Cinta Pura-Pura

Cinta Pura-Pura
Menandatangani Kontrak


__ADS_3

Segelas coklat hangat yang asapnya masih mengepul, menguarkan aroma kakao yang merilekskan otot-otot tubuh yang tegang.


Kedua tangan Vina pun merasa hangat ketika memegang gelas itu. Ketika Vina meminum cairan berwarna coklat kehitaman tersebut lidahnya merasa dimanjakan dengan rasa manis dan sedikit pahit khas olahan biji buah kakao itu.


Saat ini Vina berada di sebuah apartemen yang dia sendiri tidak tahu ini berada di daerah mana. Tadi, ketika dirinya berhasil melarikan diri dari depkolektor, ada seseorang yang tiba-tiba menyekapnya dan membawanya bersembunyi di sebuah gang.


Awalnya Vina sangat ketakutan. mengira akan diculik dan dilecehkan. Apalagi tempat tadi begitu sepi dan tidak ada kendaraan yang lewat sama sekali. Tapi semua kekhawatirannya sirna ketika sosok itu melepaskan Vina dan menunjukkan wajahnya.


Ya, ternyata orang tersebut  adalah Affan. Affanlah menyelamatkannya dari depkolektor jahat itu. Apalagi setelah Vina tahu kalau mobil yang mencegatnya serta laki-laki berbadan kekar dan teman-temannya tadi juga adalah orang suruhan Affan. Vina merasa seperti mendapat air segar di tengah gurun gersang. Lega, itulah yang Vina rasakan.


Vina kini duduk diatas sebuah sofa berwarna putih gading yang terasa begitu empuk dan lembut. Walaupun tubuhnya masih gemetaran, namun matanya masih sempat mengamati sekelilingnya. Satu hal yang bisa Vina tangkap dari suasana apartemen Affan, yaitu elegan. Tempat ini didominasi dengan warna abu muda juga warna putih dan sedikit aksen hitam. Tentu saja orang miskin sepertinya belum pernah menginjakkan kaki di sebuah apartemen.


suara deheman mengingatkan Vina kalau dirinya sedang tidak sendirian di tempat ini. Tepat di depannya ada seorang laki-laki sedang menatapnya intens, membuat Vina merasa kikuk.


“Um, kak. Terima kasih banyak kakak sudah menolongku hari ini” ucap Vina setelah beberapa menit yang lalu ruangan ini hening tanpa sedikitpun suara. Mungkin, Vina pikir Affan sedang memberikannya waktu untuk menenangkan diri.


“Sama-sama,” balas Affan singkat.


Vina diam, dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi, otaknya buntu. Jujur saja dia berharap Affan segera memulai pembicaraan kembali dan suasana canggung yang mengganggu ini segera pergi.


“Apa kamu masih ingat dengan tawaran yang saya berikan tempo hari?” Vina menghembuskan nafas lega, akhirnya laki-laki itu bicara juga.


“Tentu saja masih, tapi…” ujar Vina ragu.


“Kamu masih perlu waktu untuk memikirkannya?” sambung Affan.


“Dengar Vina, saya rasa kamu sedang tidak berada di situasi untuk bisa mengulur waktu lagi bukan? Tenang saja, segera setelah kamu menyetujui kontrak perjanjian sebagai kekasih atau pacar saya. Semua hutang yang kamu punya akan lunas,” Affan terlihat begitu santai dan percaya diri mengatakan itu, seakan dirinya sudah benar-benar yakin kalau Vina akan menjawab “ya”.


Mendengar ucapan Affan tentu saja membuat Vina terkejut. Mendengar kalau Affan yang menyelamatkannya dengan membawa gerombolan bodyguard yang membuatnya dapat lolos dari depkolektor tadi saja membuat Vina masih bertanya-tanya bagaimana Affan bisa mengetahui kalau dirinya sedang berada dalam situasi genting. Apalagi sekarang, Affan bahkan mengetahui kalau dirinya memiliki hutang. Dari mana laki-laki ini tahu?


“Tentu saja saya tahu, karena semenjak kamu pulang hari itu tidak sedikitpun kamu lepas dari pengawasan saya, asal kamu tahu” belum juga Vina mengatakan keheranannya ternyata Affan sudah lebih dulu menjawab pertanyaan Vina.


