Cinta Tulus Setelah Bercerai

Cinta Tulus Setelah Bercerai
kedatangan ayah


__ADS_3

Mendengar ucapan Julia, Albi terasa di sambar petir di siang bolong, bagaimana mungkin ...


"Katakan yang kau katakan tak benar, kan?" Albi mencengkrem kedua baju Julia membuat Julia meringis.


"Ma-mas," ucap Julia terbata-bata. Ia meringis dan takut secara bersamaan. Ini, kali pertamanya ia melihat Albi semarah ini.


Albi menghela napas, ia melepaskan cengkramannya pada bahu Julia. Ia mengusap wajah kasar, kenapa masalah muncul lagi, padahal satu masalah baru saja selesai. Jika sang ayah tau, riwayatnya akan benar-benar habis.


Setelah melihat Albi tenang, Julia pun menghambur memeluk Albi, sedangkan Albi hanya terdiam. Tubuhnya limbung, membuat Julia hamil sama sekali tak ada dalam kamusnya. Lalu sekarang, dia harus apa.


"Mas!" panggil Julia. Ia melepaskan setengah pelukannya, lalu mendongak melihat Albi.


Saat mata Albi bersibobrok denga mata Julia. Albi lagi-lagi menghela napas gusar, ia harus memikirkan cara membereskan semuanya. Cara agar ia tak terkena masalah.


"Ayo duduk!" ajak Albi, ia berusaha berbicara dengan kepala dingin. Julia pun mengangguk, ia melepaskan pelukannya lalu duduk di sebelah Albi, kemudian memeluk pinggang Albi, membuat Albi menggeram kesal.


Semenjak ia tau bahwa Julia mengirim foto-fotonya pada Iren. Rasa suka Albi pada Julia mengurang. Bahkan saat ini, ia menggeram kesal karena Julia memeluknya..Padahal, biasanya, ia sangat senang dengan sikap manja Julia.


"Mas, aku hamil. Jadi kita harus gimana?" tanya Julia lagi, membuat Albi memejamkan matanya karena bingung.


"Mas belum, tau. Kita jalanin aja pelan-pelan," jawab Albi.


Mendengar jawaban Albi, Julia melepaskan pelukannya. "Jadi mas ga mau nikahin aku?" tanya Julia, ia berbicara dan menatap tajam pada Albi, membuat Albi terpaku. Ini kali pertamanya Julia berteriak padanya.


Melihat tatapan Albi, Julia tersadar. Kemudian ia kembali memeluk pinggang Albi. "Maaf, aku ga maksud buat teriak. Maksudku, aku, kan, lagi hamil ... Mas harus nikahin aku. Bisa gawat kalau kecium sama media," ucap Julia. Lagi-lagi membuat Albi menghela napas berat.


"Kamu pulang, dulu, ya. Nanti Mas nyusul. Mas masih banyak kerjaan," jawab Albi dengan malas. Ia harus memikirkan semua matang-matang.


"Aku pengen pulang sama, Mas," pinta Julia, membuat Albi diam-diam mengepalkan tanganya. Dalam sekejap, Julia berhasil membuatnya ilfeel.


Albi melepaskan tangan Julia yang melingkar di pingangnya. Lalu bangkit dari duduknya, ia merogoh saku dan mengambil dompet lalu menarik kartu dan memberikannya pada Julia.


"Kamu boleh belanja sepuasnya. Jangan hubungin, Mas, kalau Mas ga hubungin kamu," ucap Albi membuat mata Julia membulat sempurna. Tanpa di perintah dua kali, Julia pun mengambil kartu itu dan secepat kilat keluar dari ruangan Albi.


Albi membanting tubuhnya ke sofa, ia harus memikirkan cara yang pas untuk mengakhiri semua ini. Bayangan sang ayah murka sudah terlintas di depan matanya.


•••


Iren meremas tanganya karena gugup. Ia sedang menunggu juri dan coach yang akan menilainya tentu saja Iren tak sendiri. Ia bersama wanita lainnya.. Tak lama, pintu terbuka. Beberapa orang masuk, termasuk Adnan.


