Cinta Pura-Pura

Cinta Pura-Pura
Tawaran Sebagai Pacar Kontrak


__ADS_3

Kania terkejut ketika tubuhnya didorong oleh seorang wanita tak dikenal. Lebih terkejutnya lagi dia mendengar kalau wanita ini mengaku sebagai pacar Affan. Apalagi saat melihat bagaimana gaya Vina yang merentangkan tangannya di depan Affan seperti seekor kucing yang melindungi makanan curian.


"Kamu siapa ngaku-ngaku pacarnya Affan, huh? Jangan ikut campur urusan orang lain deh. Pacarnya Affan itu cuma aku doang. Dia cuma cinta sama aku!" ujar Kania. Matanya menatap sinis ke arah Vina.


Vina yang akhirnya mengetahui nama laki-laki yang berdiri kaku di belakangnya pun tersenyum puas.


"Aduh, jangan ngaku-ngaku dong. Jelas-jelas sekarang  Affan udah sama aku. Kamu Kania kan? MANTAN pacarnya Affan yang nyelingkuhin dia di belakang. Ck ck... gak punya malu kamu ya, masih aja ngejar-ngejar pacar orang. Pasti kamu gak rela kan kehilangan sumber uang kamu!" sindir Vina sambil menyilangkan tangannya didepan dada.


"Jaga omongan kamu ya! Kamu tuh gak tahu apa-apa soal masalah kami berdua. Lagian kamu ngaca dulu deh. Penampilan buluk kaya kamu mana mungkin jadi pacarnya Affan. Gausah mimpi deh, pergi sana!" usir Kania sambil mendorong kecil bahu Vina.


Vina melotot mendengar hinaan yang keluar dari mulut Kania.


"Kurang asem, dia kalau ngomong bener banget lagi. Siapa juga yang mau macarin anak pabrik yang mukanya butek  bau asem macam gue" batin Vina membenarkan perkataan lawan debatnya.


Tapi bukan Vina namanya kalau gak bisa membalas perdebatan ini.


"Eh, enak aja ya kalau ngomong. Buluk-buluk begini, yang penting setia dan tulus. Daripada situ, cantik-cantik selingkuh. Masih ngemis-ngemis balikan lagi. Cuih.


Udah deh, terima aja nasib kamu. Sekarang pacarnya Affan tuh aku. Dia terima aku apa adanya apalagi dibandingin kamu yang tukang selingkuh," sindir Vina yang tentu saja telak membuat Kania keki.


"A-apa kamu bilang! Jangan pernah banding-bandingin aku sama cewek urakan kaya kamu ya! Affan gak mungkin punya pacar kaya kamu. Iya kan fan? Kamu gak mungkin pacaran sama cewek gembel yang statusnya jauh di bawahku ini kan?" desak Kania kepada Affan yang sejak tadi hanya diam dan menyaksikan perdebatan dua wanita di depannya.


Vina melirik laki-laki di belakangnya dengan was-was. Dia berada disini untuk membantu tanpa rencana, semua terjadi begitu saja. Tentunya respon laki-laki yang baru ditemuinya ini akan sulit ditebak. Kalau dia mau bekerja sama mengusir nenek lampir berdandanan menor di depannya maka semua aman.


Tetapi kalau laki-laki ini justru menepis perkataannya. Bayangkan saja betapa malunya Vina sebagai pahlawan kesiangan yang tiba-tiba ikut campur masalah orang asing. Padahal disini Vina  murni berniat membantunya untuk mengusir nenek lampir tidak tahu diri di depannya ini. Walau tidak dapat dipungkiri dia merasa sedikit menyesal ikut masuk dalam masalah orang.


"Dia… memang benar pacar baru saya," tegas Affan sambil tangannya melingkar di pundak Vina.


Perbuatannya yang tiba-tiba itu membuat Kania dan juga Vina merasa terkejut. Vina terkejut karena tangan laki-laki ini yang tiba-tiba merangkulnya sedangkan Kania merasa terkejut dengan jawaban Affan yang sangat jauh dari perkiraan. 


Vina menoleh ke arah Affan dengan wajah melongo kaget sekaligus lega. Sepertinya laki-laki ini tahu kalau Vina sedang membantunya.


