Cinta Pura-Pura

Cinta Pura-Pura
Mengaku Pacar dari Laki-Laki Asing


__ADS_3

Dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk Vina bekerja di PT Sumber Arta yang berjalan di bidang tekstil. Walau dia hanya pegawai bagian produksi yang harus bekerja bersama ribuan pegawai lainnya untuk menyortir hasil pabrik, tentu sangat berat bagi Vina untuk meninggalkan tempat yang selama ini mewarnai hari-harinya. Sayang, hari ini adalah hari terakhirnya berada di sini. Karena baru saja, dia telah dipecat. Ck ck ck.


Tidak mau menangis, Vina memutuskan untuk segera berpamitan dengan teman kerjanya bersama teman-teman lain yang mengalami hal sama. Setelah selesai, gadis yang memiliki rambut hitam bergelombang itu pun akhirnya pergi meninggalkan pabrik tempatnya bekerja. Ralat, mantan tempat kerjanya.


Bukannya pulang, Vina justru duduk-duduk di sebuah bangku taman yang berada di tengah pusat perkantoran di Kota Jakarta. Entah bagaimana bisa sampai berada di tempat ini, Vina sendiri pun bingung.


Awalnya dia memang mau pulang ke kosnya, namun karena tidak mau terbayang-bayang oleh hutang dan bayaran kos bulanan yang menghantui ketika dia berada disana, makanya lebih baik Vina memutuskan untuk jalan-jalan tanpa tujuan seperti saat ini. Padahal tanpa Vina sadari, taman tempatnya bersantai saat ini adalah bagian dari halaman sebuah gedung perusahaan besar bernama Kusuma Group. Salah satu gedung termegah di antara jajaran gedung pencakar di kawasan itu.


"Gini banget ya cobaan hidup. Ya Allah kalau kasih ujian satu-satu dulu kek. Lah ini satu aja belum selesai udah nambah lagi," keluhnya sambil bersandar santai pada sandaran bangku taman.


Beberapa kali terlihat orang-orang dengan kemeja rapi melewatinya. Semua itu tidak lepas dari pengawasan Vina.


"Enak banget ya mereka. Kerja di tempat bagus, pake seragam rapi, ruang kerja ber-ac. Keren gitu keliatannya. Lah gue, udah pegawai pabrik, seragam kaos penuh keringat gini, rambut lepek. Eh… masih aja kena PHK. Mana uang kos 3 bulan belum dibayar, bentar lagi waktunya depkolektor nagih utang juga. Ngenes banget nasib orang susah. 


Duit dari mana coba? Apa gue open BO aja kali ya?!


Eh... astagfirullah nyebut Vin nyebut! Lagian open BO juga siapa yang mau sama lo?" ucapnya ngawur dan langsung disusul dengan kikikan geli darinya.


Dengan Hoodie abu-abu yang sudah lusuh gadis yang umurnya mengunjak 23 tahun itu mengenakan penutup kepala agar melindunginya dari terik matahari yang masih saja menyengat walau hari sudah mulai beranjak sore.


Hidup lagi capek-capeknya, Vina malah tidak sengaja melihat dua orang yang terlihat sedang cekcok tidak jauh dari tempatnya duduk sekarang.


"Sayang, kamu dengerin dulu penjelasan aku dong! Semua ini tuh gak seperti yang kamu pikirkan. Kamu tuh salah paham," ucap seorang wanita dengan dress ketat pada laki-laki di depannya. Suara wanita itu cukup keras sehingga percakapan itu tanpa sengaja terdengar di telinga Vina.


"Lepas!" ketus  laki-laki berpakaian setelan kantor itu sambil berusaha melepaskan tangannya dari cekalan si  wanita.

__ADS_1


"Gak, aku gak akan lepasin sebelum kamu janji kalau kamu gak akan ninggalin aku."


"Apa-apaan kamu Kania! Lepasin tangan saya" ucap Affan ketus.


"Nggak fan, kamu gak boleh begini. Tolong kasih aku kesempatan buat jelasin semuanya, oke?!" bujuk Kania.


"Jelasin apa lagi sih! Ga ada yang perlu dijelasin karena semuanya sudah sangat jelas. Kamu selingkuh sama cowok lain Kania. Kalian berdua ciuman, pelukan, dan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Kalau kamu bilang itu salah paham, berarti kamu juga bilang kalau aku ini buta! Iya?!" bentak Affan.


Dia merasa risih karena Kania, mantan pacarnya itu terus saja mengganggu dirinya. Dia marah dan merasa dikhianati atas perbuatan Kania yang menyelingkuhinya ditambah lagi akhir-akhir ini Kania getol sekali mencoba membujuknya untuk mereka kembali bersama. Walau sudah sangat muak, tapi berbuat kasar pada seorang perempuan bukanlah gaya seorang Affandra Bagaimanapun menyebalkannya orang tersebut, Affan tidak mau main tangan terhadap perempuan sedikitpun. Karena itu adalah prinsip hidupnya.


Ini bukan pertama kalinya Kania terus terusan mengusik hidup direktur utama dari Kusuma Group itu. Untung saja  Affan selalu memiliki cara untuk menghindar. Sayangnya untuk kali ini sepertinya Affan memang sedang apes. Keputusannya untuk berjalan-jalan sebentar di taman kantor justru tanpa sengaja mempertemukannya dengan Kania.


Sungguh! Affan sangat muak melihat wanita ini. Berkali-kali dia mengumpati dirinya sendiri, mengapa dulu bisa-bisanya mencintai wanita ular seperti Kania.