Saat masuk mata Adnan langsung menatap pada Iren, begitu pun Iren. Sadar akan tatapan Adnan, Iren pun memalingkan tatapannya ke arah lain.


Penjurian di mulai, mereka melakukan beberapa test dan mulai berfoto menggunakan contoh dengan memakai beberapa brand ternama.


Sudah hampir 3 jam, mereka melakukan beberapa test dan pemotretan, hingga akhirnya semua proses itu selesai. Mereka hanya tinggal menunggu kabar dua hari kemudian.


Saat Adnan mengajak semua tim untuk makan bersama, Iren terpaksa harus menolak. Tubuhnya begitu lemah tak bertenaga, ia merasa perut bawahnya kembali sakit, hingga ia terpaksa harus pulang lebih cepat.


"Kalau begitu saya permisi duluan," pamit Iren saat semua akan bersiap untuk pergi. Mereka pun mengangguk sebagai respon atas ucapan Iren.


Saat Iren pergi, Adnan sama sekali belum melepaskan pandangannya, ia terus menatap punggung Iren yang terus berjalan menjauh.


Ia merogoh ponsel, lalu jari-jarinya dengan lincah menari di atas layar, ia mengirim pesan pada seseorang.


••••


Sinar matahari memasuki jendela, suara burung berkicauan, membuat Iren terbangun dari tidurnya. Ia menghela napas saat melihat jam yang ternyata pukul 7 pagi.


Dengan pelan, Iren bangkit dari duduknya dan menyenderkan punggungnya ke belakang. Tubuhnya terasa lemas, ia ingin berbaring seharian ini. Tapi ia harus pergi ke pengadilan untuk mengbamblil formulir perceraian.


Ia pun turun dari ranjang, dan langsung pergi ke kamar mandi kemudian segera bersiap.


.


Dan di sinilah Iren berada, di depan gedung pengadilan.


.


Iren menatap pengadilan di depannya dengan tatapan nanar. Matanya berkaca-kaca, ia tak menyangka bahwa ia akan berada di titik ini. Titik yang tak pernah ia duga sebelumnya, titik di mana ia akan menyerah pada hal yang selama ini ia perjuangkan.


...Iren menghirup napas dan menghembuskannya beberapa kali...


"Kau pasti bisa Iren." Iren menguatkan dirinya. Ia mulai melangkahkan kakinya dan masuk ke pengadilan. Saat akan berbelok ke ruangan yang telah di tunjuk oleh petugas. Iren yang sedang menuduk menabrak seorang lelaki, berjas yang tampak rapih, terlihat jelas lelaki itu adalah seorang pengacara.


"Maaf," lirih Iren. Ia mengangkat kepalanya hingga matanya bersibobrok dengan mata lekali yang di tabraknya.


"Tolong perhatikan jalanmu!" ucap lelaki itu membuat Iren terdiam. Lalu, Iren menggeser tubuhnya, membiarkan lelaki itu melewatinya.


Kemudian, ia kembali melangkahkan kakinya untuk menuju ruangan yang akan di tujunya.


•••


Setelah mengambil formulir perceraian. Iren mendudukan dirinya sejenak. Perutnya kembali nyeri. Sepertinya, ia tak bisa mengisi formulir tersebut dan mengajukannya sekarang. Ia harus beristirahat, agar kondisinya tak semakin buruk.


Saat ia akan menjalankan mobilnya, ponselnya berdering, satu pesan masuk ke ponselnya.


Dan ternyata Julia yang mengiriminya pesan.


["Aku harap kau mundur. Aku sedang mengandung anak suamimu. Dia bahkan memberikan kartu ini sebagai tanda terimakasih karena aku mengandung anaknya"] Tulis Julia dalam pesannya, tak lupa ia memoto blackcard yang tadi albi berikan. Tentu saja Julia berbohong karena ingin memanas-manasi Iren.


Test!


