
"INI APA??!!!!! JAWAB!!!!"
"APA PEDULIMU?? KAU DIMANA SELAMA INI??"
"KAU SENDIRI SEPEDULI APA DENGANKU?? AKU SAKIT KAU DIMANA???!!!!"
"KAU TAHU BERAPA KALI DALAM SEMINGGU INI AKU JUGA SAKIT???? HAHHH!!!!"
PRANG !!!
PRANG!!!
"Arrgghhh.. Sepagi ini sudah begini." gumamku sambil duduk mencoba membuka paksa mataku. Semalam aku baru tidur jam 04.00 subuh. Ku pijit kedua pelipisku dengan kedua ibu jari tanganku, mencoba menghilangkan sakit kepala yang mencengkram.
Ingin rasanya tidak masuk sekolah hari ini karena tubuhku rasanya remuk dan kepalaku begitu sakit. Aku selalu kurang tidur dan makan tidak teratur. Bahkan aku sudah lupa kapan terakhir kali tidur nyenyak. Ah.. lebih baik aku pergi sekolah dari pada berada di rumah hantu ini.
Hari ini hari pertamaku masuk ke sekolah baru. Sebelumnya aku bersekolah di Bandung. Karena insiden drama telenovela ala orangtuaku, aku harus pindah sekolah ke Jakarta. Padahal hanya tinggal beberapa bulan lagi ujian akhir kelas 3 diadakan.
Ya.. insiden memalukan yang dilakukan orangtuaku. Mereka sama-sama kepergok selingkuh yang berakhir dengan saling menyalahkan, dan mengambil kesimpulan untuk pindah ke Jakarta.
Keputusan yang sungguh menggelikan bagiku. Apa pengaruhnya pindah tempat tinggal kalau mereka pun sama-sama tidak pernah bertemu dan tidak pernah di rumah. Kalaupun bertemu, tetap saling mengungkit kesalahan masing-masing. Arrrrgghh.. aku benar-benar tinggal dirumah hantu.
Papaku terlahir dari keluarga konglomerat. Perusahaan yang dikelolanya sekarang adalah Perusahaan kakekku yang jatuh ke tangannya sejak kakekku tiada. Ibuku tak kalah hebat. Beliau juga memimpin sebuah perusahaan yang diturunkan padanya karena ibuku adalah anak tunggal. Mereka dijodohkan orangtua mereka demi kepentingan kekuasaan dan kerjasama perusahaan kedua belah pihak.
Aku pun berdiri dan mandi. Mengambil seragam sekolah dan memakainya. Kemudian turun kebawah.
"Den, sarapan dulu ya. Sudah bibik siapkan." kata bik Siti, asisten rumah tangga dirumah ini. Hanya bik Siti orang yang waras bagiku dirumah ini. Bik Siti pula yang selalu ada untukku sejak aku kecil. Untungnya dia tetap bertahan dirumah ini walaupun isi rumah ini penuh ketidaknormalan.
"Gak deh bik. Aku buru-buru mau berangkat. Aku pergi dulu ya bik" jawabku
Ku lihat kedua orang itu, lebih tepatnya kedua orangtuaku masih penuh semangat saling melempar emosi. Begitu semangatnya sampai tidak menyadari keberadaanku didekat mereka, melihat kebrutalan mereka dan mendengar teriakan mereka.
"Mereka bahkan tidak menganggap keberadaanku ketika aku berada didekat mereka. Nice." gumamku dalam hati.
Ku langkahkan kakiku keluar, lalu masuk kedalam mobilku. Ku pijit lagi kedua pelipisku. Kepalaku begitu sakit. Kulihat jam ditanganku masih menunjukkan pukul 06.00 wib. Hah.. ini masih terlalu pagi. Ku hidupkan mobilku dan ku lajukan. Aku berniat mencari warung terdekat untuk sarapan.
"Aku tidak boleh mati konyol sendirian. Jika sekitarku mengabaikanku, aku harus peduli pada diriku sendiri." gumamku
Cinta yang seperti apa yang mereka pegang saat memutuskan untuk hidup bersama? Aku bahkan tidak pernah melihat mereka saling tersenyum.
Jika saling membenci, kenapa saling bertahan?
Karena aku?? Konyol !!!
Menyadari aku masih hidup atau tidak pun hanya melalui bik Siti.
Kuhidupkan mp3 player di mobilku. Ku perbesar volume suaranya, melampiaskan perasaan kacauku pagi ini.
Do you ever feel like breaking down?
