
"Rania, apa yang akan kita lakukan, anak-anak yang di bawa belum ada yang kembali."
Seorang anak dengan tubuh gemuk berbicara dengan gadis itu, dengan berharap akan ada jalan keluar atau hanya untuk menghibur diri.
"Mereka akan kembali!, aku sudah memperhatikan, mereka yang dari penjara lain, setiap sekitar 9 hari mereka akan dibawa kembali."
"Benarkah?"
"Iya, meski ada beberapa yang tidak kembali."
Mendengar jawaban rania, dia mulai sedikit tenang.
Setelah beberapa jam anak-anak itu akhirnya kembali ke tempat mereka, dan si gemuk langsung menyapa mereka.
"Ren, vilvi, lia!, kalian akhirnya kembali!. Tapi... di mana kak yi?."
Mereka bertiga mengabaikannya dan pergi duduk di lantai sambil bersandar di dinding.
"Eh?... .Hai! aku-."
"Alfa"
Melihat rania menghentikan dan menggelengkan kepalanya, dia mengerti dan berhenti bertanya.
"Ehmm... "
Tidak tahan dengan suasana sunyi ini, alfa mencoba untuk bercanda dengan menggoda salah satu temannya.
"Hai vilvi, kau kelihatannya kedinginan, mau memeluk tubuh hangatku ini, hi hi hi."
Dia mengatakannya sambil tersenyum, namun vilvi yang agak terkejut mulai berdiri dan duduk di pangkuan alfa sambil memeluknya.
"Ini!?."
Melihat apa yang terjadi, dia terkejut dan bingung. Tapi dia jelas tahu ada yang sangat salah dengan mereka.
"Seharusnya aku senang, dengan hal ini, tapi kenapa aku merasa sedih, aku bisa merasakan rambutnya yang wangi dan tubuh yang lembut, tapi... dengan tubuh yang dingin ini, dalam jangka panjang, tidak akan ada yang seorangpun yang bisa akan bisa tahan."
Alfa mulai memeluk vilvi dengan erat sambil menggertakkan giginya.
"Kakak."
Tiba-tiba seorang gadis kecil terbangun. Rania mendekati gadis itu dan mulai berbicara dengannya.
"Kakak, apa yang akan terjadi kepada kita?."
"Tenanglah celia, kita akan baik-baik saja."
Setelah begitu lama, beberapa segerombolan orang dengan perlengkapan militer datang.
"Sudah saatnya. Vilvi, aku harus pergi, dan akan kembali."
Alfa mulai melepaskan pelukannya dari vilvi. Mendekati rania, dan mereka mulai bicara perlahan agar tidak terdengar yang lain.
__ADS_1
"Rania, kita akan segera dibawa, kau harus memberi tahu yang sebenarnya kepada adikmu."
Rania yang memperhatikan anak-anak dibawa, sedikit terkejut dengan kata-kata alfa.
"Aku tahu, tapi... bagaimana caraku memberi tahunya tanpa membuat dia takut?."
"Jika kau tidak mampu memberi tahunya, maka buat dia siap untuk ini semua."
Setelah itu, tidak lama kemudian, jeruji besi dibuka dan alfa, rania dan celia dibawa beberapa orang dan pergi bersama anak-anak lain.
melewati lorong besar, perempuan dan laki-laki berpisah di jalan yang berbeda.
Alfa bersama anak-anak lain menuggu di sebuah ruangan dan menuggu.
tidak lama, dia menjadi ke dua yang di panggil. Menuju sebuah ruangan yang di jaga oleh dua orang, pintu terbuka sendiri dan masuk tanpa ragu.
Didalam, tampak seperti laboratorium dan beberapa wanita dan pria berjas putih yang menatapnya. Ada yang penuh harap dan ada yang tampak ragu akan sesuatu.
"Berbaring disini."
Mengikuti perintah pria yang tampak seperti pemimpin, alfa berbaring tanpa ada paksaan.
Tiba-tiba tangan dan kakinya terikat pada ranjang operasi.
"Mulai analisis."
"Baik dokter."
Setetes darah, rambut, keringat lapisan kulit dan sebagainya di ambil dari tubuhnya.
"Lakukan uji coba ABA dan TBA padanya."
Mereka mulai menyuntikkan sedikit cairan dari berbagai selang kecil satu persatu pada tubuh.