Membaca pesan tersebut, bulir bening langsung tergelincir dari kedua pelupuk matanya. Iren tau hal ini akan terjadi, dan Iren yakin itu, hingga ia sudah menyiapkan dirinya untuk menerima kabar ini, tapi tetap saja saat ia tau, rasanya menyesakkan.


Dulu, ia pernah membayangkan akan mempunyai keluarga yang utuh bersama Albi, anak-anak yang lucu dan keluarga yang hangat. Tapi Nyatanya, semua tak sejalan dengan apa yang ia inginkan.


Semua berbalik, Rumah tangganya hancur, ia menderita kanker rahim yang ia sendiri tak yakin apa dia bisa sembuh atau tidak, dia tak yakin ia bisa mengandung dan ia yakin, ini semua adalah karma yang ia terima karena berbuat dosa di masa lalu.


Iren menaruh kepalanya di stir, ia menangis sejadi-jadinya. Cobaan datang terus menerus, hingga terkadang, ia merasa menyerah lebih baik dari pada harus menerima ini semua.


Setelah puas menangis, Iren mengangkat wajahnya, ia kembali mengambil ponselnya dan memblokir nomer ponsel Julia. Ia tak ingin terus di bayang-bayangi hal yang akan menyakitinya. Ia harus bangkit demi sang ayah.

__ADS_1


Lalu tak lama, ia teringat Bunga. Ia terpikir sesuatu. Mungkin, meminta maaf pada Bunga akan sedikit meringankan bebannya. Ia pun mengambil ponsel dan mulai menelpon Bunga, dan mengajak Bunha untuk bertemu.


Dua hari kemudian.


Iren menghela napas lega saat melihat email dari Haidar entertaiment. Ternyata ia terpilih. Ia pun dengan segera bersiap untuk datang ke Haidar entertaiment, hari ini dia akan menandatangani kontrak dan memulai pemotretan.


Satu minggu kemudian.


Albi menggeram emosi saat melihat artikel di ponselnya, ia melihat foto Iren menjadi model untuk brand kesehatan. Bagaimana mungkin ia tak tau bahwa istrinya menjadi model.


Selama ini, semua orang tau bahwa Iren adalah istri dari Samuel Albi dan menantu dari Samuel Gani yang merupakan seorang konglomerat. Dengan Iren menjadi model harga diri Albi seakan hilang, karena ia akan di cap tak mampu untuk menghidupi Iren.


Dengan emosi, Albi bangkit dari duduknya, kemudian ia keluar dari apartemennya, ia berniat pulang ke rumahnya untuk bertemu Iren.


•••


"Iren ... Iren!" teriak Albi saat membuka pintu rumahnya. Ia memanggil Iren seperti orang yang sedang kesetanan.


Iren yang masih terbaring lemah karena baru selesai melakukan kemo, membuka matanya saat mendengar teriakan Albi. Ia berdoa semoga ia kuat menghadapi lelaki yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.


Saat Iren akan bangkir dari berbaringnya. pintu terbuka dengan keras membuat Iren terperanjat kaget.


"Berani sekali kau!" teriak Albi sambil berkacak pinggang di hadapan Iren. Sungguh, ia sangat takut pada Albi saat ini, ia takut Albi akan berbuat nekad menyakitinya sedangkan dia tak ada tenaga untuk melawan.


Albi yang emosi karena Iren tak menjawabnya, langsung menarik selimut yang di pakai Iren dengan keras, membuat tubuh Iren bergidik. Ia mengepalkan tangannya menahan ketakutan, keringat dingin langsung membanjiri seluruh tubuhnya, badannya menggigil. Lamat-lamat kepalanya mulai memberat, sedetik kemudian ia langsung tak sadarkan diri.


Albi yang baru saja akan menghampiri Iren lebih dekat menghentikan gerakannya. Ia mengusap wajah frustasi, berusaha mengendalikan dirinya. Ia pun takut jika ia kalap dan melukai Iren, hingga akan terjadi malasah baru. Ia pun keluar dari kamar dengan membanting pintu. Sayangnya, ia tak menyadari bahwa Iren tak sadarkan diri


••••


Iren membuka matanya, kepalanya berdenyut nyeri. Ia melihat ke jam yang menunjukan pukul 11 malam, ternyata Iren sudah tak sadarkan diri selama 3 jam. Ia bersyukur bahwa Albi tak menyakitinya.


