Dampak Manusia

Dampak Manusia
Tidak Sendiri


__ADS_3

"Bagaimana ini?, aku sudah berusaha keras, tapi hanya ini yang bisa kulakan."


"Ini semua gara-gara pria itu, jika dia tidak melukaiku, mungkin aku bisa melakukan lebih baik!,"


"Haah, sudahlah, aku hanya perlu menguasai kekuatan ini agar bisa bertemu kakak dan membalas pria itu!."


Terus mengendalikan bola, celia terus berpikir bagaimana cara membuat kemampuannya menjadi lebih hebat.


"Haah, entah kenapa aku merasa ada hal yang salah dengan kekuatanku, atau mungkin aku keliru dengan cara menggunakannya ya."


"Ini memang kurang menarik."


"Jika ada kakak, pasti dia akan tahu, caranya."


"Mungkin mengendalikan dua atau tiga benda akan terlihat hebat."


"Akhir-akhir ini aku sering bicara dengan diri sendiri,... tapi setidaknya ini tidak membuatku kesepian."


Mencoba mengendalikan beberapa sekaligus, celia mencoba menarik benda yang ada di kotak.


"Emh, ini... agak sulit."


Wush


"Aakh!"


Teng! ting ting.


Tidak sengaja, celia menarik pisau dengan kencang hingga melesat melewatinya dan menabrak dinding.


"Waaa, hampir saja, sangat menakutkan jika sampai tertusuk, pasti sakit sekali."


"Tapi..., itu kelihatannya menarik."


"Maksudmu... aku harus mulai menggunakan pisau?."


"Atau gunakan semua menjadi senjata!".


Mendapat ide itu, celia mulai mengumpulkan beberapa benda tajam.


"Baik!, akan aku mulai!. Tapi rasanya agak menakutkan jika mengenaiku."


"Hai..., mengapa tidak gunakan benda yang tidak berbahaya dulu?, lagi pula ini pertama kalinya kita melakukannya."


"Eh!, iya kau benar, lagi pula aku takut terluka."


"Huh!, dasar, setidaknya gunakan kepalamu untuk berpikir."


"Eeh, padahal aku kan juga kau, seharusnya kau katakan lebih awal kan?, jadi... ."


Berhenti bicara, celia mulai mempertanyakan suatu hal.


"Hmm?, ada apa?."

__ADS_1


"Hai, apa kau... benar-benar diriku?."


"Haa! apa yang kau bicarakan?! hanya karena pemikiran kita sedikit berbeda, kau berpikir aku bukan dirimu."


"Kalaupun aku ini orang lain, bagus bukan, jadi kau tidak kesepian dan ada yang bisa membantumu."


"Emm..., kau benar juga, aku jadi yakin kau adalah diriku yang lain."


"Hmph, baguslah kalau kau sadar, sekarang berhenti mengobrol dan mulai latihan!."


"Iya, ada hal penting yang harus kita lakukan."


Setelah mengangguk, celia pergi mengambil benda-benda ringan namun cukup besar.


Berdiri kesamping namun dengan sedikit jongkok dan tubuh mengarah ke depan, celia mulai mengumpulkan tenaga dan mendorong kuat benda dengan psikokinesisnya dengan sedikit mengarah ke atas agar terlempar ke dinding.


Bergantian kanan dan kiri celia terus melemparkannya ke dinding. Sesekali dia akan membuat benda melayang dan melemparkannya.


"Wah, aku berhasil!."


Dengan kedua tangan terkepal dan masing-masing menyentuh pipi bawah, celia tersenyum manis karena senang.


"Meskipun ada yang meleset, tapi untuk percobaan pertama, ini sudah bagus."


"Iya- Aah! tubuh dan kepalaku."


"Kelihatannya ini batas hari ini, mari kita tidur."


Celia mulai mengambil bantal dan berbaring dilantai.


"Jelas kakak pasti baik-baik saja, tapi untuk alfa, aku yakin dia pasti ketakutan."


"Em ha ha ha, kau benar, meski tubuhnya besar, tapi dia hanya sok berani. Em he he."


Tidak lama kemudian celia tertidur karena kelelahan. Namun tidak untuk si kepribadian lain.


"Haah, berbeda... ya. Kalau di pikir-pikir benar juga, selama ini aku tidak punya ingatan tentang diriku atau tubuh ini, apa-."


Tiba-tiba pintu terbuka dan pria pengawas mendatanginya.