"Ini!,... vilvi, apakah kau juga merasakan semua ini juga?."
"Tambah lagi."
Mendengar ucapannya, alfa merasakan sedikit cairan mengalir dari kedua selang di dada. Tubuhnya mulai terasa hangat, seperti ada percikan api dalam dirinya.
"Tambah lagi dosisnya, tingkatkan rangsangan dan mulai kendalikan alirannya."
Tiba-tiba setiap selang mengalirkan cairan yang sedikit lebih banyak dari sebelumnya. Inderanya menjadi sensitif, tubuh mulai memanas dan sebuah aliran aneh terasa dalam dirinya.
"Aaahk aak aah haa".
Alfa mulai kesakitan dari segala tubuhnya. Dia menggerak gerakan tubuhnya berharap sedikit angin dapat mendinginkannya.
Para dokter itu hanya menjauh dan mengawasinya. Setelah beberapa jam alfa mulai terbiasa dengan perasaan ini.
"Tahap pertama selesai. Sekarang mari mulai tahap kedua."
"Baik!." Mereka menjawab secara bersamaan.
__ADS_1
Alfa mulai dipindahkan keruangan lain. Sebuah kalung, gelang tangan dan gelang kaki di pasangkan padanya.
"Ini data statistiknya"
Ketika pintu terbuka, alfa diserahkan kepada seorang prajurit dan dibawa ke sebuah tempat yang besar.
Terdapat sebuah kristal besar yang yang melayang dan didalamnya terdapat kristal kecil didalamnya.
Di sisi lain dia melihat anak-anak lain, yang dalam keadaan sama dengannya, salah satunya rania yang tampak pucat.
Mereka dalam keadaan mengelilingi kristal itu
Mereka dipaksa menyentuh kristal besar selama beberapa saat satu persatu. Begitu banyak reaksi aneh dan mengerikan yang terjadi pada mereka.
Ada yang kepalanya hancur, tubuh berasap, tubuh tampak diremas dan sebagainya. Sampai akhirnya gilirannya.
"Apa yang kau tunggu!, cepat sentuh kristal itu, atau kutembak kepalamu!."
Setelah prajurit itu mengancam, alfa mulai menyentuh kristal itu dengan ketakutan.
Begitu kedua tangannya menyentuh kristal, tubuh mulai memanas dan setelah beberapa saat tubuh tidak tahan, tapi ketika dia hendak melepaskan tangannya dari kristal.
"Data daya tahan belum mencapai persyaratan, jadi jangan coba untuk melepaskan."
"Sial tanganku sakit dan tubuhku terasa terbakar, harus kulepaskan, tapi jika kulakukan, mungkin aku akan ditembak."
Tubuh alfa mulai menguap dan setelah beberapa menit menyentuh kristal tubuhnya mulai berasap dan dia mulai menggeliat.
"Aaah! Panas! panaas!."
"Daya sudah cukup, saatnya tahap kedua, cepat ambil dia!".
Prajurit itu memanggil beberapa orang. dan beberapa tali kabel
Dengan cepat beberapa tali kabel otomatis mengikat pada kalung dan semua gelang di tubuhnya.
Mereka langsung menarik dan memasukkannya ke sebuah ruangan luas. Setelah ditinggalkan, pintu di kunci.
Di sana dia berguling-guling dan bertemu kelinci besar dengan taring tajam dan mata merah.
Kelinci itu menyerang alfa dan menggigit perut alfa tanpa peduli dengan tubuh alfa yang hamir terbakar.
"Aah! Hwaah!."
Alfa langsung melepas gigitan kelinci itu, yang membuat perutnya terkoyak. Namun kelinci itu kembali melompat ke arahnya, dan alfa yang masih duduk langsung memukulnya.
Tapi kelinci itu sangat kuat dan kembali lagi menyerangnya. Takut dengan itu, alfa juga berdiri dan mulai bertarung.
Secara tidak sengaja tangannya mulai terbakar. Kelinci itu menabrak kepala alfa hingga terjatuh.
Setelah kepala alfa tertabrak, dia langsung menangkap kelinci itu dan mulai membakarnya hidup-hidup dengan tangannya.
"Mati kaau!."
__ADS_1
Ketika kelinci itu menggeliat kesakitan, kembali berdiri, alfa langsung membantingnya ke lantai dan memukulinya hingga mati.