
Hanya segini dulu ya. Lanjutannya ku update besok.
Kalian pasti pernah mendengar tentang permainan pemanggil hantu “Yes, No” atau “Charlie, Charlie” atau apalah orang menyebutnya. Kalau yang belum tahu, begini cara mainnya : 1. Siapkan dua pensil dan satu buku, 2. Pensil diletakkan di atas buku membentuk tanda tambah lalu diberi tulisan, 3. Lima anak duduk mengelilingi buku lalu mengucapkan mantra pemanggil hantu. Kurang lebih seperti itu cara mainnya. Ini cerita Romi yang katanya tak takut hantu.
Romi adalah siswa kelas 12 biasa. Dia dikenal sebagai anak paling pemberani seantero SMA Cakrawala 01. Suatu hari. “Rom, sini!" ajak Rino, teman Romi. Romi berjalan menuju Rino. Bukan hanya Rino, ada Susi, Ciput, Sasha, Gino, Koko dan Dion. “Kenapa?” tanya Romi sambil menentukan posisi duduknya. “Nggak apa-apa. Kita, kan geng. Harus ngumpul dong!” jawab Rino. O ya, Rino dan Gino itu saudara kembar lho... “Eh, main tebak-tebakan yuk!” kata Ciput. “Ogah ah. Kalau kalah nanti mentraktir lo, apalagi lo makan selalu banyak.” Tolak Gino. “Iya tuh.” “Iya.” Sahut yang lainnya. Ciput selalu bergaya dengan bibir manyunnya ketika marah. “Hay! Ada guru!” seru Susi.
“Pagi Paaaak....” kata semua siswa. “Pagi semua siswaku yang paling Bapak banggakan.” Jawab Pak Bayu. “Bapak punya berita baik nih. Besok akan ada PERSAMI di dekat Asrama Rawamangun. Semua wajib ikut.” Kata Pak Bayu. Para siswa malah berbisik-bisik. “Siapa yang tidak bersedia, KELUAR!” bentak Pak Bayu. Semua diam seketika.
“Aduh, gimana nih, gue nggak mau jurit malam lagi. Takut...” rengek Ciput. “Yee, gitu aja takut.” Kata Sasha. “Emang lo nggak takut?” tanya Dion. Sasha cengengesan. “Ke kantin yuk!” ajak Gino.
“Mbak Cipuuuut..... Mau beli apa?” tanya Ibu Kantin. “Hmm... Nasi goreng dua bungkus, baksonya lima ribu, sama es tehnya ya.” Jawab Ciput. “Nggak kurang tuh? Biasanya es tehnya dua gelas.” Ledek Susi. “Nggak ah, lagi mau diet.” “Diet kok cuma ngurangin segelas es teh.” Kata Koko. Ciput manyun lagi.
Sambil makan, mereka sambil berbincang. “Eh besok saat PERSAMI malam, kita main Charlie, Charlie mau nggak?” tawar Romi. “Yang pakai pensil itu? Yang duduk di tempat angker itu? Yang harus matahin pensil habis main itu? Nggak deh.” Tolak Sasha. Yang lain mengangguk. “Elah, cupu lo pada! Ayo dong.” Mereka terpaksa mengangguk.
__ADS_1
Hari PERSAMI telah tiba. Semua terlihat sangat antusias. Setelah pembukaan, dan lain-lain, semua berlangsung sampai malam. “Dah malam nih. Main yuk!” kata Romi. “Besok aja napa sih. Siang aja serem apalagi malam.” Tolak Gino. “Ada challenge nya. Siapa yang nggak takut, kecuali gue, bakal gue traktir nasi goreng sebungkus sama es teh segelas. Mau nggak?” tawar Romi. “Waaah.... kalau taruhannya makanan sih, mau dong.” Ciput sangat antusias. “Yuk kita ke tempat paling serem... Kamar mandi asrama.” Ajak Romi. Yang lainnya terpaksa membuntut di belakang.
Mereka telah sampai di kamar mandi asrama. Asrama ini sudah lama kosong dan dikenal angker karena pernah ada beberapa siswa bunuh diri di sini.
“Siapa yang punya pensil?” tanya Romi. Rino dan Gino masing-masing mengulurkan satu pensil. Romi mengeluarkan secarik kertas. Ditulisnya “Ya dan Tidak”. Mereka mengelilingi kertas itu dan duduk di depan lorong kamar mandi yang gelap dan sunyi. “Firasatku kok nggak enak ya,” gumam Sasha.
Mereka mulai mengucapkan mantra (bukan mantra sihir) pemanggil hantu di permainan ini. “Charlie, Charlie apakah kamu disitu? Jika...” belum selesai kalimatnya, pensil itu menunjuk ke arah ‘Yes’. “Astaga!” seru Sasha saat membuka mata. Yang lain ikut membuka mata. “Y-yes?” Gino keheranan. Romi pun berteriak. “Kalau ya, maka keluarlah, atau bawa kami ke duniamu.” “Hei, jangan ngasal aja. Kalau beneran dibawa gimana?” kata Rino, yang lainnya mengangguk. “Kalian ngerasa nggak tadi ada angin, nah itu pensil pasti gerak ketiup angin.” Romi mencoba mengusir ketakutan teman-temannya.
