Cinta Pura-Pura

Cinta Pura-Pura
Tawaran Menggiurkan


__ADS_3

"APA PACAR!" pekik Vina dengan suara cukup keras.


Menyadari suaranya yang lumayan kencang, Vina reflek menutup mulutnya sambil melirik kanan kiri malu. Maklum kebiasaan makan di warteg sama teman-teman pabriknya jadi dia terbiasa berbicara dengan suara full power.


Affan yang melihat kelakuan Vina hanya bisa menghela nafas. Selebihnya dia tidak peduli dengan pandangan orang lain. Hanya saja, Affan merasa akan ada banyak PR untuk melatih Vina ketika bertemu keluarganya nanti. Ya... Jika Vina mau menyetujui idenya tentu saja.


"Tidak usah terkejut begitu. Saya hanya ingin kamu berpura-pura menjadi pacar saya di depan orang tua saya nantinya. Bagaimana? Apakah kamu tertarik?" jelas Affan, karena dia tahu pasti gadis di depannya ini mengira dia mengajaknya pacaran sungguhan, "Kalau kamu mau menyetujui kerja sama ini, saya akan menggajimu sebanyak 10 juta per bulan," Affan tahu benar di dunia ini uang adalah segalanya. Maka tidak tanggung-tanggung dia menawarkan uang dengan jumlah besar kepada Vina agar gadis itu tertari.


Benar saja, terliht dari binar mata Vina yang tercengang mendengar nominal yang Affan sebutkan. Namun, hanya beberapa detik tatapan itu berganti dengan tatapan takut.


"A-apa?! Se-sepuluh juta?" ucap Vina yang mendadak gagap. Hatinya benar-benar tidak siap mendengar tawaran menarik itu. Akan tetapi di sisi lain Vina juga takut akan resiko yang dirinya tanggung nantinya.


Affan mengangguk dengan yakin sebagai jawaban dari pertanyaan Vina.


Untuk beberapa saat keduanya diam. Vina sedang asik mencerna tawaran dari Affan


Sedangkan yang memberikan tawaran justru tengah asik memperhatikan wajah kaku Vina yang sepertinya masih sangat kaget dengan apa yang dirinya katakan.


“Apa kakak yakin?” Vina melihat penampilannya sendiri, secara jelas terlihat betapa mencoloknya perbedaan diantara keduanya. Orang bodoh mana yang akan percaya seorang Affandra sang pengusaha sukses bersanding dengan Davina si gadis lusuh yang berasal dari pemukiman kumuh. 


“Mana ada yang percaya kalau kakak memiliki pacar sepertiku yang buluk ini hahaha” gurau Vina mencoba mencairkn suasana. Dia pikir tawaran itu adalah lelucon Affan, jadi Vina bisa merasa sedikit tenang.


“Saya 1000% yakin. Kamu tidak usah khawatir. Saya yang akan mengurus segalanya nanti. Tugasmu hanya tinggal menyetujui kontrak dan bersandiwara semeyakinkan mungkin di depan orang tua saya. Boom, setiap bulan rekeningmu akan terisi,” jelasnya.


Baiklah, sepertinya laki-laki ini memang serius dengan tawarannya.


"Kalau saya mau, apa yang harus saya lakukan nantinya?" tanya Vina ragu.


Affan tersenyum tipis melihat gelagat Vina yang terlihat gundah.


"Kamu hanya perlu berpura-pura  menjadi pacar saya yang sudah menjalin hubungan selama dua tahun dan beberapa skenario yang saya buat," jelas Affan singkat.


"Jadi aku harus berbohong pada keluarga kakak nanti?"

__ADS_1


"Ya, bisa dibilang begitu," jawab Affan santai.


Vina berpikir lagi, ini mungkin adalah kesempatan yang bagus untuknya agar mendapatkan uang untuk melunasi hutang-hutang peninggalan orang tuanya. Dia juga tidak hanya bisa membayar sewa kamar kos. Bahkan jika Vina mau, dia bisa membeli satu kos-kosan nya sekalian kalau apa yang dikatakan oleh Affan itu sungguhan.


Tapi semua bayangan dengan uang gepokan itu hilang seketika saat gambaran mengenai bagaimana sulitnya jika dirinya harus berurusan dengan orang kaya. Ayolah, Vina hanyalah seekor semut kecil di antara kawanan gajah di depan mereka. Salah-salah dia bisa habis diinjak olehnya.


Vina bergidik geli membayangkan adegan Sinetron TV klasik yang dulu sering ditonton oleh mendiang mamanya. Adegan ketika orang tua dari tokoh utama pria menyiksa tokoh wanita karena tidak menyetujui hubungan diantara keduanya. Vina menggelengkan kepala mencoba mengusir pikiran buruk dari otaknya.


"Kamu tidak mau?" tanya Affan ketika dia melihat Vina menggelengkan kepalanya.


"Ah bukan begitu kak," sanggah Vina cepat. Dia sendiri sebenarnya bimbang, di satu sisi dia sedang sangat membutuhkan uang, namun disisi lain dia juga tahu kalau apa yang ditawarkan oleh Affan adalah sebuah bentuk penipuan publik. Tentu saja Vina sudah memiliki banyak gambaran terburuk apabila sandiwara keduanya terbongkar nantinya. Otomatis pihak yang paling bersalah ada Vina. Karena disini Vina tidak memiliki dukungan dari siapapun. Dia hanyalah gadis yatim piatu miskin yang berjuang keras demi melanjutkan hidup.