Mendengar penjelasan itu pun membuat Vina menghela nafas panjang. Tentu saja lepas begitu saja dari orang kaya tidaklah mudah, apalagi dirinya yang dijadikan targetnya. Tapi Vina bersyukur atas hal itu, karena sebab itu dirinya bisa lepas dari depkolektor yang tentu saja membawanya untuk alasan yang tidak baik terlepas atas kewajibannya untuk membayar hutang pada mereka.

__ADS_1


“Aku yakin kakak sudah bisa menebak jawabanku bukan? Ya! Memangnya apa lagi yang bisa ku lakukan saat sedang dalam keadaan terpepet seperti ini. Lagi pula, selama kakak berjanji membiayai hidupku setidaknya aku tidak perlu khawatir lagi tentang hutang, sewa kos, dan juga biaya makan ku nanti,” Vina mengusap sisa coklat yang menempel di bibirnya lalu kembali melanjutkan ucapannya, “ku rasa itu bukan pilihan yang buruk.”


Affan yang sejak tadi duduk santai di sofa yang tepat berada di seberang Vina terlihat menyunggingkan senyum puas. 


“Kalau begitu kamu bisa tanda tangani berkas ini. Kamu bisa membacanya dulu dan katakan jika ada poin persetujuan yang ingin ditambahkan," ujar Affan sambil menyodorkan sebuah berkas yang berisi kontrak hubungan pura-pura antara keduanya.


Vina meraih berkas tersebut dan membacanya. Di dalam selembar kertas itu terlihat ada kurang lebih sepuluh poin dimana diantaranya adalah tugas yang harus Vina lakukan, menjaga rahasia, juga penegasan untuk tidak membawa perasaan satu sama lain. Untuk poin itu Vina merasa tidak keberatan karena dia yakin kalau dirinya bisa melakukan itu semua. Namun matanya tiba-tiba melotot ketika melihat keuntungan yang Vina dapat. 


"I-ini? Apa kakak yakin?" Vina menunjuk salah satu poin di dalam perjanjian kontrak.


Affanpun mengalihkan pandangannya pada tempat yang sedang Vina tunjuk.


"Ya! Bukankah sudah saya bilang. Setelah kamu menyetujui perjanjian ini, maka saya akan menjamin hidupmu. Termasuk dengan gaji dan juga apartemen ini," jawab Affan dengan begitu tenangnya.


Sedangkan Vina, hampir  sesak nafas karena tidak percaya dengan apa yang dia dapatkan dalam waktu singkat hanya karena untuk sebuah tanda tangan.


"Jadi, apakah kamu mau menandatangani kontrak ini atau tidak?" tanya Affan ketika melihat Vina yang masih bengong.


"Tentu! Aku akan menandatanganinya sekarang juga," ucap Vina mantab. Selain sadar bahwa posisinya sekarang memang tidak memiliki jalan keluar lain dari masalah hidupnya. Vina juga tidak munafik kalau tawaran yang Affan berikan begitu menarik. Siapa juga manusia yang menolak jaminan kehidupan yang stabil dan berkecukupan. Selama dia tidak mendapatkannya dengan menjual harga diri atau merampas hak orang lain, Vina tentu saja tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.


"Sudah, kak."


"Bagus, sekarang saya akan pergi. Mulai sekarang, kamu bisa tinggal disini dan melakukan apapun yang kamu mau. Tempat ini sudah menjadi milikmu," ucap Affan sambil merapikan berkas kembali pada tas kerjanya.


Setelah itu Affan bangkit dari duduk dan menuju kearah pintu.


Sebelum menarik gagang pintu Affan berhenti sejenak, "Saya akan kesini lagi menjemput kamu dua hari lagi untuk mempersiapkan dirimu bertemu dengan keluarga saya," setelah itu Affan pun segera pergi meninggalkan Vina sendiri.


Setelah sepeninggalan Affan, Vina masih tidak percaya dengan apa yang terjadi baru saja. Gadis itu menepuk-nepuk pipinya memastikan kalau dirinya tidak sedang bermimpi sekarang. Tentu saja akibat ulahnya dia merasa pipinya memerah dan sakit. Tapi bukannya meringis dia justru jingkrak-jingkrak kesenangan.


“Astoge, gue beneran gak mimpi ini kan? Sekarang gue punya rumah!”


