
"Aku... harus selamat."
Seorang gadis terus berjalan meski darah terus menetes di atas dari pergelangan kanannya.
Guk! Guk! Auuu!
Tiba-tiba terdengar suara anjing dari kejauhan. Di ikuti oleh beberapa pria berjubah dengan perlengkapan militer.
"Cepat!, dia pasti sudah dekat!."
Dipimpin oleh pria berbadan kekar, kedua anggotanya yang gemuk dan kurus langsung menyiapkan senapan.
Gadis yang mendengarnya dari kejauhan, langsung bersembunyi dalam celah gua yang kebetulan dia temukan.
"Bagaimana sekarang?, ada tiga orang, pemimpinnya tampak kuat, yang satu tubuhnya besar kelihatannya dia yang bertugas membawa barang, dan satu lagi terlihat cukup lincah."
Setelah melihat musuh, gadis itu mulai berpikir bagaimana cara mengatasinya.
"Aku hanya punya pisau, dan pistolku hanya berisi satu peluru. Mustahil untuk mengalahkan mereka, tapi... pintu masuk gua ini cukup sempit untuk mereka,... tidak pilihan lain!."
Tepat setelah dia memutuskan, begitu anjing yang mengejarnya datang, dia bersembunyi di belakang pintu gua. Tepat setelah melewati celah pintu gua, dia langsung menikam anjing itu.
Auk! Grrr uuu.
Anjing itu memberikan perlawan singkat, tapi gadis itu menusuknya beberapa kali hingga akhirnya.
Setelah membunuh anjing, gadis itu pergi dengan menyeretnya mayat anjing.
"Huuh... ,ini seharusnya berhasil."
Tidak lama orang-orang itu mulai mendekati gua.
"Bos anjing kita menghilang! Eh? lihat! di sana ada gua." si kurus itu menunjuk ke arah gua.
"Hmm, pintu masuknya cukup sempit, jadi kelihatannya hanya kau yang bisa masuk."
"Aku mengerti!, Akan aku gunakan bom asap bius jika dia mencoba menjebak."si kurus mengatakannya sambil menuju gua.
Bruk!
Begitu sampai, dia mulai menyalakan bom dan melemparnya lewat pintu gua. dan terdengar seseorang terjatuh dalam gua.
"Wah!, berhasil!."
"Bagus, cepat ambil dia dan kita bisa kembali."
Si kurus langsung masuk untuk mengambil gadis itu. Tapi begitu masuk yang dia lihat adalah anjing mereka yang berlumuran darah.
__ADS_1
"Hyaak" sebuah pisau langsung menebas lehernya.
"Aaaaghk! agkh gakh". Dia terjatuh dan mati.
"Suara itu!." Bos itu langsung tahu apa yang terjadi.
"Sudah kuduga hal ini akan terjadi. Aku sudah lama berjalan dengan perut kosong, di tambah dengan suhu dingin, ini membuatku semakin kelelahan."
Setelah melepas masker, gadis itu mengambil peralatan dari si kurus, dan memakai pakaian dan perlengkapannya.
"Eh! ini... ransum."
Selain mendapat senjata dan pakaian hangat. dia beruntung bisa mendapatkan makanan.
Setelah makan beberapa ransum, dia langsung istirahat. Karena mereka tidak bisa masuk, seharusnya salah satu dari mereka mencari jalan lain.
Setelah beberapa menit istirahat, dia mengintip pintu masuk gua, dan langsung terkejut bahwa mereka telah memasang peledak di samping pintu masuk gua.
"Buruk!, aku lengah."
Gadis itu langsung masuk jauh ke dalam gua. Tidak lama kemudian, sebuah ledakan besar terdengar dari belakangnya.
"Hmph! jangan mengira aku akan melepaskanmu begitu saja!, ayo masuk."
"Baik bos!". Setelah asap hilang, mereka masuk ke dalam gua.
"Walau tidak sesuai rencana, tapi setidaknya aku hanya perlu waspada pada satu arah. Tapi... aku tidak tahu apakah gua ini punya jalan keluar, jika tidak ada, aku tidak punya pilihan lain."
