
"Yaudah, Bi. Tolong angetin aja sayurnya," ucap Iren. Tak masalah asistern rumah tangganya tak memasak. Yang penting ia bisa makan walau harus memakan masakan yang ia buat dan yang membuat ia terluka.
Setelah mengatakan itu, Iren pun mendudukan dirinya di meja makan. Pandangannya lurus kedepan, ia menatap getir pada jendela yang menghadap langsung ke halaman. Bahkan, saat ini pun ... Iren masih berharap mobil suaminya datang, lalu tersenyum dan meminta maaf padanya. Tapi, nyatanya, khayalan hanya tinggal hayalan..Nyatanya semua takan terjadi.
Lamunan, Iren buyar kala asisten rumah tangganya membawakan makanan yang telah di panaskan. Iren pun dengan segera memakannya.
Saat acara makannya sudah selesai, Iren kembali ke atas. Hari ini, ia berencana untuk pergi menjenguk sang ayah.
30 menit berlalu, ia sudah siap untuk pergi. Iren tampil cantik menggunakan dres selutut dan rambut yang di gerai. Ia memasuki mobil dan menjalankannya dengan kecepatan sedang.
25 menit kemudian, Iren pun sampai di depan kantor polisi. Ia bercermin, memastikan bahwa tampilannya sudah rapih. Ia tak ingin sang ayah tau tentang pernikahannya yang tidak sehat. Ia tak ingin membebani sang ayah dengan urusannya.
•••
Iren terduduk menunggu sang ayah, matanya terus menatap pintu masuk dan berharap sang ayah segera keluar..Tak lama, munculah sosok lelaki paru baya yang tak lain adalah Aryan sang ayah.
__ADS_1
Aryan tersenyum lembut menatap sang putri, ia berjalan pelan dan duduk di depan Iren
"Gimana kabar papah?" tanya Iren, membuat Aryan tersenyum
"Papah baik, Iren," jawab Aryan. "Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Aryan membuat Iren mengangguk.
"Iren bawain makanan kesukaan papah, Nanti ...." perkataan Iren terputus saat Aryan mengenggam tangannya.
"Kamu baik-baik aja, kan, Ren?" tanya Aryan tiba-tiba membuat Iren menunduk, dengan mata berkaca-kaca.
"Iren ga baik-baik aja, Pah. Iren lelah!" lirih Iren dalam hati, seandainya bisa, ia ingin berkata begitu pada sang ayah. Namun, Iren tak bisa. Ia tak ingin menambah beban sang ayah.
"Maafin papah, ya, Ren. Udah bikin kamu malu. Tapi, percaya sama Papah ... Papah sama sekali ga ngelakuin korupsi. Maafin, papah ya, Ren," ucap Aryan dengan tatapan sendu.
Mendengar ucapan Aryan, tangis Iren pecah seketika ... Aryan selalu mengatakan kata-kata yang sama. Iren percaya, sang ayah tak mungkin melakukan korupsi, sang ayah adalah sosok yang sangat bijaksana, dan sudah mengabdi lama di rumah sakit.
__ADS_1
Sampai sekarang, Iren pun bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya. Tanpa ada angin. Tiba-tiba sang ayah di tangkap karena korupsi dan yang lebih membuat Iren bingun adalah, tak ada satu pengacara pun mau membela sang ayah.
Setiap ia menyewa pengacara, dan pengacara itu menyanggupi, tapi keesokan harinya pengacara itu langsung mundur, dan itu terjadi setiap kali Iren menyewa pengacara. Tanpa, Iren sadari semua adalah ulah suaminya.
Ya, semua ulah Albi ... Ia tak ingin ayah mertuanya bebas begitu saja. Ia ingin istrinya semakin menderita.
Iren melepaskan genggaman tangannya pada Aryan. Lalu ia menghapus air matanya. "Maafin, Iren juga, ya, Pah. Iren belum bisa bebasin papah. Iren janji, Iren bakal cari pengacara terbaik untuk papah," jawab Iren, membuat Aryan menggeleng.
"Kamu ga usah pikirin, Papah. Papah ga apa-apa ... Yang penting kamu baik-baik aja, papah udah cukup," ucap Aryan membuat tangis Iren semakin pecah.
"Waktu sudah habis!" ucap sipir penjaga saat waktu menjenguk sudah habis, Aryan pun menoleh kebelakang dan mengangguk. Lalu, ia kembali melihat lagi pada Iren.
"Papah masuk, ya. Jaga diri kamu baik-baik," ucap Aryan pada Iren yang masih menangis. Ia bangkit dari duduknya dan sambil mengambil bungkusan yang di bawa oleh Iren.
Batin Iren menjerit saat melihat punggung sang ayah yang akan masuk kembali ke sel tahanan. Iren ingin sekali menggenggam tangan sang ayah dan mengajaknya untuk pulang. Tapi, ia tak bisa .... Aryan bisa saja berkata dia baik- baik saja ... Tapi ia tau, sang ayah berbohong. Ia bisa melihat gurat lelah di wajah Aryan.
__ADS_1
Saat sedang berjalan ke mobilnya, tiba-tiba Iren menghetikan langkahnya saat merasakan perutnya kembali sakit, ia meremas perutnya saat sakit itu semakin menjadi-jadi. Dengan menahan perih, Iren berusaha berjalan ke arah mobilnya
Iren