Creepy Short Story

Creepy Short Story
Hantu Perpustakaan ( Bab. 3 )


__ADS_3

Maaf ya kurang konsisten. Aku sibuk banget. Happy Reading ❤️


***


Kuliah, apa masalahnya? Masalahnya adalah saat kita mengambil kelas malam. Ya, itu, pasti tahu deh masalahnya.


“Malam mahasiswaku,” sapa Pak Popon. “Malam pak!” balas semua mahasiswa. Tepatnya hanya 14 mahasiswa. “Sepertinya masih ada yang minat ambil kelas malam, hebat.” puji Pak Popon lalu disambut sorak sorai dan tepuk tangan beberapa mahasiswa itu. “Baik bapak absen dulu ya. Utin, Sisil, Gina, Renata, Iyan, Aldi, Aldo.....” kata Pak Popon sambil terus mengabsen mahasiswanya.


“Baik, pelajaran selesai. Ternyata bapak tahu kenapa kalian mengambil kelas malam.” kata Pak Popon penuh kecurigaan. Semua mahasiswa hanya terdiam. “Pasti kalian mau kuliahnya cepat, kan?” tebak Pak Popon. Semuanya mengangguk sambil tersenyum. “Baik kalian lebih baik cepat pulang. Sampai bertemu besok.” pamit Pak Popon sambil melambaikan tangan. Semua mahasiswa pun berhamburan keluar kelas.


“Eh, kalian, ngobrol dulu yuk!” ajak Gina. Aldi menengok jam sebentar, lalu berkata, “Boleh, masih jam sepuluh kan.” Yang lain mengikutinya. “Ngobrolin apa nih?” tanya Renata. “Gimana kalau ngomongin soal rumor yang beredar di kampus ini.” Iyan memberi usul. “Boleh tuh!” kata yang lain serempak.


Setelah mengobrol cukup lama, ternyata rumor-rumor itu palsu. Hanya kabar burung saja. Utin yang dari tadi terdiam, ditanya oleh Sisil. “Utin, kamu kenapa? Diem aja.” tanya Sisil. “Eh, kamu, tahu sesuatu? Cerita dong!” pinta Iyan. Yang lain mengangguk.


“Kalian pernah dengar belum, soal cerita hantu perpustakaan?” tanya Utin.


Mereka menggeleng.

__ADS_1


“Jadi pernah ada mahasiswi jurusan teknologi datang sendirian malam-malam ke sana. Namun ternyata, ada seorang dosen sedang duduk di salah satu bangku perpustakaan. Nah, si cewek ini sempat mengobrol cukup banyak dengan dosen itu. Tapi tiba-tiba ada dosen yang menyuruhnya pulang. Si dosen itu mirip banget dengan yang sempat mengobrol dengannya. Dia sempat syok, lalu dilihat lagi dosen di sebelahnya ternyata sudah menghilang.” jelas Utin panjang lebar.


Yang lain hanya terkejut mendengar cerita Utin. “Yang bener? Kok aku belum pernah dengar?” tanya Renata tak percaya. Utin mengangguk. “Ih, kok aku merinding ya?” kata Sisil sambil memegang tengkuknya. “Sama,” sahut Renata. “Masih belum selesai,” kata Utin. “Oh ya? Ceritain lagi dong!” pinta Aldi. Utin mulai bercerita lagi.


Jadi begini ceritanya, ada seorang cewek dengan pacarnya pergi ke perpustakaan kampus. Si pacarnya ini minta izin ke kamar mandi, sama ceweknya dibolehin. Setelah menunggu cukup lama, kok si pacarnya itu nggak balik-balik. Lalu dia pergi menuju kamar mandi pria. Terdengar suara air gemericik dari salah satu kamar mandi. Dia mengetuk pintunya, tapi tak ada tanggapan. Pintu itu terus diketuk, tapi tiba-tiba pundak cewek itu ditepuk seseorang. Saat menengok ke belakang, ternyata ada....


“Ada psikopat terkejam dari yang paling kejam membawa pisau.” “Terus, terus?” tanya Aldo penasaran. Utin melanjutkan ceritanya, “Nah, psikopat terkejam dari yang paling kejam itu menusuk leher cewek itu beberapa kali, lalu menyayat perut cewek itu. Saat cewek itu sudah mati, psikopat itu menguburkan cewek itu di belakang kampus. Selang beberapa bulan, pembunuhnya mengaku ke polisi karena tak sanggup digentayangi oleh cewek itu. Katanya arwah cewek itu masih beredar di kampus ini,” lanjut Utin. “Jadi, arwah itu masih gentayangan di kampus ini?” tanya Sisil ketakutan. “Itu kan hanya kabar burung saja, lagian itu cerita 10 tahun yang lalu,” hibur Utin.