Setelah cukup lama berjalan, dia mendengar suara langkah kaki dan mulai menjalankan rencana.
Mereka berdua sempat melihat gadis itu bersembunyi di balik batu besar dan siap menyergapnya.
Dengan melemparkan bom asap, mereka langsung mendekati batu besar. Tapi mereka tidak tahu, tepat setelah bom asap meledak, ada bom asap bius yang ikut meledak.
"Mereka berhasil menyusul, itu berarti mereka lari, membuat mereka harus menghirup udara denan kuat. Dua bom asap yang membuat semakin tebal ditambah udara dingin, tipisnya oksigen, jadi meski memakai masker, obat biusnya akan sedikit terhirup yang membuat mereka kesulitan berpikir."
"Hmph, berbeda denganku yang hanya berjalan santai untuk mengendalikan pernafasan, dengan masker juga membuatku kebal terhadap obat bius ini."
Dengan cepat gadis itu pindah tempat. Karena berat badan mereka, dia masih bisa mendengar langkah kaki meski mereka mengendap-endap.
"Meski pandangan tidak jelas, tidak masalah meleset, aku hanya perlu membuat mereka panik."
DOR!
Setelah memberikan tembakan pada target buram, dia langsung lari ke tempat tinggi. Mereka langsung waspada dan menembak berkali-kali ke berbagai arah.
"Ternyata benar, dari ketinggian ini, cahaya tembakan masih terlihat."
__ADS_1
Gadis itu langsung menembakkan senapan rifle yang di dapat dari si kurus dan menembakkannya ke sumber cahaya tembakan.
Setelah dengan cepat membunuh keduanya, asap mulai menghilang dan dia turun dari batu tinggi.
"Jadi yang aku tembak pertama kali adalah yang gemuk ya. tidak heran refleksnya kurang baik. Dia ini... harusnya punya banyak barang kan?"
Gadis itu mulai mengambil begitu benyak barang dari yang dia kira.
"Meski sudah memilah barang..., tapi akhirnya cukup banyak yang aku ambil. Haaah."
Setelah itu dia menuju ke mayat bos yang tergeletak di pojok dinding gua. Tepat saat dia hendak mengambil berang darinya.
"Hwaah!"
"Ah!"
Pria itu tiba-tiba bangkit, menerkam gadis itu hingga jatuh dan langsung memukul senapan gadis itu. Karena gadis itu terkejut senapannya lepas hingga terlempar.
Saat hendak menjangkau senapan dengan tangan kanannya, pria itu langsung menusuk telapak tangan gadis itu sekuat mungkin hingga tertancap di batu dengan pisau dari saku pinggangnya.
"Aaahk!"
Gadis itu berteriak tapi secara bersamaan dia mengambil pistol dengan tangan kirinya.
Dor!
"A?!"
Darah bocor dari kepala pria itu membasahi wajah gadis itu.
Gadis itu harus merelakan tangannya hanya untuk membuat pria itu lengah agar punya kesempatan menembak kepala pria itu dengan pistol yang di sembunyikan di saku kirinya.
Pria itu mati tepat dia atas tubuhnya. Di menyingkirkan pria itu dari atas tubuhnya.
"Aahk"
Tapi pria itu malah terguling mengenai telapak tangannya yang masih tertusuk pisau. Dia akhirnya dengan cepat menarik pisau itu.
Telapak tangannya hampir setengah hancur. Darah terus berceceran. Gadis itu langsung membungkus semua lukanya dengan perban yang di dapat dari kotak obat.
"Dengan keadaanku yang sekarang hampir sulit aku membawa barang barang ini."
Setelah itu, dia tidak peduli dengan semua barang yang dia dapat dan mengambil makanan, peralatan obat, dan satu senapan beserta seluruh peluru.
Dia melihat sejak tadi bahwa gua itu semakin dalam semakin gelap, dan memutuskan mungkin tidak ada jalan keluar, apalagi dia tidak tahu seberapa dalam gua itu.
Akhirnya dia kembali keluar gua dan melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
"Tidak peduli jika di luar gua akan ada yang mengejarku, tapi... pasti ada juga yang akan membantuku."