
Seorang gadis kecil bersembunyi dalam semak besar yang lebat dan tertutup salju.
"Kakak, kau dimana? aku takut."
Sambil menangis, dia begitu lama berharap bertemu seseorang. Tiba-tiba terdengar suara tegas dalam dirinya.
"Mengapa kau menangis? kita tahu dia tidak akan, sampai kapan kita harus berdiam diri?."
"Tapi... ,aku tid-"
"Tidak ada kata tapi, kita punya kekuatan ini, jika ingin bertemu kakak, maka kita harus melakukannya!."
"Melaku... kannya?"
"Ehm hahahahaha, kau tahu apa maksudku."
Dengan berdiri, gadis itu mulai berdiri dan menuju ke suatu tempat.
...< < < < <...
"Celia."
Rania mendekati adiknya yang masih berbaring di lantai dan berbicara dengan lembut.
"Ada apa, kau lapar?".
Celia mulai duduk sambil menggelengkan kepalanya. Melihat sekeliling, dia tahu ada yang salah.
"Kakak, apa yang akan terjadi kepada kita?."
"Tenanglah celia, kita akan baik-baik saja."
"Tapi-."
"Sssssh, bagaimanapun kita akan tetap bersama, ok." Rania menyentuh bibir celia dan mulai menghiburnya.
"Celia, apapun yang terjadi kita harus selalu berjuang. Jadi, jangan khawatir, semuanya pasti akan baik-baik saja."
"Ehm." Dengan mengangguk celia mulai bermain dengan boneka kucingnya.
Setelah beberapa jam terdengar suara gaduh dari luar. Mereka pergi berurutan sambil dijaga oleh orang-orang bersenjata.
"Celia, apapun yang terjadi nanti kau harus bertahan. karena aku datang kepadamu. Tapi... jika aku tidak datang kau yang cari aku ya!."
Mendengar ucapan rania yang sedang berjalan sebelahnya, celia sedikit terkejut dan agak bingung.
"Ingat saat kita bermain petak umpet, meski beberapa kali gagal menemukanku, kau selalu menuju ke arah aku bersembunyi untuk pertama kali, aku sampai berpikir bahwa kau mengintip saat kami bersembunyi."
"Kau anak yang hebat celia, jadi kau harus menjadi kuat, jangan ragu untuk apa yang kau pikir benar. Bagaimanapun kau anak yang baik, jadi aku akan selalu mempercayaimu."
__ADS_1
Celia sedikit bingung dengan semua yang dikatakannya, tapi dia senang dan tidak menyadari ada tekad kuat yang mulai muncul.
akhirnya mereka berhenti dan sampai di suatu tempat.
"D13-6!."
Mendengar suara dari mesin komputer, celia terkejut bahwa itu adalah nomor yang dimilikinya. Saat dia dibawa masuk, celia sempat menoleh kearah kakaknya untuk melihat ekspresi serius dan takut dari kakaknya, tapi celia tidak menyadari hal itu.
Setelah cukup lama celia masuk.
"Aaaaaah." Teriakan celia terus keluar dan tubuhnya meronta-ronta.
"Tingkat spesial memang luar biasa, tidak pernah membuatku berhenti kagum."
"Sakit, kakak, tolong."
"Dokter, apa tidak apa jika aku menambah dosisnya?."
Seorang wanita bertanya pada dokter yang menjadi pemimpin operasi ini.
"Ya, tentu saja bisa."
"Tambah serum ke dalam seluruh tubuhnya, terutama perbanyak di bagian kepala."
"Baik!."
Setiap aliran mulai masuk kedalam tubuhnya, dan tubuhnya terus meronta hingga akhirnya mulai tenang.
Melihat celia tenang, mereka mulai menjadi panik, karena khawatir akan kehilangan barang bagus.
"Hei dokter, subjek ini tiba-tiba melemah, mungkinkah?!."
"Tenang semuanya, segera kendalikan serum dalam tubuhnya dan tingkatkan ketahanan fisik!. Kita tidak bisa kehilangan subjek berharga ini."
"Apa... apakah kakak berbohong?. Dia bilang akan melindungiku, tapi dimana dia?, Kenapa dia tidak mendatangiku, Kenapa? kenapa?."
Setelah beberapa saat celia masih tenang seperti sebelumnya.
"Dokter, ini... ?."