Do you ever feel out of place?
Like somehow you just don't belong
And no one understands you
Do you ever want to run away?
Do you lock yourself in your room?
With the radio on turned up so loud
That no one hears you screaming
No you don't know what its like
When nothing feels alright
You don't know what its like to be like me
To be hurt, to feel lost
To be left out in the dark
To be kicked when you're down
To feel like you've been pushed around
To be on the edge of breaking down
And no one there to save you
No you don't know what its like
Welcome to my life
Do you want to be somebody else?
Are you sick of feeling so left out?
Are you desperate to find something more
Before your life is over
Are you stuck inside a world you hate?
Are you sick of everyone around?
With the big fake smiles and stupid lies
But deep inside you're bleeding
No you don't know what its like
When nothing feels alright
You don't know what its like to be like me
To be hurt
To feel lost
To be left out in the dark
To be kicked when you're down
To feel like you've been pushed around
To be on the edge of breaking down
And no one there to save you
No you don't know what its like
Welcome to my life
No one ever lied straight to your face
And no one ever stabbed you in the back
You might think I'm happy
But I'm not gonna be okay
__ADS_1
Everybody always gave you what you wanted
You never had to work it was always there
You don't know what its like
What its like
To be hurt
To feel lost
To be left out in the dark
To be kicked when you're down
To feel like you've been pushed around
To be on the edge of breaking down
And no one there to save you
No you don't know what its like
What its like
To be hurt
To feel lost
To be left out in the dark
To be kicked when you're down
To feel like you've been pushed around
To be on the edge of breaking down
And no one's there to save you
No you don't know what its like
Welcome to my life
Welcome to my life
Welcome to my life
Ku nyanyikan sekuat-kuatnya penuh emosi. Pagi ini akulah pemilik jalanan ini. Tidak ada yang peduli dengan depresiku. And then.. Huaaahhh.. Lumayan menolong menyalurkan depresiku.
Ku hentikan mobilku di sebuah warung nasi pinggir jalan. Setelah selesai menyantap sarapanku. Aku kembali ke mobil.
Ku setel GPS memasukkan keyword SMA Tunas Bangsa. Setelah dapat, segera ku pacu mobilku.
Ku perhatikan sebelah kiri jalan yang menurut GPS tidak jauh lagi akan tiba di SMA Tunas Bangsa. Ku belokkan mobilku memasuki sekolah itu kemudian mencari parkiran mobil.
Keluar dari mobil, kudengar bel berbunyi.
"Tepat waktu." gumamku sambil melihat jam ditanganku.
Kulangkahkan kakiku menuju deretan ruangan di depanku. Kuperhatikan ruangan satu persatu mencari ruangan guru. Aku belum tahu di kelas mana aku dimasukkan. Semua pengurusan pindah sekolahku diserahkan pada Pak Yadi, staf kepercayaan papaku.
"Kamu Leon ya?" tanya seorang wanita seumuran ibuku padaku.
"Iya bu." jawabku singkat
"Pas banget kalau gitu. Perkenalkan nama ibu Farida. Ibu wali kelasmu. Tadi Pak Yadi menelpon ibu kalau kamu sudah datang. Nah itu bapak itu datang." kata bu farida
"Maaf mas.. Tadi saya kerumah mas tapi mas sudah berangkat kata bik Siti. Jadi saya susulin langsung kemari. Syukurlah mas gak kesasar" kata pak yadi
Dikira bapak ini aku segoblok apa? Apa bapak ini gak tahu teknologi bernama GPS? Lagian aku sudah biasa menjalani hidupku sendirian. Hal seperti ini bukan masalah bagiku, batinku.
"It's Okey. Bapak sudah bisa pulang sekarang." jawabku
Pak Yadi dan bu Farida saling bertatapan mendengar jawaban datarku.
"Oke mas. Selamat belajar ya mas. Semoga menyenangkan ya mas. u Farida, titip mas Leon ya bu." kata pak Yadi pada bu Farida
"Iya pak.Leon pasti betah disekolah kami." jawab bu Farida tersenyum
"Ayo nak kita masuk ke kelas. Ibu akan memperkenalkan kamu pada teman-teman sekelasmu ya." ajak bu Farida padaku.
Baru saja memasuki ruangan kelas ini, aku sudah disuguhkan dengan kejadian lucu. langkahku dan bu Farida terhenti karena seorang murid perempuan menghalangi jalan, dia duduk memegangi kakinya.
