
Vina membuka pintu kosnya setelah mendengar suara gedoran yang mengganggu waktu santainya. Namun ketika melihat sosok manusia yang ada di balik pintu kamar kosnya yang memang langsung menghadap halaman itu, membuatnya menyesali langkahnya.
Terlihat dua orang laki-laki berbadan kekar dengan baju berlapis jaket kulit. Outfit yang pas untuk seseorang yang berpfofesi sebagai depkolektor. Matilah! Vina hanya berdiri kaku, tidak tahu harus bagaimana.
Sudah terlanjur basah, mau tidak mau Vina harus menghadapi dua orang depkolektor kiriman yang di tugaskan untuk mengembalikan hutangnya.
"Eh, abang. Gimana kabarnya bang? Lama gak ketemu kita" sapa Vina berbasa-basi.
"Diem lo! pasti lo tau sendiri kan tujuan kita disini buat apa?" tanya seorang laki-laki berbadan kekar dengan kepala botak plontos miliknya. Jangan lupa dengan kumis dan jambang tebal yang menghiasi wajahnya sehingga terlihat lebih garang.
"Maaf bang, hari ini beneran deh aku gak ada uang. Minta waktunya sedikit lagi ya bang. Soalnya aku baru saja kemarin dipecat dari perusahaan," bujuk Vina dengan wajah memelas.
"Gue gak mau tau ya! Pokoknya lo harus bayar utang lo sekarang. Bos gue sudah kehabisan kesabaran sama lo ya. Udah 5 bulan lo ngulur-ngulur waktu buat bayar hutang, cepetan bayar! mana uangnya?!" cacar kedua laki-laki itu kasar. Mereka sama sekali tidak peduli kalau vina adalah seorang perempuan.
"Bang, beneran bang aku gak bohong. Baru aja aku dipecat bang, tolonglah kasih waktu sekali lagi aja," mohon Vina.
Jujur saja dia takut ketika harus menghadapi depkolektor sekarang. Biasanya walau dengan merelakan sebagian dari gajinya Vina selalu bisa mencicil hutang. Hanya saja kali ini benar-benar tidak memungkinkannya untuk memberikan uang gajinya kemarin karena dia juga membutuhkan uang itu untuk bertahan hidup di kota ini.
"Halah, gue gak mau tahu dengan alasan apapun lo harus bisa bayar hutang lo! No, kita geledah kamarnya," ucap laki-laki berjambang tebal itu pada temannya.
Tentu saja gadis itu merasa panik ketika nelihat keduanya memasuki kamar kosnya tanpa persetujuan dan mulai mengacak-acak semua barang yang ada di sana.
"Gimana? Lo nemuin sesuatu?" tanya Baron laki-laki dengan jambang menakutkan di wajahnya itu.
"Ck. Gak ada apa-apa." Laki-laki yang ternyata bernama Tono itu menggeleng. Rambutnya yang ikal ikut bergerak-gerak mengikuti kepala.
Sedangkan Vina, hanya bisa pasrah melihat kamar yang menjadi satu-satunya temoat ternyamannya kini sudah tidak berbentuk lagi. Seorang wanita lemah yang hanya hidup sendiri sepertinya, tentu tidak bisa berbuat apapun untuk melawan.
Lagi-lagi Vina menyayangkan nasibnya yang begitu malang. Ditinggal kedua orang tua tanpa harta benda. Akan tetapi justru harus menebus hutang orang tuanya. Berbagai kata andai melintasi kepalanya. Meski begitu Vina tidak menangis, yah setidaknya belum.
"Baiklah karena tidak ada apapun yang berharga di tempat ini. Jadi kami akan membawa kamu!" putus Baron.
Tiba-tiba kedua laki-laki itu menyeret Vina keluar dan menuju ke arah mobil mereka.
Vina terkejut dengan keputusan yang tiba-tiba itu, diapun berontak dan berusaha melepaskan diri.
__ADS_1
"Gak mau! Lepasin, bang kita bisa bicarain ini baik-baik kan? Please bang, aku bakalan berusaha melunasi hutangnya segera. Tolong kasih waktu satu bulan ah tidak-tidak, aku bakal cari cara untuk bayar itu semua dalam seminggu. Tapi jangan bawa aku yah," Vina tidak putus asa mencoba menawar agar dirinya tidak dibawa.
"Diam, kamu tidak berhak tawar menawar dengan kami," kedua laki-laki itu tidak peduli dan tetap berusaha menyeret Vina pergi dari kamar kosnya.
Gagal bernegosiasi Vina akhirnya menggunakan cara terakhir,
"Tolong! Gue diculik, tolong!" teriak Vina mencoba meminta bantuan.
Sayangnya itu percuma, tidak ada satupun orang yang berani membantunya. Beberapa tetangga dan orang yang berada di sana melihat dirinya di tarik oleh kedua laki-laki berbadan namun tidak mencoba membantu. Mereka hanya menatap Vina kasihan dan setelah itu seperti tidak peduli dan melanjutkan aktivitasnya kembali. Hal tersebut membuat Vina merasa hatinya teriris.
Mobil sedan yang membawa Vina berjalan dengan stabil. Suasana di dalam mobil di dominasi oleh percakapan kedua laki-laki yang membawanya itu. Vina tidak menyimak apa yang keduanya obrolkan. Pikirannya begitu sibuk memikirkan tentang betapa malang nasibnya dirinya saat ini.