"Meski datanya sedikit stabil, dia masih tidak ada respon. Tapi... tidak masalah pada dirinya, kita akhiri operasi ini, dan bawa dia ke tahap selanjutnya."
Dia dipaksa menyentuh kristal. Dia hanya menurut dan menyentuhnya dengan linglung.
"hengh!, aaaah, aaaakh."
Tubuhnya langsung kesakitan, dia ingin melepaskan tangannya. Tapi karena tubuhnya sedang lemah dan kesakitan, dia malah terjatuh dan sebagian tubuh atas terutama kepalanya bersandar pada kristal.
Dia terus berteriak kesakitan, setelah lebih lima belas menit, prajurit yang membawanya akhirnya memanggil beberapa orang dan mereka segera membawanya dengan tali.
__ADS_1
Dalan sebuah ruangan, tubuhnya cukup lama, hingga akhirnya mulai bangun. Dia mulai mendengar suara entah dari mana.
"D13-6, kau punya kekuatan yang dapat mengendalikan benda. Lihat barang-barang di sekitarmu. Jika kau bisa memindahkan mereka dengan kekuatanmu, maka kami akan mempertemukan kau dengan kakak dan teman-temanmu."
"Aku..., bisa kembali kepada kakak?." Celia menjawab dengan sedikit linglung.
"Tapi!, jika kau tidak bisa melewati semua ujian ini, kau akan di hukum dan tidak pernah bisa bertemu dengan kakakmu."
Mendengar apa yang baru saja dikatakan, celia begitu takut dan khawatir.
Segera dia melihat sekeliling, terdapat berbagai macam benda, seperti bola, pisau, tongkat, koin, batu bata dan bermacam-macam.
"Bagaimana caraku melakukannya?."
"Gunakan pikiranmu, bayangkan benda itu bergerak ke arahmu, dan selebihnya kau pikirkan sendiri."
Setelah itu tidak terdengar suara apapun lagi dan suasana menjadi sunyi.
Celia memperbaiki posisi duduk mencoba menggapai bola yang ada didekatnya, namun bola itu sama sekali tidak bergerak.
Dia beralih ke sebuah koin, mencoba fokus dan berharap, seakan ada benda yang menarik celia, namun koin itu juga mulai tertarik ke arahnya.
"Berhasil!?, Aaahk! Kepalaku sakit, dan tubuhku, aku tidak suka ini."
Saat celia mulai senang, rasa sakit mulai menyerang tubuhnya.
"Kakak, tolong, aku kesakitan, kenapa kau tidak datang?. aku dipaksa melakukan hal aneh hanya untuk bertemu denganmu. Eh!, bertemu denganmu."
Mengingat apa yang baru dikatakan, dia ingat bahwa dengan berhasil melewati ujian, maka dia bisa bertemu dengan kakaknya."
"Benar!, jika kakak tidak datang, maka aku yang akan datang!. Aku hanya harus berhasil melakukannya, meski tubuhku akan kesakitan, tapi hanya dengan bisa menggunakan kekuatan ini, aku bisa bersamanya dan tidak akan ada yang bisa menghentikanku!."
Celia mulai terus berusaha menarik koin kearahnya terkadang terdorong dan terkadang tidak bergerak.
Keesokan harinya pria yang menjadi pengawas datang menemuinya.
"Tunjukkan hasilnya."
Mendengar apa yang dikatakan, celia bingung sejenak dengan maksud perkataannya, dan langsung mengerti. Dia mulai menunjukkan kekuatannya dengan bangga mengerak-gerakan Koin ke kanan dan ke kiri di lantai.
"Aaah!, uhuk hk hk".
Tidak puas dengan apa yang dilihatnya, pria langsung menendang tubuh celia.
"Kenapa kau tersenyum dengan menunjukkan hal itu!, apa kau kira itu hebat!. Dengar! jika kau tidak memberikan pencapaian yang bagus, maka kau tidak hanya akan kutendang!, dasar tidak berguna!."
Setelah memarahi celia, pria itu langsung pergi dengan membanting pintu dan kembali menguncinya.
"kenapa?, padahal aku sudah berusaha keras, apa... apa aku kurang berusaha, aku... harus berusaha lebih keras!."
__ADS_1
Terlihat tekad kuat dari mata celia yang berwarna ungu.
"Awas saja kau!, Karena meremehkanku!. Kakak, aku pasti akan datang kepadamu."