Creepy Short Story

Creepy Short Story
Ada Apa di Kelas 6A? ( Bab. 4 )


__ADS_3

Sungguh menyeramkan. Happy Reading ❤️



“Iiih, tempatnya serem!” kata seorang murid sambil melihat kelas 6A. Ya, kelas 6A di SD Kalijodo 04 dikenal dengan sebutan kelas paling angker. Konon, sekolah itu adalah tempat berkumpulnya orang Belanda dan kelas 6A adalah tempat membantai rakyat komunis. Beredar kabar bahwa roh-roh orang-orang yang dibantai masih ada di sana.


“Iya, aku tidak mau ke sana besok,” kata yang lainnya. Mereka murid kelas 5C yang akan naik ke kelas 6. Kelas 6A itu sudah belasan tahun dibiarkan kosong karena kabar yang beredar itu. Kini, kelas itu penuh sarang laba-laba, berdebu, dan sangat kumuh. Namun ada jejak sepatu yang masih tersisa di lantai, jejak telapak tangan di dinding yang sedikit ada darah tua kering, dan entah bagaimana pengapnya kelas itu.


Murid dari kelas 5B, Ina namanya, mendengar obrolan kedua orang itu. Entah kenapa, Ina jadi penasaran dengan kelas itu. Namun bel masuk membuat Ina terpaksa menunda kegiatannya.


Para murid berbaris untuk memasuki kelas. Kelas dimulai dengan sambutan dari Ibu guru yang sangat membosankan. Karena bosan, Ina dan Putri malah mengobrol. Ternyata sambutannya sampai bel istirahat. Lama sekali! Ckckck...


Mereka berjalan keluar kelas. Mereka menuju kantin untuk memesan makanan. Ina memesan semangkuk bakso dan segelas es teh. Sedangkan Putri memesan seporsi cilok dan segelas Thai tea. Tidak lengkap rasanya jika makan tidak sambil ngobrol. Hihihi...


“Putri, kok aku belum pernah mendengar cerita tentang kelas 6A?” tanya Ina. “Ya iyalah, kamu 'kan baru disini,” jawab Putri sambil terbahak. “Memang dimana kelasnya?” tanya Ina lagi. Putri melirik ke arah kelas 6A, namun kain putih terbang dari jendela menuju dalam kelas 6A. Wajah Putri sudah pucat. Ina bertanya, “Kamu kenapa?” Putri tak menjawab sambil terus melihat kelas itu. “Itu kelasnya?” Putri mengangguk. Ina tertawa sambil berkata, “Tidak ada apa-apa kok. Kamu ini penakut sekali,” “Ih kamu mah...” Putri memanyunkan bibirnya.


Mereka lanjut makan. Sambil makan, Ina sambil berfikir untuk menyelidiki kelas 6A.


Bel berbunyi mengakhiri istirahat. Mereka memasuki kelas, lalu memulai pelajaran kembali. Ina menduduki bangkunya, tepat di sebelah jendela. Kini adalah pelajaran membuat cerpen. Satu kelas fokus mengerjakan tugas mereka masing-masing. Saat sedang fokus, sesuatu mengusik ketenangan Ina. Terlihat bayangan hitam berlari melewati jendela.


“Apa itu?” Ina bertanya pada diri sendiri. “Ina, kamu kenapa?” tanya Putri melihat Ina tidak tenang. “Tidak apa. Nanti ku ceritakan,” jawab Ina. Putri hanya bisa mengangguk.


Waktu pulang telah tiba. Ina dan Putri pulang bersama jalan kaki. Rumah mereka tidak terlalu jauh dari sekolah, hanya memakan waktu kurang dari 10 menit. Meski begitu, mereka harus berjalan melewati Makam Dusun.


Kini mereka sedang berada di depan gapura Makam. Sambil berjalan, tentunya mereka sambil mengobrol. “Ina, beli eskrim dulu yuk!” ajak Putri. “Boleh tuh,” kata Ina. Mereka pergi ke warung eskrim Mbak Tuti. “Mbak... Beli eskrim coklatnya dua,” kata Ina. Mbak Tuti menyodorkan dua buah eskrim. Mereka duduk sebentar di depan warung.


“Ina, tadi kamu mau bicara apa?” tanya Putri. Ina menjawab, “Oh itu, tadi aku melihat bayangan hitam berlari di samping jendela. Itu apa ya?” “Kamu tuh ya, nggak ada takut-takutnya sama sekali. Ya itu hantu lah!” jawab Putri sambil terbahak. Ina ikut tertawa kecil.

__ADS_1


Mereka lanjut berjalan pulang. “Eh, Putri, minggu depan pengambilan raport, ‘kan?” tanya Ina. Putri mengangguk sambil tersenyum. “Kamu siapa yang mengambilnya?” tanya Ina lagi. “Mungkin Ibu dan adikku,” “Sama dong!” Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. “Eh tapi hati-hati, adik kita ‘kan masih balita nanti bisa lihat hantu,” kata Putri. “Ya terus?” “Hati-hati kalau mereka melihat kelas 6A,” Ina mengangguk.


**


“Ibu, Ina pulang!” seru Ina dari luar rumah. Ina langsung masuk dan mencium tangan ibunya.


“Ibu, besok adik Gio ikut tidak saat pengambilan raport?” tanya Ina. “Tentu dong, kalau tidak siapa yang menjaganya?” Ina dan Ibu tertawa bersama.


Setelah obrolan singkat itu, Ina masuk ke kamar lalu berganti pakaian. Seusai itu, Ina keluar kamar untuk makan.


