
Pagi ini Daisy sedang makan di ruang tamu bersama keluarganya. Hari ini ia tidak melihat Aksa ada di rumahnya. Ia sangat lega dan bahagia karena ia pikir semuanya sudah hilang.
"Kamu mau berangkat sama Abang, atau gimana?" tanya Yusuf yang duduk di samping Daisy.
"Mulai sekarang Aku berangkat sendiri aja," balas Daisy.
Daisy membawa piringnya ke tempat cuci piring. Ia melirik keluarganya yang masih makan, karena lama alhasil Daisy mencuci piringnya sendiri.
Gadis itu langsung naik ke kamarnya untuk mengambil tas sekolah, lalu turun lagi ke bawah dengan tas yang dipakai di punggung.
Daisy mencium tangan ibu, ayah, nenek, kakek, dan Yusuf.
"Aku berangkat dulu ya, Assalamualaikum!" Ucap Daisy lalu keluar rumah.
"Waalaikumsalam,"
Daisy melihat Nur yang sedang berjalan ke sekolah, sama sepertinya. Nur tinggal di perumahan di daerah Daisy. Daisy ingat kejadian kemarin, dimana Nur bersikap aneh. Gadis itu langsung mengejar Nur dan mendekatinya.
"Nur, Gue mau tanya sesuatu sama Lo," ucap Daisy sambil menoleh ke arah Nur.
Mereka berjalan bersama. Nur masih menghadap ke depan.
"Hah, ngomong apa?" tanya Nur.
Daisy mengerutkan alisnya. Nur begitu gugup, membuat Daisy semakin penasaran.
"Kemarin Gue liat Lo lagi ngomong sama Vera- eh atau Tania entah Gue lupa, terus beberapa detik kemudian Lo lagi baca buku. Sebenernya Lo lagi apa?" tanya Daisy.
"Eh Vera siapa? Tania siapa? Gue gak kenal mereka," jawab Nur.
"Lah kemarin Gue lihat sendiri Lo lagi ngobrol sama mereka, jangan mengelak dan jelaskan yang sebenarnya," pinta Daisy.
"Bodo Ah!" Nur berlari meninggalkan Daisy.
Daisy berhenti. "Aneh banget ni orang, Gue jadi curiga sama Nur,"
Daisy mengejar Nur, tapi langkahnya berhenti saat ia melihat Aksa tengah berjalan sendirian menuju kelas. Lelaki itu berjalan dengan wajah lesu. Daisy jadi ingat peristiwa dimana Daisy meminta untuk menjauh dari Aksa dan tokoh lainnya.
Daisy tersenyum kecil. Ia merasa tidak enak, dan menjadi kasihan terhadap lelaki itu.
"Aksa!" Panggil Daisy dan lelaki itu berhenti.
Daisy mendekati Aksa dan berhenti di sampingnya. "Kenapa? Katanya mau jauhin aku," tanya Aksa pelan. Daisy semakin tidak enak.
"Maaf ya, tapi yang aku ceritain itu beneran ada Sa!" ucap Daisy penuh penekanan.
"Iya, kan emang kamu indigo," Aksa melenggang begitu saja setelah mengucapkan itu.
"Dai, ngapain?" tegur Kayla yang tiba-tiba ada di belakang Daisy.
"Heh ngagetin aja!" Sarkas Daisy.
__ADS_1
"Tadi ada Aksa, tokoh yang di novel Gue."
"Oh," respon Kayla.
"Udah yuk ke kelas aja!" Kayla berjalan lebih dahulu, lalu Daisy pun menyusulnya.
Sesampainya di kelas, Daisy melihat Tania dan Vera yang sedang mengobrol di bangkunya. Saat Kayla duduk di kursi, Vera dan Kayla tampak seperti dua bayangan. Mereka tidak terganggu.
Namun, saat Daisy hendak duduk di kursi yang ditempati oleh Tania, ia tidak bisa.
"Kenapa sih, Dai? Kalo mau duduk bilang," Tania pun berdiri.
"Hehe," respon Daisy.
"Kenapa, Dai?" tanya Kayla.
Daisy menoleh ke Kayla dan menggelengkan kepalanya.
Daisy duduk di kursinya, tas sudah disimpan di kursi.
"Aksa! Siniin ih!" teriak seorang gadis dari luar kelas.
Aksa berlari menjauh Gadis itu sambil membawa sesuatu di tangannya. Daisy langsung menoleh ke luar, Aksa tampak bercandaan dengan seorang gadis.
