
"Kamu kenapa?" tanya Aksa saat Daisy membuka matanya.
Aksa duduk di kursi yang berada di samping kasur itu.
Daisy langsung duduk saat mengetahui posisinya sedang tiduran.
"Kok kamu ada disini?!" tanya Daisy jutek.
Gadis itu mencoba mengingat peristiwa sebelum dirinya pingsan. Ah iya, dirinya berada di kantor dan sedang menjelaskan yang sebenarnya pada Bu Aisyah.
"Kamu pingsan jadi aku kesini, itu kata Tania," ucap Aksa.
"Aksa, coba jelasin tentang aku," pinta Daisy.
Aksa mengerutkan dahinya. "Kamu lihat hantu lagi ya?" tanya Aksa sok paham akan yang terjadi pada Daisy.
"Hantu apa sih, Astaghfirullah. Udah cepet jelasin aja, Gue butuh klarifikasi atas semua ini,"
"Daisy,"
"Umur enam belas tahun,"
"Kelas 12 SMA,"
"Hobi menulis,"
"Nama Ibu kamu Delia, nama ayah Firman, nama nenek Fatimah, nama Kakek Abhi,"
"Kamu anak kedua, kakak pertama kamu namanya Yusuf,"
"Kamu pacarnya aku," ucap Aksa terakhir membuat Daisy sedikit memutar bola matanya malas dan tersenyum kecil.
Tapi yang diucapkan Aksa benar apa adanya. Lelaki itu mengetahui semuanya tentang Daisy, apakah Aksa benar kekasih Daisy dalam novel itu.
"Aksa, dengerin ini. Jadi, Gue itu bisa melihat sesuatu yang gak bisa Lo lihat tapi ini bukan hantu!"
"Di sisi lain, Gue percaya sama mereka dan Gue pikir Lo, Tania, dan yang lain cuma tokoh cerita dalam novel Gue!" tekan Daisy.
"Dai, aku tau kamu bisa lihat hantu dan itu gak nyata!" tegas Aksa.
"Kapan kamu bilang kaya gitu?" tanya Daisy meminta bukti.
"Waktu itu kamu bilang. Bahkan Tania sama Vera juga tau, Dai."
"Daisy, kamu masih pusing?" Daisy menoleh ke arah kanan.
Bu Aisyah duduk di kursi yang diduduki oleh Aksa.
"Udah gapapa, Bu. Jadi, apa ibu percaya sama yang saya ceritakan tadi?" tanya Daisy.
"Enggak. Jelas-jelas saya dan yang lain tidak melihat apa yang kamu lihat, Daisy."
"Daisy!" panggil Aksa membuat gadis itu menoleh ke arahnya.
"Bener kan? kamu lagi lihat hantu itu?" tanya Aksa.
__ADS_1
"Hantu apa sih, Aksa?" geram Daisy.
"Bentar ya untuk Bu Aisyah sama Aksa, dengar ini." Daisy turun dari kasur itu.
Ia berdiri menghadap ke arah mereka berdua.
"Saya melihat ada dua orang yaitu Bu Aisyah dan Aksa,"
"Aksa siapa?" tanya Bu Aisyah.
"Bu Aisyah siapa sih, Dai? Di sekolah ini gak ada yang namanya Bu Aisyah. Itu cuma hantu yang kamu lihat, abaikan aja semuanya Dai!" ucap Aksa.
"Aksa adalah pacar saya, itu kata Aksa. Dan, Bu Aisyah ada Guru saya dan saya mengakui itu karena sebelumnya saya sering melihat dia."
"Saya merasa ini dunia novel yang saya buat tiba-tiba hidup, jelas Bu Aisyah tidak melihatnya karena saya yang melihat!" ucap Daisy penuh penekanan.
"Saya benar-benar bingung ingin memilih yang mana. Yang asli atau dunia yang novel."
Bu Aisyah berdiri mendekati Daisy. "Daisy, jika ini benar maka pilihlah dunia yang nyata."
"Saya bingung Bu!" teriak Daisy.
"Abaikan semuanya, pilihlah sesuatu yang kamu ingat di dunia yang nyata dan abaikan yang ada di dalam dunia novel mu itu,"
Daisy berpikir sebentar. Benar kata Bu Aisyah. Ia harus memilih dunia yang nyata.
"Oke Bu, saya minta bantuannya ya." Bu Aisyah mengangguk.
