DAISY Dan Haluannya

DAISY Dan Haluannya
PROLOG


__ADS_3

Daisy membuka kelopak matanya saat merasa tidurnya tidak nyenyak. Matanya membulat hebat saat melihat sosok lelaki sedang memeluk dirinya.


what?!


Daisy otomatis mendorong tubuh lelaki itu agar menjauh darinya. Ia berdiri dan menatapi lelaki itu tak jauh dari kasur. Jantungnya berdetak lebih cepat saat melihat wajah lelaki itu.


Wajahnya sangat tampan, tapi setampan apapun tetap tidak sopan jika memeluk seorang perempuan yang tidak dikenalnya.


Banyak pertanyaan yang timbul di otak Daisy. Siapa lelaki itu? Bagaimana lelaki itu bisa masuk ke dalam kamarnya? Apakah orang tuanya tidak melarang lelaki itu masuk?


Mata lelaki itu terbuka dan duduk di kasur. Daisy mendekati meja belajarnya dan mengambil tepak miliknya, untuk jaga-jaga.


"Daisy? kamu kenapa?" lelaki itu merapihkan rambutnya.


"Ka-kamu siapa sih?!"


"Kok bisa masuk kesini?! oh maling ya?!"


Lelaki itu mengerutkan dahinya. "Maksudnya?"


"Alah! Gak usah pura-pura gitu deh, Lo siapa hah?!"


"Kalo gak ngaku, Gue tusuk mata Lo pake ini!" ancam Daisy sambil mendekati lelaki itu.


Lelaki itu tidak melihat sesuatu yang panjang. Tapi karena itu adalah tepak yang kemungkinan di dalamnya ada bolpoin atau pensil, akhirnya lelaki itu pun menyebutkan namanya.


"Aksa, aku Aksa! Kamu gimana sih, aku kan pacar kamu," ucap Aksa kesal.


"Pa-pacar?" beo Daisy.


"Daisy! Ada apa? kamu bicara sama siapa?" Delia mengetuk pintu kamar anaknya.


Daisy melotot. Dirinya semakin takut, gugup, kesal, dan penasaran dengan semua ini.


Jika ia membuka pintu kamarnya dan ibunya akan melihat Aksa, Delia pasti akan marah besar.


"Lo! bisa gak ngumpet bentar di kamer?"


"Ah, kamu lagi lihat sesuatu ya? Ya sudah aku ngumpet dulu bentar,"


Aksa memasuki lemari Daisy yang kosong dan kebetulan ukurannya lebar dan tinggi.


"DAISY!" Teriak Delia.


"Woy!"


"Eh iya mak sabar," Daisy pun bergegas membuka pintu saat merasa kondisi kamar sudah aman.


"Kamu kenapa sih?!" tanya Ibunya curiga.


"Kamu gak pacaran kan? gak bawa pacar kamu ke kamar kan?" curiga Delia sambil melihat-lihat seisi kamar.


Delia masuk ke kamar Daisy. "Aman, awas aja kalo kamu ketahuan pacaran!" ancam Delia.


Delia kembali keluar kamar Daisy. Langkah kaki ibunya berhenti, Delia menoleh sedikit ke belakang ke arah Daisy.


"Oh iya, Abang Yusuf udah siap antar kamu ke sekolah. Buruan mandi, jangan lama," ucap Delia kemudian melenggang turun ke lantai bawah.


"Oke!" jawab Daisy.


Gadis itu menghela napasnya lega. Pintu kamar kembali ditutup, Aksa pun keluar dari lemari.


"Penampakkan hantu itu kaya gimana sih?" tanya Aksa.


"Heh! kamu siapa?!" tanya Daisy sempat lupa menanyakan itu.


"Aksa, kan tadi udah kasih tau. Aku pacar kamu hey," Aksa berjalan mendekati Daisy yang masih mematung.


"Astaga, bentar-bentar,"


Daisy menepuk pipinya dan mencubitnya. Sakit, itulah yang ia rasakan.


"Kenapa sih?" tanya Aksa penasaran.


"Coba jelasin tentang informasi Gue kalo Lo beneran pacar Gue,"


"Perasaan Gue gak punya pacar, dan lagi gak dekat sama cowok juga,"


"Kalo gak percaya mending tanya Tania sama Vera, mereka berdua tau kok kalo kita pacaran,"


"Daripada nanya-nanya kaya gitu, mending mandi gih. Abis itu kita berangkat ke sekolah,"


Tunggu-tunggu. Aksa, Tania, Vera. Tiga nama itu adalah tokoh dalam cerita novelnya.


