
"Dai? Daisy? Bangun!" Aksa menggoyang-goyangkan tubuh Daisy sampai akhirnya gadis itu terbangun.
Tubuh Daisy langsung mengganti posisi menjadi duduk. Matanya yang masih agak pusing langsung melihat ke Aksa.
"Lho kamu? Kok bisa ada disini?" Suara parau Daisy masih bisa didengar oleh Aksa.
"Bisa lah, aku kan punya kuncinya," jawab Aksa enteng.
Daisy menggosok matanya, lalu ia pergi keluar kamar. Tidak ada siapa-siapa di ruang bawah.
Ia mencoba mengingat peristiwa saat dirinya mengunci pintu rumah, dan benar, semua itu memang ia lakukan.
"Dai, kamu kenapa? Sakit?"
"Sa?! Ga logika banget Lo tiba-tiba ada disini, tadi pintu rumah udah Gue kunci!!" teriak Daisy pada Aksa yang mendekatinya.
"Aku tau, tapi aku punya kunci rumah. Kamu ingat enggak? Satu tahun yang lalu kamu sendiri yang nyerahin ini, semenjak orang tua kamu meninggal."
Daisy menatap sinis ke arah Aksa. "Meninggal apanya sih, Sa?! Orang tua Gue masih ada!!" geram Daisy.
Suara langkah kaki terdengar tak jauh dari Daisy. Gadis itu membulatkan matanya. Bagaimana jika orang itu melihat dirinya berbicara sendiri?
"Daisy, kamu apa-apaan?" tanya Delia.
Daisy menoleh ke arah ibunya. Benar-benar gugup. Di saat situasi seperti ini ibunya malah datang.
"Lagi belajar drama," jawab Daisy jutek lalu masuk ke kamarnya.
"Aksa, aku pengen bicara sama kamu, Sa."
"Ini serius." Tekan Daisy.
Daisy duduk di kasur. Aksa hendak duduk di kasur, bersama Daisy.
"Duduk di kursi!" Perintah Daisy.
Aksa menghela napasnya kasar kemudian ia pun menuruti ucapan Daisy.
"Hari sebelumnya Gue hidup normal. Gak ada lo, Tania, sama Vera. Kalian belum ada!"
"Tapi, hari ini Gue tiba-tiba lihat kalian. Dan, anehnya yang bisa lihat cuma Gue doang, sampe Gue dikira orang gila sama temen Gue."
"Lo bilang kalo Gue indigo dan orang-orang yang Gue lihat Lo bilang makhluk halus. Padahal mereka orang-orang yang sejak dahulu ada, Gue gak tau kalian ini apa. Entah halusinasi Gue atau mimpi?"
"Akhirnya Gue sadar bahwa kalian semua itu tokoh-tokoh yang ada di novel Gue! Aksa, Tania, Vera, Bu Aisyah, dan diri Gue. Gue inget pas waktu itu nulis novel dan tokoh-tokohnya itu kalian, dan Gue tambahin beberapa tokoh dari kehidupan Gue yang nyata."
"Kamu tiba-tiba lupa sama kita semua?" tanya Aksa.
"Bukan lupa, lebih tepatnya Gue gak kenal sama kalian semua."
Daisy hendak mundur, tapi tangannya malah terkena novel yang ia baca sebelum tidur.
__ADS_1
Matanya menoleh ke belakang dan langsung mengambil novel itu.
Tangan Daisy menunjukkan novel itu di hadapan Aksa. "Lihat gak ini apa?" tanya Daisy penuh penekanan.
"Novel, kenapa?" tanya balik Aksa.
"Baca!" titah Daisy.
Aksa mengambil novel itu, langsung dibuka olehnya namun tidak dibaca.
"Lama kalo aku baca ini," Aksa mengangkat-ngangkat novel itu.
Daisy berdiri. "Nah intinya di cerita itu ada tokoh yang namanya Aksa, Tania, Vera dan lain-lain. Kaya kalian, makannya Gue mikir kalian itu cuma tokoh yang hidup,"
"Tokoh hidup?" beo Aksa.
"Iya, kalian yang ada di novel tiba-tiba hidup." jawab Daisy.
"Gak masuk akal banget, Dai. Ini alasan aku gak mau kamu keseringan baca novel, jadi mikir yang enggak-enggak kaya gini," Aksa malah menasehatinya.