Sedangkan Kania? Jangan ditanya lagi, matanya seperti akan keluar setelah mendengar pernyataan Affan.


"Kamu bercanda kan fan?" tanya Kania mencoba memastikan.

__ADS_1


"Untuk apa aku bercanda. Yang aku butuhkan adalah wanita tulus yang mau mendampingiku baik dalam keadaan susah maupun senang. Aku gak peduli sama sekali dengan penampilannya… bagiku dia baik dan sangat cocok menjadi istriku nantinya. Sedangkan kamu! Aku rasa aku tidak yakin kalau kamu akan bisa setia bersamaku. Karena kamu sudah mematahkan kepercayaanku.


Kamu juga paling tahu Kania, aku bukan orang yang mudah menerima kembali seseorang yang sudah pernah menghianatiku. Tidak ada orang yang ingin jatuh di tempat yang sama dua kali," tegas Affan.


"Gak Affan, kamu gak bisa giniin aku. Oh… aku hamil anak kamu loh. Kamu harus tanggung jawab atau…" Vina merasa panik karena Affan sama sekali tidak luluh pada usahanya. Satu-satunya cara adalah mengancam Affan kembali namun belum juga dia selesai mengatakan tuduhannya, ucapannya sudah lebih dulu dibantah oleh Vina.


"Iki himil inik kimi iffin. Kalau bohong yang pinteran dikit napa? Copas banget sih sama naskah sinetron TV yang biasa ditonton emak-emak. Eh Kanibal! Kalaupun lo hamil, bisa gue pastiin kalau itu bukan anaknya Affan. Lagian lo kan udah kepergok SELINGKUH dari Affan. Bisa jadi bukan Affan bapaknya kan?” ucap Vina sambil menekankan kata “selingkuh”.


“Lagian sayangku ini kan laki-laki baik. Gak mungkin sih dia hamilin apalagi kamu tuh bau… mmm bau apa ya sayang. Oh, baru inget ini sih bau-bau kemunafikan bwahahaha" sindir Kania tajam. Dia sengaja menggunakan kalimat non-formal karena menurutnya Kania bukan seseorang yang bisa diajak bicara dengan sopan. Menurut Vina tata krama tidak diperlukan dalam menghadapi jika orang tak tahu malu seperti Kania.


Orang-orang yang sejak tadi menyaksikan keributan yang dibuat oleh mereka bertiga kini mulai berbalik mencibir Kania yang ternyata berbohong dan berselingkuh.


Affan hanya tersenyum mendengar setiap kata demi kata yang diucapkan wanita di depannya. Membiarkan Vina yang saat ini sedang bergelayut manja di lengannya sebagai bagian dari sandiwara mereka. Affan malah membalas Vina dengan pelukan yang membuat Vina merasa sedikit risih. Namun dia harus menahannya agar tidak ada yang curiga dengan sandiwara dadakan yang mereka buat.


Kania yang merasa terintimidasi dengan pandangan orang di sekelilingnya merasa tidak nyaman. Dia pun memutuskan untuk pergi dari sana.


"Ingat ya Affan aku gak akan pernah lepasin kamu lain waktu," ancam Kania sebelum melangkah pergi.


Suasana taman mulai terasa kembali normal setelah sumber keributan itu pergi. Orang-orang yang sebelumnya diam-diam menonton kini kembali pada aktivitasnya masing-masing. Kini tinggalah Vina dan Affan yang terdiam dalam kondisi yang masih berpelukan. Sebelum beberapa detik kemudian keduanya sadar dan saling melepaskan diri.


Bagaimana tidak, bisa-bisanya dia memeluk laki-laki yang belum dia kenal sebelumnya.


"Tidak apa, saya seharusnya malah berterima kasih atas bantuanmu. Wanita itu sangat mengganggu, terima kasih sudah membantu saya untuk mengusirnya" ucap Affan tulus.


"Ah, gapapa kak. Maaf tadi aku nguping pembicaraan kakak sama cewek tadi terus terbawa suasana deh, jadi kesannya lancang sama kakak. Padahal kita gak saling kenal sebelumnya," jelas Vina sambil cengengesan. Sedikit merasa tidak enak hati mengingat ini pertama kalinya keduanya bertemu.


