genk ku yang sudah berkumpul. Kami satu Genk ada 6 orang. Aldi, Daniel, Dion, Adam, keenan dan aku. Hanya Daniel yang bebeda kelas dengan kami sejak naik ke kelas 3. Dia masuk ranking 5 besar jadi masuk ke kelas orang-orang pintar, kelas XII A.


"Kuy lah. Mesti jadi. Minggu depan tanding kita." jawab Aldi


"Chat aja dia. Suruh kesini. Ribet amat lu." kata Dion


"Ahh.. Yuk lah kita aja ke kelas dia sesekali. Sambil jalan-jalan yuk" jawabku sambil berdiri dan mulai berjalan keluar kelas.


Akhirnya mereka mengikutiku. Hatiku berbunga-bunga ketika akan memasuki kelas itu. Ada seperti harapan bisa bertemu dengan gadis yang tadi pagi ku bonceng. Aneh dan menggelikan rasanya, hahaha..


kami masuk kedalam kelas itu. Mataku liar melihat kesana kemari memandangi setiap wajah dikelas itu. Sampailah pada satu wajah yang berada di bangku belakang kelas ini. Gadis itu sedang duduk bersama temannya memandangi jendela kemudian menatapku. Tiba-tiba dia gugup dan mengalihkan pandangannya dariku.


Ku dekati gadis itu untuk memastikan bahwa itu memang dia yg ku cari. Semakin aku mendekat semakin dia menghindariku. Ditutupnya wajahnya dengan buku sambil berbisik pada temannya. Tentu saja aku bisa mendengar bisikannya yang membicarakan tentang aku pada temannya karena aku sudah berada dekat dengan mejanya. Sungguh, gadis ini adalah gadis terlucu yang pernah aku temui.


"Hey, Lu yang tadi pagi jalan kayak orang linglung itu kan?" tegurku yang membuat dia menurunkan buku yang menutupi wajahnya secara perlahan-lahan


Tiba-tiba dia berteriak membuat seisi kelas menjadi terkejut. Aku pun bingung kenapa dia harus berteriak begitu melihatku. Emangnya wajahku menyeramkan? atau dia tidak mengingatku?


"Andre.. ayo cabut.. Daniel dikantin katanya." teriak Keenan


Arrrgh.. sudahlah. Mungkin lain kali. Dia juga sepertinya begitu kaget melihatku. Entah kenapa.

__ADS_1


"Oke.." jawabku pada Keenan sambil berlalu keluar dari kelas itu.


***


Pagi ini aku bangun lebih cepat. Aku ingin bertemu gadis itu lagi. Aku yakin gadis itu pasti tinggal di dekat sini. Semoga hari ini hari keberuntunganku, batinku.


"Ndre.. Sarapan dulu sini." kata mamaku


"Andre buru-buru ma. Ada janji. Andre berangkat dulu ya Ma, Pa." jawabku sambil menyalami mama dan papaku.


Ini urusan urgent maa. Tingkat kenyenyakan tidur andre dipertaruhkan hari ini, batin Andre sambil tersenyum-senyum.


Andre memacu laju motornya perlahan-lahan sambil melihat ke kanan dan ke kiri.


Eh.. itu dia, batin Andre


Di belokkannya motornya ke arah gadis itu dan berhenti tepat di depannya.


"Hei Miss Linglung, lu ketinggalan ojek lagi ya? naik lah. Sekalian bareng aja. Rezeki lu nih ketemu gue lagi." kataku setelah membuka helmku.


Bukannya menjawab sapaanku, dia malah terkaget-kaget sampai matanya melotot. Persis seperti melihat hantu.


"Lu kenapa sih asal ketemu gue, lu kaget setengah mati kayak ketemu hantu aja. Emang gue seseram itu?" kataku heran


"Bu.. bu.. bukan itu Ndre. Kmau tadi tiba-tiba berhenti didepanku jadi aku kaget Ndre. Kamu kook bisa tahu aku disini Ndre?" tanya gadis itu gugup.


DEGG..


Duh gue jawab apa nih? kan tengsin kalau aku bilang aku memang nyariin dia. hmm..


"Wuih.. PEDE amat lu. Gue kebetulan lewat sini, trus liat lu lagi berdiri sendirian disni. Gue kira lu kehilangan ojek lu lagi. Dari pada ntar lu telat, mending barengan ama gue. Eh, by the way nama lu siapa? gak adil bangt lu tahu nama gue tapi gue gak tahu nama lu." kilah gue


Pinter juga gue alasan ya hahaha, batin Andre sambil tersenyum


"Namaku Nia, Ndre. Maaf ya ndre bukannya aku gak mau. Tapi aku sudah janji sama temanku disini. Diaa yang akan jemput aku disini." jawab Nia


"Pacar lu ya?? ngapain dijemput pacar dipersimpangan jalan begini? lu takut ketahun bokap nyokap lu ya?" kataku nyeleneh


"Bukan Ndre. Dia sahabatku perempuan. Aku menunggunya disini karena rumahku didalam gang sempit. Gak mungkin mobilnya bisa masuk." jawab Nia


Fiuuhh.. ada kelegaan dalam hatiku mendengarnya. Kukira dia sudah punya pacar.


"Ohh.. Rumah lu di gang ini ya.. Rumah gue di Greenlight Residence. Deket dari sini. Ya udah deh kalau lu gak mau barengan. Ntar jangan nyesal ya kalau temen lu gak jadi jemput. Lu udah kehilangan satu kesempatan berharga hari ini." kataku sambil memberikan senyum termanisku.


"Makasih ya Ndre." jawab Nia membalas dengan senyuman juga


Sekejap aku terdiam menikmati senyum manis itu. Kemudian tersadar dan menghidupkan motorku. Ku lajukan motorku segera dari hadapan Nia. Aku tidak mau dia tahu kekikukanku dihadapannya


Dijalan, batin dan pikiranku seperti sedang berdebat paripurna.


"Malu-maluin lu. Ngapain lu nanya gak jelas tadi? Ngapain juga lu ngebet nyariin dia? Lu suka kan ama dia?" pikiranku memulai perdebatan


"Gak. Gue cuma penasaran aja kok. Gak lebih." jawab batinku


"Penasaran apaan sampe nyariin gitu. Ngapain juga lu berhenti disana. nanyain nama, rumah dan ngasih tahu rumah lu. Lebay lu kalau cuma penasaran." bantah pikiranku lagi


"Itu terucap begitu saja. Diluar kendali. Salah dia kenapa tadi tersenyum manis ke gue." debat batinku lagi.


"OKE OKE.. FINE. GUE SUKA SAMA DIA. PUASSS!!!" teriakku dijalan mengakhiri semua debat di pikiran dan batinku.

__ADS_1


Terserah orang yang melihatku teriak sendiri menganggapku gila.


__ADS_2