
Dalam sebuah ruangan terlihat seorang anak dengan uap yang muncul dari tubuhnya dan beberapa kelinci bakar.
"Hari pertama datang, aku bertarung dengan satu kelinci buas. Hari kedua, bertarung dengan dua kelinci buas. Kemarin, empat kelinci buas, pagi satu kelinci, siang dua kelinci, dan satu dimalam hari. Hari ini apakah akan menjadi delapan. Aku sudah bertarung dengan dua kelinci sekaligus tadi pagi, dan sebentar lagi akan muncul."
"Haaah." Berbaring, alfa memikirkan berbagai sambil menunggu lawan berikutnya.
"Meski lukaku sudah mulai sembuh, tapi aku yakin lawanku akan semakin kuat. Kira-kira bagaimana keadaan yang lain, tidak mungkinkan mereka sepertiku. Tapi jika itu rania, pasti bisa.".
"Haah, padahal dia hanya sedikit lebih tua dari kami, tapi sangat kuat. Yah!, lupakan hal tidak penting dan mari bersiap untuk berikutnya."
Alfa berdiri, mulai melakukan peregangan dan gerakan senam. Setelah beberapa menit sebuah pintu terbuka tepat saat dia mulai membakar tangannya.
"Sudah datang ya, ayo kalian berdua akan kubakar habis habisan!. "
tiga kelinci buas muncul ,mulai berpencar dan segera mengelilingi alfa."
"Sial, kali ini tiga ya, padahal aku baru mulai membiasakan diri. Kemarin aku terluka berat hanya karena dua kelinci, dan sekarang..., kelihatannya aku harus membuat apinya sepanas mungkin!."
Alfa mulai menyiapkan api sepanas yang dia bisa dan berlari ke salah satu kelinci. Ketika hendak menyerangnya, kelinci itu langsung menghindar diikuti oleh dua kelinci melompat menyerang alfa dari dua arah lain.
"Sudah kuduga!"
Berbalik, alfa senang dan menyebarkan api yang sudah dikumpulkannya dengan tangan kanannya, tepat saat kedua kelinci hampir dekat dengannya.
Bruoms!
Kedua kelinci itu melewati api dan sedikit terbakar.
"sial, apa kerena menyebarkan api membuat panas apinya berkurang?. Tapi setidaknya mereka tidak akan bisa menyerangku untuk beberapa saat!."
"Aakkh!.
Kelinci yang menghindar sebelumnya, langsung menggigit pergelangan kiri alfa dari belakang.
Alfa mulai membakar tangan kirinya dengan sepanas mungkin hingga membakar mulut kelinci buas itu.
Kelinci segera melepaskan gigitannya, menghindar, dan mulai bersiap menyerang.
Saat kelinci melompat ke arah alfa, alfa langsung menendang kelinci itu saat masih di udara dan membuat mereka berdua terjatuh.
__ADS_1
Tidak memberi kesempatan, alfa menerkam kearah kelinci dan membakar mata kelinci itu.
"Mata memanglah penting, tapi bagi mereka, pendengaranlah yang paling merepotkan!."
Alfa memegang erat kedua telinga kelinci itu dan mulai membakarnya. Kemudian alfa mulai benar-benar membakar tubuh kelinci dan memastikan untuk tidak mudah padam.
Setelah itu, dia menghajar kelinci itu dengan memukul dengan tangan berapinya hingga mulai lemah.
Setelah cukup lama, alfa memegang salah satu kaki kelinci. Tepat saat itu, kedua kelinci yang apinya sudah padam kembalinya menyerangnya.
Sudah mengawasi hal itu, alfa memukul kelinci yang melompat dengan kelinci yang dia pegang ke kiri dan untuk kelinci berikutnya, dia memukulnya kelantai.
Langsung menendang kelinci yang jatuh ke lantai menjauh. alfa memegang kaki dengan dua tangan. Dengan memutar tubuh, alfa memukul kembali kelinci yang dipukul ke kiri menjauh.
Alfa mengejar dan memukul kelinci itu dengan kelinci yang terus terbakar ditangannya. Melihat kelinci lain kembali menyerang, seperti sebelumnya, dia memukulnya menjauh lagi.
