
Iren menatap makanan di depannya dengan mata berbinar, ia bangga pada dirinya sendiri karena berhasil memasak menggunakan tangannya sendiri.
Hari ini, ia sengaja memasak dengan tangannya sendiri karena berharap bisa makan malam bersama Albi, suaminya. Terlebih lagi, hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama.
Setelah puas memandang masakan yang telah ia buat dan terhidang rapih di atas meja makan, Iren pun berbalik dan pergi ke kamarnya, untuk bersiap-siap.
Setelah mandi, Iren membuka lemari, jari lentiknya memilih-milih dres yang menurutnya cocok untuknya. Dan pilihannya, jatuh pada dres berwarna merah, Iren mengambil dres tersebut kemudian memakainya.
Iren tampak cantik saat memakai dres merah, dan tatanan rambut sebahu, di tambah lagi makeup tipis yang semakin membuat Iren terlihat cantik alami.
Setelah di rasa penampilannya sempurna, Iren mengambil ponselnya dan melihatnya, berharap sang suami membalas pesannya.
Namun sayang, ponsel Iren tak ada notifikasi apapun. Bahkan Albi hanya membaca pesannya tanpa membalasnya.
"Ia pasti pulang ... Pasti pulang," gumam Iren, yang masih berharap bahwa suaminya akan pulang dan merayakan hari spesial untuk yang pertama kalinya.
••
Waktu menunjukan pukul 9 malam, ia sudah menunggu selama dua jam, matanya terus menatap ke arah pintu, berharap suaminya datang.
__ADS_1
Tak lama, ia menunduk. Bahunya mulai bergetar. Ia menangis. Ternyata sangat sulit berpura baik-baik saja. Hari ini, Iren terlalu berharap. Padahal, ia tau bahwa suaminya takan mungkin datang tepat waktu hanya karena keinginannya.
Rasanya sungguh menyakitkan dan sangat menyesakkan. Tak lama, tangis yang tadi hanya berupa isakan, berubah menjadi tangisan yang kencang, tangisan itu terdengar sangat pilu.
Setelah lelah menangis, kantuk menyerang Iren. Ia melipat tangannya dan menyimpannya di meja, lalu ia menaruh kepalanya di tangan, menjadikan tangan sebagai bantal.
••
Waktu menunjukan pukul 1 malam, suara hujan dan petir saling bersautan membangunkan Iren yang sedang tertidur.
Iren mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah dingding unrtuk melihat jam. Ia tersenyum. getir saat melihat jam dan waktu menunjukan pukul 1 pagi. Tak ada harapan lagi, suaminya takan pulang.
Dengan hati yang hancur, Iren mengambil piring lalu menaruh makanan ke piringnya. Dengan tersenyum getir, Ia menyuapkan sendok demi sendok kemulutnya.
Tanpa membersihkan wajahnya dan tanpa membuka gaun yang di pakainya, Iren membaringkan dirinya dengan posisi meringkuk dan menjadikan kedua tangannya sebagai bantal.
Tatapannya lurus kedepan, ia menatap jendela dengan tatapan kosong, tatapan itu penuh luka. Selalu seperti ini setiap malam, sendirian, sunyi dan kesepian. Tak, lama bulir bening kembali membasahi pipinya, ia masih belum bisa menghilangkan rasa sesaknya.
Iren pikir, saat ia berhasil menjebak Albi, menjadikan Albi sebagai miliknya dan menikah dengan Albi, kehidupannya akan sempurna. Namun, Iren salah. Semuanya malah berbanding terbalik dengan keinginannya.
__ADS_1
Ya, satu bulan dua bulan, setelah menikah, Memang semua berjalan lancar. Kehidupan pernikahan mereka sama seperti kehidupan pernikahan lain pada umumnya, pernikaha yang hangat dan penuh cinta.
Namun, semuanya berubah kala ayah Iren terkena kasus korupsi. Dunia Iren menggelap kala sang ayah di tetapkan sebagai tersangka, ayah Iren terbukti melakukan korupsi di rumah sakit tempatnya bekerja. Dan karena kasus ayahnya, Iren yang merupakan seorang dokter bedah di rumah sakit yang sama dengan ayahnya bekerja pun memilih mengundurkan diri karena merasa malu dan tak kuat menerima gunjingan dari sesama dokter.
Tak cukup duka yang Iren terima karena sang ayah di penjara. Sikap Albi pun berubah padanya.
Sikap Albi menjadi dingin, semakin hari sikap Albi semakin tak berperasaan. Ia hanya bagaikan pajangan yang tak terlihat di mata suaminya.
Dan yang lebih menyakitkan, adalah saat Iren bertanya kenapa Albi berubah, dan jawaban Albi adalah ia malu mempunyai mertua yang menjadi tersangka kasus korupsi dan membadingkan Iren dengan mantan kekasihnya yang kaya dan sepadan dengan dirinya.
Perih, dan sangat menyesakkan. Di tengah luka yang menerjangnya, ia berusaha iklas dan selalu berpikir bahwa apa yang ia alami kini adalah sebuah karma, karma karena dulu ia merebut Albi dari kekasihnya.
Iren hanya sebatang kara, aset ayahnya sudah di sita oleh bank, dan yang ia bisa lakukan adalah tetap bertahan bersama Albi, walaupun sangat menyakitkan.
Dan tau apa yang paling menyakitkan dari semua sikap dan ucapan Albi, Albi mengatakan pada Iren bahwa Albi masih mencintai mantan kekasihnya. Cinta Iren yang begitu besar pada Albi membuat Iren terus menguatkan dirinya, berharap suatu saat nanti, Albi bisa mencintainya sama seperti ia mencintai Albi.
Akankah itu terwujud? Sampai kapan ia terus menunggu ...
Entahlah ... Hanya waktu yang bisa menjawab dan hanya rasa sakit yang akan memberi jawaban, akan terus bertahan atau menyerah ...
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa subscribe ya ....