Dulu orang tua Vina memiliki usaha konveksi yang lumayan sukses. Walau tidak bisa dibilang kaya raya tapi mereka selalu hidup dalam kecukupan. Ayah ibunya sangat menyayangi Vina, namun Vina tidak tumbuh menjadi anak yang manja walau dirinya hanyalah anak tunggal dalam keluarganya. Vina juga sering meminta diajarkan untuk menjahit dan membuat pola pakaian. Suatu hal yang sangat vina syukuri karen keterampilan tersebut sangat berguna baginya kelak.
Sayangnya kebahagiaan dan keharmonisan keluarga tidak lama dia rasakan. Karena di saat dia tepat berumur 20 tahun terjadi peristiwa yang membuat hidupnya jungkir balik menjadi 360 derajat.
Ayah Vina ditipu oleh rekan kerjanya yang membawa uang puluhan juta dan menghilang begitu saja. Tentunya kejadian ini berdampak terhadap usaha keluarga Vina, konveksi tidak bisa dilanjutkan karena kehabisan modal sehingga usaha tersebut terancam gulung tikar.
Mengetahui hal itu membuat Ayah Vina amat sangat terpukul dan mengalami serangan jantung. Sayangnya hanya dalam waktu beberapa hari di rawat ayah Vina akhirnya menghembuskan nyawanya.
Pada akhirnya suatu hari ibunya drop dan di bawa ke rumah sakit. Namun belum juga sampai di rumah sakit, ibu Vina pun meninggal dunia dalam perjalanan. Menyusul ayah Vina yang sudah lebih dahulu menemui tuhan yang maha esa.
Vina sedih? Jelas.
Apakah Vina menangis? Tentu saja. Hidupnya hancur dalam waktu yang berdekatan.
Sudah tak terhitung berapa banyak tetes air mata yang dia keluarkan. Namun nyatanya dia tetap berakhir sendirian sekarang. Sebenarnya Vina masih memiliki saudara jauh dari ayahnya, namun mereka sama sekali tidak peduli padanya, padahal dulu Vina tahu sekali ketika ayahnya masih di masa jaya, mereka sering meminta bantuan dengan alasan mereka masih saudara.
Vina mendecih kecil, mengingat hal tersebut.
Sesekali Vina menoleh ke jendela di samping kirinya, karena di sebelah kanan ada Tono yang sedari tadi tidak melepaskan pengawasan terhadapnya.
Sedan hitam yang membawanya itu akhirnya memasuki sebuah jalan yang lumayan sepi, dengan pohon-pohon yang cukup besar tumbuh di kanan kiri jalan. Tempat ini bukanlah pemukiman warga. Hanya da bagunan bertembok tinggi yang Vina tidak tahu apa di baliknya.
Tiba-tiba dari arah belakang sebuah mobil menghadang mereka. Membuat Baron terpaksa mengerem mendadak dan mengagetkan Vina dan juga Tono.
__ADS_1
"Anj**g! Siapa sih, berani beraninya ngalangin jalan kita," umpat Baron.
Brak!!
Jendela mobil dipukul dengan keras dari arah luar.
Baron yang masih merasa emosi membuka jendela di samping kemudi, bersiap memuntahkan kemarahannya.
"Lo siapa?! Mau lo apa sebenarnya ngadang-ngadangin jalan orang hah?" Semprot Baron kepada laki-laki yang Vina amati bentuk badannya hampir sama seperti artis Hollywood Mike Tyson. Sangat berotot, woww!
"Keluar sekarang juga, " bentak orang asing itu dengan nada yang cukup tinggi.
"Gue gak mau, jangan gangguin urusan orang deh. Kita gak ada masalah sama lo," ucap Baron yang sedang malas membuat masalah.
Bukan apa-apa, dia saat ini sedang bekerja dan hendak membawa Vina kepada bosnya. Kalau saja hal ini terjadi di luar jam kerjanya dengan senang hati Baron menghajar mereka.
"Jangan banyak bicara, kalian keluar sekarang juga!" ucap Mike Tyson KW itu sambil memaksa membuka pintu mobil.
Baron yang emosinya terpancing pun akhirnya keluar dan menghampiri mereka. Baku hantam pun tidak bisa dihindarkan. Baron dikeroyok oleh empat orang yang Vina juluki sebagai gangster itu. Merasa temannya butuh bantuan Tono pun menyusul baron dan melakukan perlawanan. Pada akhirnya Vina pun sendirian di dalam mobil, kebingungan.
Karena panik melihat di depannya terjadi pertengkaran membuat vina gusar, namun beberapa saat kemudian dia kembali berfikir jernih. Otaknya mengatakan untuk segera lari, mumpung dua depkolektor itu sedang sibuk berkelahi melawan empat orang di sana.
Hingga cukup jauh kaki Vina berlari sampai mobil yang membawa nya tidak terlihat. Vina pun memutuskan untuk berhenti dan menetralkan nafasnya sebentar. Dia masih dalam keadaan berdiri namun membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada lututnya.
"Gila! Huh... untung aja gue akhirnya bisa kabur" ucapnya dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
Baru saja Vina kembali berjalan satu langkah. Tiba-tiba Vina merasa hidung dan bibirnya tertutupi oleh sebuah telapak tangan kasar.
"hmmpp!"
"Ssst! Diam," vina melotot. Di mendengar suara bass yang sangat dekat dari telinganya. Bahkan Vina bisa merasakan punggungnya menyentuh dada bidang seseorang yang dia tidak tahu siapa.
"Akhirnya kita bertemu lagi."
Bersambung...
__ADS_1