Ia mengambil ponsel, ternyata ada satu pesan yang masuk dari orang yang tak di kenal, membuat Iren mengernyitkan kening karena isi pesan tersebut.


["Besok ada pemotretan di hotel Shingrie pukul 8 malam. Mohon datang tepat waktu"] tulis pesan tersebut. Iren pun membalas dan menyutujui pesan tersebut karena ia pikir, pesan itu dari agensinya.


••••


Keesokan harinya ...


Iren sudah sampai di hotel yang di perintahkan, ada beberapa orang wanita yang sudah menunggunya di lobi, Iren pun di arahkan untuk masuk ke kamaf yang telah di pesan.


Tanpa curiga, Iren pun mengikuti langkah wanita yang tadi menunggunya. Saat masuk, beberapa wanita tersebut pamit beralasan untuk mengambil peralatan. Iren pun mengangguk, lalu menunggu di dalam.


10 menit kemudian, Saat Iren duduk di sofa, muncul satu orang lelaki yang hanya memakai handuk kimono, lelaki itu keluar dari kamar mandi, membuat Iren terperanjat kaget.


Lelaki itu menyeringai, kemudian ia berjalan mendekati Iren. Wajah Iren berubah menjadi pias. Ia langsung mundur berniat berlari ke arah pintu.


Namun, belum sempat ia berlari ... pintu di dobrak, tiba-tiba ada wanita masuk dan langsung memukul tubuh Iren secara membabi buta.


"Dasar pelacur ... Dasar pelacur! berani sekali kau menggoda suamiku!" teriak wanita itu sambil memukul tubuh Iren. Iren yang bingung dengan apa yang terjadi hanya bisa diam dan tak melawan.


Baru saja Iren akan melawan, terdengar suara gaduh dari luar. Beberapa wartawan masuk, serta beberapa polisi yang langsung memisahkan Iren dan wanita tadi.


Saat Iren sudah masuk kedalam mobil polisi, ada seseorang yang tersenyum, senyuman itu begitu kejih, seolah puas dengan apa yang dialami oleh Iren. Dan siapa lagi jika bukan Albi.


Ya, Albi menjebak istrinya sendiri. Ini semua adalah rencananya. Ia sempat bingung bagaimana cara menghentika Iren. Namun, ia mendapat ide untuk menjebak Iren agar Iren di sangka seorang wanita simpanan dan seorang wanita panggilan. Dan semua orang akan bersimpati padanya karena memiliki istri seperti Iren.


Dan jika keluarganya tau tentang apa yang dia lakukan selama ini, ia bisa memutar balikan fakta.


•••


Kabar penggerebekan Iren sudah tayang di media cetak dan media online, kabar itu cukup heboh dan membuat geger karena Iren membawa beberapa nama besar. Nama suaminya, nama Haidar entertaiment dan nama brand yang ia promosikan.


Saat membaca kabar yang beredar, Nio langsung memanggil beberapa Staff karyawannya. Mereka sempat heran siapa Nio karena yang mereka tau, Adnan, lah, direktur utama, Haidar entertaiment.


Saat semua berkumpul, Nio langsung melempar gelas kehadapan para Staff perusahaanya. Ia kecewa saat para karyawannya tak memilih model dengan benar. Hingga perusahaan yang selama ia dirikan dengan susah payah harus hancur hanya karena satu orang dan satu berita.


Semua karyawan terperanjat kaget saat nio melempar gelas kehadapan mereka, hingga mereka pun refleks memundurkan langkahnya. Terlihat jelas wajah Nio menyimpan amarah yang membara. Bahkan, tatapan Nio mampu menusuk siapa saja yang melihatnya.


"Apa kalian bodoh, Hah! Bagaimana mungkin kalian memlilih seorang model yang ternyata adalah seorang pelacur!" Teriak Nio dengan keras pada para staff di depannya.