Alfa memukul tiga kali kelinci yang ada didekatnya, membakar kaki kirinya, dan dia menginjak kelinci itu.
Ketika kelinci yang dipukul menjauh kembali menyerang, dengan dua tangan, alfa langsung memukulnya kelantai menggunakan kelinci yang dia pegang.
Tanpa ampun, alfa terus memukul kelinci itu dengan kelinci lain, dan satu lagi terus dibakar perlahan dengan kakinya.
Setelah pertarungan brutal itu, alfa terengah-engah, jantung berdetak kencang dan dia langsung jatuh kelelahan.
"Haah haah haah haah."
"Sampai kapan aku harus seperti ini?, tubuhku begitu panas, dan aku benar-benar haus".
Masih terengah-engah, alfa berbaring dan mulai menenangkan diri. Setelah beberapa berjam-jam alfa mulai terbangun.
"Eh!, sejak kapan aku tertidur?. Aaah, tubuhku rasanya sedikit lemas, tapi setidaknya tenaga sudah cukup pulih."
"Aak- eh!,oh iya, aku sudah berhari-hari tidak minum. Aku jadi tidak bisa bicara karena tenggorokanku kering."
Tiba-Tiba seorang wanita dengan hanya memakai jas putih dan rok panjang muncul dari balik pintu.
"Eh, siapa dia? itu... air?!."
Melihat wanita itu membawa kotak berisi beberapa botol minuman, alfa langsung senang dan berpikir bahwa wanita itu datang untuk memberikannya minum.
__ADS_1
Berdiri, alfa perlahan mendekati wanita itu. Wanita yang sedang mengamati sekeliling sedikit terkejut hingga mundur satu langkah karena melihat alfa mulai mendekatinya.
Namun ketika melihat pandangan alfa mengarah ke minuman yang dia bawa, wanita itu mulai langsung tenang.
Mengambil satu botol minuman, wanita menaruhnya di lantai dan meletakkan kotak dengan sisa minuman lainnya.
"Air, heh heh."
Meski jarak mereka hanya sekitar sepuluh meter, butuh beberapa menit bagi alfa untuk mengambilnya.
"Bersiaplah, besok lawanmu akan cukup berat."
Sambil minum, alfa mungkin mendengarkan apa yang dikatakan wanita didepannya.
"Setelah kami memantaumu selema beberapa hari, kami sepakat untuk mengurangi jumlah lawanmu perhari."
Dengan wanita itu menyentuh wajah alfa, alfa sedikit terkejut dan berhenti minum. Mendengarkan apa yang dikatakan wanita tepat didepannya, dia mulai berpikir, apakah wanita ini juga salah satu dari mereka?."
"Meski kau hanya akan bertarung satu lawan untuk dua kali besok, tapi mereka lebih kuat dari kelinci yang kau lawan."
"Jadi segera siapkan rencana dan serangan kuat lain untuk pertarungan besok. Dan beberapa hari lagi, aku akan menemuimu."
Setelah mengatakan semua itu, wanita itu berdiri pergi meninggalkannya.
"Lawan baru... ya. Aku juga mulai muak dengan kelinci-kelinci itu. Tapi... mengapa bibi tadi bersikap baik padaku, pura-pura?. meski dia tampak tidak terlalu baik, tapi dari ekspresi dan sikapnya hampir tidak ada kebohongan."
Alfa mulai mengambil kelinci bakar dan mulai memakannya. Mencoba berpikir untuk serangan baru, dia hampir tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Semua pertarungan yang dia lakukan, hanya berdasarkan insting dan pengalamannya menonton arena bertarung bersama teman-temannya.
"Haaah, bertarung dengan kelinci-kelinci itu saja sudah sulit, tidak hanya menggigit, mereka suka melompat dan menabrakku... em."
"Aku rasa aku punya ide."
Setelah menyelesaikan makannya, melakukan gerakan senam, alfa mulai berlari dan melompat ke sana kemari.
"Tidak!, bukan begini caranya."
Melihat kakinya, alfa mulai menyadari sesuatu.
__ADS_1