
Setelah mandi dan sholat Ashar, Daisy menuruni tangga menuju meja makan. Ruang tamu dan dapur bergabung menjadi satu karena luasnya sangat lebar.
Daisy duduk di samping Yusuf, dan duduk di hadapan Delia yang sedang makan.
"Bu, aku minta novel karyaku boleh? Aku mau baca lagi soalnya ada tugas bahasa Indonesia,"
Delia menelan makanannya terlebih dahulu, kemudian berkata. "Sejak kapan bahasa Indonesia ada tugas membaca novel?" tanya Delia sinis.
Daisy menghela napasnya kasar, ibunya memang sangat tidak suka jika dirinya membaca novel. Karena menurut ibunya ada sesuatu yang lebih bermanfaat jika dilakukan dibanding membaca novel yang terkadang membuat kita halusinasi.
"Ibu kenapa, sih? Lagian membaca dan menulis itu masuk aja kok ke pelajaran bahasa Indonesia. Mungkin Daisy ada tugas merangkum cerita," sahut Yusuf.
Delia menghela napasnya kasar. "Ya udah abis makan kamu ke kamar Ibu, nanti Ibu balikin novelnya."
"Dengan syarat dibaca hanya satu Minggu," lanjutnya.
"Ya udah," jawab Daisy.
Selanjutnya Daisy langsung makan. Setelah makan, ia langsung mencuci semua piring karena itu adalah tugasnya saat di rumah.
Meja makan langsung kosong saat Daisy selesai mencuci piring.
Gadis itu langsung menaiki tangga dan menuju kamar ibunya, novel itu ia butuhkan sekarang juga.
Tiba di depan kamar Delia dan Firman, Daisy menunggu sebentar.
Pintu kamar dibuka oleh Delia. "Nih," Delia memberikan novel karya Daisy yang berjudul My Imagination itu.
"Ingat cuma satu Minggu," peringat Delia.
"Iya-iya," jawab Daisy.
Daisy langsung pergi ke kamarnya. Di jalan, ia iseng-iseng membuka novel itu.
Bibirnya tersenyum. Ini adalah hasil selama dua bulan ia bergadang untuk menulis.
Daisy masuk kamar dan menutup pintu kamarnya, tak lupa mengunci agar Aksa tidak bisa masuk.
**Drrtt
Drrtt**
Niatnya ingin membaca novel langsung terganti dengan niat ingin mengambil ponselnya yang berada di atas meja belajar.
Daisy mengambilnya.
Aksa ❤️
Matanya melotot ketika membaca nama Aksa beserta emot Love.
Sejak kapan Daisy memiliki nomor Aksa? kenapa semua ini terasa tidak masuk akal.
Jari jempolnya mengusap layar ke bawah, artinya telpon itu ditolak oleh Daisy. Ponselnya ia simpan di atas meja, Daisy duduk di atas kasur sambil menggigit bibir bawahnya kareta takut dan khawatir.
**Drrrtt
Drrtt
Drrrtt**
__ADS_1
Ponselnya kembali bergetar. Matanya melirik ke arah ponselnya.
Kok jadi horor gini?
"Duh jawab aja deh, barangkali penting kan," putusnya seketika lupa dengan nasehat Bu Aisyah.
Daisy mengambil ponselnya, jarinya mengusap ke atas.
"*Halo? Daisy maafin aku ya kalo aku ada salah sama kamu."
"Hubungan kita jangan sampe putus, kamu sendiri yang bilang kalo kita mau sampe ke jenjang pernikahan."
"Kita pertahankan hubungan ini ya? Jangan mentingin ego kamu*."
"Aksa, Gue bingung mau bilang apa.., kita break dulu aja ya seminggu? Gue lagi gak baik-baik aja, janji deh kalo udah membaik Gue kabarin Lo lagi."
"Gak enak gimana?"
"Masalah pribadi. Tapi Gue janji bakal hubungin Lo lagi, maaf ya."
"Ya udah, tapi janji ya jangan putus?"
"Iya."
Kalo bisa, lanjut Daisy dalam hati.
"Udah dulu ya aku mau belajar."
"Oke. Semangat belajarnya."
Daisy tersenyum kemudian mematikan sambungan itu. Ponselnya disimpan di tempat semula yaitu meja.
Ia duduk di atas kasur dan mengambil novelnya. Ia tiduran di atas kasur sambil membaca novel itu.