Daisy mencoba mengingat novel buatannya itu, tentang alur ceritanya. Seingatnya, Aksa dalam novelnya itu mempunyai seorang pacar tapi ia lupa siapa orangnya.


"Ya udah lah daripada ribet, mending Lo ikut Gue ke bawah! Sekalian makan, free noh! Enak di rumah orang kaya," Daisy yang tidak ingin ambil pusing pun segera keluar kamar.


"Gue mau mandi, Lo turun ke bawah dan jelasin sama keluarga Gue!" ucap Daisy sebelum keluar kamar.


...•••...


Badannya sudah wangi. Pakaian tidur pun sudah terganti dengan baju berwarna putih dan rok abu-abu.


Daisy tidak sabar bertemu mereka, apalagi ada Aksa disana. Sangat ingin mendengar penjelasan Aksa.


Kakinya berhenti menuruni tangga. Ia terpaku saat melihat keluarganya sedang makan dan juga Aksa duduk di salah satu kursi yang ditempati oleh Yusuf, sang Kakak.


Tapi, tubuh mereka terlihat seperti bayangan. Yusuf dan Aksa terlihat biasa saja, seperti tidak ada gangguan. Begitu juga dengan Nenek, Kakek, Ayah, dan juga Ibu. Mereka sedang makan, kecuali Ayah dan Kakek yah sedang mengobrol sambil makan juga.


"Ini mimpi? atau apa sih?"


Semua orang yang sedang makan langsung menoleh ke arah Daisy yang masih berdiri di atas tangga.


"Daisy, kamu udah mandi kan? Ayo makan dulu!" ajak Aksa.


"Dai, buruan makan. Nanti telat," peringat Yusuf.


Daisy bingung ingin menjawab yang mana. Ia masih diam disitu.

__ADS_1


Aksa berdiri dan berjalan mendekati Daisy. "Ayo makan!" ajak Aksa.


"Eh!" reflek Daisy menjauhkan dirinya saat Aksa mendekatinya.


Aksa menggunakan seragam yang sama dengannya. Apa artinya lelaki itu satu sekolah dengannya?


"Lo kok pake baju yang sama kaya Gue?" tanya Daisy pada Aksa.


"Lagi telponan sama siapa? simpan dulu hp nya, makan dulu nanti telat," ucap Nenek.


Akhirnya Daisy paham bahwa mereka benar-benar tidak melihat Aksa. Hanya Daisy yang bisa melihat Aksa, tapi apakah Aksa bisa melihat mereka?


Aksa yang bingung akhirnya memilih untuk menarik tangan Daisy menuju dapur. Daisy pun duduk di kursi yang kosong, di sebelahnya Yusuf dimana Aksa juga duduk di situ.


Daisy menoleh ke arah kanan, Aksa dan Yusuf duduk di kursi yang sama.


"Kamu mau berangkat sendiri atau mau berangkat sama Yusuf?" tanya sang Ayah.


Aksa sedang makan, Daisy melirik ke arah lelaki itu. Jika dirinya berangkat sendiri, ia memiliki waktu untuk berbicara dengan Aksa.


"Aku berangkat sendiri aja, Yah," jawab Daisy.


Firman pun mengangguk saja. "Kamu bisa berangkat sendiri?" tanya Yusuf.


Daisy mengangguk. "Bisa kok," jawab Daisy.


"Ya udah, buruan makan," ucap Yusuf.


Daisy mulai mengambil piring. Sarapan pagi ini adalah sayur dengan tempe tahu tak lupa dengan ikan, juga sambel bagi yang suka.


Daisy mulai makan. Yusuf berdiri dari kursinya, lelaki itu mencium tangan Ayah, Ibu, Kakek dan Nenek secara bergantian.


"Yusuf kerja dulu, Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam," jawab semua orang kecuali Aksa.


Daisy menoleh ke arah Aksa, lelaki itu masih fokus makan.


"Kamu belajar yang bener, jangan melamun aja," tegur Yusuf sambil mengelus rambut Daisy.


"Eh iya," ucap Daisy.


Tangan Daisy mengambil tangan Yusuf lalu menciumnya.


"Belajar yang bener," ucap Yusuf.


"Iya bawel," balas Daisy.


Yusuf pun keluar dari rumah. Daisy melihati Yusuf yang keluar dari rumah, lalu ia menoleh ke arah Aksa. Lelaki itu sudah selesai makan.


"Dikit lagi makannya, cepet abisin. Nanti telat, eh kamu kok diem aja? tumben," celetuk Aksa sebelum dirinya pergi mencuci piringnya.


