Cinta Tulus Setelah Bercerai

Cinta Tulus Setelah Bercerai
Antonio Ardi Haidar


__ADS_3

"Jawab aku dari mana, kau, Hah!" Bentak Albi lagi. Emosinya semakin terpancing saat melihat Iren menatapnya dengan tatapan datar. Tak seperti biasanya, yang selalu menunduk dan terlihat ketakutan.


"Bukan urusanmu!" ucap Iren dengan menekankan ucapannya. Ini pertama kalinya ia berani menjawab ucapan Albi


Mendengar Iren menjawabnya ucapannya, darah Albi semakin mendidih. Sejak kapan wanita di depannya ini berani menjawab dan melawannya.


"Berani sekali kau melawanku!" teriak Albi, ia mencekal tangan Iren semakin keras, membuat Iren meringis tertahan.


Iren sudah terlalu lelah dengan hidupnya. Melihat sang ayah yang terpenjara tanpa melakukan kejahatan, penyakitnya dan tambah lagi sikap Albi. Mungkin, jika Iren bisa memilih ... Ia ingin mati saja, agar beban yang di rasakannnya hilang.


"Jawab aku, berani sekali kau melawanku, Hah!" teriak Albi, membuat kepala Iren tiba-tiba terasa memberat.


Iren mencoba menguasi diri ... Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya. "Sudah kubilang bukan! itu bukan urusanmu!" Dengan sekuat tenaga. Iren menghempaskan tangan Albi yang sedang mencekal tangannya hingga tangan Albi terlepas.


Membuat Albi tertegun


Setelah tangan Albi terlepas dari tangannya. Iren langsung berbalik dan berjalan ke arah tangga. Tubuhnya terlalu lemas. Ia ingin sekali berbaring dan mengistirahatkan badannya.


Saat sudah berada di kamar, Iren melemparkan tasnya ke sembarang arah. Ia membaringkan tubuhnya dengan posisi meringkuk, lalu ia memejamkan matanya.


Saat Albi ingin kembali mencekal tangan Iren, ponsel di saku Albi berdering hingga ia harus membiarkan Iren pergi.


••


Albi mematikan panggilannya, ternyata Dita yang menelponnya ... Sang kaka mengatakan bahwa ia akan berkunjung besok ke rumahnya. Setelah menaruh lagi ponselnya, Albi berjalan ke meja makan dan mengambil minum. Lalu menenggaknya hingga tandas.


Tadinya ia ingin pergi lagi ke rumah sakit dan langsung pulang ke apartemen lalu bertemu Julia. Namun rupanya ia masih belum puas untuk memberkan Iren pelajaran.


•••

__ADS_1


Iren membuka mata lalu mengucek matanya Beberapa kali ia mengerjap-ngerjap dan menyesuaikan pandangannya. Kamarnya masih gelap, ternyata ia tertidur cukup lama. Ia bangkit dari berbaringnya dan menyalakan lampu.


Iren berjalan ke kamar mandi dan memutuskan untuk membersihkan diri, 30 menit kemudia ... Ritual di kamar mandi selesai. Perutnya terasa lapar hingga ia memutuskan turun untuk makan.


Saat sudah turun, Iren menghentikan langkahnya karena melihat Albi sedang makan ... Keningnya mengkerut heran saat Albi memakai piyama. Bukankah seharusnya Albi pergi lagi seperti biasa? Tapi kenapa sekarang .... Tak ingin ambil pusing. Iren meneruskan kembali langkahnya, ia menarik kursi dan mendudukan dirinya, kemudian mengambil piring lalu menuangkan makanannya.


Hening ....


Hanya ada keheningan di ruang makan tersebut, sepasang suami istri itu tampak tak perduli satu sama lain, hanya terdengar suara sendok dan piring saling berdenting.


"Besok kakaku akan datang kemari, jaga sikapmu ... Berpura-puralah seperti biasa," ucap Albi setelah sekian lama mereka terdiam.


Iren nampak acuh ia masih sibuk dengan makanan di depannya, ia bahkan sama sekali tak menoleh pada Albi yang berbicara. Seolah Albi tak ada di depannya, dan sikap Iren, sukses membuat Albi berdecak kesal.


"Apa kau tuli?" tanya Albi dengan menahan geram. Nada suaranya di penuhi dengan penuh ejekan.


Mendengar ucapan Albi, seketika Iren terdiam. Ia menghentikan acara makannya. Walaupun Albi sering menghinanya, tapi tetap saja hatinya terasa sakit. Apakah dia sehina ini di mata suaminya.