"Nia, kamu kenapa?" tanya bu Farida
"Tadi saya tersandung meja bu. Kaki aya sakit." jawab gadis itu sambil berdiri kemudian membungkuk tanda hormat didepan bu Farida.
Gadis itu berjalan terseok-seok. Ku lihat kakinya, sepatunya robek menganga. Sepatunya kelihatan sudah usang.
Aku pun mengikuti bu Farida berdiri didepan kelas. Bu farida memukul meja agar kelas menjadi tenang.
"Tenang anak-anak. Hari ini kita ada kedatangan teman baru. Dia pindahan dari Kota bandung. Oke, sekarang kamu perkenalkan diri ya nak." perintah bu Farida.
"Nama saya Leon. Saya baru pindah ke kota ini." kataku singkat
"Oke Leon, kamu bisa duduk sekarang. Kamu bisa duduk di kursi yang masih kosong ya. Kelas kita mulai sekarang. Buka buku materinya." perintah bu Farida
Ku perhatikan seluruh kelas ini mencari tempat duduk yang menurutku nyaman. Ku lihat ada tempat duduk yang kosong. Syukurlah aku bisa duduk sendirian tanpa ada orang di sampingku.
Ku langkahkan kakiku dan duduk. Ku ambil buk dan alat tulisku. Aku mendengar bisik-bisik disekitarku. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku tak peduli. Ku lihat langit dari jendela disampingku. Kosong..
3 jam berlalu. Pikiranku benar-benar kosong. Tiba-tiba bunyi bel istirahat berbunyi menyadarkanku. Hahh.. waktu berlalu begitu saja. Ku lihat lagi langit dari jendela disampingku. Sebenarnya siapa aku? Apa peranku di dunia ini? tiba-tiba hatiku terasa pedih dan hampa.
Lama aku melamun. Ahh.. aku muak, batinku.
Akupun berdiri dan berjalan keluar kelas. Sepintas ku lihat gadis dibelakangku melongo melhatku, entah kenapa. Ahh.. masa bodo lah, pikirku.
\*\*\*
keesokan harinya
__ADS_1
Pukul 06.15 Wib. Ku pacu mobilku dengan cepat. Sebenarnya aku malas pergi cepat-cepat kesekolah, tapi aku lebih tidak mau menjadi pusat perhatian di kelas karena aku terlambat datang.
Kuparkirkan mobilku diparkiran mobil sekolah. Ku langkahkan kaki masuk kekelasku. Aura aneh kurasakan ketika aku memasuki kelas ini. Semua orang tiba-tiba diam. Setelah aku duduk, semua orang berbisik sambil meliriku. Apa lagi ini?? batinku.
Aku memandang keeluar jendela dan menarik napas dalm. Kemudian ku ambil handphoneku dan memainkan game favoritku.
Tiba-tiba seorang murid laki-laki mendekatiku.
"Leooonn.. Kenalin aku Jimmy. Minggu depan duduk bareng aku yuk. Dikelas ini setiap minggu harus rolling tempat duduk. Mau kan?" tanya Jimmy.
"Gak. Aku lebih nyaman duduk sendiri." jawabku dingin sambil tetap memainkan handphoneku.
Jimmy pun beranjak pergi. Aku tak tahu apakah dia marah atau tidak dengan responku. Aku tak melihatnya sama sekali.
Hahh..Kudengar isi kelas berbisik-bisik lagi. Sungguh ini tak nyaman bagiku. Aku hanya ingin suasana yang tenang disekolah ini lepas dari rumah hantu itu.
Lebih baik aku pindah duduk paling belakang saja, pikirku.
Ku balikkan badanku. Ku lihat gadis dibelakangku. Gadis ini yang sepatunya robek kemarin, batinku.
"Lu mau gak duduk disini?" tanyaku pada gadis itu.
gadis itu kaget dan melongo. Astaga.. apa yang terjadi dengan orang-orang di kelas ini?? Kenapa ekspresi dan respon mereka begitu heboh padaku?? arrgghh..
"Maksudnya apa Leon?" tanya gadis itu
"Kamu duduk disini. Hmm.. maksud gue kalian. Kita bertukar tempat duduk. Bisa?" tanyaku lagi
"Tapi kenapa harus bertukaran tempat duduk?" tanya gadis itu membalas
"Gue suka duduk dibelakang. Sendiri." jawabku
"Gimana Din? kamu mau tukaran tempat duduk dengan Leon?" tanya gadis itu pada teman sebangkunya.