Daisy pun buru-buru melahap makanannya, dan langsung mencuci piring.


"Biar aku aja," ucap Aksa lalu mengambil piring Daisy.


"Tas aku sekalian!"


Kakinya berhenti sebentar, ia kembali menoleh ke bawah. Keluarganya sudah selesai makan dan Delia sedang mencuci piring. Delia dan Aksa tampak tidak melihat satu sama lain.


Jadi, mereka benar-benar tidak bisa melihat Aksa. dan Aksa juga tidak bisa melihat mereka.


"Daisy, kamu kenapa sih? daritadi melamun Mulu," tegur sang Kakek yang sedang menaiki tangga.


"Tadi kaya ada sesuatu aja Kek, aku duluan!" Daisy langsung pergi ke kamar.


Pintu kamar dibuka. Ia langsung mengambil tas sekolah, ketika melihat buku ia jadi teringat akan novel karyanya. Ia sangat membutuhkan novel itu karena di novel itu ia membuat tokoh-tokoh yang mempunyai nama Aksa, Tania, dan Vera. Dua perempuan itu yaitu Tania dan Vera adalah temannya Daisy, itu kata Aksa.


Di novel itu juga ada tokoh yang bernama Tania dan Vera, tapi Daisy lupa apa peran mereka. Seingat Daisy, ada nama dirinya sendiri di novel itu dan ia lupa juga apa perannya. Novel itu dibuat olehnya satu tahun yang lalu.


Dan novel itu sudah dirampas oleh Ibunya karena dirinya dilarang membaca buku-buku seperti itu, karena menurut keluarganya melakukan sesuatu yang tidak berguna itu sangat merugikan.


Setelah mengambil tas miliknya, ia teringat dengan tas milik Aksa. Tapi, ada dimana tas lelaki itu?


Daisy membalikkan tubuhnya hendak keluar dari kamar. Tapi, langkahnya terhenti karena melihat tas berwarna hitam yang belum pernah ada di rumahnya. Ada gantungan huruf A dan D yang bersatu di tas itu. Apakah itu singkatan dari Aksa Daisy?


Karena merasa itu adalah tas Aksa, akhirnya Daisy mengambilnya. Ia membawa dua tas di punggungnya.


Daisy keluar dari kamarnya, dan menutup pintunya.


"Daisy," itu suara Fatimah.


"Astaghfirullah Nek! kaget aku," Daisy memang beneran kaget.


Daisy membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah sang nenek. "Nek, aku bawa tas berapa coba?"


"Satu lah, kamu kenapa sih?" tanya Fatimah curiga.


"Gapapa, Nek. Aku cuma mau ngetes penglihatan Nenek aja," jawab Daisy sambil tersenyum lebar.


"Ada-ada aja kamu, udah sana berangkat! Udah mau jam setengah tujuh tuh!"


"Oke!" Daisy mencium tangan Fatimah lalu pergi menuruni tangga secara perlahan.


"Ayo berangkat!" ajak Aksa yang berada di luar rumah.


Pintu rumah terbuka, jadi Daisy bisa melihatnya.


Daisy pun langsung berlari ke Aksa.


"Daisy, kamu kok gak salaman dulu sama kami?" tanya Delia saat melihat anak gadisnya langsung pergi begitu saja.


Daisy berhenti dan menoleh ke arah mereka.


"Daisy, ayo!" ajak Aksa.


Ia menoleh ke Aksa, lelaki itu memasang wajah jenuh dan menunggu.


"Daisy! Kamu melamun aja, kenapa sih?" tegur Firman.

__ADS_1


Daisy benar-benar bingung.


"DAISY!" panggil Delia dengan suara yang keras.


Karena melihat ibunya yang memasang wajah marah, juga keluarganya yang menatapnya aneh juga curiga alhasil Daisy pun mendekati mereka.


Daisy mencium tangan Kakeknya, lalu Firman, dan berakhir ke Delia. Fatimah sedang berada di kamarnya, sepertinya.


"Kamu kenapa sih? Melamun aja," tanya Delia jengkel.


"Jangan banyak melamun!!" tegas Delia saat Daisy tidak menjawab pertanyaannya den pergi begitu saja.


"Kambuh ni anak," gumam Aksa.


"Tas aku, sini," ucap Aksa saat Daisy sudah berada di dekatnya.


Daisy memberikan tas milik Aksa itu. Tas itu memang benar milik Aksa, tapi bagaimana bisa ada di kamarnya?