"Ayo ke kelas, sebentar lagi masuk,"
Daisy dan Bu Aisyah pergi ke kelas. Daisy mendengar ucapan Aksa, tapi ia tidak meresponnya. Ia akan melaksanakan nasehat Bu Aisyah, yaitu mengabaikan yang tidak nyata.
"Gimana Bu? Dia beneran gila atau apa?" tanya Kayla mendekati Bu Aisyah.
Daisy yang hendak duduk di tempat pun menoleh ke arah Kayla, sedangkan perempuan itu membuang muka.
Daisy tersenyum takut. Kayla sudah membencinya, jika orang tuanya mengetahui ini mungkin dirinya akan diusir dari rumah.
Karena sudah jelas-jelas Daisy dilarang membaca cerita-cerita seperti itu.
Gadis itu duduk di kursinya.
"Abis darimana sih, Dai?" tanya Tania yang berada di sampingnya.
Daisy tidak menjawabnya, ia fokus kepada Kayla yang sedang mendengarkan Bu Aisyah berbicara.
Kayla kembali ke kursi yang berada di samping Daisy. Daisy baru sadar bahwa Kayla sudah memindahkan tasnya lagi di kursinya seperti biasa.
"Dai, maafin Gue ya?" pinta Kayla pada Daisy.
"Lah tadi Lo marah-marah sama Gue, sekarang kok minta maaf? aneh banget jadi orang," gerutu Daisy.
"Ya maaf, itu kan tadi,"
Daisy mengangkat bahunya acuh. Di kursi itu ada dua orang yang duduk yaitu Kayla dan Tania.
__ADS_1
"Oke anak-anak mari kita mulai belajar," ucap Bu Aisyah.
...•••...
Daisy langsung buru-buru pulang sebelum sosok-sosok yang berada di novelnya mendekatinya.
Gadis itu berlari menuju rumahnya.
"Daisy," panggil Aksa yang berada di belakang Daisy.
Daisy yang sedang membuka pintu rumah langsung menoleh ke belakang.
"A-aksa?" kaget Daisy.
"Sa, mulai sekarang kita putus! Jauhin Gue, dan ingat Gue udah benci banget sama Lo gara-gara muka Lo jelek apalagi sifat Lo nyebelin!" teriak Daisy.
"Serius mau putus?" tanya Aksa dengan ekspresi kaget.
"Iya!" jawab Daisy.
"Kamu kenapa sih, Dai?!" mata Aksa berkaca-kaca.
Daisy yang melihat itu pun langsung tidak tega, walaupun hatinya berkata jauhi dia karena Aksa tidaklah nyata.
"Maaf, Aksa. Tapi ini demi kehidupan Gue,"
"Udah aku bilang kan mereka itu gak nyata, Dai! Kamu itu punya kelebihan melihat makhluk halus dan Kamu gak harus percaya mereka itu makhluk yang sama kaya kamu."
"Terserah, tapi ini keputusan Gue. Gue juga gak percaya kalo kita pacaran kaya gini, Lo itu cuma karakter di novel Gue!"
"Karakter kamu bilang? Kita itu pacaran, Dai! Semenjak mamah sama papah kamu meninggal, kita tinggal bareng!"
"Dan itu terbukti kan pas tadi pagi?" lanjut Aksa.
"Enggak, Sa. Kita itu beda dunia, Gue nyata dan Lo cuma fiksi,"
Daisy sudah lelah berdebat dengan Aksa, gadis itu masuk ke rumah tanpa memperdulikan Aksa.
"Tumben udah pulang, biasanya bareng Yusuf?"
"Astaghfirullah, Nek! jangan bikin aku kaget terus bisa gak sih?" kesal Daisy.
Fatimah terkekeh.
"Gimana sekolahnya?" tanya Fatimah sambil mengikuti Daisy yang berjalan menuju kamarnya.
Daisy berhenti. Fatimah berdiri disitu, apa artinya ia mendengar semua percakapannya dengan Aksa saat tadi?
"Nek, tadi aku ngobrol sama kucing lho. Denger enggak?" Daisy menoleh ke belakang.
"Gak dengar lah, dari luar ke dalam itu gak kedengeran. Lagian mana mungkin kamu bicara sama kucing,"
"Bicara sama manusia aja kadang gak nyambung," lanjut Fatimah.
"Oh ya udah, Daisy mau ke kamar dulu,"
__ADS_1