Saat tadi ia duduk di taman setelah mendengar vonis dokter yang memvonisnya menderita kanker rahim, Iren sudah banyak berpikir ... Selama ini, ia terlalu mencintai suaminya. Hingga ia buta akan segalanya.


Selama ini, ia begitu patuh dan selalu sembunyi-sembunyi jika menjenguk sang ayah. Namun, hari ini saat ia melihat raut wajah sang ayah yang di penuhi kesedihan serta mengetahui penyakitnya. Ia tak ingin lagi terus di kendalikan oleh perasaannya. Ia harus berusaha menyembuhkan dirinya dan membebaskan sang ayah.


Tanpa menjawab ucapan Albi, Iren mengambil minum lalu menengaknya, kemudian ia bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan meja makan.


Kemarahan Albi memuncak saat lagi-lagi Iren mengabaikannya. Ia takan membiarkan Iren melawannya, selamanya ... Wanita ini harus hidup di bawah tekanannya.


Ia pun bangkit dari duduknya untuk menyusul Iren, kemudian ia mencekal tangan Iren hingga Iren berbalik.


"Berani sekali kau mengabaikanku," desis Albi penuh tuduhan.

__ADS_1


Tatapan Albi begitu menusuk, Iren bisa melihat Albi menatapnya dengan tatapan benci yang nyata. Tatapan itu begitu menusuk tepat ke jantungnya, hingga Iren merasa kakinya tak berpijak.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Iren dengan suara datar. Ia berusaha untuk tetap santai. Sebab, jika ia melawan Albi, Albi akan semakin menjadi-jadi dan jika ia menunduk, Albi akan terus menginjak-nginjak harga dirinya.


Mendengar ucapan Iren, Albi terdiam. Benar juga ucapan Iren. "Jaga sikapmu di depan kakaku. Jangan membuat kakaku curiga. Jika tidak, kau akan tau akibatnya," ucap Albi lagi, ia terlalu bingung membalas perkataan Iren, hingga ia mengulangi kata-kata yang sama.


Melihat Albi yang terdiam, Iren menghempaskan tangan Albi, lalu setelah itu ... Ia kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya.


Sementara di tempat lain ...


Seorang lelaki tampan dengan rahang yang kokoh, alis yang tebal serta badan yang atletis, sedang melihat ke arah depan dengan tatapan tajam, kakinya tak henti-hentinya bergerak di atas treadmill. Peluh berjatuhan dari wajahnya hingga membuat dirinya semakin terlihat berkarisma saat berolahraga.


Pria itu terus memacu dirinya di atas treadmil, ia tak bisa menghentikan berlarinya saat kilasan masa kecilnya kembali hadir dan membuatnya terngiang-ngiang. Dia adalah Antonio Ardi Haidar, seorang pemilik Agensi besar Haidar entertaiment serta memiliki perusahaan perikalanan.


Lelaki yang akrab di sapa Nio itu mengehentikan larinya saat ponsel di depannya menyala karena ada yang menelponnya. Ia menatap malas saat melihat id si pemanggil, kemudian ia menggeser tombol merah dan menolak panggilan tersebut.


Ia turun dari treadmil, lalu berbalik. Saat ia berbalik, ia terpekik kaget saat melihat ada orang di belakangnya.


"Sejak kapan kau disini?" tanya Nio pada adiknya. Gatana Adnan Haidar. Nio dan Adnan hanya berbeda dua tahun, walaupun mereka kaka beradik, sifat mereka jauh berbeda.


"Apa mereka mendatangimu lagi?" tanya Tana pada sang kaka.


Mendengar pertanyaan sang adik, Nio berdecih. Ia mengambil minum kemudian menenggaknya hingga tandas.


"Kita akan bekerja sama dengan brand kesehatan ... cari dokter yang bisa kita ajak kerja sama untuk menjadi model dan masuk ke Agensi" ucap Nio. Ia lebih memilih mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa kau masih enggan mereka?" tanya Gatana, membuat Nia mendelik sebal pada adiknya. "Jika menurutmu, kau bisa memaafkan mereka temui saja mereka." Setelah mengatakan itu, Nio pun meninggalkan sang adik untuk keluar dari ruangan olahraga.


Setelah berolahlaga, Nio memutuskan untuk berendam di bathube, ia memandang kosong ke depan dengan tatapan kosong, lalu menenggak wine di sedikit demi sedikit. Nyatanya, memiliki kekayaan di usia muda tak membuat lukanya hilang begitu saja. Ia dan adiknya harus tetap berjuang untuk memulihkan semuanya.

__ADS_1


.Tenang gengs ya, Iren ga sama Albi kok wkwkw Kisahnya beda jauh sama gani dan mahira


__ADS_2