Creepy Short Story

Creepy Short Story
Misteri Kamar Mandi Ujung


__ADS_3

Lagi suka ke misteri, sih!


_


Pagi ini, Lila hendak berangkat ke sekolah. Dia bersekolah di SMP Negeri 98, kelas VIIB. Sekolah itu adalah SMP paling maju di kota. Karena sering mendapat prestasi, bahkan beberapa muridnya ada yang mendapat beasiswa. Namun sayang, sekolah itu cukup kecil. Lila berangkat bersama sahabat sekaligus tetanggganya, Salsa namanya.


“Salsa!” panggil Lila di depan rumah Salsa. Selang beberapa detik, ibu Salsa – Bu Novi malah yang keluar. “Salsanya lagi sarapan. Mbak Lila sudah sarapan belum?” tanya Bu Novi. Lila menggeleng. “Yuk masuk!” ajak Bu Novi. Lila membuntut di belakang.


“Yuk mbak Lila makan dulu!” kata Bu Novi. “Tidak usah, Bu. Saya masih kenyang,” tolak Lila. Namun Bu Novi mengulurkan selembar roti tawar berselai coklat. “Makan saja tak usah malu,” sahut Salsa dari belakang. Lila akhirnya mengambil roti itu lalu memakannya. “Kami berangkat dulu ya, Bu! Dadah...” pamit Lila sambil mencium tangan Bu Novi. Begitu juga Salsa. Mereka berdua berangkat dengan berjalan kaki.


“Bilang makasih ya, Sal, ke ibu kamu!” kata Lila. “Oke!” seru Salsa.


Kini, mereka sudah sampai di gerbang sekolah.


“Eh kamu tahu tidak, kemarin aku ke kamar mandi ujung. Tapi lampunya hidup mati sendiri?” kata seorang murid kelas delapan. “Oh ya? Berarti kabar burung itu benar,” kata yang lainnya. “Kabar burung soal apa?” “Ya itu, soal di sana angker,”

__ADS_1


Lila dan Salsa menyimak percakapan dua siswi tersebut. “Memang kamar mandi ujung angker ya?” tanya Lila. “Aku juga kurang tahu,” jawab Salsa. Mereka memutuskan untuk bertanya kepada dua siswi tadi. “Permisi, kak. Kami tidak sengaja dengar percakapan kakak, memang ada apa di kamar mandi ujung?” tanya Salsa. “Baik, duduk dulu yuk!” ajak kakak itu – Kak Jinny dan Kak Arel. Lalu mereka duduk di bangku depan sekolah.


“Jadi bagaimana, kak, ceritanya?” tanya Lila penasaran. “Katanya, sekolah ini dahulu adalah rumah sakit jiwa,” kata Kak Arel. “Apa? Rumah sakit jiwa?” tanya Salsa. “Iya, dan katanya ruang jenazah itu berada di kamar mandi ujung. Seiring berjalannya waktu, rumah sakit itu digusur karena tak memiliki ijin. Dibangunlah sekolah,” kini giliran Kak Jinny yang menjelaskan. “Waduh, ngeri juga, ya!” kata Lila. Kak Jinny dan Arel hendak bercerita lebih panjang, namun bel masuk berbunyi. “Nanti istirahat ke sini lagi, ya!” kata Kak Jinny sambil berlari. Lila dan Salsa pun buru-buru masuk ke kelas.


Hari ini pelajaran pertama kelas VIIB adalah olahraga. Mereka berolahraga di lapangan depan sekolah, karena lapangan SMP Negeri 98 tidak cukup luas. Lila dan Salsa sudah berganti kaos olahraga. Lila memakai kaus olahraga lengan pendek dengan sepatu olahraga dan rambut dikuncir. Salsa juga hampir sama. Satu kelas kini beragkat dengan berjalan kaki dan membawa peralatan olahraga.


Tema minggu ini adalah kasti. Semuanya pasti tahu dengan permainan kasti. Mereka semua telah bermain cukup lama, sekitar 2 jam dengan istirahat 10 menit perjam. Sebelum pulang ke sekolah, mereka diperbolehkan membeli makanan.