"Aksa! Berat tau!" ucap gadis itu.
Lelaki itu menoleh ke arah Daisy dan tersenyum lebar. "Makin hari kamu nambah pendek deh, kayanya makin hari aku makin tinggi kan?" ledeknya.
"Aksa!" bentak Daisy pelan.
Perlahan tangan Daisy menjauhkan tangan Aksa dari pundaknya*.
Mata Daisy menatap fokus ke depan saat ia melihat sesuatu. Daisy memiliki kelebihan yaitu bisa melihat makhluk halus. Tak semua orang bisa.
"Aksa, aku lihat sesuatu!" lapor Daisy pada Aksa.
"Dimana? kaya gimana mukanya? ganteng enggak?" di saat serius seperti ini, Aksa malah bercanda. Hal itu membuat Daisy memukul kepala Aksa tapi tidak bisa karena terlalu tinggi.
"Makannya jangan pendek-pendek jadi orang," ejek Aksa.
"Aksa aku serius ih! Serem mukanya!" Daisy mengumpat di belakang punggung Aksa.
Mata Daisy melihat sosok hitam itu, wujudnya seperti manusia tapi tidak memiliki wajah.
Aksa membalikkan badannya dan memeluk tubuh Daisy. "Udah, jangan takut. Ada aku disini," ucap Aksa menenangkan.
"Tetep takut! Ajak aku ke tempat keramaian!" rengek Daisy.
Karena di tempat yang ramai lah Daisy bisa menambahkan para makhluk halus yang bisa ia lihat.
__ADS_1
"Ayo kita ke Tania sama Vera!" ajak Aksa sambil memegang tangan gadis itu menuju kelasnya.
"Dor!!" Vera menghadang jalan Aksa yang hendak masuk ke kelas.
"Jangan gitu sih, ini pacar Gue lagi ketakutan," ucap Aksa.
Vera langsung melirik ke arah Daisy yang ketakutan. Vera langsung menarik tangan Daisy masuk ke kelas.
"Eh Dai, kemarin Lo udah baca novel yang Gue kasih belum?" tanya Vera mencoba mengalihkan rasa takut Daisy.
"Vera." Tania berjalan ke arah Vera.
Saat melihat Daisy yang ketakutan, Tania langsung paham bahwa gadis itu sedang melihat sesuatu.
Ini bukan pertama kalinya Daisy seperti ini. Mereka juga sudah terbiasa.
Tania mengambil novel yang ada di tasnya kemudian mendekati Daisy.
"Dai, novel ini seru banget tau!"
Perlahan tangan Daisy mengambil novel itu. "Oh ya? Baru?" Tania pun mengangguk.
"Kemarin Gue ke Gramedia dulu bentar, eh Nemu buku ini mumpung lagi diskon,"
"Lo udah baca?" tanya Vera.
"Udah," jawab Tania.
"Lo baca gih, seru asli!" ucap Tania.
"Gue pinjem ya?" Daisy tampak sudah tidak menghiraukan para makhluk halus itu.
Tania dan Vera saling melirik, dan mengode.
"Iya sok,"
Daisy menoleh ke belakang, mencari sosok Aksa.
"Aku disini." Itu suara Aksa.
Daisy langsung menoleh ke kursi yang biasa ia tempati bersama Aksa. Mereka duduk bersampingan, di belakang mereka ada Tania dan Vera.
Daisy tersenyum kepada Aksa.
"Ada Bu Aisyah!" teriak Nur yang baru masuk ke kelas.
Beberapa murid juga langsung masuk ke kelas. Daisy, Tania, dan Vera langsung duduk di tempat masing-masing.
"Dai, hari ini aku gak menginap di rumah kamu dulu ya?" Daisy menoleh ke arah Aksa.
"Kenapa?" tanya Daisy.
"Mau ada urusan di rumah, besok janji aku baka menginap kok,"
Daisy mengangguk. "Ya udah, jangan dipaksa. Lagian aku bisa kok sendirian di rumah."
"Hari ini kita akan belajar tentang ekonomi di negara Indonesia. Kalian pasti sudah tau ekonomi kan?"
"Udah Bu,"
__ADS_1
Mereka pun mulai belajar.
Tanpa sadar Daisy menjatuhkan novelnya ke bawah karena matanya yang mengantuk. Dan akhirnya ia pun tertidur.