"Kamu sekolah dimana?" tanya Daisy.


"Kamu sekolah dimana?" tanya balik Aksa.


"SMA Rinjani, kamu?"


"Ya sama lah, kita kan satu sekolah. Kamu gimana sih? Lupa? atau sengaja hm?"


"Ayo!" Aksa menggandeng tangan Daisy.


Daisy masih mematung. Ini pertama kalinya dia berjalan berdua dengan laki-laki layaknya orang pacaran. Tapi, Daisy berjalan sejajar dengan Aksa karena tangannya bergandengan dengan Aksa.


SMA Rinjani, disitulah Daisy bersekolah. Tapi Daisy tidak pernah melihat sosok Aksa.


Jarak dari rumah ke sekolah lumayan dekat, jadi Daisy setiap harinya jalan kaki.


"Daisy!!" teriak dua orang perempuan.


Aksa dan Daisy menoleh ke arah kanan, karena sumber suara berasal dari sana.


"Tuh Tania sama Vera, aku masuk ke kelas dulu ya,"


"Dah!" Aksa pamit dan berjalan masuk sendirian ke sekolah.


Daisy kembali membaca nama sekolah ini, SMA Rinjani. Ini adalah sekolahnya, tapi sejak kapan Aksa bersekolah disini?


"Dai, Lo lama banget sih berangkatnya," seorang gadis menyenggol tubuh Daisy.


Daisy menoleh ke arah kanan. Ada dua orang gadis, sepertinya itu adalah Tania dan Vera yang dikatakan oleh Aksa.


Tania dan Vera, itu adalah dua nama tokoh yang dibuat olehnya di novel itu.


Novel itu berjudul My Imagination. Sepulang dari sekolah, Daisy berjanji pada dirinya sendiri untuk meminta novel itu pada ibunya. Karena hanya di novel itulah dirinya bisa mengetahui siapa Aksa, Tania, dan Vera dan juga apa hubungannya dengan dirinya.


"Eh Lo tugas matematika udah?" tanya Vera.


Daisy menoleh ke arah Vera. "Vera?" tanya Daisy.


"Iya, kenapa?" balas Vera.


Di dalam hatinya Daisy mengingat-ingat wajah mereka berdua agar tidak lupa. Intinya Vera yang pendek dan Tania yang tinggi.


"Gue belum ngerjain tugas, nanti liat ya," ucap Daisy sok akrab.


"Sip, itu kan emang kebiasaan Lo," respon Vera.


"Bahas tugasnya nanti aja, bentar lagi masuk nih! Ayo ke kelas!" Tania menggandeng tangan kedua temannya dan berjalan masuk ke dalam.


"Daisy!" itu adalah suara teman sebangku Daisy yaitu Kayla.


Daisy menghentikan langkahnya, otomatis Vera dan Tania berhenti juga.


Daisy menolehkan kepalanya ke belakang, di belakangnya ada Kayla yang sedang menatap aneh kepadanya.


"Lo kenapa?" tanya Kayla.


Daisy melepaskan tangannya dari Tania. Ia mendekati Kayla dan membisikkan sesuatu pada telinganya.


"Lo liat dua orang tadi gak? yang gandeng Gue," Daisy menjauhkan tubuhnya dari Kayla.


"Enggak, apa sih?" Kayla penasaran.


"Serius enggak liat?" tanya Daisy sekali lagi.


"Enggak," tegas Kayla.


"Oh gitu, ya udah Gue jalan duluan ya!"


"Dia ngapain sih?" tanya Tania pada Vera, Vera hanya mengangkat bahunya acuh.


"Lo lupa ya? dia kan bisa melihat hantu," ucap Vera.


"Oh iya," jawab Tania.


Daisy kembali pada Tania dan Vera. Daisy benar-benar bingung ingin ikut pada siapa.


"Gak jelas ni anak," ucap Kayla.


"Yu!" Daisy menggandeng tangan Tania dan Vera menuju kelas.


Tapi, kemudian tangannya ia lepas karena ia tidak tau apakah mereka bertiga sekelas.


"Eh kita sekelas?" tanya Daisy polos.


"Iya lah bego!" Tania dan Vera menempeleng kepala Daisy.


Daisy pun mengangguk paham.


Jika ini benar-benar cerita Daisy yang hidup, maka Daisy akan memilih kehidupan ini daripada kehidupannya sebelumnya yang nyata.


Tapi, ia tidak tau ini apa. Novel itu akan menjelaskannya. Tunggu saja.

__ADS_1


__ADS_2