"Hai!, si menyebalkan datang!, cepat bangun."


"Tidak ada respon, bagaimana ini?."


Panik, dia mencoba sekuat tenaga membangunkannya. Mencoba mengganggu pikiran celia, hanya memberikan sedikit respon.


Memaksa jiwa celia untuk bangun, tiba-tiba jiwanya merasakan hal aneh. Untuk sekilas dia seakan tidak sadarkan diri. Tepat saat dia membuka mata, dia sangat terkejut.


"Oh, kau sudah bangun. Segera tunjukkan peningkatanmu, haru setelah itu akan kuberikan makananmu hari ini. Jika peningkatanmu bagus, akan kami beri bonus."


Berdiri, celia mulai mengumpulkan banyak benda yang tidak berbahaya, ditambah dengan sebuah pisau dan benda keras lain.


Setelah terkumpul celia melemparkan kotak ke arah pria itu dengan tatapan tajam. Namun segera di tangkis dengan tangan kiri.

__ADS_1


"Kau mencoba menyerangku?." Pria iru sedikit tersenyum mengejek.


Celia mulai melemparkan benda-benda yang tidak berbahaya lain satu-persatu dengan perlahan dan semakin lama semakin cepat.


Melihat hal itu, pria itu mulai serius dan menangkis dan menghindari benda yang terlempar kearahnya. Sesekali dia akan memukul benda ringan.


Celia mulai sesekali melayangkan dan melempar benda berbahaya yang membuat pria itu terkejut.


Karena celia sengaja melemparkan benda berbahaya lebih cepat dari yang lain, pria itu kesulitan menghindari benda, yang akhirnya membuat dia menerima beberapa luka.


Namun untuk lemparan terakhir, celia mengumpulkan tenaga dan melesatkan pisau hingga hampir mengenai kepala pria itu.


Melihat hal itu, pria itu mulai marah, tapi saat dia hampir bicara, celia bicara terlebih dulu.


"Aku hanya ingin menunjukkan seberapa hebat kemampuanku. Jadi, Bagaimana?, cukup kuat bukan?."


"Hmph!, meski cukup bagus, ini masih belum mencapai ekspetasi kami."


Mengeluarkan dan meletakkan makanan dan minuman. Pria itu kemudian pergi begitu saja.


"Dasar!, padahal dia jelas-jelas sudah terluka, di- ah!."


Tiba-tiba kendali tubuh terlepas dari jiwa celia dan membuat tubuh itu jatuh ke lantai.


"ini... ?, apa yang terjadi?, apakah jiwanya ingin mendapat kembali kendali tubuh?."


Masuk kedalam pikiran tubuh, celia melihat jiwa celia kembali mengambil kendali tubuh, namun celia masih tertidur.


"Tidak, dia jelas masih tertidur dan tidak memiliki kesadaran. Mungkinkah jiwaku sendiri yang tidak mampu bertahan?. Ya!, hanya itu yang mungkin terjadi."


"Kelihatannya, aku harus mencari cara untuk memperkuat jiwaku. Dan sepertinya bila jiwaku lepas dari kendali tubuh, jiwanya akan langsung kembali mengambil alih."


"Hah, sebaiknya aku juga harus istirahat untuk memulihkan diri."


Setelah beberapa jam, celia mulai terbangun. Mencium bau makanan, dia melihat tidak jauh darinya, terdapat sebuah kotak besar.


Mendekat dan membuka kotak, terdapat sebuah roti besar, dan segelas minuman.


mengambil roti dan memakannya dengan perlahan, dia melihat sekeliling.


Memperhatikan benda-benda yang berserakan di depan pintu dan makanan yang ada dia mulai menanyai dirinya sambil terus makan.


"Hai, kau tahu apa yang terjadi?."


"Halo?, kau mendengarku? em?."


Karena tidak ada jawaban dia berhenti makan dan menutup mata.


Mencoba merasakan atau hanya berharap bisa mengetahui keberadaannya yang lain, celia tiba-tiba seperti jatuh dan melayang ke suatu tempat.


Ketika membuka mata, dia hanya melihat kegelapan di sekelilingnya. Melihat tangannya, dia terkejut melihat tubuhnya tampak sedikit bersinar dan melayang.


Tiba-tiba dia melihat sosok gadis kecil yang tampak sedikit bersinar dan sama dengannya sedang tidur sambil melayang.

__ADS_1


"Dia... diriku yang lain?."


__ADS_2