“Kita dimana?” tanya Ciput ketakutan. Mereka lalu beranjak dari tempatnya sekarang. “Kok kita kayak di rumah hantu ya,” Sasha tak kalah takut. “Yuk jalan!” kata Romi. Mereka membuka pintu rumah hantu tersebut yang berlumuran darah. Di dalam rumah itu dipenuhi laba-laba. Lilin yang semulanya menyala, padam seketika. Mereka berjalan terus dengan pencahayaan yang minim, yakni dari lubang-lubang di atap.
“Ini semua gara-gara lo Rom.” Kata Ciput pada Romi. “Iya ini gara-gara Romi.” Yang lain sependapat dengan Ciput. “Udahlah diem. Brengsek lo pada!” bentak Romi lalu terus berjalan. Mereka menemukan sebuah ruangan kuno. Sangat berdebu, banyak laba-laba, dan penuh darah. Lalu sebuah botol kaca jatuh dan pecah.
“Botol apaan nih?” gumam Romi lalu memungut botol tersebut. Ternyata ada secarik kertas di dalam botol itu. Dibacanya isi kertas itu. ‘Bagi kamu yang membaca ini, mungkin kamu adalah orang pertama yang datang kemari. Disini, adalah tempat kembalinya ruh-ruh orang meninggal. Pecahkan misterinya, jika tidak, bersiap menghadap Raja Charlie’ begitulah isi suratnya. Tiba-tiba Romi sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
“Eh, Romi, lo kenapa? Tolongin Romi dong!” Ciput sangat panik. “Pasti habis baca kertas ini.” Tebak Susi. “Alah, nggak jantan lo, Rom.” Ledek Koko yang lalu mengambil kertas itu dan membacanya. Setelah membaca, giliran Koko yang ikut tak sadarkan diri. “Ini ada apa sih?” Ciput makin panik. “Yaelah, nggak jantan juga lo Ko. Ayo kita baca.” Rino mengajak Gino membaca bersama. Mereka ikut tak sadarkan diri. Yang lain satu persatu ikut pingsan, kecuali Ciput.
“Ini pada kenapa sih? Woy kalian kenapa?” tanya Ciput. Angin bertiup tiba-tiba. “Plis tolongin gue! Gue takut ini. Kalian bangun dong,” Sudah ada air mata di pelupuk mata Ciput karena ketakutan. Lagi-lagi mereka dibawa ke tempat yang tidak mereka kenal. Satu persatu mulai sadar. “Gue dimana?” tanya Romi. “Kalian semua baru aja pingsan. Dan kita dibawa ke tempat ini.” Ciput membantu menjawab.
Tiba-tiba ada bau bawang putih yang sangat menyengat. Semuanya batuk-batuk, “Uhuk uhuk.” Ada bayangan hitam tepat di depan mereka. Dari bayangan itu, munculah sesosok drakula bergigi tajam dengan para kawanannya. Drakula itu bersiap menyedot darah Romi dkk. Tapi bau bawang putih yang masih sangat menyengat membuat drakula itu menunda sebentar. Dia meminum seperti darah dari sebuah botol ramuan.
“Hai,” sapa Drakula itu. Romi dan kawan-kawan mencoba tersenyum dan melambaikan tangan. “Kalian pasti baru saja main permainan Charlie kan? Itu aku, namaku Charlie. Dan aku yang membawa kalian ke sini.” Kata Drakula itu, Charlie namanya. Charlie melanjutkan ceritanya, “Aku sudah berada di sini selama 30 tahun. Dulu aku hanyalah siswa biasa seperti kalian, sampai suatu hari aku dan teman-temanku ikut PERSAMI. Saat itu, aku bertemu seorang kakak pemandu, bernama Robby. Dia adalah pemandu kelompokku. Dari awal, kami sudah merasa ada yang janggal dengan Robby. Dia membawa kami ke kamar mandi asrama, menyalakan kayu bakar, lalu entah mengapakan kami tiba-tiba sudah di dalam sebuah permainan yang tadi kalian mainkan. Kami dipaksa terus berputar, namun jika sedang nganggur kami menjadi drakula seperti ini.” Semuanya terus mengangguk
Mereka semua terus mendengar cerita Charlie. Saat selesai, Romi bertanya, “Lalu bagaimana cara kami keluar dari sini?” Charlie berfikir sejenak. “Sebetulnya hanya beberapa orang yang akan kubawa kemari. Dan mereka semua tidak aku izinkan keluar dari sini. Namun hanya untuk kalian saja, aku akan bawa kalian keluar.” kata Charlie. Semuanya berseru. “Tapi berhati-hati dengan Robby, yang aku dengar dia masih hidup. Jika lengah kalian akan bernasib seperti kita.” Charlie memperingatkan.
Tiba-tiba Romi dan teman-temannya sudah berada di tempat asalnya. “Ingat, awas dengan Robby.” Charlie kembali memperingatkan. Semuanya mengangguk. “Romi, dan yang lainnya, kenapa masih disitu? Ayo kesini!” kata Pak Bayu. Romi dkk berjalan menuju Pak Bayu. “Kalian akan melakukan mencari jejak. Pemandu kelompok kalian adalah Kak Robby. Baik, ayo kesini.” Pak Bayu menjelaskan. “Kak Robby? TIDAAAAAK!!!”
Tunggu terus ya. Update nya nggak sampai 3 hari okay?
__ADS_1