Ku alihkan pandanganku pada gadis disebelahnya. Menantikan jawaban 'iya' darinya.
"Ehmm.. ehmm.. bo..boleh.. gak masalah." jawabnya.
Dengan cepat ku bereskan bku yang tadi sempat aku keluarkan kemudian melangkah ke tempat duduk di belakang Kulihat kedua gadis itu hanya melongo
"Ayo.." kataku menyadarkan mereka
mereka pun segera berbenah dan pindah kedepan.
Aku duduk dan kembali memainkan handphoneku. Tiba-tiba sebuah chat masuk ke handphoneku. Itu Rico, teman ditempat nongkrongku.
"Ketemu di tempat bilyard ya ntar." chat Felix
"Oke." balasku kemudian kembali fokus pada game di handphoneku.
Pulang sekolah aku langsung ke tempat tongkronganku. Ku habiskan waktuku disana bersama teman-temanku. Tiba-tiba temanku berteriak.
"Bangs\*t!!! Viona masih berhubungan dengan si tua bangka itu." teriak Rico sambil meremas handphone yang ada ditangannya.
Aku menghentikan permainan bilyardku dan melihat ke arah Rico.
"Sudahlah. Lupakan Viona. Pengkhianatan itu gak ada obatnya. Itu penyakit yang akan terus kambuh." kataku
"Dia sudah berjanji akan berhenti melepas si tua bangka itu karena kemarin istrinya melabrak viona. Dia bilang dia mau berubah." jawab Rico
"Trus Lu percaya? Mau berapa kali lagi lu diginiin viona baru lu sadar buat ngelepasin dia? Cerita lu begini-begini mulu." kataku
"Lu mesti temenin gue nemuin mereka. Sekarang mereka lagi makan bersama di resto dekat sini. Ayo!!" kata Rico sambil menarik tanganku
"Gak ahh.. Dari dulu lu ajak gue nemuin viona sama selingkuhannya itu gue gak mau. Sudah lupain aja dia. Lu gak pantas dapet pengkhianat." jawabku
"Please Leon.. aku janji ini yang terakhir aku nemuin dia. Aku cuma mau mengakhiri ini didepan tua bangka itu." kata Rico memohon
Akupun luluh dan mengambil jaketku. Kami pergi menuju resto yang dimaksud Rico dengan mobilku.
Tiba disana, Rico dengan cepat mencari keberadaan Viona. Aku mengikutinya dari belakang.
"Itu dia." kata Rico menunjuk sepasang sejoli yang sedang berciuman. Begitu emosinya Rico sampai dia harus berlari ke meja sejoli itu. Aku terperanjat melihat lelaki separuh baya yang mencium Viona. ITU PAPAKU!!!!
Tanpa aba-aba, Rico menarik Viona dan menamparnya. Viona terjatuh kaget setengah mati melihat Rico didepannya sambil menahan sakit dipipinya. Dia menangis.
"Dasar wanita jal\*ng!!!!!" teriak Rico
Lelaki tua yang mencium Viona tadi kemudian hendak membalas memukul Rico namun ku tahan pukulannya. Ku pegang erat tangan papaku.
Papaku terkejut setengah mati melihatku. Mukanya memerah. Tiba-tiba dia menamparku begitu kuat sampai aku oleng dan kepalaku membentur meja. Setelah itu dia berlalu pergi meninggalkan kami.
"Begini dia menutupi rasa malunya padaku?? Dasar tua bangka tidak tahu diri." batinku.
"Kau tidak apa-apa Leon? Kenapa laki-laki tua bangka itu malah memukulmu?" tanya Rico
"Sudahlah. Ayo kita pulang." jawabku sambil memegangi bibir dan pelipisku yang terluka.
Rico temanku di Sekolahku yang lama. Dia tidak pernah mengenal papa dan mamaku karena mereka berdua tidak pernah dirumah ketika teman-temanku bermain ke rumahku. Bahkan saat ada acara yang mengundang orangtua ke sekolah, papa dan mamaku tidak bisa menghadirinya. Mereka hanya akan mengutus staf kepercayaannya dari perusahaan untuk menggantikan mereka menjadi waliku disekolah.
Kami meninggalkan restoran itu dan mengabaikan Viona yang hanya bisa menangis menahan rasa malu.
Wajahku memang sakit. Namun hatiku lebih sakit. Betapa memalukannya aku harus melihat papaku berselingkuh dengan pacar sahabatku yang umurnya bahkan lebih muda dari aku. Aarrgghh...!!!
__ADS_1