
Iren menatap kedepan dengan tatapan kosong. Ia tak bisa berpikir jernih, ia merasa ia butuh pasokan udara karena ia merasakan sesak yang luar biasa
Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga. Ia merasa kakinya mati rasa dan tak berpijak pada bumi. Saat ini, Iren sedang berada di taman rumah sakit, ia menenangkan diri sejenak setelah dokter memvonisnya dengan penyakit yang cukup menakutkan, kanker rahim stadium 2.
Dunia Iren menggelap saat mendengar kenyataan bahwa ia mengidap penyakit yang cukup mematikan. Rasanya ia tak sanggup untuk menghadapi semua.
Iren sendirian, tak ada tempatnya bergantung, tak ada tempatnyan untuk berbagi keluh kesah. Sang ayah tak ada di sisinya dan sang suami ... Sama sekali tak bisa di andalkan.
Harus bagaimana ia sekarang ... Ia masih harus berjuang untuk membebaskan sang ayah dan ia juga harus mengobati dirinya.
Setelah sekian lama diam, Iren tersadar dari lamunannya. Ia tak boleh lemah, ia harus kuat, demi kesembuhannya dan kebebasan sang ayah.
Karena masih merasakan nyeri pada perut, Iren pun bangkit dengan perlahan, ia harus segera mengistrihatkan tubuhnya. Ia berjalan dengan pelan untuk pergi ke mobil.
__ADS_1
Saat sampai di mobil, Iren terdiam sejenak. Ia menyenderkan tubuhnya kebelakang. Walaupun berusaha tegar, nyatanya ia tak bisa. Semuanya bagaikan mimpi buruk bagi Iren.
ia menaruh kepalanya di stir kemudi lalu ia menangis sekencang-kencangnya. Mustahil bagi Iren untuk tak menangis.
Pikiran Iren kalut dan kacau, ia merasa jiwanya di renggut paksa dari raganya, ini menyakitkan dan sangat-sangat menyakitkan.
Setelah 30 menit berdiam diri di mobil, Iren pun menghidupkan mesin mobilnya dan menjalankannya.
Jalanan aga sedikit macet, membuat Iren menghela napas berat dan menghembuskannya dengan kencang. Saat kendaraaan di depannya tak kunjung maju, ia kembali menyenderkan punggungnya kebelakang, dan 45 menit kemudian ... Ia sampai di rumah.
"Dari mana saja kau!" bentak Albi saat Iren masuk. Albi langsung pulang ketika sipir penjaga berkata Iren mengunjungi ayahnya. Ya, selama ini ... Albi melarang Iren untuk bertemu ayahnya. Albi memang berniat membalas Iren dengan sungguh-sungguh, hingga ia tak mengijinkan Iren bertemu dengan ayahnya. Karena Albi tau, bahwa Iren akan sangat tersiksa dan jika Iren melanggar, ia memiliki alasan untuk memarahi Iren.
Iren tak kaget dengan teriakan Albi, ia memandang Albi dengan tatapan datar dan berlalu meninggalkan Albi begitu saja, membuat Albi terpaku. Biasanya, Iren akan menunduk jika Albi memarahinya, tapi kali ini ....
__ADS_1
Setelah Albi mempunyai apartemen, Albi memang masih pulang ke rumahnya seminggu sekali atau seminggu dua kali untuk mengambil pakaian atau berkas-berkas, ia tak pernah berbicara dengan Iren.
Ia hanya akan berbicara dengan Iren, ketika ia memarahi Iren, dan Albi selalu puas melihat Iren menangis dan tertunduk.
Tapi sekarang, untuk pertama kalinya, Iren mengabaikan ucapannya, membuat Albi terpaku dan murka sekaligus.
"Iren!" teriak Albi lagi. Iren yang akan menaiki tangga tak gentar, ia tak mempunyai tenaga untuk berdebat dengan Albi. Hingga ia memutuskan untuk tak meladeni ucapan suaminya.
Ia meneruskan langkahnya, menaiki satu persatu anak tangga untuk pergi ke kamarnya. Namun, baru saja Iren berjalan beberapa langkah, langkahnya sudah terhenti karena Albi mencekal tangannya dan terpaksa membuat Iren berbalik.
"Berani sekali kau mengabaikanku!" desis Albi dengan rahang mengeras. Ia memandang Iren dengan tatapan membunuh, tatapan yang mengisyaratkan bahwa Albi benar, benar-benar membenci Iren.
Iren bergeming, ia tetap memandang Albi dengan tatapan datar. Ia sama sekali tak berniat membalas apa yang di ucapkan dan di lakukan oleh Albi, bahkan, ia tak meringis saat Albi mencekal tangannya dengar keras.
__ADS_1
Di titik ini, Iren merasa bahwa mungkin ... Ia mati rasa.