"Sebenernya--"
"Kalo emang bener kamu menganggap bahwa aku sama yang lain cuma tokoh yang hidup, apa kamu ada bukti bahwa mereka yang kamu lihat sudah ada sejak dahulu?"
"Lo sering lihat Gue ngobrol sendirian kan?" Aksa langsung mengangguk.
"Itu gue lagi ngomong sama mereka!"
"Paham, tapi aku kurang percaya sama kamu, Dai. Kamu itu indigo, tapi jangan terlalu fokus sama mereka."
"Kalo gitu, untuk sementara biarin Gue hidup sama mereka yang menurut Gue lebih nyata."
"Iya, terserah kamu aja, Dai. Kalo kamu pengen kembali lagi sama aku, panggil aku ya? atau telpon, pasti aku datang,"
Daisy menggelengkan kepalanya karena tidak percaya dengan ucapan Aksa. Tapi, ia sangat berharap mereka para tokohnya bisa menghilang selama-lamanya.
"Aku pergi." Aksa keluar dari kamarnya.
Daisy duduk di kasur. Masih tak percaya dengan semua ini, tapi ini nyata.
Adzan Maghrib pun berkumandang. Setelah adzan selesai, Daisy bergegas mengambil air wudhu lalu sholat. Selepas sholat, ia kembali ke kamarnya.
"Dia gak mungkin kaya gitu, Delia!" suara Ayahnya itu membuat langkah Daisy berhenti.
"Dia sudah dewasa, dia pasti paham dan bisa membedakan!"
"Daisy? ngapain?"
Neneknya tiba-tiba muncul.
"Eh Nenek," reflek Daisy.
__ADS_1
"Nek, bisa gak sih jangan bikin aku kaget terus? jantungan nih lama-lama!" Protes Daisy.
"Hehe maaf, kamu udah solat?"
"Udah,"
Setelah menjawab itu, Daisy langsung mencium tangan neneknya.
"Nek, Ayah sama Ibu lagi bertengkar?" tanya Daisy.
"Udah gak usah dipikirin, kamu ke kamer gih belajar," ujar Fatimah sambil tersenyum.
"Ya udah, aku ke kamar dulu,"
Daisy menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Pintu selalu ditutup lagi.
Tangan Daisy mencari novel itu. Eh tapi kok gak ada?!
"Kemana sih," gerutu Daisy saat ia tidak menemukan novel itu.
Novel itu terakhir kali dipegang oleh Aksa. Apakah novel itu diambil oleh Aksa?
Daisy mengambil novelnya yang ada di atas meja. Tadinya ingin menelpon Aksa, tapi tidak jadi karena ternyata novel itu ada di samping ponselnya.
Di novel itu intinya Daisy adalah kekasih Aksa dan ia mempunyai dua teman yaitu Tania dan Vera.
Daisy duduk di kasur. "Mereka tiba-tiba hidup dan yang bisa lihat cuma Gue. Ini aneh tapi nyata, apa Gue udah gila? bahkan mereka gak bisa lihat," ucapnya sendiri.
"Pengen cerita ke ibu, tapi takut dikira aku udah gila. Mana nanti yang ada dimarahin karena baca ni novel."
Daisy menaruh novelnya di atas meja. Ia memilih untuk belajar pelajaran esok hari.
Tapi tiba-tiba ia teringat dengan Aksa. Lelaki itu sangat tampan di matanya. Andai dia bukan tokoh di dalam novelnya, mungkin Daisy akan benar-benar jatuh cinta.
Apalagi ditambah sifatnya yang baik hati. Daisy jadi senyum-senyum sendiri.
"Gak boleh suka! Ingat dia itu gak nyata!"
Daisy kembali belajar, tapi lama-lama ia menjadi bosan.
Kepalanya ia taruh di atas meja. Jari telunjuknya mengetuk meja belajarnya karena gabut sebanyak tiga kali.
Tok Tok Tok
Daisy langsung mengangkat kepalanya. Ia menoleh ke arah pintu. Pintu itu dibuka oleh seseorang yang ternyata adalah Yusuf.
"Nih rendang buat kamu," seketika mood Daisy membaik.
Daisy bergegas mengambil kotak itu. "Makasih, Bang!"
"Iya sama-sama,"
__ADS_1