“Ibu,” panggil Ina. “Hmm..” balas Ibu. “Katanya kalau bawa anak kecil ke sekolah, harus hati-hati.” “Hati-hati kenapa?” “Hati-hati karena biasanya anak kecil bisa melihat hantu,”


“Iya, Ibu tahu kalau soal itu. Tapi kenapa?” tanya Ibu lagi. Ina menceritakan semua yang dibilang Putri tadi.


“Oh begitu,” kata Ibu sambil mengangguk. “Berarti besok kamu yang menjaga Gio,” lanjut Ibu. Ina menggerutu pelan sambil menganggukkan kepalanya.


Satu minggu kemudian...


Hari ini adalah hari pengambilan raport. Ina, Ibu, dan Gio berangkat bersama. Karena Ibu menggendong Gio, Mereka berangkat naik angkot.


Perjalanan tidak terlalu lama. Hanya 10 menit. Saat sampai, Ibu menunggu di perpustakaan. Sedangkan Ina langsung berlari menuju kelasnya.


“Hai Ina,” sapa Putri. “Eh, Putri, pagi sekali datangnya. Hai juga,” kata Ina. Ina meletakkan tasnya di meja. Lalu lanjut mengobrol dengan Putri.


“Gio ikut tidak?” tanya Putri. Ina mengangguk. Baru mengobrol sebentar, bel masuk sudah berbunyi. Mereka mengikuti murid lain berbaris untuk apel pagi di lapangan.


Kepala sekolah memberikan pengumuman sebentar. Lalu para orang tua dipersilahkan masuk kelas anak-anaknya, sedangkan para murid menunggu di luar.

__ADS_1


“Adik kamu lucu, ya!” puji Putri. Kini, Gio sedang duduk dipangkuan Ina. “Hihihi...” Ina tertawa kecil.


“Ina, Ibu titip Gio dulu. Sana ajak main dulu!” perintah Ibu. Ina mengangguk. Ina, Putri, dan Gio pergi ke perpustakaan. Ina meminjam beberapa komik, sedangkan Putri meminjam buku biografi.


Mereka asyik membaca sampai-sampai tidak memperhatikan Gio. Ina yang tersadar Gio tidak ada, bertanya kepada Putri, “Gio kemana Put?” Putri terlihat kebingungan, lalu menemukan Gio. “Itu! Gio menuju...” kata-katanya terpotong. “Hah! Kelas 6A?!” seru mereka berdua.


Mereka berniat mengejar Gio. Saat sudah dekat, Gio malah masuk kedalam ruang kelas 6A.


“Aduh, bagaimana ini?” tanya Ina panik. Tanpa berpikir panjang, Ina langsung memasuki kelas itu. Putri yang melihat Ina masuk memperingatkan, “Ina... Jangan masuk!” Namun Ina sudah masuk terlalu jauh.


“Gio, Gio, kamu dimana?” panggil Ina. Namun ruang kelas yang remang-remang membuatnya berhenti sebentar. “Capek juga, padahal hanya di dalam kelas,” keluhnya.


Ina membersihkan sepatunya yang berdebu. Ada suara tapak kaki berjalan di belakang Ina. “Siapa itu?” tanya Ina. Apa mungkin itu Gio? Tanyanya dalam hati. “Gio!” teriak Ina. Tak ada tanggapan. “Gio!” teriaknya lagi. Masih tak ada tanggapan. Gio sudah bisa bicara, setidaknya dia membalas. Kenapa tadi tidak? Batin Ina.


Suara tapak kaki itu semakin mendekat ke arah Ina. Terlihat anak kecil berjalan ke arahnya. Cahaya yang minim membuatnya tak tahu siapa itu. Dipikirannya hanya ada Gio. Tanpa lama-lama lagi, Ina langsung memeluk anak kecil itu.


“Oh Gio, kakak minta maaf. Yuk keluar!” ajak Ina sambil melihat ke arah anak itu. Namun Ina terlonjak kaget. Ternyata yang dipeluknya tadi bukan Gio, melainkan kepala anak kecil yang sepertinya dimutilasi. “Astaga!” Ina langsung melempar kepala itu sampai mendekati papan tulis. Namun mulut yang berada di kepala anak itu malah tersenyum menyeramkan. Kepala itu menggelinding ke arah Ina.


“Tolong!” teriak Ina, namun suaranya seperti tak keluar. Kepala itu semakin mendekat. Terdengar suara anak kecil yang mirip seperti suara Gio. “Gio?” tanya Ina tak percaya. Saat anak yang diduga Gio itu mendekat, baru terlihat wujud aslinya. Ternyata itu adalah boneka menyeramkan. Matanya hilang satu dan ada pisau dan darah kering di dadanya. Rambutnya juga acak-acakan, cara jalannya sengkleh.


“Ternyata boneka ini ada di kehidupan nyata. Aku kira hanya di film,” gumam Ina seraya mendekati tembok. Kumohon, tolong aku! Teriaknya dalam hati. Anak itu semakin mendekat dan semakin mendekat. Bahkan tak ada cukup ruang lagi untuk Ina lari. Ina sudah sangat ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apalagi. Keringat dingin, air mata, telah mengucur deras dari tadi.


“Ina!” panggil Putri di depan pintu. Melihat Putri, para anak kecil itu menghilang. “Putri?” tanya Ina tak percaya. “Kamu mengapa ke situ? Gio ‘kan dari tadi sudah keluar,” kata Putri. Ina menatap kebingungan. Lalu beranjak keluar kelas itu. Ternyata benar yang dikatakan Putri, Gio sudah diluar. Namun rasa takutnya masih membekas sampai saat ini.


“Aku tidak menyangka, ya' anak pemberani seperti kamu pun takut di dalam,” ledek Putri. Ina hanya tertawa malu.


__ADS_1


Gimana-gimana? Udah serem belum? Semoga nggak terjadi di sekolah kalian. Bantu Vote dan Like ya. I ❤️ U all


__ADS_2