 Vina berlarian ke setiap ruangan yang ada di apartemen itu, mengelus perabotan disana yang menurutnya mahal. 

__ADS_1


Dia memekik senang saat menemukan kamar tidur yang ada di sana. Apartemen ini terdiri dari ruang tamu, pantry, balkon, dan tiga ruangan kamar yang sama besarnya. Bibirnya tak henti-hentinya menggumam takjub dan sesekali memekik riang. 


Setelah puas berkeliling Vina akhirnya memutuskan untuk memilih kamar paling ujung yang memiliki balkon kamar. Disana dia bisa melihat pemandangan Kota Jakarta dengan jelas.


Setelah akhirnya gadis itu merasa lelah, dia pun merebahkan tubuhnya diatas kasur. Vina sedikit terkejut. Tidak menyangka kalau kasur yang dia tiduri terasa selembut ini. Dia merasa sedang tertidur diantara tumpukan bulu angsa.


"Hidup memang ga ada yang tau. Tadi gue hampir aja di bawa ke rentenir. Sudah pasti kalau gak dijual ya di jadiin istri entah yang keberapa tuh sama si bosnya. Untung ada si Affan yang nolongin. Eh tiba-tiba gue jadi kaya lagi. Cuma jadi pacar pura-pura semua yang gue butuhin bakalan di penuhin sama dia. Huh, nyesel kenapa gak dari kemarin-kemaren terima tawaran dia. Kalau gini gue kan bisa tidur dengan tenang," gumam Vina sambil menggeliat memperbaiki posisi tidur yang pas.


Karena tubuhnya terasa capek, Vina merasakan matanya mulai berat dan perlahan memburam. Hanya butuh waktu sekian detik saja untuknya jatuh tertidur. Kali ini dia bisa tidur dengan damai tanpa harus memikirkan uang untuk setiap tanggungannya.


***


Di sebuah Mall terbesar di ibukota Affan membawa Vina memasuki sebuah toko pakaian dan juga aksesoris dengan brand yang cukup terkenal mahal.


"Beberapa set pakaian dan aksesoris yang cocok untuknya," ujar Affan pada karyawan toko tersebut. 


"Baik, pak. Nona mari ikuti saya untuk mencarikan baju yang cocok untuk anda," pegawai toko itu melakukan apa yang Affan minta, dan mengajak Vina untuk melihat-lihat dan mencocokkan beberapa hal dengan tubuhnya.


Setelah beberapa waktu berlalu Vina kembali dengan sebuah dress bermotif bunga daisy yang terlihat sangat cocok di tubuh rampingnya. Ditambah dengan sebuah tas selempang berwarna putih yang melintang di pundaknya. Vina mendekat ke arah Affan yang terlihat santai duduk di sofa tunggu sambil melihat-lihat katalog yang disediakan di sana.


"Kak. Bagaimana, apa ini cocok untuk bertemu keluargamu?" tanya Vina agar dia tidak melakukan kesalahan. Sungguh, dia sangat buta sama sekali tentang acara yang dilakukan oleh orang-orang kaya.


Affan yang melihat Vina dengan dress yang terlihat sangat pas di tubuh gadis itu sempat membuatnya terpukau sesaat. Sebelum akhirnya dalam waktu beberapa detik di mampu mengkondisikan kembali raut wajahnya.


"Cukup bagus," Affan berkomentar singkat. Setelah itu dia berdiri dan meraih dompet yang berada di saku celananya. Dia pun mengeluarkan sebuah kartu berwarna gelap pada karyawan yang setia menunggu permintaan pelanggannya.


"Ini! Tolong bungkus semuanya. Ah, juga ambilkan tiga setelah ini juga," ujar Affan sambil menunjuk gambar baju yang ada pada katalog yang ada di tangan nya.


"Baik, pak. Silakan tunggu sebentar," jawab karyawan wanita itu sopan.


Semuanya tampak normal selain Vina yang terperangah dengan apa yang dilakukan oleh Affan. Laki-laki itu benar-benar sudah gila. Dia memborong hampir semua barang yang dikembalikan oleh karyawan tadi. Padahal mata Vina sudah hampir copot ketika dia iseng mengintip logo harga yang bukan main itu.


"Buset dah, ini cowo beli barang branded udah kaya beli cilok aja," batin Vina meringis ngeri.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2