Para Staff hanya bisa tertunduk, mereka memejamkan matanya saat Nio berteriak, seketika suasa mencekam sangat terasa di ruangan itu karena teriakan dari Nio dan amarah dari Nio.


"Kau!" tiba-tiba Nio berteriak lagi, matanya melotot tajam ke arah pintu saat melihat Iren sedang berdiri mematung.


Saat kabar itu di luncurkan, Adnan bergerak cepat, ia menyusul Iren ke kantor polisi dan membiarkan pengacara yang mengurusnya hingga ia bisa membawa Iren. Ia akan mengintrogasi Iren di kantor.


Dan tepat saat Iren dan Adnan akan masuk, Iren mendengar teriakan Adnan yang menyebutnya pelacur.


Lutut Iren melemas saat Nio menghinanya dan menyebutnya seorang pelacur di hadapan orang lain . Jantungnya terasa di tikam ribuan jarum. Harus sedasyat ini kah karma yang ia terima, harus sehebat inikah rasa sakit yang ia tanggung.


Ia memang pernah melakukan kesalahan pada satu orang. Tapi kenapa semesta ikut menghukumnya sebesar ini. Mendengar orang lain menghinanya dan menyebutnya seorang pelacur dunia Iren menggelap. Ia merasa bahwa ia adalah wanita yang paling hina dunia ini.


Tak adakah yang bisa membelanya sekarang, membebaskannya dari siksaan yang tak berujung.


Melihat Iren, emosinya Nio kembali meradang. Dengan langkah lebar ia berjalan ke arah pintu Sedangkan Iren, ia tak masih berani mengakat kepalanya.


"Nio!" sentak Adnan. Ia menahan tubuh Nio saat Nio akan mendekati Iren, ia takut sang kaka akan melukai Iren.


"Kau pergilah. Aku akan menghubungimu nanti!" ucap Adnan pada Iren. Ia masih menahan tubuh Nio karena takut, Nio akan mencelakai Iren.


"Argghhhh!" teriak Nio. Ia berteriak setelah Adnan melepaskan dirinya. "Bodoh!" teriak Nio di hadapan wajah Adnan. Ternyata, Adnan pun harus terkena amukan dari kakanya.


•••


Iren berjalan dengan menuduk, ia tak berani mengakat kepalanya karena semua karyawan Haidar entertaiment yang berpapasan dengannya memandangnya dengan tatapan sinis.


Saat masuk kedalam mobil, tatapannya kosong. Ini titik terendahnya sebagai manusia. Di mana ia lelah, dan ingin mengakhiri semuanya.


Masih dengan tatapan kosong, Iren menjalankan mobilnya. Saat berada di jalan raya, Iren tiba-tiba tertawa nyaring. Namun, mengeluakan air mata.

__ADS_1


Ia memejamkan matanya saat melihat pembatas jalan, dan berniat menabrakkan dirinya, rasanya ia sungguh tak sanggup lagi menerima ini semua.


Ia menjalankan mobilnya di dengan kecepatan penuh. Tapi, tak lama ia kembali mengerem mendadak karena wajah sang ayah terlintas di otaknya.


"Tidak! Iren tak boleh menyerah. Sepahit apa pun hidupnya kini, ia masih mempunyai sang ayah, dan ia tak ingin melihat sang ayah sedih. Ia masih harus berjuang untuk membebaskan ayahnya.


Iren maraup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia meminggirkan mobilnya lalu, menaruh kepalanya di stir kemudi dan menangis sekencang-kencangnya. Ia sungguh rapuh, bagaimana esok ia akan menghadapi dunia.


Saat ia puas menangis dalam waktu yang lama, Iren pun mengahapus air matanya dan kembali menjalankan mobilnya untuk pulang. Namun, saat dia akan menyebrang untuk putar arah, dia melihat masjid.


Hatinya langsung tergugah saat melihat masjid. Ia menyadari sesuatu. Selama ini, ia jauh dari Tuhannya, bahkan tak pernah menyebut nama Tuhannya. Dan kini, ia sadar. Untuk menggenggam dunia ... Dan memerbaiki semuanya. Ia harus mendekatkan diri pada sang pencipta.


