
Jalanan kota jakarta memang sudah lekat dengan kata "macet". Itu adalah pemandangan wajib yang dilihat oleh warga kota metropolitan ini. Vina kini sedang duduk bersama Affan dalam sebuah mobil Alphard putih yang tengah melaju membelah jalan raya.
Bak seorang Cinderella yang berubah dalam satu malam. Vina yang sebelumnya hanyalah pegawai pabrik yang kusam dan berpakaian norak, kini berubah menjadi wanita cantik dengan dress navy sepanjang lutut dengan potongan yang pas di tubuhnya.
Vina masih tidak percaya, sepanjang perjalanan dirinya masih saja menatap pantulan wajahnya dari kaca mobil. Pantulan wajah ayu di sana terasa asing, hebat sekali rupanya penata rias yang Affan pilih sehingga mampu merubah wajah jelata Vina menjadi seorang gadis anggun nan manis ini.
"Gila! Ini beneran gue kan? Kenapa bisa beda banget. Ahh jadi ini yang disebut make up bisa merubah segalanya?" sesekali tangan Vina menoel-noel pipinya sendiri, memastikan apa yang dilihat matanya memang asli wajah miliknya sendiri.
"Ehem," sebuah suara deheman mengalihkan atensi Vina.
Vina menoleh ke arah Affan yang duduk tepat di sampingnya.
"Ingat apa yang saya katakan kemarin, jangan sampai melakukan kesalahan kamu mengerti?" ucap Affan dengan pandangan yang masih tertuju pada layar ipad miliknya.
"Siap kak, tenang aja," balas Vina mantab.
"Bagus! Sebentar lagi kita akan sampai. Jadi kamu siap-siap saja mulai sekarang," kali ini Affan mengatakannya sambil menatap mata Vina dengan tatapan tajam miliknya.
"I-iya kak," jawab Vina gugup, siapa juga yang kuat kalau tiba-tiba ditatap oleh laki-laki seperti Affan yang tampan dan penuh kharisma. Vina harap suara degupan jantungnya tidak sampai terdengar oleh laki-laki di sampingnya itu.
Affan melirik malas pada Vina,
“Sudah saya bilang berapa kali?! Panggil saya Affan," geram Affan karena Vina masih saja memanggilnya dengan sebutan kak.
"Ah iya ka- eh Affan. Aku lupa, hehe" sahut Vina gugup.
Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di depan sebuah sebuah rumah yang berada di kawasan perumahan elit mobil keduanya pun berhenti dan terparkir pada halaman yang sangat luas.
__ADS_1
Mereka berdua akhirnya memasuki rumah tiga lantai yang terlihat sangat megah. Ternyata di balik pintu utama sudah berdiri seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik meskipun di umur yang sudah memasuki kepala 5. Dia adalah Amira, Mamanya Affan. Perempuan paruh baya itu terlihat sangat elegan di mata Vina. Bisa Vina lihat bagaimana barang-barang branded dengan harga yang pastinya fantastis menghiasi tubuhnya.
"Oh… jadi ini wanita yang ingin kamu kenalkan kepada Mama fan?" tanya Mama Affan dengan nada dingin. Matanya memindai Vina dari ujung kepala sampai ujung kaki, seakan mencari celah kesalahan pada diri Vina. Melihat tatapan intimidasi yang berasaL dari wanita di depannya, tentu saja membuat rasa takut Vina bergejolak. Tanpa bisa dicegah kalau saat ini kedua kakinya mulai bergetar. Sebab dirinya takut melakukan kesalahan yang menyebabkan Affan marah. Lalu mengakibatkan semua yang dia dapatkan kemarin akan hilang karena sandiwaranya gagal bahkan sebelum dimulai.
Berbeda dengan Vina yang tengah merasa ketakutan menghadapi Mamanya, Affan justru dengan santainya mengangguk sambil mulai memperkenalkan Vina kepada sang mama.
"Perkenalkan mah, ini Davina. Pacar Affan," tegas Affan sambil menarik tangan Vina agar lebih mendekat padanya.
Hening. Situasi yang sangat menggetarkan mental ini membuat Vina serasa ingin menyerah saja. Wanita paruh baya di depannya hanya diam menatapnya datar, sedangkan laki-laki yang sedari tadi sudah merangkul pinggangnya juga hanya diam saja. Jujur saja, Vina benar-benar bingung harus bersikap bagaimana.