"Saya sama sekali tidak keberatan. Malah saya sangat berterima kasih karena kamu sudah membantu saya untuk keluar dari situasi yang sangat awkward ini," Affan tersenyum manis menjawab ucapan Vina.


 "Jadi, apa yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kamu?" tanya Affan.


"Hah? Gak usah kak. Aku ikhlas kok bantuin kakak. Aku juga kesel ngeliat cewek itu yang seenaknya sendiri," jelas Vina.


"Gak, saya tidak suka berhutang budi. Bagaimana kalau kamu saya traktir makan malam sebagai bentuk rasa terimakasih saya sama kamu?" tawar Affan.


Vina terlihat berpikir keras. Hal yang menjadi pertimbangannya adalah, karena Affan adalah orang asing baginya. Namun disisi lain, dia juga butuh makan. Tentu saja sebagai pengangguran yang banyak tanggungan sepertinya, makanan gratis adalah sesuatu yang sangat menggiurkan.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa kamu mau?" desak Affan sekali lagi.


"Baik kak aku mau," dengan senyuman sumringah dan anggukan antusias 


akhirnya Vera pun memutuskan untuk menerima ajakan Affan. 


Akhirnya keduanya pun beriringan untuk menuju ke dalam mobil Affan yang terparkir rapi di parkiran kantor, setelah itu pergi menuju rumah makan yang ingin Affan datangi untuk mentraktir Vina.  


Waktu memang sudah beranjak senja, dan langit pun semakin menggelap seiring dengan menghilangnya sumber cahaya matahari. Sekitar 30 menit perjalanan yang harus menembus kemacetan kota jakarta keduanya pun sampai di sebuah Restoran dengan gaya yang cukup mewah.


...****************...


Affan dan Vina akhirnya sudah menyelesaikan makan malam. Vina yang untuk pertama kalinya makan di sebuah restoran mahal merasa sangat puas dan senang. Apalagi Affan memesankannya banyak makanan enak karena dia merasa tidak enak dan tidak tahu bagaimana cara memesan makanan di restoran malah seperti ini.


"Vina, saya sangat berterima kasih atas bantuanmu tadi. Tapi ada satu hal lagi yang saya ingin saya bicarakan dengan kamu?" ujar Affan dengan nada serius. Wajah datar dan tegas milik Affan sedikit membuat Vina was-was akan apa yang terjadi selanjutnya. Dia merasa seperti di sidang di guru BK karena sering bolos sekolah.


"Tidak usah tegang begitu, saya hanya ingin menawarkan suatu kerja sama denganmu," balas Affan sambil terkekeh geli melihat reaksi Vina yang terlihat ketakutan padanya.


Melihat senyuman manis dan tawa renyah yang baru pertama kali Affan perlihatkan padanya membuat Vina terpana akan ketampanan laki-laki yang duduk tepat di hadapannya sekarang ini.


"Gila, ganteng banget ini orang. Mimpi apa gue semalem bisa ketemu orang seganteng dia," bantin Vina ganjen. Parahnya dia baru menyadari ketampanan laki-laki di depannya sekarang.


"Oh, iya kak. Kerjasama seperti apa ya kak. Sepertinya aku bukan orang yang cocok untuk diajak kerjasama deh," jawab Vina, pesimis.


Affan menggeleng yakin.


"Tidak, justru kamu adalah orang yang tepat untuk kerja sama ini, baru saja kamu sudah membuktikannya," ujar Affan yang membuat Vina semakin penasaran.


Memangnya kerja sama macam apa yang bisa dilakukan oleh mantan karyawan pabrik yang berwajah kusam dan berpenampilan seadanya seperti dirinya. Uang buat hidup seminggu aja Vina belum tentu cukup.


"Memangnya kerja sama apa itu kak?" tanyanya penasaran.


"Apa kamu mau menjadi pacar saya?" tanya Affan dengan nada datar. Tanpa tahu jantung lawan bicaranya terasa ingin copot mendengar ucapannya.


"APA PACAR?!" 

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2