“Aku haus nih,” keluh Lila. “Sama,” balas Salsa. Mereka berdua mampir ke toko lemon tea depan gang. “Mas, lemon tea-nya dua,” kata Salsa. Penjualnya menyodorkan dua gelas lemon tea. Lila dan Salsa meneguknya dengan cepat. “Eh nanti jadi ngobrol sama Kak Jinny lagi, kan?” tanya Lila disela-sela minumnya. Salsa mengangguk. “Kok aku jadi ngeri, ya, sama kamar mandi ujung,” “Sama,”


“Bagaimana kelanjutannya, kak?” tanya Salsa penasaran. “Langsung ke inti saja, ya. Intinya jangan masuk kamar mandi situ kalau tak mau terjebak,” jelas Kak Jinny. Belum selesai menjelaskan, hujan deras turun dan membasahi mereka berempat. “Waduh! Yuk ganti baju dulu!” ajak Kak Arel. Mereka berada di satu kamar mandi. Kak Jinny di kamar mandi pertama, Kak Arel di kamar mandi kedua, Salsa di kamar mandi ketiga. Sebelum itu, mereka sudah membawa baju ganti. Tak ada pilihan untuk Lila. Kamar mandi keempat sudah dipakai seseorang. Hanya ada kamar mandi ujung. Tanpa berfikir panjang, Lila langsung masuk daripada kedinginan.


“Terpaksa, deh, harus masuk sini,” gumam Lila. Lila lupa menghidupkan lampu jadi terpaksa ganti dalam gelap. Lila menyalakan keran, selang beberapa detik keran itu menutup kembali. “Lho kok nutup?” tanya Lila kepada dirinya sendiri. Dia membuka keran itu lagi, namun menutup lagi. begitu terus sampai 5 kali. Saat yang ke-6, Lila hendak membuka keran itu lagi, namun sebuah tangan menyentuh bagian atas tangan Lila. Tangan itu kurus kering dan berkuku panjang.


“Hum? Apa ini?” tanya Lila sambil melihat ke arah atas. KYAAA!! Ternyata adalah Falak. Falak itu seperti bersiap menerkam Lila. “Tolong, tolong aku!” teriak Lila sambil berusaha membuka pintu. Namun pintu itu terkunci. Falak itu semakin mendekat. Lampunya menyala hidup-mati. Kerannya membuka dan menutup. Lila menunduk sambil terus berkata, “Tolong, siapapun tolong aku!” Falak itu semakin mendekati Lila. Lila baru ingat yang diajarkan guru agama. Dengan membaca doa. Walaupun sebenarnya di kamar mandi tidak boleh berdoa.

__ADS_1


Lila mengulangi doa itu terus-menerus. Setelah 5 kali, Falak itu seperti kepanasan. Falak itu memegang lehernya sambil berteriak. Namun Lila tak berhenti membaca doa. Sampai akhirnya Falak itu menghilang, tetapi Lila malah pingsan di kamar mandi.


“Lila!” Kak Jinny berhasil mendobrak pintu kamar mandi. Melihat Lila pingsan, ia dan Kak Arel membawa Lila ke UKS. Setelah diberi minyak angin, Lila akhirnya sadar.


“Fyuuh, untung kamu sudah sadar Lila!” kata Salsa. “Iya, kami panik sekali!” kata Kak Arel. Lila mengangguk. “Karena ini sudah jam pulang, aku antar kamu ya?” pinta Salsa. “Boleh,” kata Lila. Kak Arel mengambilkan tas dan buku milik Lila di kelas. Salsa lalu mengantar Lila pulang.


“Kamu kenapa pilih kamar mandi ujung, sih?” tanya Salsa. “Karena kamar mandi keempat sudah diisi,” “Oh ya? Tadi tuh kosong,” kata Salsa. “Tapi pintunya terkunci,” Salsa mengangguk paham.


***


Sore ini, Lila sudah berganti baju tidur dan bersiap untuk tidur. Namun dia menonton acara kesayangannya terlebih dahulu di TV. Saat pukul 20.30 Lila sudah mengantuk. Matanya sudah terpejam tetapi seperti ada bayangan hitam di depannya. Lila membuka matanya. Ternyata.... KYAA!!! Falak tadi berada tepat didepan wajah Lila dan bersiap untuk menerkam Lila. Tangan dengan kukunya yang tajam bersiap mencakar Lila.


_


**Hati-hati loh, kalau di sekolahmu ada hantunya. Hihihi... Takut.

__ADS_1


Thank you for reading don't forget to like and comment. Bye 👋**


__ADS_2