
visualisasi 'Dinda putri Adyatma
Entah ini pukul berapa. aku baru tersadar dari mimpi indahku ketika sinar mentari menyelinap di sela sela horden kamarku.
terdengar diluar kamar sepertinya sedang ramai. seperti biasanya, rutinitas pagi ketika bangun langsung mandi kemudian membersihkan kamarku. setelah berpakaian aku pun keluar dari dalam kamar.
"selamat pagi kesayangan ibu.." sambut ibuku
" pagi juga bu.." sapaku sambil menggandeng tangan ibuku yg sedang sibuk mengurusi makanan didapur.
"sepertinya ayah ada tamu. siapa dia bu?" tanyaku penasaran
"itu Sahabat Ayah kamu... hampir 20 tahun mereka baru bertemu"
"oh ayah punya sahabat juga. pikirku selama ini ayah hanya punya rekan kerja biasa saja"
"kamu nggak tau sayang. terakhir kami bertemu saat pernikahan ayah dan ibu, setelah itu beliau pindah ke luar kota membangun bisnis dan kehilangan kontak dengannya" terang ibuku
"jadi sahabat ayah itu pebisnis juga. barangkali mereka bisa kerjasama dong bu.." kataq
"kamu tau kan perusahaan MP grup? dia pak Ramli Prasetya pemilik perusahaan itu" bisik ibuku..
" what...!! berarti..." ucapanku terputus mengingat bahwa Dafa bekerja MP grup ternyata adalah milik pak Ramli Prasetya sahabat ayah.
"ya udah, tolong antar minumannya ke depan yah Dind..." pinta Ibuku.
"iya bu.." ucapku singkat sambil membawa minuman untuk jamuan tamu Ayah, si pak Ramli Prasetya.
tidak kebayang banget bisa bertemu dengan pemilik perusahaan terbesar dikotaku. aku juga tidak menyangka ayah bisa mengenal keluarga pak Ramli.
__ADS_1
"apa gadis ini putri mu Mas?" tanya istri pak ramli
"iya.. ini putriku satu satunya" jawab ayah
"wah cantik..." ucap istri pak Ramli sambil tersenyum.
"kan ibunya cantik fid.." sahut ibuku yang menyusulku sambil membawa kue kering
mereka tersenyum. aku pun ikut tersenyum malu malu.
" silahkan di minum pak, bu.." kataku mempersilahkan mereka mencicipi minuman dan makanan yang ibu sudah sediakan.
aku duduk disudut kursi, hanya mendengar obrolan mereka. ayah, ibu, pak Ramli dan istrinya mereka terlihat begitu dekat.
"kamu ingat tidak pras.. aku pernah bilang kalau suatu hari nanti aku ingin menjadi bagian dari keluarga kalian" kata pak Ramli
"hahaha.. iya waktu mas mengatakan demikian"
"Ketika melihat Dinda, aku mengingat Zen. kamu tau Pras?"ucap Pak Ramli.
ayah hanya tersenyum kemudian tertawa bersama Ayah. sedangkan ibu dan tante Fidya sedang asik mengobrol tentang hal lain pula.
jadi pak Ramli punya Anak laki-laki yang sudah dewasa. berarti Dafa mengetahui siapa putra pak Ramli.
aku beranjak dari tempat dudukku.
" bu... aku ke kamar dulu yah.. " kataku pada ibu..
"oke sayang.." jawab ibuku singkat.
aku berlalu ke kamar. segera ku raih handphone ku hendak berkirim pesan ke Dafa yang mana nomor hp nya ia simpan semalam.
__ADS_1
namun, bukan nya mengirim pesan. batinku tergerak untuk menelponnya langsung.
"Assalamu Alaikum.. halo Daf.." sapaku dalam telpon
"wa alaikum salam.. iya" suara Dafa terdengar diseberang sana
"maaf aku menganggu..."
"nggak apa apa kok... kamu rindu yah" kata Dafa sambil tertawa kedengarannya
"eehehe, kamu bisa aja.. kamu nggak masuk kerja hari ini?" tanyaku
"hari ini aku free, ada apa?" tanya Dafa
"nggak kok. cuma nanya doang.." jawabku
" Jalan-jalan Yuk.." ajak Dafa
"Kemana?" jawabku penasaran
"kemana aja. kamu pilih tempat tujuannya"
"kayaknya Aku nggak bisa Hari ini. Ayahku Sedang ada Tamu penting dirumah.." jawabku
" ya sudah.. lain kali aja kalo gitu"
"emm Daf.. Aku mau tanya boleh dong" kataku
" tanya Aja, apaan emangnya?"
"ituu.. anuu.. eh"
__ADS_1
belum sempat ku tanyakan pada Dafa tiba-tiba pintu kamarku terbuka. ternyata tante fidya dan ibu yang kemari.
" halo.. Daf.. udah dulu yah.. Aku di cari ibu.. lain kali aja aku tanyain.. oke" tanpa menunggu jawaban dari Dafa, aku segera Menutup panggilannya.