“Ayolah fan, aku khilaf. Semua itu karena kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan kamu. Aku juga butuh perhatian, dan dia yang selama ini ada buat aku. Tapi kamu tenang saja, aku sekarang sudah sadar kok kalau yang aku cintai cuma kamu doang dan aku udah ninggalin dia. Kamu harus percaya sama aku Affan” 


“Aku akui fan kalau aku emang selingkuh, tapi apa kamu gak bisa kasih aku kesempatan sekali saja? Kita dah jalanin hubungan ini hampir satu tahun. Aku tahu kamu marah, tapi kamu pasti masih cinta sama aku kan?” ucap Kania dengan percaya diri.


Di sisi lain, Vina yang sedari tadi menyimak perdebatan antara keduanya akhirnya memahami permasalahan yang terjadi.


"Oh, jadi si cewek ini selingkuh. Tapi dia kelihatannya gak mau diputusin tuh. Aih, kalau dilihat penampilannya ini cewek emang agak-agak nih.


Heran gue sama cowok-cowok tuh, matanya pada buta apa ya? Nyari cewek yang kaya gue kek yang jelas pengertian, setia, dan gak ribet. Mubazir banget kaya gue dianggurin kan? Cuma kurangnya satu sih…. kurang duit aja hahaha makanya muka buluk begini" gumam Vina yang diakhiri dengan cekikan geli akibat ucapannya sendiri.


Affan geleng-geleng kepala menatap Kania dengan pandangan malas sambil menghembuskan nafasnya berat. Dia sudah kehabisan cara untuk mengusir wanita ini, ingin rasanya Affan memiliki jurus menghilangkan diri agar Kania tidak bisa menemukannya. Kini kesabarannya mulai menipis. Affan takut dia akan kehilangan kendali dan mengingkari prinsipnya untuk tidak melukai perempuan.

__ADS_1


Makanya ketika Kania sedikit melonggarkan genggaman tangannya diapun segera berbalik untuk menjauh. Sayang, belum sempat Affan menjauh Kania lebih sigap menangkapnya kembali. Wanita yang sudah menjadi mantan pacarnya itu memeluk punggungnya dengan erat sambil menangis tersedu-sedu. Suaranya cukup keras hingga membuat orang-orang yang berada di sekitar keduanya menatap heran.


“Kamu jahat Affan! Kamu udah bikin aku hamil tapi kamu malah mau ninggalin aku gitu aja. Kamu harus tanggung jawab, kalau tidak bagaimana dengan nasib anak ini nanti? huhuhu” ucap Kania dengan nada suara yang cukup kencang. Affan sangat terkejut dengan apa yang Kania katakan tentangnya. 


Tentu saja perkataan Kania membuat orang-orang di sana menatapnya dengan pandangan menghakimi.


“Apa-apaan kamu Kania? Berani-beraninya kamu ucapkan omong kosong itu disini?!” desis Affan.


“Kamu lihat aja fan, kalau kamu masih kekeh mau mutusin hubungan kita. Aku gak segan-segan buat hancurin nama baik kamu?!” ancam Kania.


“Kalau kamu nekat begini, jangan salahin kalau aku bakalan berbuat kasar sama kamu!” gemeretak gigi Affan terdengar ngilu. Dia sama sekali tidak menyangka Kania akan berbuat nekat seperti sekarang. Untungnya diantara mereka tidak ada yang mengenali identitasnya karena Affan memang jarang menunjukkan wajahnya pada publik.


“Siapa takut? Aku kenal gimana sifat kamu fan, kamu gak suka kekerasan apalagi sama wanita bukan? Apalagi semua orang disini sedang melihat ke arah kita. Coba aja pukul! Saat kamu melakukannya aku akan pastikan nama direktur utama Kusuma Group akan menjadi buruk,” tantang Kania yakin.


Vina yang awalnya hanya ingin menjadi penonton dari perdebatan keduanya merasa ikut geram dengan kelakuan Kania. Mau bagaimanapun dia juga satu jenis kelamin dengan Kania. Women support women emang penting. Tapi tentunya lihat-lihat dulu siapa yang harus didukung. Nah masalahnya kelakuan si Kania ini memang kaya dakjal, dia jadi malu sebagai sesama cewek setelah melihat bagaimana murahan dan liciknya wanita itu.


Sekarang Vina malah menaruh rasa kasihan pada laki-laki yang diganggu Kania, dia terlihat hanya diam dan menahan emosinya mati matian. Vina dapat dengan jelas melihat kepalan tangan laki-laki itu dari tempatnya duduk karena posisi dua orang di depannya yang menyamping.


Tiba-tiba dia teringat dengan kasus kakak sahabatnya yang mengalami nasib yang sama seperti Affan. Ya, Vina memiliki sahabat yang sudah dianggap seperti saudara sendiri begitupun keluarga sahabatnya. Nama sahabat Vina adalah Gina. Kejadian didepannya saat ini tiba-tiba mengingatkannya ketika dia dan sahabatnya, Gina memergoki pacar kakak Gina yang juga sudah Vina anggap sebagai abang sendiri.


Dia ingat betul bagaimana menyebalkan wanita ja*l*ng itu menangis tersedu-sedu dan bersandiwara menjadi korban karena tidak mau diputuskan oleh kakaknya Gina. Waktu itu Gina dan dirinyalah yang maju untuk memberikan pelajaran pada wanita kurang ajar tersebut hingga babak belur. Kalau diingat-ingat lagi itu adalah hal ter bar-bar yang pernah dia lakukan bersama Gina.


"Ini sih gak bisa didiemin. Harus kasih pelajaran biar kapok," bisik batin Vina geram.


Dengan berani dia melepaskan pelukan tangan Kania pada Affan dengan kasar, lalu mendorong wanita itu menjauh.

__ADS_1


"Lepasin! berani-beraninya kamu peluk-peluk pacar aku ya!"


Bersambung...


__ADS_2