“Eh, tapi cerita soal dosen-dosen tadi itu baru berlangsung 2 tahun yang lalu. Berarti hantu itu masih ada. Mungkin saja arwahnya bisa berubah jadi siapapun, iya kan?” kata Aldi. Yang lain mengangguk. “Bisa jadi,” Iyan menyetujui. Aldi berkata, “Hmm.... Sepertinya kita harus selidiki ini.”


Keesokan malamnya seusai kelas, mereka sudah menyiapkan diri. Mulai dari perbekalan sampai kesiapan mental untuk menyelidiki hantu itu.


“Lo yakin ngelakuin ini, Gin?” tanya Renata sambil terus mendandani Gina. Gina mengangguk sambil berkata, “Kenapa nggak?” Renata mengangguk setuju dengan rasa cemas.


Mereka berjalan melewati lorong menuju perpustakaan. Perpustakaan itu terlihat sangat gelap dan sunyi. Hanya terdengar suara decitan pintu entah tertiup angin ataupun ulah hantu itu. Gina, yang sudah siap dengan make up dan kostum menyeramkan nya berdiri di ambang pintu perpustakaan. Gina sudah meminjam kunci perpustakaan pada pak satpam dengan alasan ingin meminjam beberapa buku..


Gina masuk, lalu mengunci pintu. Dengan harap-harap cemas teman-temannya menunggu di lorong perpus.

__ADS_1


Terdengar suara tapak kaki orang berjalan. Gina awalnya sedikit takut, namun dia dapat mengontrol ketakutannya. Gina mulai membuat suara tawa jahat, “Hi... Hi... Hi...”


Suara tapak kaki itu mendekat ke arah Gina. Gina menghampiri suara itu. Ditemuinya hantu di depan matanya. Hantu itu sangat menyeramkan. Tepat di depan matanya, hantu itu bertanya, “Siapa kau?” “Kau siapa?” Gina berbalik tanya. “Namaku Kinan, alumni kampus ini.” jawab hantu itu, Kinan namanya. Gina mengulurkan tangannya. “Namaku Gina.” kata Gina.


“Kamu kenapa menghantui kampus ini?” tanya Gina dengan nada tegang. “Bukan urusanmu!” bentak Kinan. “Aku sudah mendengar cerita tentangmu. Aku mau kamu pergi dari sini!” kata Gina bernada mengusir. “Nggak, aku nggak akan pergi dari sini!” “Kenapa?” “Karena aku mau balas dendam kepada seluruh kerabat kampus ini!” tegas Kinan. “Ingat ya, yang membunuh kamu itu psikopat terkenal. Bukan mahasiswa kampus ini sendiri. Jadi hantui dia bukan kami!” Gina membentak lagi. “Kamu jangan nyolot! Kalau nggak...” “Kalau nggak apa?” tanya Gina dengan santainya.


Kinan membuang napas berat, lalu berkata, “Aku hanya rindu tempat ini.”


“Lalu mengapa kamu gentayangan di sini?” tanya Gina.


“Aku tidak sengaja saat itu. Tapi karena rumor ku sudah beredar, aku meluapkan amarah dengan kejahilan-kejahilanku.” jawab Kinan. “Sebelumnya tidak ada yang berani menemui ku, karena kamu gadis pemberani, aku akan pergi dari sini deh!” kata Kinan sambil tersenyum. “Oh ya? Aku jadi tidak enak padamu,” sesal Gina. “Tak apa, selamat tinggal...” Kinan melambaikan tangan, lalu menghilang.


Gina keluar dari perpustakaan dengan perasaan campur aduk, entah harus senang atau sedih.


Beberapa hari ini tidak ada cerita soal hantu perpustakaan. Karena Kinan sudah benar-benar pergi. Kini kampus sudah terbebas dari hantu. Namun untuk bertemu dengan Kinan, itu menjadi rahasia Gina selamanya.


***

__ADS_1


Waduh! Ngeri juga ada hantu perpustakaan.


Thank you for reading. Don't forget to like, comment, and vote ya... Lup kalian ❤️


__ADS_2