"Apa boleh kasih aku waktu buat memikirkannya dulu?" pada akhirnya Vina meminta waktu kepada Affan untuk memikirkan keputusannya terlebih dahulu.


Untuk beberapa saat Affan hanya menatap datar ke arah Vina. Tindakannya itu tentu saja membuat gadis itu merasa takut. Dia takut kalau Affan merasa tersinggung dengan jawabannya. Lebih takut lagi kalau dirinya tiba-tiba harus membayar semua hidangan yang sudah di pesan di atas meja. Mau bayar pakai apa coba?


"Baiklah," ujar Affan yang langsung membuat hati Vina merasa lega, "saya akan memberikan kamu kesempatan untuk memikirkannya selama tiga hari.


Jadi kamu bisa berpikir dengan baik-baik sebelum saya datang dan menagih jawaban darimu. Tentu saja saya berharap jawabannya nanti akan sesuai dengan apa yang saya harapkan," tutur Affan sembari menatap lekat kedalam sepasang netra Vina yang berwarna coklat gelap.


"B-baik kak," sahut Vina.


"Oke. Apa kamu sudah selesai makannya, Vina?"


Vina menggigit bibir bawahnya ragu,


"Sudah kak," ucapnya lirih.


Perutnya memang sudah kenyang. Namun matanya menatap sayang pada makanan yang masih banyak tersisa di atas meja makan.


"Baiklah, kalau begitu mari kita pulang. Kamu sekalian saya antarkan ke rumahmu juga," ajak Affan.


Vina mengangguk dan mengikuti Affan untuk berdiri dan bersiap meninggalkan meja makan.

__ADS_1


"E-eh... tunggu kak," panggil Vina ketika Affan hendak melangkah pergi.


Affan menaikkan sebelah alisnya heran. Apa lagi sebenarnya yang diinginkan oleh gadis ini, pikirnya.


"Boleh gak kalau aku bungkus makanan ini buat dibawa pulang?! hehehe" ucap Vina sambil cengengesan.


*******


Di dalam sebuah kamar kos sempit berukuran 3×3 meter, terlihat seorang gadis tengah berbaring malas diatas kasur lantai miliknya. Netranya menatap datar pada plafon kamar yang sama kosongnya dengan hatinya.


 "Huh, laper," keluh Vina sambil mengusap perutnya.


Akhirnya dengan gontai Vina beranjak dari kasur kesayangannya untuk menuju dapur dan mencari apa saja yang bisa dia makan. Beruntung, masih ada nasi yang dimasak kemarin sehingga dia tidak perlu memasak nasi yang tentunya memerlukan waktu lagi untuk matang. Padahal perut Vina sudah sangat sangat kelaparan.


"Untung aja masih ada nasi sisa kemarin,"gumam Vina.


Untuk makan Vina menggoreng telur mata sapi dan memanaskan sisa ayam tepung yang dibungkus dua hari yang lalu dari restoran tempat Affan mentraktirnya makan malam kemarin.


Sambil menggoreng ayam agar lebih hangat untuk dimakan, Vina kembali teringat dengan tawaran yang diberikan oleh Affan sebagai pacar pura-pura. Hari ini adalah hari kedua setelah pertemuan mereka. Itu berarti besok adalah hari dimana Vina harus memberikan jawaban untuk Affan.


"Gimana nih, gue masih belum tau lagi mau terima tawaran kakak itu. tapi kalau gak diterima gimana nasib gua nanti coba? bisa dibilang ini adalah salah satu harapan terakhir gue buat bertahan," lagi-lagi Vina berbicara sendiri seperti orang gila. Kini dirinya sudah duduk lesehan di lantai kamar kosnya, sambil menyuapkan nasi beserta lauknya kedalam mulut.


Setidaknya Vina beruntung karena memilih untuk membantu Affan kemarin. Sehingga dua hari ini dia tidak perlu memikirkan lauk makannya karena makanan yang Vina minta untuk dibungkus ketika mereka berdua pulang dari restoran. Sangat berguna untuk mengirit pengeluar Vina yang terbatas.


"Kayaknya gue emang harus terima tawaran si Affan itu deh, bodo amat tentang apa yang terjadi nantinya. Lagian hidup gua udah kaya makan buah simalakama. Mau nolak ga yakin gue bisa hidup lebih dari satu bulan, tapi mau terima juga harus siap sama resiko berurusan sama orang yang punya kuasa," gumam Vina sambil terus mengunyah makanannya.


Tidak butuh waktu yang lama untuk Vina menuntaskan kegiatan sarapannya yang disambung dengan makan siang. Setelah kenyang Vina pun mencuci piringnya lalu hendak kembali rebahan di kasurnya yang nyaman. Sayangnya, rencananya gagal karena tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya dengan kasar.


"Aihh, siapa sih itu? ganggu aja orang mau males-malesan," sungutnya sambil tetap pergi untuk membukakan pintu. Kebetulan kos Vina memang tipe kos yang pintunya langsung menghadap ke jalan.


Dengan raut kesal Vina membuka pintu kamarnya, namun raut wajahnya berubah pucat ketika melihat siapa yang tengah berdiri didepan kamar kosnya sekarang. 


Tiba-tiba Vina menyesal langsung membuka pintu tanpa melihat dulu siapa yang datang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2