Hati Daisy sedikit kesal melihat itu. Aksa kan pacarnya, walaupun tidak nyata. Karena geram, Daisy pun langsung mendekati mereka.
"Aksa! Ngapain kamu dekat-dekat sama dia?!" Tanya Daisy geram.
"Eh, ini aku lagi bercandaan aja sama dia," jawab Aksa gugup.
"Pacar kamu yah?! Ganggu aku Mulu di kelas, tolong dijaga pacarnya!" ucap gadis itu lalu melenggang pergi.
Ketika mendengar Daisy yang teriak-teriak, teman-temannya langsung keluar kelas.
"Daisy, Lo ngomong sama siapa sih? Bener ya berita kemarin kalo Lo itu gila?" tanya salah satu temannya.
Daisy membalikkan badannya, ke arah teman-temannya. Semua teman sekelasnya mengumpul disana.
"Daisy!" Panggil Aksa namun tidak dihiraukan oleh Daisy.
"Wah si Daisy udah gila ternyata!"
"Cantik tapi gila sayang banget,"
Matanya menahan air mata yang tiba-tiba saja ingin keluar.
"Dai, Lo gak usah masuk kelas ini ya? cari kelas lain aja, kita gak Nerima orang gila."
"Dai, Lo ngomong sama siapa?" Kayla mendekati gadis itu dan memeluk tubuh Daisy yang kaku.
Kayla melepaskan tubuh Daisy. Mata Daisy terlihat ingin menangis.
__ADS_1
"Heh! jawab Gue! Lo kenapa hah?!" salah satu lelaki mendekati Daisy.
Lelaki itu menarik rambut Daisy sampai gadis itu memekik kesakitan.
"Aw sakit!!" lirih Daisy kesakitan.
"Daisy, kamu kenapa?" Aksa mendekati Daisy.
"Rambut aku sakit, Sa! Mereka jahat!" Daisy menunjuk teman-temannya.
"Gila kamu ya?! Ngomong sama siapa? Halusinasi Mulu sih kerjaannya!" Ucap lelaki itu dan teman-temannya tertawa kecuali Kayla.
"Dai, ke Bu Aisyah yu? Lo kemarin udah cerita semuanya kan?" tanya Kayla.
Daisy menggelengkan kepalanya. "Gue gak gila! Kalian gak tau apa-apa mending diem!!" teriak Daisy kepada teman-temannya.
"Dih, bacot orang gila," cibir lelaki itu.
Plak
Daisy menampar pipi lelaki itu. "David!" Teriak teman-temannya kaget.
David mendorong Daisy sampai terjatuh ke lantai. David membalas tamparan itu dengan menendang kaki Daisy berkali-kali.
"David!!! Udah!!!" Teriak Kayla saat melihat aksi David yang gila. Kayla menutup mulutnya karena tak percaya.
David pun berhenti. "Kalo bukan karena Kayla, Gue pasti bakal tendang Lo terus sampe mati!" umpat David lalu masuk ke kelas.
"Bubar!" ucap Kayla.
Sebagian teman-temannya masuk ke dalam. Ada juga yang masih berdiri disitu.
Kayla jongkok dan membantu Daisy berdiri.
"Dai, kamu kenapa sih?!" Tanya Aksa kesal.
Lalu Daisy berdiri sendiri dan menghadap Aksa. "Dari tadi kamu bilang aku kenapa aku kenapa, kalo aku jelasin juga kamu gak akan paham!!! Dasar egois!!!!" Daisy menangis.
"Dai, Lo.."
"Apa?! Mau bilang Gue kenapa juga?! Gue bilang kalian gak akan paham!! Gue cerita juga Lo gak akan percaya dan bakal ngira Gue gila!!!" teriak Daisy sambil menghadap ke Kayla.
Murid lainnya mengerubungi Kayla dan Daisy. Melihat banyak orang yang mengerubungi, Daisy pun berlari menjauhi mereka.
Daisy berlari sambil menangis. Entah ia akan pergi kemana. Sampai akhirnya ia berhenti di pagar sekolah. Pagar itu dikunci.
Ia melihat tembok sekolah yang bisa ia loncati. Daisy mengelap air matanya kemudian perlahan ia melewati tembok itu, lalu loncat ke bawah.
Bruk
"Awh!" Ringis Daisy.
__ADS_1
Lututnya tergores jalan aspal. Berdarah dan mengeluarkan darah.
Daisy semakin menangis. Beberapa orang melihat dirinya, Daisy pun langsung pergi dengan luka di kakinya dan juga di hati.