••••


Beberapa minggu kemudian.


Albi menghela napas saat pekerjaannya selesai. Selama beberapa minggu ini, ia bisa bernapas lega karena ia tau, istrinya telah berhenti menjadi model. Ia juga senang, ia di cap lelaki baik oleh publik karena ia membela istrinya.


Waktu menunjukan pukul 05. sore. Ia bangkit dari duduknya dan kembali memakai jasnya. Hari ini, ia terpaksa pulang ke rumahnya karena harus mengambil paspor karena besok ia akan pergi ke. luar negri untuk urusan pekerjaan.


•••


Saat ia masuk kedalam rumah, ia mengernyit heran saat melihat rumah dalam kondisi sepi. Namun, ia tak ambil pusing. Ia melenggang masuk untuk pergi ke kamarnya.


"Bapak!" panggil salah satu asisten rumah tangganya. Ia berbicara saat melihat Albi karena ingin memberi tau tentang apa yang terjadi pada Iren.


"Tolong buatkan saya kopi!" titah Albi pada artnya. Ia pun langsung naik ke atas untuk mengambil paspor. Membuat Art itu menghembuskan napas kasar karena belum sempat memberi tau yang sebenarnya tengang kondisi Iren.


Karena paspornya berada di kamar Iren, Albi pun terpaksa harus masuk ke kamar tersebut. Ia akan acuh jika melihat Iren.


Saat ia membuka matanya, ia mengernyit heran saat melihat kamar kosong. Tapi, apa perdulinya. Ia pun masuk dan berjalan ke arah lemari.


Namun, saat dia akan membuka lemari, matanya menangkap sebuah botol obat di atas nakas. ia pun mengambilnya dan melihat botol tersebut.


Keningnya mengkerut bingung saat melihat botol obat tersebut. Albi mantan dokter kandungan. Tentu Albi tau obat macam apa yang dia pegang.


"Apakah Ini milik Ir ...." Albi tak sanggup lagi meneruskan ucapannya saat berpikir obat ini milik Iren.Seketika, Ia menjatuhkan obat di tangannya.


Seketika lututnya melemas, ia langsung membuka lemari milik Iren dan mencari sesuatu. Kemudia ia menemukan map yang berlogo rumah sakit. Ia pun membukanya dan memeriksanya.


"Ja-jadi ...." Albi menjatuhkan map di tangannya saat menyadari apa yang terjadi dengan Iren. Tubuhnya limbung. Kilatan kekejaman-kekejamannya pada Iren langsung terlintas di otaknya.


"Maafkan, aku Iren ...." lirih Albi dengan bibir bergetar. Ini titik balik perasaanya. Seketika rasa bencinya pada Iren sirna saat saat mengetahui penyakit Iren. Penyesalan-penyesalan langsung mengisi rongga dadanya hingga ia terasa sulit bernapas.


"Dimana Iren?" tanya Albi pada art dengan napas ngos-ngosan karena berlari dari atas kebawah


"Anu, Pak ... Non Iren masuk rumah sakit, Non Iren ...."


"Rumah sakit mana?" sela Albi yang tak sabar. Saat tau di rumah sakit mana Iren di rawat, Albi dengan segera meninggalkan rumah dan pergi ke rumah sakit.


•••


Dan di sinilah dia berada, tepat di depan ruangan yang di tempati Iren.


Dengan tangan gemetar, Albi mendorong pintu dan masuk kedalam ruangan, Iren yang sedang melamun menoleh ke arah pintu, ia tertegun saat melihat Albi yang masuk. Apakah Albi akan membuat onar lagi. begitulah pikirnya


Dengan lutut gemetar, Albi berjalan ke arah brankar, dan Iren pun bangkit dari berbaringnya berusaha untuk duduk.