“Duh, gue harus ngapain nih,” pikir Vina gugup. Akhirnya karena merasa resah dengan situasi ini Vina pun memutuskan untuk mulai berbasa-basi sedikit untuk mencairkan suasana.
“Tan-” belum juga satu kata terucap dari bibir Vina, tiba-tiba ucapannya terpotong.
Sebuah pelukan hangat tiba-tiba melingkupi tubuh Vina. Seketika otot tubuhnya menegang, pikirannya kosong karena terlalu terkejut dengan apa yang terjadi saat ini.
Mama Affan tanpa aba-aba memeluknya. Bahkan dapat Vina rasakan punggungnya di tepuk-tepuk dengan hangat.
Sebenarnya bukan hanya Vina yang terkejut dengan perlakukan sang mama. Bahkan Affan saja tidak memprediksi kalau mamanya akan dengan mudah menyambut Vina. Padahal Affan sudah menyiapkan segala hal.
“Kamu sepertinya tidak salah pilih fan, Vina kelihatan adalah gadis yang baik dan cerdas,” ujar mama Affan.
Mendengar hal itu Affan pun tersenyum puas. Seperti apa yang dia duga sebelumnya kalau mamanya akan menyukai Vina dalam sekali lihat. Semua berjalan sesuai rencananya, dan dia merasa lega akan hal tersebut.
Hingga pada akhirnya mereka bertiga duduk bersama di ruang tamu. Kedua wanita berbeda usia itu tampak akrab duduk bersisian di sebuah sofa empuk, sedangkan Affan harus rela duduk sendiri di seberang mereka dan sedikit terasa diabaikan. Sungguh malang.
di sana mama afan banyak mau menanyakan berbagai macam pertanyaan kepada Vina seperti apa latar belakang pendidikannya pekerjaannya keluarganya dan semua itu dijawab Vina dengan baik sesuai dengan apa Alfan katakan kepadanya sebelum ini.
__ADS_1
tentu saja mendengar setiap jawaban dari Vina mama afan terlihat sangat puas
Sudah mama duga kamu memang secantik dan sebaik apa yang Mama kira sejak pandangan pertama.
Affan kenapa kamu selama ini menyembunyikan hubunganmu dengan Vina, kalau saja kamu membawanya dari awal mana mungkin mama memaksa kamu untuk melakukan perjodohan. "ucap Mama Affan
"Maaf mah bukannya afan ingin menyembunyikan hubungan ini tapi akan terlalu sibuk sampai lupa mengenalkan Vina kepada Mama," dusta Affan.
"Dasar kamu ini! Bisa-bisanya ada orang yang lupa mengenalkan kekasihnya pada orang tua. Kamu ini memang terlalu dingin. Sama seperti papamu cih," omel mama.
"Kamu harus sabar ya Vina, menghadapi orang macam dia memang perlu banyak stok kesabaran," ujar mama pada Vina yang kini sudah duduk bersamanya di atas sofa.
"I-iya tante," jawab Vina canggung.
Sedang Affan hanya melihat interaksi keduanya dengan tenang. Sesekali dia menyeruput kopi hitam yang sudah disiapkan untuknya.
"Baguslah, sekarang mama sudah lega kamu memiliki kekasih. karena kalian sudah menjalin hubungan selama 2 tahun kenapa harus lama-lama lagi. Ayo! lebih baik segera merencanakan pernikahan bukan?" ujar mama.
"Apa?! Menikah!"
"Me- nikah!!"
Pekik Affan dan Vina bersamaan setelah mendengar ucapan dari Mama Affan yang membuat jantung Vina hampir lepas dari tempatnya.
Otaknya langsung memikirkan masa depannya yang suram dan penuh penderitaan karena berani-beraninya dirinya membohongi Keluarga Kusuma. Untuk batas pacaran mungkin dia masih bisa selamat kalau ketahuan. Tapi kalau dirinya bersandiwara sampai bahkan harus melakukan pernikahan, maka ketika dia ketahuan sudah pasti hukumannya tidaklah ringan.
"Astaga, pantas saja Affan berani menawarkan banyak keuntungan buat gue. Kenyataannya resiko buat melakukan sandiwara ini memang bukan main-main" batin Vina geram.
__ADS_1
Tamat sudah hidup seorang Davina sekarang.
To be Continued …