Cintamu Dan Takdirku

Cintamu Dan Takdirku
Tentang Kecelakaan Kak Hendri


__ADS_3

"ada apa bu?" tanyaku pada ibu yang sedang berjalan ke arahku bersama tante Fidya


" itu tante Fidya penasaran dengan tanaman hidroponik ibu di taman belakang, temani dia jalan jalan kebelakang yah din.." pinta ibuku.


"oh iya bu.." jawabku pada ibu


"mari tante aku temani..." ajakku pada tante Fidya.


" jangan lupa petik beberapa sayuran untuk bunda Fidya yah din.." pinta ibuku


" ah nggak usah repot repot mba.." sanggah tante Fidya sambil tersenyum


" nggak apa kok tante.." kataku sambil berjalan menuju taman belakang di ikuti. tante Fidya.


" jangan panggil tante dong, panggil Bunda aja biar lebih gitu" kata tante Fidya

__ADS_1


"oh iya tante, eehh emmm Bunda.." jawabku gugup kemudian tersenyum. aku cukup gugup memanggil tante Fidya dengan panggilan bunda. entah mengapa rasanya aneh saja.. mungkin karena aku baru mengenalnya.


"wah sejuk sekali yah disini..." kata tante Fidya, maksud aku Bunda Fidya.


" iya, saat ibu suntuk dia sering kesini, disana ada bangku dan meja untuk bersantai". kataku sambil menunjuk bangku yang ku maksud.


" cukup menyenangkan, udara disini cukup segar". imbuh bunda Fidya sambil berjalan menuju bangku tersebut.


aku mengikuti Bunda Fidya. kami duduk dibangku yang berbeda. ditaman ini tersedia 3 buah bangku dengan sandaran dan bantal kecil serta 1 buah meja. aku melihat Bunda Fidya berbaring di atas bangku sambil memejamkan mata. aku tak bersuara. aku mengira Bunda fidya akan tidur. tiba-tiba aku melihat air matanya menetes di sudut matanya. entah apa yang sedang Bunda Fidya pikirkan.


" setiap kali aku bertemu ibumu, kami akan teringat dengan anak anak kami". lanjut Bunda Fidya. kini dia membuka matanya yang terlihat sembab. aku bisa memahami perasaan Bunda Fidya saat ini. aku hanya terdiam mendengar bunda Fidya berbicara. aku mengingat kalau ibu pernah bilang kak Hendri meninggal juga karena kecelakaan.


"apa ibu mu pernah bercerita tentang penyebab kecelakaan kakakmu?". tanya Bundya Fidya


"ibu tak pernah menjelaskan secara detail tentang penyebab kematian kak Hendri. ibu hanya bilang itu karena kecelakaan". jawabku

__ADS_1


" waktu itu kamu masih dalam kandungan, umur kakaknya Zen 7 tahun, sedangkan Zen dan Hendri berumur 5 tahun. mereka sekolah ditempat yang sama. karena papi Ramli dan ayah kamu sedang dalam perjalanan bisnis, maka aku lah yang menjemput mereka.Hendri dan kakak Zen duduk dibelakang. sedangkan Zen duduk disampingku. diperjalanan terjadi kecelakaan beruntun. mobil yang aku bawa tertabrak dengan mobil bus dari belakang...". kemudian Bunda Fidya terdiam sejenak sambil menarik nafas dalam dalam.


" aku tak sadarkan diri begitu pun dengan anak anak, aku koma selama 3 hari akibat benturan keras yang mengenai dada dan kepalaku. saat sadar mereka tak memberitahuku kalau kakak Zen sudah meninggal. begitu pula kakak kamu, Hendri". jelas Bunda Fidya.


" jadi kakak Hendri meninggal akibat kecelakaan bersama Bunda?" tanyaku dengan mata berkaca kaca. bunda Fidya hanya mengangguk sambil menarik dan memelukku.


" Bunda Minta maaf, bunda sangat merasa bersalah. karena bunda kamu kehilangan seorang kakak. bunda dan ibu kamu. kita sama sama kehilangan anak anak kami". kata bunda sambil menangis dalam pelukanku. begitu pula denganku. aku tak bisa membendung air mata yang sudah memenuhi pelupuk mataku.


" setidaknya Bunda masih Ada Zen dan masih Ada aku. Anak Ibu dan Bunda". kataku menenangkan Bunda Fidya. entah mengapa aku bisa berkata demikian menganggap bahwa aku bisa jadi anaknya juga.


NB:


haloo readers, aku mau bilang terima kasih banyak yang sudah berkunjung di ceritaku. makasih sudah like, koment dan Vote serta share. 😘😘


buat yang belum Like silahkan like, masukan komentarnya, jangan lupa share, dan jangan lupa Tap LOVE❤ Agar kamu mendpaat pemberitahuan ketika Update😉

__ADS_1


__ADS_2