Albi tertegun saat melihat Iren memakai jilbab, wajah Iren semakin tirus tubuhnya semakin kurus. Tapi, Iren sangat terlihat cantik


"I-Iren," lirih Albi terbata saat sudah dekat di brankar Iren. "Maafkan aku, Iren," lirih Albi dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tertegun saat melihat Iren yang santai dan tak menatapnya dengan tatapan benci.


Tanpa membalas ucapan Albi, Iren berusaha menggapai nakas dan mengeluarkan sesuatu.


"Kau sudah lama tak pulang. Jadi aku membawa ini kemanapun aku pergi," ucap Iren sambil menyodorkan map pada Albi. Ia berbicara dengan nada yang riang nan hangat, seoalah tak pernah terjadi hal buruk di antara mereka.


Dan sikap Iren membuat Albi terpaku, bukankah seharusnya wanita di depannya ini membenci


-dirinya. Tapi, kenapa sekarang ....


"I-ini apa?" tanya Albi dengan tangan gemetar karena ia melihat cap pengadilan di map tersebut.


Iren tersenyum sambil menahan perih di hatinya. "Itu akte cerai, Al. Kita sudah resmi bercerai," ucap Iren. Ia berusaha setenang mungkin.


Jederr, dunia Albi menggelap saat mendengar ucapan Iren, Albi meremas map itu dan menggeleng.


"Tidak, Ren. Aku belum menceraikanmu!" lirih Albi dengan mata berkaca-kaca.


"Faktanya kita sudah resmi bercerai, Al. Terimakasih atas selama ini," jawab Iren dengan memaksakan senyumnya. Setelah Hijrah, ia menyadari sesuatu tentang keiklasan. Jika jalan hidupnya sudah begini, Iren memilih pasrah dan iklas serta berusaha tak membenci siapa pun, termasuk Albi yang selama ini menyakitinya.


Tubuh Albi limbung, ia berlutut dan bersimpuh di lantai. "Maafkan aku Iren, ampuni aku ... Beri aku kesempatan kedua," lirih Albi dengan terisak, membuat Iren pun ingin menangis.


Belum ia menjawab ucapan Albi, pintu terdengar terbuka. Membuat Iren menoleh ke arah pintu. Iren menutup mulut tak percaya saat melihat siapa yang masuk ke ruangannya.


Dan orang itu adalah Aryan. Kehadiran Aryan membuat Iren terkejut ... Bagaimana sang ayah bisa bebas secepat ini, siapa yang membebaskan sang ayah. Pertanyaan itu, berputat-putar di otaknya.


Albi yang sedang berlurut menoleh ke arah pintu, ia langsung terduduk lesu saat ia melihat Aryan sudah bebas. Lalu bagaimana dengan dirinya. Jelas- jelas kasus ini akan kembali di buka dan polisi akan menemukan bahwa dia bersalah dan dia yang memanipulasi semuanya.


Sangking tak percayanya bahwa yang masuk adalah ayahnya. Iren melepaskan selang infus lalu turun dari brankar, Iren berjalan dengan terseok-seok. Ia menagis tergugu saat menyadari bahwa ia tak berkhalusinasi, di depannya benar adalah sang ayah.


Saat sudah mendekat pada sang ayah, tubuh Iren hampir terjatuh dan dengan sigap, Aryan langsung menangkap tubuh putrinya.


"A-ayah ... I-iren ga mimpi, kan?" tanya Iren saat ia menatap intens sang ayah. ia berbicara dengan bibir gemetar karena masih tak percaya.


"Ini ayah, Ren. Ini ayah!" balas Aryan, membuat Iren langsung berhambur memeluk sang ayah. Saat ia menangis di pelukan Aryan. Matanya menangkap seseorang yang berdiri di belakang ayahnya, dan kehadiran seseorang itu membuat Iren terkejut setengah mati.


Dan lelaki itu adalah .....


Yang masih bingung cara beli koin, kalian bisa beli koin lewat whatsap ya.


Ini no nya 081314000053. Kalian chat adminya dan minta di bantu untuk beli koin

__ADS_1


Bab 11 juga udah tayang di sebelah, cmiw 😘


__ADS_2